Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
S2 Bab7


__ADS_3

" Lo yakin disini tempatnya?" tanya Dimas yang merasa terheran heran.


"Nggak." jawab Ratih singkat.


"Brengshake." umpat Dimas.


"Gue lihat di google kok kalau ini tempat jualan rujak cingur paling manteb." jawab Ratih menggebu gebu sembari menunjuk nunjuk ponselnya.


"Tapi kok gini sih tempatnya?" tanya Dimas yang masih belum yakin.


Menurut informasi yang diperoleh Ratih, katanya warung T adalah warung yang menjual rujak cingur paling enak di surabaya. Namun rasanya opini itu tidak masuk di akal logi Dimas, pasalnya tempatnya terbilang sangat sederhana dan jauh dari kata mewah. Harusnya kan jika tempat itu terkenal maka tempatnya juga harus bagus pikir Dimas.


"Ta tapi tih, tempatnya kok nggak kayak direstoran sih?" tanya Dimas jujur.


" Lo yakin ini bener bener enak? biasanya kan makanan enak tuh adanya dicafe atau diresto resto tih." ucap Dimas.


"Lo bodoh apa gimana sih? ini kan namanya warung ya bentukannya kayak gitu lah, kalau ada di mall itu baru namanya restoran." cerocos Ratih.


"Lagian mandang fisik banget sih lo, muka segini sok sokan jual mahal." cibir Ratih.


"Kok lo malah bawa bawa muka sih? nyolot amat mulut lo kek mak lampir." balas Dimas yang merasa tak terima direndahkan.


"Cih, biasanya kalau orang yang dikasi tau terus marah marah tu karena merasa kesindir." jawab Ratih.

__ADS_1


"Eh tapi sorry sih, gue tadi bukannya nyindir tapi MENDESKRIPSIKAN." jelas Ratih mempertegas.


"Hahh, apa? lo bilang apa barusan?" tanya Dimas dengan raut wajah tak percayanya.


"Udah ah buruan." ajak Ratih.


Karena Dimas tak kunjung bergerak dari posisinya, Ratih pun langsung menyeret tangan Dimas dan membawanya kewarung T tersebut.


"Assalamu'alaikum." salam Ratih saat memasuki warung tersebut.


"Eh, waalaikumsalam Mbak." jawab ibu ibu yang tadinya tengah mengelap meja tersebut.


"Mbak e kalih Mas e badhe pesen rujak cingur to?" tanya ibuk ibuk tersebut.


Ibu ibu itu pun tersenyum dan mengerti, rupanya nona cantik ini tidak pandai berbahasa jawa. Apalagi Ratih tengah menyengol nyenggol tangan Dimas dan berbisik bisik menanyakan apa yang baru saja ibu ibu itu tanyakan, tetapi Dimas yang juga tak tahu itu pun hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


"Aduh maaf banget mbak, tapi ini warungnya 2 jam lagi bukanya." ucap ibu ibu itu tiba tiba membuat Ratih dan Dimas langsung menoleh secara bersamaan.


"APAA???" terkejut Ratih dan Dimas hampir bersamaan.


"Iya maaf mbak mas, atas ketidaknyamanannya." ucap ibu ibu tersebut yang merasa tak enak hati.


Padahal memang warung ini sangat terkenal di Surabaya, hanya saja warung ini memiliki jam buka dan tutup. Bu Marsinah selaku pemilik mengaku sudah tak sanggup lagi jika harus membuka warung selama 24 jam, jadi mereka membuat jam buka dari pukul set 7 malam sampai jam dua belas malam.

__ADS_1


"Jadi mau nunggu disini apa ditinggal kemana dulu?" tanya Dimas.


"Emmm, mending kita jalan jalan dulu aja kali nanti balik kesini lagi aja." tawar Ratih.


"Oke." balas Dimas yang juga menyetujuinya.


"Ya sudah buk, kalau gitu saya sama temen saya keluar dulu buk nanti balik ke sini lagi." ucap Ratih dengan sopan.


"Oh nggeh nggeh mboten nopo nopo." jawab ibu itu.


"Eh, maksudnya iya nggak papa. Nanti mbak nya sama masnya balik kesini lagi aja." ralat ibu tersebut.


.......


"Kita mau kemana?" tanya Ratih.


"Jalan jalan disekitar sini aja." balas Dimas.


"Lo mau nggak lain kali gue ajak makan disitu, makanannya enak loh." ucap Dimas tiba tiba sembari menunjuk kearah restoran, Ratih pun menoleh kearahnya.


"Emmm, boleh." jawab Ratih singkat, saat Ratih mengalihkan pandangannya kearah lain. Tak sengaja Ratih melihat orang yang amat dikenalnya.


"Mas Bayu." terkejut Ratih yang langsung melangkah kan kakinya, namun langkah Ratih harus berhenti tat kala melihat Mas Bayunya datang bersama seorang wanita.

__ADS_1


__ADS_2