Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
Putri Genius Bryan 80


__ADS_3

Tidak semua yang kita sukai baik untuk kita? Yah....sebagian orang pasti akan setuju dengan kata kata ini. Ataukah? suatu hal yang baik, belum tentu baik juga untuk kita


"Kau yang mengatur semua ini?" tanya Agatha behitu pulang bersama Bryan, saat ini Bryan tengah menyetir dengan tangan kirinya berpegangan tangan dengan Agatha


"He eum" jawab Bryan, senyumannya terus mengambang dari bibirnya


"Kenapa?" tanya Agatha menatap Bryan


"Aku ingin kau menyelesaikan masa lalumu sebelum kita menikah" jawab Bryan dengan penuh keyakinan, cukup selama ini ia tidak tegas terhadap perasaannya sendiri, namun kali ini ia akan memperjuangkan pilihan hatinya


"Wahhh gaya lo kaya di drakor aja. Hahahhaha" tawa Agatha yang mengejek Bryan


"Gimana kalau kita bulan madu di korea?" tanya Bryan, tiba tiba ia berfikir untuk honeymoon ke korea begitu mendengar Agatha menyebut drakor


"Wuissshhhh....boleh juga tuh" Agatha pun tak kalah senangnya.


Bagi pencinta drakor garis katulistiwa tentunya sangat memimpikan bisa kenegara tersebut, apalagi jika diberi kesempatan untuk kesana. Ah.....kadang khayalan juga diperlukan untuk membuat diri sendiri bahagia


Sesampainya Agatha dan Bryan dirumah, tentu saja mereka berdua disambut oleh Nayla. Entahlah....belakangan ini anak itu lebih menyukai memasak, tak jarang Nayla juga akan ikut riwuh membantu bibi ketika memasak padahal sudah dilarang


"Ma, Pa ini masakan aku loh" kata Nayla sembari meletakkan semangkuk sup yang tadi dibuatnya, meskipun dengan campir tangan bibi juga


"Wuihhhhh, anak Papa udah jago masak nih? baunya enak banget" kata Bryan yang kemudian langsung menyendok sup tersebut


"Iya dong. Kek, Nek, Tante musti cobain juga" kata Nayla mempersilahkan yang lainnya juga


"Masa enak? bentukannya kok gini ya?" kata Ratih yang menelisik keseluruhan penampilan sup buatan Nayla


"Masih mending dong tante bentukannya kek gini, emang tante bisa masak?" tanya Nayla dengan sinis. Benar, gen tak mau kalah dari Bryan menurun kedalam tubuh Nayla


Skakkk


"Eummm Nay, nanti ikut Papa yuk" ajak Bryan pada Nayla, saat ini keduanya tengah duduk duduk ria diteras samping rumah tempat andalannya


"Kemana pa?" tanya Nayla yang kemudian penasaran


"Emmm ada deh" jawab Bryan, Bryan pun lekas beranjak berdiri dari tempat duduknya untuk mencari keberadaan Agatha


"Ta..." Panggil Bryan sembari melangkahkan kaki melewati anak tangga


"Kamu ngapain yan?" tanya Mama Henny yang baru keluar dari kamar Ratih sembari menutup pintunya


"Agatha ada didalem nggak ma?" tanya Bryan pada Mamanya


"Ada, sama Ratih juga" jawab Mama Henny


"Makasih ma" ucap Bryan yang kemudian langsung membuka pintu kamar Ratih


Brak....


"Eh" kaget Ratih dan Nayla hampir bersamaan, hingga dua potong timun yang ada dimata mereka masing masing sampai terjatuh karena tiba tiba duduk


Maklumlah saat ini mereka tengah memakai masker perawatan diwajahnya sembari berbaring, tentu saja lebih enak dengan mata yang ditutup menggunakan potongan timun


"Kakak apaan sih" kesal Ratih, ia sangat tak suka jika acara sakral bagi kaumnya tersebut harus dirusak. Moodnya yang tadinya baik karena sedang perawatan langsung berubah dengan cepat karena ada yang mengacaukannya


"Iya apaan sih" kata Agatha ikut menimpali, moodnya juga ikut ikutan rusak ternyata


"Ayo kamu ikut aku" kata Bryan yang langsung mendekati Agatha kemudian menarik tangannya


"Eh....eh, mau kemana?" tanya Agatha yang masih mencoba menahan tubuhnya agar tak terseret akibat tarikan tangan Bryan


"Udah ikut aja" jawab Bryan, tangannya bahkan masih berusaha untuk menarik Agatha


"Iya, tapi mau kemana? muka aku juga kan masih gini" kata Agatha yang masih mencoba mengentikan Bryan


"Oiya, buruan bersihin dulu gih" kata Bryan yang kemudian langsung melepaskan genggaman tangannya


"Jagan lupa ganti baju juga" ucap Bryan lagi yang kemudian langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar Ratih


"Mau kemana kak?" tanya Ratih kepada Agatha setelah Kakaknya menghilang dari balik pintu


"Nggak tau juga" jawab Agatha mengendikkan bahunya


Sementara itu, Bryan pun langsung menuju kamarnya hendak berganti baju. Bisa bisanya tadi ia hendak langsung menyeret Agatha begitu saja, padahal penampilannya saat ini hanya mengenakan kaos oblong dan kolor rumahan saja


Hampir selama 20 menit bagi Agatha untuk bersiap siap, padahal sendirinya juga tak tau akan kemana. Jadi Agatha hanya memakai dress selutut karena berfikir bahwa Bryan akan mengajaknya keluar atau makan malam.diluar mungkin


"Udah siap?" tanya Bryan pada Agatha, sudah 10 Menit Bryan menunggu Agatha diruang tamu


"Udah, mau kemana emangnya?" tanya Agatha yang masih penasaran kemana Bryan akan membawanya pergi kali ini

__ADS_1


"Udah, ikut aja" jawab Bryan


"Yaudah ayo" ucap Agatha yang hendak melangkah


"Eh tunggu" kata Bryan sembari menahan tangan Agatha, menghentikan Agatha yang akan melangkah


"Kenapa?" tanya Agatha menoleh ke arah Bryan


"Sama Nayla juga" ucap Bryan sembari tersenyum


"Oh Astagaaa, sampai lupa aku" kata Agatha sembari telapak tangannya menepuk jidatnya


"Nggak sabar ya?" goda Bryan, Agatha hany Memutar bola matanya malas


"Pa, Ma. Aku udah siap" teriak Nayla yang baru turun dari tangga sembari berlari kearahnya, Seperti biasa Bryan pun langsung merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan hangat sang Putri


Kini ketiganya tengah berada dimobil, sedang perjalanan menuju ketempat tujuan Bryan. Selama perjalanan, telinga Bryan harus terbiasa dengan ocehan ocehan Nayla, ocehan yang selalu membuatnya mengembangkan senyum dibibirnya


Makin kesini Agatha seperti tak asing dengan jalan yang ditempuh Bryan, Yah....tak salah lagi mobil yang dikendarainya tengah mengarah ke....


"Kita mau kemana?" tanya Agatha pada Bryan


"Kamu pasti udah tau" jawab Bryan. Benar saja dugaan Agatha tak salah lagi rupanya


"Ngapain kita kesana?" tanya Agatha yang belum puas mendengar jawaban dari Bryan


"Aku ingin kesana dan memintamu baik baik" kata Bryan


"Kita akan segera menikah" lanjut Bryan lagi


"Aku sudah bukan anggota dari kuarga itu lagi, jadi kita tak perlu kesana. Bahkan kita tidak perlu restu dari mereka" tolak Agatha dengan cepat, Agatha bahkan tak pernah berfikir untuk kembali menginjakkan kakinya dirumah itu lagi


Bryan pun menepikan mobilnya, ia tahu jika keputusan yang ia buat tidaklah benar. Seharusnya ia meminta pendapat dari Agatha terlebih dahulu, bukan memutuskannya secara sepihak seperti ini


"Dengerin aku" kata Bryan menatap Agatha, begitu juga dengan Agatha yang saat ini juga menatap Bryan


"Kamu nggak boleh terus terusan seperti ini terus, mereka semua keluarga kamu" kata Bryan sembari menggenggam kedua tangan Agatha, untung saja saat ini Nayla tengah tertidur dengan pulas dikursi belakang


"Kamu nggak tau apa apa" kata Agatha yang langsung menghempaskan kedua tangan Bryan yang tadi menggenggamnya


"Papamu sangat merindukanmu" ucap Bryan kemudian


"Jangan membual, lagi pula aku juga tidak perduli" kata Agatha membalikkan ucapan Bryan


"Bersikaplah dewasa" lanjut Bryan


Agatha diam sejenak, merenungi ucapan Bryan "Bersikaplah Dewasa" Yah.....kata kata itulah yang saat ini terngiang ditelinga Agatha. Dulu ia pernah bersikap kekanak kanakan dengan kabur melarikan diri dari semuanya dan lihatlah selama bertahun tahun Nayla juga harus menanggung resiko dari perbuatannya dulu. Tidak.....kali ini benar kata Bryan, ia tidak bisa terus terusan menghindar seperti ini


"Baiklah" kata Agatha kemudian setelah perenungan panjangnya


"Baiklah" ucap Bryan tersenyum, ia sangat senang dengan keputusan Agatha saat ini


45 menit kemudian mobil yang ditumpangi Bryan dan Agatha akhirnya sampai juga dikediaman Pak Surya selaku Papa dari Agatha. Bagi Agatha tentu saja hal ini bukanlah hal yang mudah, ia harus terus memantapkan dan meyakinkan hatinya terus terusan selama diperjalanan tadi


Untung saja Bryan selalu menggengam tangannya sepanjang perjalanan tadi, seakan akan memberi kekuatan pada Agatha dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik baik saja


"Nay, ayo bangun" Bryan pun mencoba membangunkan Putrinya saat sudah sampai dirumah Pak Surya


"Kita mau ketemu Kakek dari Mama loh" ucap Bryan lagi, tangannya pun mengguncang guncang kecil tubuh Nayla


"Eummm" lenguh Nayla yang merasa tidurnya telah diusik oleh seseorang


"Ayo bangun" kata Bryan lagi


Kini Agatha dan Bryan telah berada didepan pintu ruamah Pak Surya. Dengan tangan kanan Bryan yang terus menggenggam tangan Agatha, dan tangan kiri Bryan digunakannya untuk menggendong tubuh kecil Nayla


"Sudah siap?" tanya Bryan pada Agatha


"Sudah" jawab Agatha dengan disertai oleh senyuman


Tok.....tok....tok....Bryan pun kemudian mengetuk pintunya, tak berselang lama pintu pun dibuka oleh seseorang dari dalam


Ceklek.....tampaklah seorang wanita muda yang membuka pintu, yah....dialah Sellena wanita yang membuat Agatha selalu menyalahkan takdir atas kejadian yang membuatnya harus merelakan seorang Reyhan


Sellena pun tampak terkejut dengan kedatangan kami, bahkan saking terkejutnya Sellena sampai tak bisa mengucapkan sepatah kata pun dan pandangannya tak pernah lepas dari Agatha


"A...Agatha?" lirih Sellena dengan tatapan yang memindai penampilan Agatha dari atas sampai bawah. Memastikan dengan kedua matanya berulang kali bahwa yang ada dihadapannya saat ini benar benar Agatha


"Ya, ini aku" jawab Agatha


Kini Agatha, Bryan dan Nayla pun duduk disofa ruang tamu tentu saja Sellena lah yang mempersilahkannya

__ADS_1


"Tunggu dulu, aku akan memberitahukan pada semuanya" kata Sellena


"Papa pasti akan sangat senang dengan kedatanganmu ta" ucap Sellena kemudian


Namun Agatha tampak membuang pandangannya ketika Sellena mulai berbicara didepannya entah mengapa melihat Sellena berbicara pun telah membuat Agatha muak.


"Itu siapa ma?" tanya Nayla yang tengah duduk dipangkuan Papanya. Bahkan Agatha pun tak berniat untuk menjawab pertanyaan Nayla, rasanya lidahnya tidak bisa menyebutkan kata tante pada Nayla


"Dia Tante Nayla, namanya Tante Sellena" jawab Bryan saat menyadari bahwa Agatha tak ingin menjawab pertanyaan Nayla


"Agatha?" Mama Sinta dan Reyhan tampak tercengang dengan kedatangan Agatha, walaupun Reyhan telah bertemu dengan Agatha namun ia sama sekali tak menyangka jika Agatha akan datang kerumahnya


Sementara Mama Sinta perlahan mendekat kearah Agatha begitu sampai di depan Agatha Mama Sinta langsung memeluk tubuh Agatha padahal Agatha masih dalam posisi duduknya


Bug..."Kamu kemana aja ta?...hiks...hikss" tanya Mama Sinta yang dalam posisi memeluk Agatha


"Lepaskan" kata Agatha dengan dingin, bahkan Agatha sama sekali tidak membalas pelukan dari Mama tirinya tersebut


"Ta..." kata Mama Sinta yang belum menyelesaikan ucapan yang hendak dikatakannya


"Lepaskan" ucap Agatha dengan dingin


Mama Sinta yang menyadarinya pun melepaskan pelukannya dari tubuh Agatha perlahan lahan, ia memaklumi sifat Agatha mengingat apa yang dulu sering ia lakukan pada Agatha


"Ag...Agatha?" lirih seseorang dari sana, namun masih terdengar jelas ditelingan Agatha


Dialah.....Papa Surya yang berdiri, netranya menatap Agatha lekat lekat namun dibarengi dengan air mata yang menetes kepipinya


Bugh....Papa Surya langsung pingsan setelah melihat wajah Agatha, wajah yang selama ini selalu dirindukannya siang dan malam


"Papaaaaa" teriak Agatha saat melihat Papanya pingsan


"Paaa" teriak yang lainnya juga


Akhirnya Pak Surya pun dilarikan kerumah sakit terdekat, bahkan semua keluarga pun ikut menyusulnya. Kini semuanya tengah menunggu dokter yang sedang memeriksa keadaan Pak surya


Sampai pada akhirnya yang ditu ggu tunggu pun keluar, alhasil sang dokter pun langsung dikerubunhi oleh keluarga Agatha


"Bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya Mama Sinta yang pertama kali memburu dokter


"Begini, penurut pemeriksaan Pak Surya mengalami kelelahan"


"Beberapa tahun ini kesehatannya pun menurun"


"Bahkan sepertinya Pak Surya sering mengonsumsi obat tidur secara terus menerus, padahal hal tersebut memiliki efek yang buruk untuk kesehatan"


"Sepertinya Pak Surya tadi juga terkejut" ucap sang Dokter menjelaskan


"Tapi tidak papa kan dok?" tanya Agatha kemudian


Meskipun ia sempat membenci Papanya, namun ia tetaplah seorang anak yang menghawatirkan keadaan Papanya juga


"Untuk saat ini masih Pak Surya masih belum sadarkan diri" kata Dokter


"Baiklah, kalau begitu saya akan memeriksa pasien yang lainnya"


"Selamat malam" kata sang Dokter yang kemudian pamit undur diri


"Sebaiknya kamu masuk terlebih dahulu ta" kata Mama Sinta pada Agatha. Tanpa menjawab Agatha pun langsung berjalan ke arah pintu ruangan Papanya


"Ma....Aku mau ikut" kata Nayla yang langsung berjalan menghampiri Agatha


"Ma???" kaget Mama Sinta dan juga Sellena saat anak kecil itu memanggil Agatha, tadinya memang ia sempat berfikir siapa laki laki dan anak perempuan yang datang bersama Agatha. Namun karena kondisi yang seperti itu jadi tidak ada yang menanyakan hal tersebut


Agatha pun sudah tak perduli dengan keterkejutan mereka saat ini, yang Agatha fokuskan hanyalah kesehatan Papanya


Ceklek....Agatha pun masuk bersama Nayla, sementara Bryan pun ikut menunggu diluar dengan yang lainnya


"Pa..." panggil Agatha lirih


"Siapa ma?" tanya Nayla yang belum memahami keadaan, padahal tadi Papanya sudah memberitahukan jika ia akan berkunjung kerumah Kakeknya dari Mamanya, namun maklumlah namanya juga anak anak


"Ini Kakek kamu sayang"


"Papanya Mama" kata Agatha menjawab pertanyaan Nayla


Nayla pun berjalan mendekat kearah Kakenya, digenggamnya tangan Pak Surya tersebut


"Hallo kek, namaku Nayla Putri" ucap Nayla


"Kata Mama, aku cucu Kakek loh" lanjutnya lagi

__ADS_1


Agatha bahkan tak dapat lagi membendung air matanya melihat interaksi antara Nayla dengan Kakeknya, menyesali perbuatannya dahulu lagi hingga Nayla bahkan baru bertemu dengan Kakeknya saat ini


__ADS_2