
Brakkk......
Tubuh Ratih langsung tersungkur dilantai saat tiba tiba saja dari arah belakang tubuhnya ditubruk.
"Ratih." terkejut Om Bayu.
"Oh My Good." terkejut Dimas yang langsung ikut membantu Ratih, namun gerakannya kalah cepat dari Om Bayu.
"Kamu nggak papakan?" tanya Om Bayu dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Nggak papa gimana sih? sakit banget ini, mbak juga gimaba sih nggak lihat apa ada orang segede gini bisa bisanya nabrak." kesal Ratih pada pelayan restoran yang tadi menabraknya tersebut.
"Aduh mbak saya minta maaf banget ya, soalnya saya nggak sengaja saya kepleset tadi." jawab pelayan tersebut dengan wajah bersalahnya.
"Ya udah mbak nggak papa, biar saya urusin." sahut Om Bayu.
"Kamu kesini naik apa?" tanya Om Bayu pada Dimas.
"Jalan kaki." jawab Dimas jujur.
"Ya udah biar saya saja yang anter Ratih." ucap Om Bayu tiba tiba.
"Ta tapi Om." sahut Ratih yang pura pura hendak menolak, nggak lucu dong kesannya kalau tiba tiba ia langsung menerimanya tanpa pertimbangan.
"Ya udah om bawa aja dia." jawab Dimas, Ratih pun langsung melotot padanya.
"Maafin aku ya sayang, harusnya yang anterin kamu aku tapi aku kan nggak bawa mobil tadi. Aku nggak tega dong kalau biarin kamu jalan kaki, walaupun kamu sangat terpaksa tapi kamu harus mau ya pulang bareng om ini." ucap Dimas sembari membelai rambut Ratih.
"Iya sayang aku kesakitan banget." jawab Ratih dengan nada manjanya.
__ADS_1
"Ya udah om bawa aja sekarang, maaf ya om sudah ngerepotin." ucap Dimas yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Bayu.
"Kalau gitu gue pulang naik taksi aja ya yu." ucap wanita itu tiba tiba.
"Loh kok naik taksi? kan aku yang ngajak kamu, kamu ikut aja sekalian." jawab Om Bayu.
"Ta tapi." wanita itu hendak menolak.
"Udah ayo." potong Om Bayu.
...............
Krikk.....krik....tidak ada percakapan selama diperjalanan, entah mengapa suasana seperti ini malah membuat Ratih kesal sendiri.
"Dasar perempuan gak tau diri, harusnya tuh lo tetep pulang sendiri. Om Bayu tadi cuma basa basi anjir." umpat Ratih dapam hati menatap penuh kekesalan wanita tersebut.
"Kamu tinggalnya dinama tih? masih yang dulu kan?" tanya Om Bayu tiba tiba.
"Hah?" terkejut Om Bayu mendengar jawaban Ratih.
"Ya masih yang dulu lah om." jawab Ratih kemudian.
"Tante antingnya bagus." ucap Ratih tiba tiba memuji anting yang dipakai wanita tersebut.
"Tante?" terkejut wanita tersebut yang tak terima.
"Heem." jawab Ratih menganggukkan kepala dengan wajah santainya seakan akan tidak merasa bersalah aama sekali.
"Gue ini masih muda, bisa bisanya lo panggil gue apa tadi? tante?" tanya Wanita itu masih dengan wajah tak percayanya.
__ADS_1
"Terus gue musti panggil Bu Dhe kah?" tanya Ratih kembali.
"Apa???" terkejut wanita itu untuk yang kedua kalinya, bibirnya sama sekali tidak bisa berkata kata.
"Dia dua tahun lebih muda dari kamu tih." sahut Om Bayu yang langsung menengahi.
"Mwo???" terkejut Ratih membelakakkan matanya lebar lebar.
"Maaf ya kak nggak tau, soalnya muka kita jauh." cicit Ratih.
"Apa? jadi maksud kamu muka saya muka tua?" tanya wanita itu yang semakin naik pitam.
"Saya nggak bilang giti loh, tapi kalau sadar diri sih bagus lah." jawab Ratih sekenanya.
"Apa? sini lo dasar sialan." murka wanita itu yang langsung mencondongkan tubuhnya kebelakang berusaha meraih tubuh Ratih.
"Apaan sih? ngajak gelud." Ratih pun langsung menepis dengan kasar tangan wanita itu.
" Lo yang mulai duluan." kesal wanita itu.
"Apaan sih? la kan emang gue nggak bilang muka lo tua, lo aja yang udah sadar diri." elak Ratih.
"Karin Ratih Cukupppp!" bentak Om Bayu yang lansung membuat keduanya diam seketika.
"Kalian ini apa apaan sih? udah dewasa tapi kelakyan masih kayak anak kecil." kesal Om Bayu.
"Dia duluan yang mulai." bantah Karin.
"Apaan sih." cibir Ratih.
__ADS_1
"Dia siapa om?" tanya Ratih tiba tiba pada Om Bayu.
"Di dia....."