Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
Putri Genius Bryan 56


__ADS_3

"Cantik sekali" batin Bryan yang menatap penampilan Agatha, dipandanginya lekat lekat Agatha dari atas sampai bawah lalu kembali lagi dari bawah hingga atas


"Wuahhhh Mama cantik banget" puji Nayla


"Iya dong, Mama kan emang cantik" ucap Agatha percaya diri, disibakkannya rambut yang ia gerai


Ehhhh.... Tak sengaja matanya menatap Bryan yang terlihat sedang mengati penampilannya. Agatha pun menjadi salting dan gugup


"Eh...udah yok katanya mau pergi" ucap Agatha yang langsung berjalan keluar


"Pa ayo" Nayla menarik narik ujung baju Bryan, menyadarkan Papanya dari lamunannya


Ehhhh....Bryan pun terkejut saat tiba tiba Nayla menarik ujung bajunya


"Papa kok malah ngelamun sih, ayo...Mama udah didepan" ucap Nayla berapi api


"Eh...iya iya, ayo" balas Bryan yang juga baru menyadari bahwa Agatha sudah tidak ada ditempatnya semula


Bryan dan Nayla pun bergegas menyusul Agatha yang saat ini tengah berdiri disamping pintu mobilnya


"Ayo" entah dari mana tiba tiba dengan refleksnya Bryan membukakan pintu untuk Agatha dengan sedikit menggeser tubuh Agatha


"Ehhh" Agatha juga terkejut saat tiba tiba Bryan menggeser tubuhnya


"Emm...kamu masuk gih" ucap Bryan, tanpa menjawab Agatha pun langsung masuk


"Nay duduk dibelakang ya, ada banyak camilannya loh" ucap Bryan pada Nayla setelah menutupkan pintu untuk Agatha


"Iya pa" Nayla pun menurut saja perkataan Papanya


Didalam mobil hanya ada riuh tawa Nayla yang bercerita kesana kemari tanpa jeda dengan Bryan yang mencoba ikut aktif mendengarkan apa pun yang terucap dari bibir putrinya tersebut, sedangkan Agatha hanya sesekali menimpalinya


"Papa..." panggil Nayla


"Apa?" jawab Bryan dengan pandangan yang tengah fokus kedepan


"Aku pengen latihan silat lagi" adu Nayla


"Iya...nanti yah" bujuk Bryan


"Sama Papa" adu Nayla


"Iya sama Papa nanti" jawab Bryan menenangkan


"Janji" ucap Nayla dengan tatapan menyelidik


"Janji" jawab Bryan


"Makasih Papa" balas Nayla dengan senangnya


"Kita mau kemana?" tanya Agatha tiba tiba, ia merasa perjalanan ini seperti arah ke Jakarta saja


"Ketemu Papa dan Mamaku" jawab Bryan singkat


"Apa???" terkejut Agatha dengan mata bulat membola dan mulut yang menganga


"Apa kamu pikir aku hanya main main saja dengan ucapanku?" sindir Bryan


"Ehhh" Agatha terkejut, bagaimana laki laki itu tau akan pikirannya

__ADS_1


"Ba...bagaimana kamu akan memperkenalkanku pada mereka?" tanya Agatha ragu ragu


"Apa maksudmu?" tanya Bryan yang langsung menoleh menatap Agatha


"Apakah sebagai pelakor? Atau sebagai jalangmu?" tanya Agatha menahan sesak perih dihati


Ciiuuuuttttt.....dengan refleksnya Bryan langsung menginjak pedal rem nya


"Auh" keluh Nayla


"Aduh" keluh Agatha karena kepalanya hampir membentur dashboard


"Ma...maafin Papa, Papa nggak sengaja" ucap Bryan pada Nayla, dan langsung mengecek kondisi Nayla


"Nayla nggak papa kan? Atau ada yang sakit?" tanya Bryan memeriksa tubuh Nayla


"Nggak ada kok pa, tadi Nayla cuma kaget aja" jawab Nayla


"Syukurlah" ucap Bryan lega


"Maafin papa yah" ucap Bryan lagi, Nayla hanya menganggukkan kepalanya


Setelah itu tak ada percakapan lagi dalam durasi yang cukup panjang. Baik Bryan ataupun Agatha tak ada yang membuka suara untuk sekedar menjelaskan ataupun meminta maaf, keduanya sama sama mencoba bertahan denga pemikirannya masing masing


Tak sengaja netra Bryan melirik Nayla yang sudah tertidur dari kaca, huh....anak itu mungkin saja kecapaian karena perjalanan jauh namun ia harus tetap dalam posisi duduknya


"Aku akan mengenalkanmu pada orang tuaku sebagai Ibu dari anakku" ucap Bryan tiba tiba membuat Agatha yang tadinya tengah menikmati pemandangan dari balik kaca mobilnya langsung berbalik menatap Bryan


"Kau gila" pekik Agatha


"Itu kenyataannya" balas Bryan dengan santainya


"Oh...ya ampun" frustasi Agatha menangkup wajahnya dengan kedua tangannya


"Setuju tak setuju, mereka tetap tidak akan bisa merubah kenyataannya" jawab Bryan


"Bagaimana kalau mereka membuangku dan Nayla?" tanya Agatha lagi


"Membuang?" tanya Bryan memastikan sembari menoleh pada Agatha


"Iya, seperti difilm film" jelas Agatha berapi api, Bryan tersenyum menggeleng tak percaya dengan alasan Agatha yang mendasari pemikirannya tersebut


"Kalian tanggungjawabku, jadi kamu tak perlu memikirkan itu" ucap Bryan


"Lalu Istrimu? Bagaimana jika dia tak terima?" tanya Agatha


"Tak terima dalam hal?" tanya Bryan


"Ya...tidak terima dengan kenyataan kalau kita telah memiliki anak" helas Agatha


"Kita?" batin Bryan


"Bukankah aku sudah bilang jika aku akan segera menceraikannya" pungkas Bryan


"Nah....maka dari itu"


"Bagaimana kalau dia mengira jika akulah yang menjadi penyebab perceraian kalian?"


"Nanti aku bakalan di cap sebagai pelakor dong" bayangan Agatha akan hal itu kini hadir dalam pikirannya. Ahh...tidak tidak, aku tidak mau....batin Agatha

__ADS_1


"Ada Nayla yang menjadi penguat diantara kita" balas Bryan singkat


Agatha langsung menatap Bryan dengan tatapan heran, bingung dan menyelidik


"Memangnya kenapa?" tanya Agatha dengan polosnya


"Ya itu berarti hubungan kita jauh lebih kuat ketimbang pernikahanku" jelas Bryan


"Kau belum memiliki anak dengannya?" tanya Agatha menyelidik


"Bukan belum, tapi tidak akan pernah" terang Bryan


"Kau bukan tuhan yang menentukan segalanya" cibir Agatha, Bryan hanya tersenyum tak menanggapi lebih lanjut lagi


"Apa benar kau dijebak?" tanya Agatha


"Iya" jawab Bryan singkat


"Kapan?" tanya Agatha lebih lanjut


"Beberapa hari setelah kepergianmu" ucap Bryan


Antara kasian dan prihatin, bisa bisanya dua orang yang dikenalnya menjadi korban penjebakan seorang wanita. Nasib Bryan dan Reyhan hampir sama ternyata, bedanya dulu Sellena sampai hamil anak Reyhan, sedangkan Bryan belum memiliki anak dengan wanita yang telah menjebaknya. Eh...kenapa dia yakin sekali kalau tidak akan memiliki anak dengan wanita itu. Jangan...jangan...laki laki disampingnya tersebut sudah tak normal lagi, hiii....Agatha bergeridik ngeri sendiri membayangkan hal itu


"Apa kau tidak ingin mengunjungi orang tuamu?" tanya Bryan tiba tiba


"Orang tuaku?" Agatha balik bertanya


"Em tidak" ucap Agatha cepat


"Kenapa?" heran Bryan


"Oh...karena kamu belum siap bertemu dengan Reyhan?" tebak Bryan


"Kau mengenalnya?" tanya Agatha tak percaya


"Kami rekan bisnis" jawab Bryan


"Oh..." jawab Agatha mangut mangut


"Laki laki tersebut terlihat dingin kepada semua wanita, apa dia dulu juga seperti itu?" tanya Bryan


"Tidak, dia dulu laki laki yang hangat" tolak Agatha membenarkan


"Oh..." Bryan hanya ber oh ria


Perjalanan terus berlanjut hingga pada akhirnya mereka kini telah sampai dikediaman orang tua Bryan. Bryan pun membangunkan Nayla dari tidurnya


"Nay...Nayla, bangun sayang" Bryan sedikit menggoncang goncangkan tubuh Nayla agar sang empu segera bangun


"Eummm" lenguh Nayla, Nayla mengerjabkan matanya beberapa kali


"Ayo bangun, kita udah sampai" ucap Bryan lagi


"Sudah sampai pa?" tanya Nayla memastikan lagi


"Iya, udah. Ayoo" ajak Bryan


Agatha, Nayla dan Bryan pun turun dari mobil. Dengan tangan kiri Bryan yang menggandeng tangan mungil Nayla dan disebelah kanannya ia menggandeng tangan Agatha

__ADS_1


"Sudah siap?" tanya Bryan pada Agatha


"Si...siap" jawab Agatha dengan ragu ragu


__ADS_2