
Bahkan matahari yang terbit saja akan tenggelam pada waktunya meskipun banyak orang yang masih ingin menikmati terik matahari. Entah kita sadari atau tidak, kita pasti akan sering mengatakan dan meyakinkan pada diri kita masing masing bahwa hidup itu harus dinikmati, tapi perlu diingat juga bahwa tak semuanya mudah untuk dinikmati bukan?
"K...kau akan me..nik..ah?" tanya Reyhan dengan terbata, bahkan untuk mengatakan kata menikah saja suara itu seakan akan tercekat ditenggorokannya
"Iya" jawab Agatha dengan tersenyum
"Dengan siapa?" tanya Reyhan, Tidak.....bahkan sebenarnya ia tak perlu tahu siapa bajingan yang akan menikahi wanitanya itu bukan?
"Apa aku mengenalnya?" tanya Reyhan kemudian
"Iya, kau mengenalnya dengan sangat baik" jawab Agatha sembari menganggukkan kepalanya kecil
"A...aku mengenalnya?" tanya Reyhan yang masih tak percaya, walaupun perasaan was was mulai menjalar ke dalam tubuhnya
"Iya" jawab Agatha singkat, yang tak lupa dibumbihi oleh senyuman manisnya
"Si...siapa?" tanya Reyhan ragu ragu. Tidak....ia harus bisa menerima semua ini, kalaupun nantinya ia tidak bisa menghalangi rasa bencinya pada bajingan itu, setidaknya ia harus menahan diri agar tidak membunuhnya
"Bryan" jawab Agatha dengan penuh keyakinan, seolah olah mengatakan pada dunia bahwa Bryan lah pilihannya, seluruh dunia ini harus tau
"B...Bryan" kata Reyhan sembari telunjuk tangannya mengarah pada sampingnya, entah apa yang ditunjuknya namun Agatha mengerti apa yang dimaksud oleh Reyhan
"Iya, dia adalah calon suamiku" kata Agatha kemudian
"W...wah" Reyhan sampai tidak bisa berkata kata dibuatnya
"Selamat" lanjut Reyhan kemudian
"Terima kasih" kata Agatha
"Sebenarnya, aku tidak yakin untuk memberitahumu hal ini" kata Agatha kemudian menundukkan kepalanya
"Kenapa? apa kau terlalu menganggapku ini orang asing?" tanya Reyhan kemudian
Sebagai seorang laki laki tentu saja ia harus bersikap tegar dihadapan wanita. Walaupun air mata pertamanya telah jatuh saat pertama kali bertemu dengan Agatha tadi, namun tentu saja hal itu merupakan pengecualian bukan?
"Tidak, hanya saja aku tidak seharusnya berbicara hal ini"
"Padahal kita baru bertemu lagi setelah sekian lama" kata Agatha yang mengoreksi kesimpulan Reyhan
"Walaupun kita baru bertemu lagi, tapi kita pernah sangat dekat sebelumnya" kata Reyhan
"Jadi, jangan lupakan hal itu" lanjutnya kemudian
"Hah....kau benar" jawab Agatha sembari tersenyum
__ADS_1
"Kau bisa bercerita apapun, aku akan mendengarkannya" kata Reyhan
"Kau sama sekali tak berubah" ucap Agatha
"Hidupku telah berubah, bahkan saat ini aku hidup dengan sesuatu yang sama sekali tak pernah aku bayangkan sebelumnya" ucap Reyhan yang terdengar seperti kata kata keputus asaan
"Tapi hatiku padamu tetap tidak akan berubah" lanjut Reyhan kemudian
Agatha menunduk untuk sesaat, bagaimana pun juga Reyhan adalah orang pertama yang selalu mendukungnya saat itu. Reyhanlah kekasihnya, temannya bahkan menjadi Papanya sekalipun yang selalu siap sedia mendengarkan keluh kesahnya
"Aku harap kita bisa hidup bahagia dengan kehidupan kita masing masing" doa Agatha dengan penuh pengharapan
"Benar, aku juga berharap begitu" ucap Reyhan
"Emmmm, sebenarnya aku juga sudah punya anak" lanjut Agatha kemudian
"Ap...apa?" tanya Reyhan dengan terbata bata karena ia belum mempercayainya sedikitpun
"Kau tak perlu berlebihan seperti ini, aku tidak akan membawamu kabur"
"Jadi kau tidak perlu membual seperti ini" ucap Reyhan yang berusaha menghentikan kebohongan Agatha
"Aku serius" sahut Agatha dengan tegas
"Iya, anak ku perempuan dia sangat cantik dan berbakat, usianya saat ini 6 tahun"
"Dia bahkan bisa melukis sepertiku dan dia juga menuruni keahlian Papanya" ucap Agatha, Bibirnya terus tersenyum pandangan matanya seakan akan menerawang, memberitahu kepada Reyhan tentang keistimewaan yang dimiliki putrinya
"Apakah dia anak Bryan?" tanya Reyhan dengan ragu, entah kenapa perasaanya langung menjerumus ke arah situ
"Iya" jawab Agatha
Brak......Reyhan menggebrek meja dengan keras seakan akan menggunakan seluruh tenaga dalamnya, bahkan kini Reyhan sampai langsung berdiri
"Astaga Rey" kaget Agatha, mulutnya menganga dan matanya membulat sempurna
"Apa dia kabur selama ini? kenapa dia baru menikahimu?" tanya Reyhan bertubi tubi
Bayangan jika Bryan pernah menjamah tubuh Agatha saja telah membuatnya marah, apalagi dengan Bryan yang mencampakkan Agatha dengan meninggalkan seorang anak
"Dasar bajingan" umpat Reyhan dengan rahang yang mengeras, tak lupa juga dengan tangan yang telah mengepal sempurna seakan akan sudah siap dilayangkan kewajah Bryan. Reyhan pun hendak meninggalkan Agatha
"Dia tidak bersalah" kata Agatha yang langsung beranjak berdiri dan menahan pergelangan tangan Reyhan yang hendak melangkah tersebut
"Kau tidak perlu membelanya seperti itu" sinis Reyhan, bahkan saat ini Agatha tak ingin jika ia melukai Bryan saja telah membuatnya sakit
__ADS_1
"Tidak, tidak seperti itu. Jadi duduklah" kata Agatha yang memohon
Mau tidak mau akhirnya Reyhan pun duduk kembali sesuai dengan mermintaan Agatha. Agatha pun menceritakan semuanya dengan detail tanpa ada yang ia kurangi atau lebih lebihkan
"Lalu? apakah keluarganya menerimamu dengan tangan terbuka?" tanya Reyhan
"Iya, mereka semua menerimaku dengan tangan terbuka" jawab Reyhan
"Ouh....aku ingin bertanya satu hal padamu" kata Reyhan menatap pada Agatha
"katakanlah" ucap Agatha mempersilahkan
"Apa kau bahagia?" tanya Reyhan kemudian, baginya kebahagiaan Agatha adalah hal yang terpenting untuknya ketika ia tak bisa memastikannya sendiri
"Aku bahagia, kau tak perlu khawatir" jawab Agatha dengan senyumannya
"Syukurlah" ucap Reyhan sembari memantapkan hatinya, tak mudah turut mendoakan orang yang kita cintai untuk bahagia bersama orang lain
"Boleh aku minta sesuatu padamu?" tanya Agatha kemudian dengan ucapan yang terdengar sangat berhati hati
"Katakanlah" ucap Reyhan yang juga mengiyakan permintaan Agatha
"Berusahalah lebih keras untuk mencintai Sellena dan juga anakmu" Kata Agatha sembari menggengam tangan Reyhan
Sedikit banyak ia paham dengan apa yang dirasakan oleh Reyhan, tak mudah untuk hidup bersama dengan orang yang tak dicintai. Namun, berusahalah agar cinta itu segera tumbuh dihatinya masing masing
Setelah pembicaraan panjangnya, akhirnya Agatha dan Reyhan pun mengakhiri perbincangan tersebut.
"Eh....kalian masih ada disini?" kaget Agatha yang mengetahui jika Bryan, Agam dan Milla masih ada ditempatnya semula namun dengan hidangan dimeja yang tanpak bertambah lebih banyak
"Iya, kami sengaja menunggumu" jawab Bryan yang bertanggungjawab penuh dengan kegiatan ini
"Oh..." kata Agatha mengiyakan
"Baiklah, karena Pak Bryan masih ada disini"
"Jadi, saya mohon pamit" kata Reyhan kemudian
Niat Reyhan yang pada awalnya akan mengantarkan Agatha pulang karena berfikir bahwa Bryan sudah kembaki kekantor pun pada akhirnya harus pupus saat melihat Bryan bahkan tidak beranjak dari tempatnya semula
"Semuanya telah berhasil" batin Bryan
"Mari kita ketahap yang selanjutnya" batin Bryan dengan menatap punggung Reyhan yang kian menjaun
Mwooooo?
__ADS_1