Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
Putri Genius Bryan 42


__ADS_3

"Apa yang kau inginkan?" tanya Agatha tiba tiba saat Bryan akan berjalan melewatinya


Sontak Bryan pun langsung menghentikan langkah kakinya lalu menengok ke arah Agatha yang saat ini tengah menatapnya dengan intens


"Apa kau begitu penasaran?" goda Bryan dengan senyuman nakalnya


"Cepat katakan atau aku akan membawa Nayla untuk kabur lagi" balas Agatha dengan sengitnya. Perlahan lahan Bryan pun mendekat kearah Agatha yang kini berjalan mundur menghindari jarak Bryan yang semakin dekat dengannya


"Kau tidak akan pernah bisa lari lagi dariku" ucap Bryan dengan tegasnya dengan mencengkeram kedua lengan Agatha dengan kuat seakan akan tengah meluapkan emosinya yang kini membara akibat perkataan Agatha


"Lepaskan....sa...sakit" lirih Agatha, sontak Bryan pun langsung melepaskan kedua cengkeraman kedua tangan dari lengan Agatha


"Maafkan aku" ucap Bryan kemudian mengusap wajahnya dengan kasar, Bryan menyadari jika seharusnya ia tak menyakiti wanita yang telah berstatus menjadi ibu dari anaknya


"Cepat katakan" lanjut Agatha lagi dengan tatapan dinginnya


"Tinggalah disini bersama dengan Nayla" tutur Bryan dengan tegasnya


"Apa?" kaget Agatha


"Hahahaha" tawa Agatha melengking menertawakan perkataan Bryan


"Kenapa kau tertawa?" tanya Bryan dengan herannya datar menatap wanita didepannya yang kini masih meneruskan tawanya


"Kau gila?" ucap Agatha yang berusaha untuk menghentikan tawanya


"Aku gila? Haq" tanya Bryan membuang tawa singkat


"Apa maksudmu?" tanya Bryan tak terima, baru kali ini ia dikatai gila bahkan kali ini yang mengatakan itu adalah seorang wanita


"Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk tinggal denganmu, kita ini hanya orang asing" tutur Agatha sembari menggeleng gelengkan kepalanya tak menyangka dan tak mengerti jika ada orang asing yang mengajaknya tinggal bersama


"Hahahahaha" tawa Bryan pun menggelega, kali ini gantian ia lah yang menertawakan ucapan Agatha

__ADS_1


"Kenapa kau tertawa?" tanya Agatha mendelik tajam


"Hahahaha...aduh...aduh" tawa Bryan yang masih belum berhenti, ia mengangkat satu tangan sebagai perintah untuk Agatha agar berhenti bertanya terlebih dahulu dan satu tangannya lagi kini tengah mememgangi perutnya yang terasa kaku akibat tertawa


"Hah...hah...hah" deru nadas Bryan yang masih memburu


"Kau terlalu percaya diri sekali" ucap Bryan kemudian


"Percaya diri?" tanya Agatha mendelik tajam sekaligus otaknya tak mengerti apa maksyd dari perkataan Bryan barusan


"Aku menyuruhmu untuk tinggal disini, bukan berarti aku akan tinggal disini juga bersamamu" ucap Bryan kemudian


Sontak Agatha pun menjadi malu setengah mati, jangan sampai Bryan malah berfikir bahwa ia lah yang menginginkan Bryan untuk tinggal bersamanya dengan Nayla....pikir Agatha


"Nayla tidak akan mau" kilah Agatha cepat


"Nayla mau ma...." teriak anak kecil tiba tiba


Deg....Nayla? Bagaimana bisa? Bukankah tadi Bryan sudah memerintahkan Agam untuk membawa Nayla jalan jalan agar tak mendengar perbincangan serius yang akan Bryan sampaikan pada Agatha? Lalu kenapa anak kecil itu sekarang bisa ada disini? Bahkan menyahut perkataan dua orang dewasa tersebut


Bryan pun langsung berjongkok dan mengulurkan kedua tangannya kedepan untuk menyambut pelukan dari Nayla, putrinya


"Pa....Nayla mau tinggal sama Papa" ucap Nayla yang kini tengah berda didalam gendongan Papanya. Bryan pun tersenyum mendengar ucapan putrinya


"Nayla seneng?" tanya Bryan pada Nayla


"Seneng pa, nanti kita bisa latihan silat lagi kayak tadi" tutur Nayla dengan antusiasnya


"Kalau Nayla suka, Nayla bujuk Mama buat ngizinin Nayla tinggal sama Papa yah?" pinta Bryan pada Nayla


Nayla pun bergerak ingin turin dari gendongan Bryan, Bryan yang mengerti akan keinginan Nayla pun langsung berjongkok agar lebih mudah untuk menurunkan Nayla


Saat berhasil turun dari gendongan Bryan, Nayla pun langsung berlari kearah Mamanya sembari memeluk erat paha sang Mama

__ADS_1


"Mama....Nayla pengen tinggal disini sama Papa, Mama izinin Nayla ya?" tanya Nayla dengan tatapan memohon. Agatha menatap Nayla dengan perasaan bimbang, sebenarnya ia tak ingin tinggal disini meskipun tidak dengan Bryan, namun melihat putrinya yang saat ini tengah memohon kepadanya akhirnya membuat pendirian Agatha perlahan lahan goyah


Tentu saja Bryan sangat yakin jika Agatha tak akan menolak keinginan Nayla dan yang lebih penting tentu saja Agatha tidak akan meninggalkan Nayla untuk tinggal berdua saja dengan Bryan. Dalam artian jika Nayla menginginkan untuk tinggal dengan Bryan maka Agatha pun akan ikut tinggal dengan Bryan dan juga Nayla dan mereka akan mewujudkan keinginan Nayla yang tertanam sejak dulu


"Gimana ma? Nayla tanya tuh, kok nggak dijawab sih?" goda Bryan saat Agatha tak kunjung memberikan keputusan hingga ia juga merasa sangat penasaran dibuatnya


Agatha yang tadinya tengah larut dalam fikirannya dlsendiri sembari menatap Nayla kini dibuat kaget oleh suara Bryan, hingga membuatnya langsung tersadar


"Iya boleh" sial....Agatha meruntuki kebodohannya, mengapa justru kata tersebutlah yang keluar dengan refleks dari bibir Agatha


"Yeyeye....makasih Mama" Nayla langsung bersorak ria begitu mendengar jawaban dari Mamanya yang telah memberikan izin kepadanya


"Makasih Mama" sambung Bryan sembari meraih tubuh Nayla untuk digendongnya lagi


"He em" hanya itu kata yang keluar dari mulut Agatha, ia menyesali ucapannya namun ia juga tidak bisa menariknya kembali setelah untuk ke sekian kalinya ia melihat rona bahagia yang terpancar dari wajah Nayla


Bryan pun lekas membawa tubuh Nayla yang tengah digendongnya menuju ruang keluarga, ia tengah berniat untuk mengajak Nayla makan salad buah kesukaannya sembari menonton televisi


"Ah....Nayla tunggu disini dulu ya, Papa mau ambil salad buah dulu. Nayla suka salad buah nggak?" tanya Bryan setelah berhasil meletakkan tubuh Nayla pada sofa


"Suka pa, suka banget. Mama sering banget bikinin salad buah buat Nayla loh" ujar Nayla dengan wajar sumringahnya


"Oh ya?" tanya Bryan memastikan, mencoba tertarik dengan cerita Nayla agar Nayla mau melanjutkan ceritanya lagi hingga nantinya dapat membuat hubungannya dengan Nayla agar semakin dekat lagi mengisi ruang yang kosong akibat perpisahan yang terjadi selama ini


"Iya pa, jadi setiap minggu tuh Mama selalu bikinin Nayla salad buah"


"Rasanya enak, Nayla suka" nelas Nayla sembari mengacungkan jari jempolnya sebagai tanya menyukai


"Wah....lain kali kita harus minta dibuatin salad sama Mama nih" tutur Bryan dengan antusiasnya


"Harus banget pa" sambung Nayla


"Kalau gitu sekarang kita makan salad buah yang ada dikulkas saja ya?" kata Bryan

__ADS_1


"Iya pah" jawab Nayla dengan senyumannya


Agatha yang tak sengaja mendengar interaksi anatara Papa dan Anak tersebut lagi lagi kini ia semakin mengetahui jika banyak hal yang disukai oleh Nayla ternyata menurun dari Papanya termasuk sukanya Nayla dengan salad buah itu


__ADS_2