
Setelah kepergian Pak Prapto Agatha terus memandang wajah Papanya lekat lekat, ia tak tahu apakah harus percaya atau tidak dengan segala sesuatu yang telah dikatakan Pak Prapto
Tap...tap...tap....tap...tap...langkah kaki yang terus mendekat kearahanya, tidak....Agatha tidak perduli sama sekali akan hal itu
Plakkk....sebuah tamparan yang mendarat halus dipipi kirinya, sehingga membuat tubuhnya terhuyung kesamping. Agatha kemudian menoleh, memandang siapakah yang telah menamparnya
"Sinta" gumam Agatha menatap wanita paruh bayah itu dengan sinis, entah mengapa ia jadi teringat kembali dengan perkataan Pak Prapto bahwa ada kemungkinan wanita tua itulah yang telah membunuh Mamanya
"Dasar anak kurang ajar" desis Mama Sinta
"Apa yang kau lakukan" sentak Bryan mencekal pergelangan tangan Mama Sinta kuat kuat, ia sama sekali tak rela jika Agatha diperlakukan tidak manusiawi seperti itu
"Jangan ikut campur" ucap Mama Sinta menatap Bryan tajam sebelum pada akhirnya kembali menatap Agatha dengan sinis
"Seharusnya kau tak usah kembali"
"Pergilah bersama Mamamu" kata Mama Sinta dengan pandangan menusuknya pada Agatha
Saat ini Agatha dan Mama Sinta sedang berada di salah satu cafe yang terletak disekitar rumah sakit, setelah Mama Sinta menamparnya tadi membuat Agatha tiba tiba ingin berbicara berdua dengan Mama Sinta. Walaupun pada awalnya Bryan tak mengizinkannya, namun Agatha terus memaksa dan mengatakan jika ini adalah masalah pribadi antara Ibu dan Anak. Cih.....walaupun sebenarnya lidah Agatha seperti gatal saat mengatakan kata itu
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Mama Sinta dengan raut tak bersahabat
"Aku ingin lebih dekat dengan Mama tiriku" jawab Agatha dengan santainya
"Hah, jangan basa basi. Aku tak memiliki banyak waktu" ucap Mama Sinta dengan angkuh
"Apakah kau benar benar mencintai Papaku?" tanya Agatha kemudian
"Kamu masih anak kecil, jangan ikut campur urusan orang tua" kata Mama Sinta
"Apa yang kau sukai dari Papaku?" tanya Sinta kemudian
Hah...Mama Sinta membuang arah kesembarangan, wanita didepannya ini benar benar keras kepala. Dia tidak akan berhenti begitu saja jika keinginannya belum tercapai
"Kepintaran Papamu" jawab Mama Sinta kemudian, cepatlah menjawab agar semuanya lekas berakhir
"karena Papa pintar?"
"Untuk menutupi kebodohan Mama?" ucap Agatha dengan senyum mengejeknya
"Hah..." Mama Sinta hampir tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Agatha, walaupun Agatha sering membantahnya tapi Agatha tidak pernah berkata sefrontal ini
"Pasti sifat tidak punya sopan santunmu ini menurun dari Mamamu" jawab Mama Sinta kemudian membuat senyum yang tadinya terukir dari bibir Agatha perlahan memudar, wajahnya kini telah berubah menjadi datar
"Berhubung anda membahas Mama saya, saya jadi teringat sesuatu" kata Agatha, Mama Sinta hanya memandang tanpa niatan untuk menanyakan lebih lanjut
"Usiaku dengan Sellena tak beda jauh, hanya berkisar dua tahun sepertinya yah?" tanya Agatha
__ADS_1
"Kenapa Mama mau menikah dengan Papaku yang seorang duda? Apa wajah Mama tidak laku dipasaran saat itu?" tanya Agatha.
Skakkk......Agatha berhasil membalikkan keadaan, lihatlah...wajah wanita tua didepannya kini langsung merah padam menahan amarah, jangan lupakan tangan kanannya yang berada diatas meja kini tengah mengepal kuat
"Oh....iya iya, aku lupa. Karena Papaku pintar yah" ucap Agatha dengan tangan yang menutup mulutnya, seakan akan bahwa ia benar benar lupa. Padahal?
"Sudah selesai?" tanya Mama Sinta yang sudah muak dengan Agatha
"Tunggu, belum selesai aku ma" kata Agatha menahan Mama Sinta yang hendak pergi
"Aku bahkan belum menanyakan intinya" kata Agatha
"Katakanlah" jawab Mama Sinta dengan ketus
"Emmm.....Mama tau sendiri kan kalau Papa lebih sayang sama Sellena ketimbang denganku?" tanya Agatha dengan raut wajah yang dibuat sesedih mungkin
"Karena Sellena adalah hasil buah cinta kami" jawab Mama Sinta dengan tenangnya
"Brengsekkk" umpat Agatha didalam hatinya
"Iya, Mama benar" lirih Agatha menundukkan kepalanya
"Dulu Papaku pasti juga mencintai ku dan Mama sebelum menikah denganmu" ucap Agatha
"Sayang sekali Mamaku meninggal" lirih Agatha
"Em....kalau boleh tau, apakah Mama tau sebab Mamaku meninggal? aku tidak seakrab itu dengan Papa, jadi aku tidak pernah menanyakannya" ucap Agatha dengan nada yang dibuat seakan akan putus asa
"Mamamu meninggal dalam kecelakaan" jawab Mama Sinta kemudian
"Apa?" terkejut Agatha
"Lalu?" tanya Agatha kemudian
"Lalu?" Mama Sinta menyernyitkan dahinya heran
"Apakah pelakunya dipenjara?" tanya Agatha kemudian
"Tidak" jawab Mama Sinta dengan tenangnya
"Jujurlah ma" kata Agatha kemudian dengan sinis
"Apa maksudmu?" tanya Mama Sinta yang tak mengerti dengan suasana hati Agatha yang berubah dengan tiba tiba, apa Agatha sudah gila? batin Mama Sinta
"Aku tau Mama pasti terlibat".kata Agatha kemudian
"Apa maksudmu?" Mama Sinta sangat tidak terima dituduh yang bukan bukan oleh Agatha
__ADS_1
"Mama pasti terlibat dengannya kan?" kata Agatha sembari menyodorkan sebuah foto yang tadinya diberikan oleh Pak Prapto
Bukan, foto itu bukanlah barang bukti atas keterlibatan Mama Sinta dalam kecelakaan Mamanya. Jadi, buanglah jauh jauh pikiran tersebut
Mama Sinta pun mengambil foto yang tadi dosodorkan oleh Agatha tersebut dan memandangnya lekat lekat
"Jujurlah ma, aku juga tau kalau Mama korupsi diperusahaan Papa bukan" kata Agatha kemudian
"Itu perusahaan Papaku" sahut Mama Sinta
"Yang dulunya hampir bangkrut sebelum Mama menikah dengan Papaku" jawab Agatha dengan tenang
"Yah....walaupun saat ini Reyhanlah yang memegangnya, tapi bukankah pegawainya orang lama?" Skak Agatha
"Maka kita seharusnya harus saling terbuka bukan?" tanya Agatha
"Aku sama sekali tidak perduli dengan urusan perusahaan anda" kata Agatha kemudian
"Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Mama Sinta to the point
"Apa Mama terlibat dengan kecelakaan Mamaku? Jika pelaku tidak dipenjara artinya tidak ada barang bukti bukan?" kata Agatha
"Lagipulah apapun halnya tidak akan membuat Mamaku hidup lagi" lirih Agatha
"Benar, apapun yang terjadi wanita itu tidak akan bangkit kembali" kata Mama Sinta
"Sejujurnya aku lah yang menyuruh orang untuk melakukan itu"
"Aku anggap ini sebagai hadiahku untukmu atas pernikahanmu yang akan dilaksanakan sebentar lagi" kata Mama Sinta. Agatha mengepalkan tangannya kuat kuat
"Walaupun begitu kau tidak bisa melakukan apa apa sekarang, Mamamu tidak akan hidup lagi"
"Aku tidak menyangka jika kau bukan wanita baik baik" sinis Mama Sinta
"Bagaimana Mamamu dulu? apakah sama sepertimu?" lanjut Mama Sinta
"Lalu bagaimana dengan Sellena yang bahkan jauh lebih rendah dariku" kata Agatha meluncurkan kata kata pedasnya membuat Mama Sinta langsung bungkam seketika
"Baiklah, kau sudah mengetahui semuanya"
"Apa yang ingin kau ketahui lagi?" tanya Mama Sinta
"Tidak ada, sudah cukup" jawab Agatha, bahkan matanya yang tadi telah berembun kini telah menetes membasahi pipinya
"Kau tidak perlu menangis, itu semua sepadan untum Mamamu yang telah merebut Papamu dariku" kata Mama Sinta yang kemudian langsung beranjak berdiri
Agatha memandang kepergian Mama Sinta dengan perasaan bergemuruh didadanya. Sejurus kemudian senyum smirk tersungging dari bibirnya
__ADS_1