Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
Putri Genius Bryan 72


__ADS_3

Kepala Agatha tiba tiba terasa sangat pusing, barang barang dan tempat tempat disekitarnya seakan akan berputar. Tubuhnya sudah terasa lemas sejak tadi, sejak melihat Bryan yang menghalangi peluru yang hendak bersarang ditubuhnya. Bagaimana? bagaimana dia bisa melakukan hal tersebut? tanya Agatha dalam hatinya


Violla? lalu kenapa Violla melakukan hal tersebut? padahal dia juga terlibat dalam proses penculikannya, apa karena dia sangat mencintai Bryan? apa dia tidak rela melihat Bryan tersakiti?


"Ma?...Mama?" panggil Agatha saat melihat Mamanya duduk ditaman bungan dengan nuansa putih, Mamanya terlihat duduk dibangku dengan memangku seekor kucing yang sangat lucu


"Mamaaa" panggil Agatha lagi dengan perlahan mendekat kearah Mamanya


Mama Agatha pun mendongak menatap ke arah Agatha, saat sudah dekat dengan Mamanya Agatha pun langsung menghambur memeluk kaki Mamanya. Kepalanya ia sandarkan pada pangkuan sang Mama, bahkan kucing yang tadinya berada dipangkuan Mamanya turun dan berbaring disamping Mamanya


"Ma...Papa ma, hiks....hikkksss....hikkkssss" itulah yang pertama kali Agatha adukan pada Mamanya


Sukma, itulah nama Mamanya Agatha


Sukma hanya membelai lembut rambut Agatha penuh kasih, bibirnya belum berniat untuk membuka suara


"Papa jahat maaa" adu Agatha lagi


"Agatha mau ikut Mamaaa" kata Agatha yang masih menangis dipangkuan sang Mama


"Papa sayang sama Agatha" itulah yang pertama kali Sukma katakan. Sontak Agatha pun mendongakkan kepalanya begitu Mamanya mengatakan hal yang disebutnya tak masuk akal tersebut


"Mama bohong" jawab Agatha, ia pun langsung bangkit dari pangkuan sang Mama. Kakinya hendak melangah meninggalkan Mamanya, namun sebelum itu Mama Sukma meraih pergelangan Agatha hingga membuat Agatha menghentikan langkah kakinya


"Mama suka sama Cucu Mama"


"Mama suka sama menantu Mama"


"Kembalilah, hiduplah dengan bahagia" kata Mama Sukma perlahan lahan raga Mama Sukma pergi menjauh, bahkan bangku yang didudukinya tadi sudah hilang entah kemana


"Mamaaaaa" teriak Agatha sembari mencoba meraih tangan Mamanya


"Mamaaaaa" teriaknya lagi namun tubuh Mamanya malah kian menjauh darinya, tanganya sudah tak mampu Agatha jangkau lagi


Perhalan lahan tubuh Agatha merosot sembari terus memanggil manggil nama Mamanya


"Mamaaaa" tiba tiba ada suara yang memanggjlnya, suara yang tak asing baginya. Agatha terus mencari cari sumber suara tersebut


"Maaaa, Mama bangun Maaaa" suara itu pun tersengar lagi, Agatha perlahan lahan mendekat ke sumber suara. Tiba tiba tubuh Agatha seperti terjebak, bahkan terperosot ke dalam sesuatu seperti lumpur hisab


Aaaaaaa......teriak Agatha


Perlahan lahan Agatha mengerjabkan matanya untuk menyesuaikan dengan kapasitas cahaya yang masuk


"Mamaaaa....Mama sudah bangunnn" Sontak Nayla pun sangat senang begitu Mamanya berhasil membuka mata


Entah sudah berapa lama Agatha tertidur dalam pingsannya, yang pertama kali dilihatnya saat sadar adalah Nayla anaknya


"N...nay" panggil Agatha


"Iya ma" Nayla pun langsung berdiri dan mendekat pada Mamanya


"Mama mau apa? bilang sama Nayla" kata Nayla penuh khawatir


"Pa...Papa"


"Gimana keadaan Papa kamu?" tanya Agatha pada Nayla


"Aku dari tadi nungguin Mama terus" jawab Nayla yang juga tidak mengetahui keadaan Papanya


"Mama mau ketemu sama Papa" kata Agatha yang langsung mencabut infus yang tertancap pada tangannya dan turun dari ranjangnya


"Ma...Mama nggak papa?" tanya Nayla dengan khawatir atas keadaan Mamanya


"Nggak papa" jawab Agatha singkat


Meskipun dengan tertatih tatih akibat tubuhnya yang masih lemas dan dibantu oleh tubuh kecil Nayla, akhirnya Agatha dan Nayla pun sampai pada ruangan tempat tadi ia pingsan


"Ommm" teriak Nayla memanggil Agam yang tengah duduk dikursi tunggu, sontak Agam pun langsung menoleh kearah sumber suara


"Nayla" gumam Bryan


"Agatha" Agam pun langsung bergegas menghampiri Agatha


"Ta, kamu mau apa?" tanya Agam kemudian mengambil alih tubuh Agatha, membantunya berdiri


"Gimana keadaan Bryan gam?" tanya Agatha


"Ayo kita kesana dulu" kata Agam sembari membantu membopong tubuh Agatha dan diarahkannya untuk duduk di kursi yang tadi ia duduki


"Gimana keadaan Bryan gam?" tanya Agatha begitu Agam selesai membantunya duduk


"Dia masih belum sadar ta" jawab Agam


"Apa?" kaget Agatha, Agatha pun langsung bangkit berdiri dari posisi duduknya semula


"Kamu mau kemana ta?" tanya Agam begitu melihat Agatha bangun dari duduknya


"A...aku mau ketemu Bryan gam" jawab Agatha


"Oke...oke, aku bantu kamu" kata Agam yang juga prihatin melihat kondisi Agatha


Agam pun kembali membopong tubuh Agatha dan membawanya masuk keruangan Bryan dengan di ikuti oleh Nayla di belakangnya


"Papaaaa" teriak Nayla begitu pintu telah terbuka dan mendapati Bryan yang masih berbaring disana


"Paaa....Papa bangun Paaaa" panggil Nayla semvari menggoyang goyangkan tubuh Bryan, berharap dengan melakukan hal ini Bryan akan cepat bangun


"Bryyy" panggil Agatha begitu ia sampai disamping Bryan


"Bryyy bangun Bry" kata Agatha


"Pa....bangun pa" kata Nayla


Kata kata itu terus bersahut sahutan dialam bawah sadar Bryan seperti orang yang tengah tertidur , ia bahkan mendengar dengan jelas disekelilingnya tapi matanya seperti sangat lengket sulit untuk dibuka

__ADS_1


"Bry, Terima kasih atas apa yang kau lakukan tadi" kata Agatha


"Bangun Bryyy" Agatha pun juga ikut ikutan mengguncang tubub Bryan


"Pa....bangun" panggil Nayla


Mengetahui bahwa situasi ini adalah situasi kekeluargaan, maka dengan inisiatifnya sendiri Agam pun undur diri dari ruangan tersebut. Memberi ruang tersendiri kepada Agatha dan Nayla untuk memberi semangat pada Bryan


"Buktikanlah Bry" kata Agatha kemudian


"Buktikanlah jika kau benar benar berniat ingin menikah dengankuuu" Ucap Agatha dengan lantang


Kata kata Agatha barusan bagaikan air es yang mengguyur wajah Bryan, hingga berhasil membuatnya langsung terbangun dari tidurnya


"Paaa" teriak Nayla begitu melihat Papanya telah membuka mata


"Bry" kaget Agatha yang melihat Bryan tiba tiba bangun


"A...aku dimana?" tanya Bryan yang otaknya belum connect dengan keadaan sekitarnya


"Kamu berada dirumah sakit bry" jawab Agatha


"Ahhh" lenguh Bryan memegang lengannya yang terdapat sisa sisa jahitan hasil operasinya tadi


"Pa...Papa nggak papa kan?" tanya Nayla dengan penuh khawatir


"Kamu nggak papa kan Bry? atau kamu butuh sesuatu?" tanya Agatha penuh khawatir


"Tidak, aku tidak membutuhkan apapun" kata Bryan


Brak....tiba tiba pintu terbuka dengan kasar


"Ehhh" Agatha, Nayla dan Bryan bahkan sampai terkejut mendengar suara tersebut


"Ehhh" Agam juga tak kalah terkejutnya, ia sendiri tadinya tak berniat membuka pintu dengan kasar namun entah mengapa ia tidak bisa mengontrol tenaganya. Ia juga terkejut ketika melihat 3 orang anak manusia tersebut tengah berbincang ria


"Lo udah sadar bry?" tanya Agam seraya berjalan mendekat kearah Bryan


"Brengsek" maki Bryan tertahan


"Lo ngagetin banget sih" kesal Agatha


"Bikin Nay jantungan tau nggak om" Nayla pun tak kalah kesalnya juga


"Eh...maaf maaf Gue nggak sengaja" kata Agam begitu 3 orang tersebut malah memarahinya


Tidak ada yang menjawab perkataan Agam, semuanya masih fokus pada kegiatannya mengecek keadaan Bryan


Agam malah merasa kesal karena semua orang yang ada diruangan ini malah mengacuhkannya begitu saja


"Yan" panggil Agam pada Bryan, Bryan hanya menatap tanpa bertanya apa mau Agam


"Violla sadar yan, dia kritis"


"Dia mau ketemu sama lo" kata Agam yang kembali dengan mode paniknya


"Apa?" Agatha pun tak kalah terkejutnya juga


"Iya, ayo kita kesana" kata Agam dengan paniknya


Agam, Nayla, Agatha dan Bryan pun menuju keruangan Violla. Terlihatlah tubuh Violla yang masih berbaring dengan kondisi yang terlihat lemah


"Bry" panggil Violla dengan lemahnya begitu menyadari keberadaan Bryan


"Vi" Bryan pun berjalan mendekat kearah Violla


"Lo nggak papa kan?" tanya Bryan dengan khawatirnya, Violla hanya menggeleng kepala menanggapi pertanyaan Bryan


"Ma...maafin gue Bry" kata Violla dengan suara lemahnya


"Gue udah maafin lo Vi, lo harus sembuh" kata Bryan dengan raut kekhawatirannya


Violla hanya tersenyum menaggapi kekhawatiran Bryan, Violla menatap kearah Agatha yang berdiri agak jauh darinya


"Ag...Agatha" panggil Violla dengan suara lemahnya sembari mengangguk meminta agar Agatha mendekat kearahnya


Agatha yang mengerti dengan kode dari Violla pun perlahan mendekat kearah Violla berseberangan dengan Bryan


Perlahan lahan Violla pun meraih tangan Agatha dan Bryan, menaruhnya diatas perutnya


"Bry" panggil Violla


"Iya vi" jawab Bryan


"Gue cinta sama lo bry" kata Violla, Bryan bahkan tidak mampu untuk menjawab kata kata yang keluar dari bibir Violla


Violla yang mengerti hanya bisa tersenyum, ia sadar bahwa ia sendirilah yang bodoh telah mengikuti perintah Alex hingga membuat Bryan membencinya rasa cinta Bryan untuknya yang dahulu melimpah kini telah hilang


"Ma...maafin gue" kata Violla lagi


"Gue udah maafin lo, asal lo sembuh" kata Bryan, Violla hanya tersenyum kemudian menoleh kearah Agatha


"Gu...gue m...min..ta lo...ja...gain...B...bryan s..se...um...ur h..hid...dup lo...t...ta" kata Violla kemudia


Hekkk....suara tarikan nafas Violla yang terdengar dalam dan terkecat


Hehhhh....suara hembusan nafas Violla kemudian wajah Violla menoleh kearah Bryan dengan mata yang telah terpejam, bahkan genggaman tangan Violla pada tangan Bryan dan Agatha pun perlahan mengendur


"Violla" teriak Bryan sembari menepuk nepuk pipi Violla, berharap agar Violla lekas membuka mata


"Dokterrrr" teriak Agatha


Agam yang berada diluar dan mendengar teriakan dari dalam pun bergegas keluar mencari Dokter. Tak berselang lama Agam pun kembali datang dengan membawa Dokter


"Dok....tolong dok" kata Bryan begitu Dokter datang

__ADS_1


Dokter pun mengecek semua alat Vital Violla satu persatu


"Maaf pak, Bu Violla sudah tiada" kata Dokter kemudian


"Apa?" kaget Agatha


"B...bagaimana bisa dok?" tanya Bryan


"A..apa tembakannya parah?" tanyanya lagi, tentu saja Bryan akan selalu merasa tak tenang karena Violla telah menyelamatkan dirinya tadi


"Luka tembakannya tidak terlalu parah, namun..." kata Dokter tersebut menggantung


"Apa dok?" tanya Bryan yang tak sabaran


"Beberapa organ dalam Bu Violla sudah terkena efek dari pengonsumsian narkoba" kata dokter tersebut


"Apa?" kaget Bryan


"N...narkoba?" tanya Bryan memastikan, ia bahkan tak percaya


"Benar, Bu Violla ternyata mengonsumsi narkoba"


"Dia sudah mengonsumsi sejak lama"


"Namun beberapa tahun terakhir dia telah berhasil mengurangi dosis pemakaiannya"


"Namun beberapa oragan dalam nya sudah terserang efek dari pengonsumsian narkoba tersebut" kata Dokter menjelaskan. Usai menjelaskan Dokter tersebut pun undur diri dari ruangan tersebut


Dengan perlahan lahan Bryan pun berjalan mendekat kearah Violla


"Lo kenapa nggak bilang gue vi?" tanya Bryan dengan nada frustasinya


"Lo kenapa jadi gini?" tanyanya lagi


"Ma...maafin gue vi"


"Gue udah jahat sama lo" lirih Bryan, sungguh Bryan sama sekali tak menyangka jika hal ini akan terjadi pada Violla bahkan ia juga sama sekali tak mengetahui jika Violla menginsumsi barang haram tersebut


Agatha pun perlahan lahan mendekat kearah Bryan, Agatha sama sekali tak menyangka jika rencana awalnya datang kesini malah menciptakan kejadian yang tak pernah dibayangkannya


"Bry" panggil Agatha seraya mengelus elus punggung Bryan


Bukan rasa cemburu karena Bryan begitu peduli dengan Violla. Agatha juga menyadari jika Violla adalah wanita yang lebih dulu hadir dalam hati dan kehidupan Bryan, bahkan Violla rela menjadikan tubuhnya sebagai tameng agar peluru yang ditembakkan oleh Alex tidak menembus kedalam tubuh Bryan. Bukankah itu adalah pengorbanan yang luar biasa? karena hati mereka sendiri lah yang menggerakkan tubuhnya untuk melakukan hal luar biasa tersebut


"Lo harus kuat Bry" kata Agatha menyemangati


"Gue jahat ta, gue bahkan nggak pernah tau"


"Ka...kalau Violla ...m..." bahkan Bryan pun tak mampu lagi untuk melanjutkan kata katanya


"Lo harus sabar Bry" akhirnya hanya kata kata itulah yang dapat Agatha katakan, ia sendiri bahkan tak tau harus berbuat apa


"Ma...maafin gue vi" lirih Bryan


Dengan tertatih tatih Agatha pun membantu Bryan untuk keluar dari ruangan tersebut dengan dibantu oleh Agam


"Gam, lo urus semuanya" kata Bryan pada Agam


"Oke" jawab Agam


"Ta, lo harus istirahat dulu" kata Agam mengingatkan


"Lo juga yan" lanjut Agam


"Gue nggak papa" kata Bryan


"Lo belum pulih, jangan sok kuat deh" kesal Agam


"Besok kita balik ke Jakarta" kata Agam mengingatkan


"Oke" jawab Bryan


Agam dan Agatha pun membantu Bryan untuk kembali lagi keruangan rawat Bryan


"Biar gie yang jagain Bryan" kata Agatha saat sudah berhasil membaringkan tubuh Bryan


"Lo kan juga belum bener bener pulih ta" sanggah Agam


"Gue udah nggak papa kok" jawab Agatha


"Lo nggak usah ikut ikutan keras kepala deh ta" Agam malah semakin dibuat kesal oleh sikap keras kepala Agatha


"Tapi Bryan gimana?" tanya Agatha yang masih khawatir


"Biar gue yang jagain" kata Agam


"Iya, Mama biar aku yang jagain" sahut Nayla


"Nah, bener tuh kata Nayla" jawab Agam


"Nayla" panggil Agam menoleh kearah Nayla


"Iya om?" jawab Nayla


"Nanti kalau Nay cape atau ngantuk, Nay tidur aja disofa yah" kata Agam pada Nayla


"Iya om" jawab Nayla


"Kamu buruan istirahat gih" kata Bryan pada Agatha


"Iya" jawab Agatha singkat


"Nay, Papa minta tolong nay jagain Mama dulunya" kata Bryan pada Nayla


"Iya pa, Papa juga cepet sembuh ya" kata Nayla

__ADS_1


"Iya" jawab Bryan sembari tersenyum


Agatha dan Nayla pun akhirnya beranjak keluar dari kamar Bryan


__ADS_2