Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
Putri Henius Bryan 31


__ADS_3

"Buktikan" ucap Bu Darmi


"Buk, aku gak ada bukti. Tapi ibu bisa jamin kalau aku nggak bohong buk" ucap Agatha mencoba meyakinkan


"Sekarang buktikan dengan ini" ucap Bu Darmi sembari menyodorkan taspack pada Agatha. Agatha menatap benda itu dengan kening berkerut


"Cepat lakukan" ujar Bu Darmi lagi


"Tap" ucap Agatha terpotong


"Buktikan ta, Ibu nggak akan mencampuri urusan pribadi kamu"


"Jika kamu benar terbukti hami, maaf kamu harus keluar dari kossan saya"


"Dan perihal Pak Samsul, Ibu yakin kalau kamu benar. Tapi kamu nggak punya bukti dan kamu tahu kan? Omongan tanpa bukti itu cuma lelucon" tukas Bu Darmi


"Bu" ucap Agatha


"Ayo, ini hidup kamu dan saya atau orang lain tidak berhak untuk mencampuri kehidupan kamu" ujar Bu Darmi


Dengan ragu ragu Agatha mengambil taspack tersebut, Agatha memasuki kamar mandi tanpa berbicara sepatah kata pun pada Bu Darmi karena bibir dan hatinya terlalu sibuk untuk melantunkan ribuan doa. Yah....doa dengan harapan ia tidak akan hamil


Satu detik....dua detik....tiga detik, perlahan lahan hasil mulai keluar


Deg.....satu garis merah tebal dan satu garis merah dengan warna yang pudar

__ADS_1


"Ak...aku hamm..mil" gumam Agatha menatap benda sialan itu dengan tak percaya, bagaimana mungkin ia bisa hamil? Kesalahan malam itu, iya...kesalahan malam iti. Tapi bukankah ia baru melakukannya sekali? Mengapa bisa cepat hamil? Akhhhh.....Agatha prustasi dengan keadaan ini


Entah lah kehamilan ini merupakan suatu anugerah karena anaknyia tersebut akan menggantikan sosok keluarga yang telah Agatha tinggalkan dan menemani hidup Agatha sehingga tidak akan sendiri lagi atau kah merupakan sebuah aib? Yah...aib? Wanita mana yang sudi jika ada anak yang hadir didalam perutnya tanpa adanya ikatan pernikahan? Tidak ada, yang ada hanyalah hinaan dan pandangan buruk dari masyarakat tentunya


Mau meminta pertanggung jawaban Bryan dan kembali ke Jakarta juga tidak mungkin. Bagaimana ia bisa meminta pertanggung jawaban Bryan jika ia sendiri lah yang membawa laki laki itu untuk tidur bersamanya di malam sial itu


"Hiksss....hiks...hiksss" menangis lah yang hanya Agatha bisa saat ini, entah itu tangisan untuk Reyhan, Bryan, Orang tuanya, Takdir atau pun untuk dirinya sendiri Agatha bahkan tidak tau. Ia tak siap dengan semua ini


"Ta, Agatha...dok...dok...dok.." panggil Bu Darmi khawatir karena mendengar suara Agatha yang menangis walaupun ia sudah dapat menerka penyebabnya


"Buka dulu ta" panggil Bu Darmi lagi karena tidak mendapatkan sahutan dari Agatha di dalam sana


Ceklek....akhirnya pintu kamar mandi pun terbuka dan tampaklah Agatha dengan wajah sembabnya dan sisa sisa air mata pun masih terlihat jelas disana


"Ta" panggil Bu Darmi menyentuh kedua pundak Agatha


Bu Darmi menghela dan menghembuskan nafas perlahan lahan, ia sendiri tak ingin bertanya dan msncampuri lebih dalam lagi urusan Agatha. Biar lah Agatha sendiri yang akan menyelesaikan masalahnya


Bu Darmi membawa Agatha untuk duduk dikursi dan menyodorkan air putih agar Agatha dapat lebih tenang


"Bersabarlah nak" ujar Bu Darmi membelai rambut Agatha


"Buk. Aku harus gimana?" tanya Agatha dengan sesenggukan


"Kembalilah pada keluargamu dan meminta laki laki itu untuk bertanggung jawab" ujar Bu Darmi membuat Agatha langsung mendongakkan kepalanya

__ADS_1


"Nggak bisa buk, nggak bisa" jawab Agatha cepat


"Ta...hamil itu bukan perkara mudah, harus ada orang lain disekitar kamu dan menjaga kamu"


"Maaf ta, Ibu gak bisa jagain kamu"


"Kamu harus pergi dari sini, ibu nggak mau kos kosan ibu dicap jelek oleh masyarakat" jelas Bu Darmi


"Tapi buk" Agatha menatap Bu Darmi


"Maafkan ibu ta" ujar Bu Darmi


Agatha pun berbenah benah barangnya kembali, hampir 10 menitan ia memasukkan kembali barang barang yang ia bawa kedalam tas. Tentu saja tidak lama karena Agatha hanya membawa beberapa potong baju saja


Seusai berkemas Agatha pun menemui Bu Darmi untuk berpamitan. Biar bagaimana pun juga Bu Darmi telah memperlakukan Agatha dengan baik saat disini dan untuk alasan Bu Darmu tak bisa menerimanya pun Agatha mengerti dan dapat memakluminya


"Ini untuk kamu dariKu" ucap Bu Darmi menyodorkan amplop cokelat


"Tap"


"Jangan menolak" tegas Bu Darmi. Agatha pun tak menolak lagi lalu ia berpamitan dan pergi dari kosan Bu Darmi


Berjalan tak tentu arah lah yang penting melangkahkan kakinya agar terus maju dan berfikir tentang semua kesialan yang dialaminya. Rasanya Agatha telah lelah dengan semuanya, hidupnya runtuh sejak beberapa hari yang lalu. Ia kehilangan keluarganya, kekasihnya, pekerjaannya dan kehormatannya. Apalagi ini? Ditambah dengan mengandung bayi? Ah...tidak, Agatha bukanlah malaikat yang akan mampu menerima semuanya dengam lapang dada


Ditengah kekalutanya Agatha melangkahkan kakinya menuju tengah jalan, bukan dilampu merah Agatha melakukan itu, ia bukan berniat untuk bunuh diri tapi Agatha sendiri tak sadar melakukan hal itu karena melihat lampu merah masih jauh makanya Agatha berniat menyeberang tanpa lampu merah dan tanpa Agatha sadari pula ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya

__ADS_1


Brakkkk.....tubuh Agatha terhempas beberapa meter dari tempatnya semula, rasa sakit, perih, lelah, pasrah dan bahkan Agatha sudah tidak perduli lagi apakah ia akan hidup lagi setelah ini? Agatha merasa tak melakukan perbuatan dosa, toh....ia sendiri tak berniat untuk mengakhiri hidup kan


Flashback Off🍃


__ADS_2