Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
Putri Genius Bryan 73


__ADS_3

Setelah selesai dengan proses pemakaman Violla, mereka semua kembali ke rumah orang tua Bryan. Saat ini mereka semua tengah berkumpul dan berbincang bincang mengenai banyak hal di ruang tamu


"Bi, tolong buatin minum ya" kata Mama Henny


"Baik nya" jawab pembantu tersebut


"Ta, kamu benar benar udah sehat kan?" tanya Mama Henny dengan penuh kekhawatiran


"Aku udah nggak papa kok ma" jawab Agatha dengan senyum menenagkannya


"Syukurlah" kata Mama Henny


Tak berselang lama pembantu tersebut pun datang dengan membawa minuman yang minta tadi


"Makasih bi" kata Ratih


"Sama sama non" jawab pembantu tersebut yang kemudian langsung undur diri kembali ke dapur


"Tangan kamu gimana?" tanya Papa Hamdan


"Udah nggak papa kok pa" jawab Bryan


"Gimana semuanya gam?" tanya Bryan pada Agam


"Udah beres dan gue pastiin Alex bakal mendekam dipenjara"


"Ternyata kasus dia udah banyak banget"


"Dari penculikan, penipuan dan penggelapan dana perusahaan" kata Agam yang semalam sudah menyelidiki tentang Alex secara detail


"Lalu apa yang dimaksud Violla?" tanya Bryan mengernyitkan dahinya bingung


"Dari anak buah yang menemukan tas Alex, ternyata didalamnya ada surat dari rumah sakit jiwa"


"Dan setelah diselidiki ternyata yang berada dirumah sakit jiwa tersebut adalah....." Kata Agam menjeda ucapannya, menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kembali kata katanya


"Apa?" tanya Bryan yang sudah tak sabaran


"Ibu dari Violla" Kata Agam melanjutkan


"Apa???" pekik Bryan karena kaget


"Apa?" kaget Mama Henny dan Ratih hampir bersamaan


Sementara Agatha dan Papa Hamdan juga tak kalah terkejutnya, namun terkejut nya mereka lebih ke elegant, terkejut dalam diam


"Kok bisa?" tanya Bryan


"Jadi Violla selama ini nggak pernah tau kalau ternyata? Ibunya dipenjara?" tanya Bryan


"Benar, jadi selama ini Alex telah membohongi Violla" jelas Agam


"Kenapa bisa?" tanya Agatha yang penasaran


"Emmm....sebelum itu bolehkah saya bertanya terlebih dahulu pada Pak Hamdan?" tanya Agam dengan sangat yakin


"Boleh" jawab Pak Hamdan


"Sebenarnya ada masalah apa antara keluarga Bapak dan Alex?" tanya Bryan


"Oiya, ada masalah apa pa sebenarnya? Alex juga sempat bilang gitu" sahut Bryan yang baru mengingat perkataan Alex


Padahal sendirinya dengan Alex tak pernah ada masalah, makanya ia sempat terkejut dan tak percaya jika Alex adalah dalang dibalik semua ini


"Menurut informasi yang saya dapat, sebenarnya keluarga Violla tidak ada masalah dengan Alex"


"Bisa jadi Violla hanya dijadikan sebagai alat" kata Agam yang menyampaikan segala informasi yang telah ia dapatkan


Heeeehhhh ....Papa Hamdan menghela nafas panjang sebelum bercerita


"Papanya Alex, Adik Om lah yang memulai semuanya" kata Papa Hamdan mulai membuka suara


"Maksud Papa Om Puguh?" tanya Ratih memastikan


"Hem" jawab Papa Hamdan


"Dulu waktu kami masih muda Papa bekerja keras demi perusahaan kakek kalian"


"Sementara itu, Puguh menghabiskan masa mudanya dengan bersenang senang, berjudi bahkam mabuk mabukan


"Sampai saat pembagian warisan"


"Kakek kalian menyerahkan perusahaan sepenuhnya pada Papa"


"Kakek kalian berharap kepada Papa untuk memimpin perusahaan dan juga membimbing Puguh agar merubah kebiasaan buruknya"


"Namun rupanya Puguh salah paham dengan niat Kakek kalian tersebut"


"Puguh mengira itu hanya akal akalan saja karena dia mengira jika Kakek kalian hanya sayang kepada Papa dan tak perduli dengannya"


"Akhirnya kami sepakat membagi dua"


"Papa yang memegang perusahaan yang selama ini Papa kelola"


"Dan Puguh mendapatkan perusahaan perusahaan lainnya"


"Padahal jika ditotal yang didapatkan Puguh jauh lebih banyak ketimbang milik Papa"


"Kakek kalian sengaja membagi seperti itu karena tidak ingin adanya perpecahan keluarga, dan Papa sama sekali tak menyalahkannya"


"Kami terus menjalankan perusahaan kami masing masing"


"Sampai pada akhirnya Perusahaan Puguh bangkrut semuanya dan hanya menyisakan perusahaan kecil didesa kecil"


"Dan Puguh meminta bantuan kepada Papa"


"Namun Papa menolak memberinya bantuan karena ternyata bangkrutnya perusahaan Puguh karena sifat Puguh yang belum berubah"

__ADS_1


"Dia tidak pernah serius menjalankan perusahaan perusahaan tersebut"


"Dan Papa hanya memberi uang yang tak begitu banyak"


"Puguh marah dan tak terima karena menganggap Papa sama sekali tak perduli dengan apa yang dialaminya"


"Itulah kesalahan Papa, namun sebelum itu Papa menyetujui jika Papa dan Puguh memutuskan tali persaudaraan" cerita Papa Hamdan panjang lebar


"Saat pertama kali kami tak sengaja bertemu sebenarnya Papa sudah merasa was was"


"Namun kamu dan Alex terlihat sangat akrab" kata Papa Hamdan sembari menoleh ke arah Bryan


"Papa pikir ini terjadi karena masih ada hubungan darah diantara kalian"


"Dan tak seharusnya kami melibatkan kalian dalam permasalahan kami" lanjut Papa Hamdan


"Namun rupanya dia memanfaatkan Alex untuk membalaskan semuanya ke Papa" kata Papa Hamdan


Semua orang terdiam dalam lamunannya masing masing, entah mencerna semua perkataan Papa Hamdan atau apa


"Oh...aku sekarang faham" kata Agam membuyarkan lamunan mereka masing masing


"Apa kak?" tanya Ratih yang terlihat penasaran


"Jadi gini" kata Agam membuka suara sembari memajukan tubuhnya


"Om Puguh sengaja memanfaatkan Alex, entah itu dengan cara mencuci otak Alex atau bagaimana"


"Mereka mencari kelemahan lawan"


"Dan kebetulan ada Violla" kata Agam yang mulai bercerita


"Menurut informasi Violla berpisah dengan Mama kandungnya sejak Papanya bercerai dengan Mamanya"


"Dan Papanya Violla meninggal saat Violla masih sd"


"Bisa jadi Alex telah mengincar kelemahan Violla dan menjadikannya sebagai alat" kata Agam menjelaskan


"Oke, aku mulai paham sampai disini" kata Ratih


"Terus? Kenapa Violla mengonsumsi narkoba?" tanya Bryan yang penasaran


"Oke, yang soal itu bisa gue jelasin" kata Agam yang tambah bersemangat


"Menurut keterangan Dokter, Violla pernah mengalami depresi dan tertekanl


"Dan itu lah yang membuat Violla mengonsumsi barang haram tersebut" kata Agam menjelaskan


"Untuk menghilangkan depresinya?" tanya Ratih memastikan


"Benar" jawab Agam sembari mangut mangut tersenyum


"Menurut Dokter, Violla menginsumsi narkoba kisaran antara 7-8 nan tahun yang lalu"


"Sat itu dia mengonsumsi secara terus terusan"


"Namun berhasil mengendalikannya ditahun tahun berikutnya" jelas Agam dengan serius


Semua orang pun menoleh kearah Bryan, menunggu kata kata apa yang akan keluar dari bibir Bryan selanjutnya


"Berarti kemungkinan besar saat Violla pergi ke luar negeri?" tanya Bryan menyampaikan tebakannya


"Benar, kemungkinan besar" jawab Agam menyetujui


Dengan tiba tiba rahang Bryan mengeras, ia tak pernah membayangkan sama sekali apa yang terjadi pada Violla. Kenapa dulu Violla tak pernah bercerita tentang kesulitan yang tengah dialaminya? Kenapa dia harus menanggunya sendiri dan menyembunyikannya darinya? Padahal dulu ia akan menjadi orang nomor satu yang akan membantu Violla


Namun semuanya telah berlalu dan tak bisa dikembalikan lagi, mulailah berfikir positif saja mungkin Violla tak ingin merepotkan Bryan, padahal Bryan mungkin merasa bahwa ia tak direpotkan sama sekali


"Pastikan Alex mendapatkan balasan yang setimpal" Kata Bryan mengingatkan pada Agam


"Tenang saja, aku sudah mengurusnya" jawab Agam dengan keyakinan


"Bagus" jawab Bryan


"Ah...iya, kau urus juga Mama Violla" kata Bryan yang hampir lupa


"Oke" jawab Agam kemudian


Dalam situasi seperti ini Agatha benar benar meruntuki pikirannya, pikirannya yang kacau berhamburan entah kemana. Bagaimana bisa ia malah kembali meragukan Bryan setelah sebekumnya ia meyakinkan hatinya pada Bryan hanya karena apa yang Bryan lakukan untuk keluarga Violla


"Ayolah ta, Bryan hanya hendak menolong Mamanya Violla"


"Kau tidak seharusnya mencemburuinya" batin Agatha berperang dengan pikirannya


"Heh....dasar otak sialan, berhenti mempengaruhikuuu" jerit Agatha dalam hatinya


Disore yang menjelang petang, Agatha menikmati secangkir wedang jahe yang tadi dibuatnya khususon untuk dirinya sendiri. Diteras samping rumah lah yang menjadi tempat pilihannya untuk menghabiskan sore ini seorang diri, setelah pembicaraan serius tadi Agatha hanya numpang mandi dikamar Bryan saat para pembantu tengah mengemasi barang barang pribadi milik Violla


Dan sejak saat itu pula ia bahkan tidak berniat untuk mencari Bryan bahkan menghibur hati Bryan, entah mengapa ia malah lebih memilih untuk menjauhi Bryan untuk saat ini. Yah....untuk saat ini ia harus bisa membersihkan dan menyingkirkan berbagai macam pikiran pikiran yang malah membuatnya meragukan Bryan


Sungguh tidak etis bukan? Padahal kemarin missinya telah berhasil Bryan tak hanya datang menjemputnya ke Bali, tapi juga melindunginya dari amukan senjata Alex. Seharusnya ia sama sekali tak boleh meragukan persaan Bryan


"Ta" tiba tiba saja ada suara yang mengagetkan Agatha dan menyadarkannya dariblamunannya


"Eh...Mama" kaget Agatha yang langsung menoleh kearah sumber suara, dan ternyata Mama Henny lah yang mengagetkannya


Mama Henny tersenyum melihat ekspresi kaget Agatha kemudian berjalan mendekat kearah Agatha dan duduk dikursi samping Agatha


"Kenapa tadi ngelamun?" tanya Mama Henny sembari tersenyum simpul pada Agatha


"Eh....eng...enggak kok ma" kilah Agatha yang tak mau mengakui


"Kamu nggak percaya ya sama Mama?" tanya Mama Henny yang sangat jelas melihat kebihongan dari bibir Agatha


"Eh...Kok Mama Ngomongnya gitu?" kaget Agatha, ia sama sekali tidak menyangka jika Mama Henny akan berkata demikian, pasalnya ia sendiri memang percaya pada Mama Henny


"Terus kenapa kamu bohong?" tanya Mama Henny

__ADS_1


"Mama bukan anak kecil lagi yang bisa seenaknya kamu bohongin" lanjut Mama Henny. Agatha tersenyum mendengar penuturan Mama Henny


"Maaf ma" kata Agatha


"Sekarang bilang sama Mama" pinta Mama Henny sembari meraih tangan Agatha yang kemudian ia genggam


"Cerita sama Mama" kata Mama Henny


"A...anu ma" dengan ragu ragu Agatha mencoba untuk bercerita


"Hemmm?" Mama Henny pun menunggu kelanjutannya


"Aku kok malah ngerasa cem...cemburu yah" kata Agatha hati hati


"Sama?" tanya Mama Henny mengernyitkan dahinya


"Emmm..." Agatha malah jadi bingung sendiri


"Emm....kira kira Bryan beneran serius nggak ma sama aku?" tanya Agatha kemudian


Mama Henny sempat bingun untuk sesaat, pasalnya ia merasakan bahwa Agatha malah mengubah topik pembicaraan dari yang sebelumnya. Namun ia berusaha untuk menjadi pendengar yang baik tanpa banyak protes


"Menurut kamu?" Mama Henny malah balik nanya


"Aku malah bingung ma" jawab Agatha


"Harusnya aku seneng karena rencana aku kemarin membuahkan hasil"


"Bryan mencari dan bahkan datang menjemputku keBali" kata Agatha


"Bahkan melindungiku kemarin, hal yang sama sekali nggak pernah aku sangka" lanjut Agatha


"Terus?" tanya Mama Henny yang ingin tau kelanjutannya


"Walaupun belum bisa dikatakan kalau Bryan mencintaiku, tapi pengorbanan dan tanggungjawabnya kemarin udah cukup sebagai alasan kalau aku bersedia menikah dengannya" lanjut Agatha lagi


Sampai disini Agatha dapat memaklumi jika misalnya Bryan belum mencintainya seperti ia yang juga belum mencintai Bryan, tidak aneh untuk keduanya karena mereka berdua baru bertemu dan saling mengenal. Dan Agatha juga mengakui akan sikap tanggungjawab Bryan padanya dan Nayla yang dapat diacungi jempol


"Masalahnya dimana dong?" tanya Mama Henny


"Emmm....gimana kalau nanti Bryan gak bisa ngelupain Violla" lirih Agatha


Oh....kini Mama Henny baru mengerti yang dimaksud Agatha dan kata cemburunya tadi. Pasti Agatha merasa cemburu karena Bryan yang masih memperhatikan Violla. Yah.....walaupun untuk orang yang normalny hal itu dianggap wajar sebagai bentuk rasa tanggung jawab Bryan kepada mantan Istrinya yang bahkan dimata hukum mereka berdua belum resmi bercerai


"Ta" panggil Mama Henny dengan lembut, Agatha pun mendongak menatap Mama Henny


"Rasa cinta itu adalah pemberian dari Allah, kita bahkan nggak tau kepada siapa dan kapan kita akan jatuh cinta"


"Cinta itu mistery, kita juga nggak bisa meminta dan mengahpus begitu saja rasa cinta yang pernah ada didalam hati kita"


"Begitu juga dengan Bryan" kata Mama Henny, Agatha hanya mendengarkan tanpa ingin membantah ataupun menyangkal perkataan Mama Henny


"Mama tau kalau Violla pernah hadir didalam hati Bryan"


"Bahkan untuk waktu yang cukup lama" kata Mama Henny


"Namun takdirlah yang membuat perasaan Bryan berubah"


"Dan kita juga nggak tau bagaimana hati orang lain, begitu juga dengan Bryan"


"Kalaupun Bryan masih mencintai Violla, biarlah Bryan yang menyimpan rasa itu didalam hatinya"


"Kita nggak berhak untuk memaksakan Bryan agar segera melupakan Violla"


"Jadi Agatha nggak perlu khawatir soal itu ya sayang"


"Biar takdir yang menentukan takdir cinta kalian" kata Mama Henny pada Agatha


"Iya ma, Agatha ngerti" jawab Agatha menganggukkan kepalanya


"Ta.....Agathaaaa" tiba tiba ada suara yang memanggil manggil nama Agatha


"Disiniiiii" jawab Agatha


"Tuh kan, panjang umur banget baru aja diomongin" kata Mama Henny tersenyum, Agatha pun membalas senyuman Mama Henny


"Rupanya disini" tak berselang lama terdengar suara Bryan yang ternyata sudah berdiri diambang pintu


"Agatha emang disini sama Mama dari tadi kok, emangnya kenapa?" tanya Mama Henny pada Bryan


"Bryan mau minta tolong Agatha buat ganti perban ma, udah waktunya diganti" kata Bryan


"Hah?" kaget Agatha


"Hah" Bryan malah menirukan ekspresi kaget Agatha


"Apaan sih" kesal Agatha saat melihat Bryan malah mengejeknya


"Apa?" tanya Bryan


"Kok aku sih?" balik tanya Agatha yang tak mau bengitu saja mengikuti kemauan Bryan


"La terus siapa?" tanya Bryan


"Kan ada Bibi" jawab Agatha


"Lah, emang gue begini gara gara siapa?" balik tanya Bryan dengan ekpresi wajah mengejeknya


"Sialan" umpat Agatha


"Eh...maaf ma" kata Agatha yang langsung menutup mulutnya begitu menyadari kalau Mama Henny masih berada disampingnya


"Dasar tu mulut" sinis Bryan sok prihatin dengan geleng geleng kepala


"Udah buruan kamu bantuin Bryan gih" kata Mama Henny yang mendorong tubuh Agatha


"Ih Mama" kesal Agatha pada Mama Henny yang malah mendorong tubuhnya

__ADS_1


"Ayo dong calon Istri" goda Bryan sembari mengedipkan matanya genit


Iuuuuhhhhh


__ADS_2