Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
Putri Genius Bryan 81


__ADS_3

"Pa...maafin Agatha pa" ucap Agatha sembari mengguncang guncang tubuh Papanya tersebut


"Pa, Agatha dateng sama Nayla Anak Agatha"


"Cucu Papa" bisik Nayla ditelinga Papanya, berharap dengan melakukan ini bisa membuat Papanya lekas sadar


Tok....to.....tokkkk ....terdengar ketukan pintu dari luar, tak berselang lama ada orang yang masuk dan rupanya dia adalah Pak Prapto Asisten pribadi Papanya


"Selamat malam Nona Agatha" sapa Pak Prapto


"Selamat malam" balas Agatha


"Bagaimana keadaan Pak Surya?" tanya Pak Prapto sembari mendekat kepada Pak Surya


"Masih belum sadarkan diri pak" jawab Agatha


"Sudah bertahun tahun Pak Surya mengonsumsi obat tidur" kata Pak Prapto


"Pak Prapto tau?" tanya Agatha yang tampak terkejut mendengar penuturan Pak Prapto tersebut


Heh.....Pak Prapto menghela nafas panjang sembari melepaskan kacamatanya


"Ada yang ingin saya sampaikan kepada nona Agatha" kata Pak Prapto mengutarakan niatnya


"Ssaya pak?" tunjuk Agatha pada dirinya sendiri. Pak Prapto pun menjawabnya dengan anggukan kepala


"Baik pak" jawab Agatha


"Nayla sayang, Nayla ikut Papa sebentar ya" kata Agatha tangannya memegang kedua pundak Nayla


"Mama mau kemana?" tanya Nayla yang belum mengiyakan permintaan Agatha


"Nggak kemana mana kok" jawab Agatha dengan senyumannya


"Yaudah iya" ucap Nayla mengiyakan permintaan Mamanya tersebut


"Makasih" kata Agatha


Agatha pun mengiring Nayla keluar dari kamar Papanya untuk diberikan kepada Bryan


"Bry" panggil Agatha sembari menyentuh pundak Bryan yang nampak berbicara serius dengan Reyhan, walaupun sebenarnya Agatha takut takut dengan apa yang tengah dibicarakannya namun tetap saja saat ini bukanlah saat yang tepat untuk menanyakannya


"Eh, Agatha" Bryan pun langsung memutar badannya menghadap Agatha


"Aku titip Nayla dulu yah" pinta Agatha


"Kamu mau kemana?" tanya Bryan


"Ada yang musti aku bicarain sama Pak Prapto" kata Agatha memberitahukan kepada Bryan


"Oh oke" akhirnya Bryan pun menyetujui permintaan Agatha


Selepas mengantarkan Nayla pada Bryan, Agatha pun lekas kembali kekamar inap Papanya. Bahkan saat ini Agatha dan Pak Prapto tengah duduk disofa yabg berada dikamar inap Pak Surya


"Jadi apa yang ingin om bicarain?" tanya Agatha to the point


"Saya jadi bingung harus cerita mulai dari mana" kata Pak Prapto pada dirinya sendiri


"Ah....dari kuliah" ucap Pak Prapto yang telah menemukan idenya, Agatha hanya mendengarkan saja tanpa ada niatan untuk bertanya saat ini


"Jadi, saya dan Papa kamu teman kuliah"


"Kami sering melakukan semuanya bersama, bahkan bisa dibilang jika kami ini sudah seperti saudara"


"Selama kuliah Papa kamu banyak digandrungi oleh kaum hawa, terlebih karena Papa kamu adalah orang yang cerdas meskipun Papa kamu bukanlah terlahir dari golongan orang kaya"


"Banyak kaum hawa yang terus mengejar Papa kamu terutama Sinta, Mama tiri kamu" kata Pak Prapto yang telah memulai ceritanya


Sebenarnya Agatha agak kaget saat mendengar jika Mama tirinya adalah teman kuliah Papanya, namun ia masih harus menahan diri untuk tidak bertanya terlebih dahulu


"Namun sayangnya, Papa kamu telah jatuh hati pada orang lain" lanjut Pak Prapto

__ADS_1


"Gadis yang dibesarkan dipanti asuhan, gadis cantik meskipun... Hehhh...kelakuannya tidak ada anggun anggunnya sama sekali


"Gadis itu memiliki kegemaran melukis, bahkan dia bekerja di salah satu toko lukis demi membantu keuangan panti asuhan untuk sekedar membeli beras"


"Dialah Sukma, Mama kamu" kata Pak Prapto


"Mam...Mamma?" tanya Agatha memastikan


"Iya, Mama kamu" jawab Pak Prapto


"Papa kamu dan Mama kamu menjalani hubungan secara diam diam, ah....bukan diam diam, tapi karena keduanya memang sama sama sibuk dengan urusannya masing masing"


"Papa kamu terlalu sibuk dengan aktivitas kuliahnya dan Mama kamu sibuk dengan kerja dan juga pantinl asuhannya"


"Sinta terus mendekati Papa kamu tanpa henti, bahkan dia selalu membawakan bekal untuk Papa kamu"


"Walaupun Papa kamu pernah menyuruhnya untuk berhenti, namun Sinta terus saja melakukan hal tersebut dengan alasan Ibunya memasak banyak"


"Hingga pada akhirnya Papa kamu dan Om telah wisuda, berhasil menyelesaikan kuliah dengan nilai yang memuaskan"


"Om dan Papa kamu melamar disebuah perusaahaan swasta di Ibu kota"


"Entah kebetulan atau apa ternyata itu adalah perusahaan milik keluarga Sinta"


"Karena kita tidak saling terikat atau seperti apa kami melakukan aktivitas kami masing masing"


"Dan selama itu pula Sinta terus memberikan perhatian perhatian kepada Papa kamu, meskipun Papa kamu hanya menanggapinya sebagai seorang teman"


"Hubungan antara Papamu dan Sukma pun terbilang terlambat, suatu hari papa kamu datang kepanti yang ditinggali Sukma dengan membawa sebuah hp"


"Kata Papa kamu agar komunikasi antara keduanya tetap terjaga, dan Sukma menerimanya dengan senang hati"


"Dari cerita Papa kamu, Papa kamu selalu terlihat bahagia saat menceritakan sosok Sukma"


"Kata Papa kamu Sukma pernah melukis dengan imajinasinya sendiri"


"Melukis Papa kamu dan Sukma dengan gambar duduk beddua dikursi panjang dengan tangan yang saling bergandengan"


"Lukisannya sangat bagus, rupanya Sukma benae benar berbakat dalam hal tersebut"


"Hingga beberapa tahun kemudian Papa kamu mendapat kabar kalu Sukma akan dijodohkan jika Papa kamu tidak segera menikahinya"


"Meskipun keadaan ekonominya belum stabil saat itu, Tapi Papa kamu nekat datang dan menikahi Sukma"


"Pernikahan itu terjadi dengan tiba tiba, tanpa ada perencanaan terlebih dahulu. Bisa dibilang jika pernikahannya masih dirahasiakan"


"Papa kamu mendapat tugas untuk mensurvey suatu kota karena akan mendirikan perusahaan cabang, rupanya pimpinan perusahaan sangat menyukai Papa kamu karena Papa kamu terbilang orang yang genius yang tak lain pimpinan perusahaan tersebut adalah Papanya Sinta"


"Kebetulan sekali tempat yang disurvey tak jauh dari panti asuhan yang ditempati Sukma"


"Karena sudah menikah Papa kamu mengajak Sukma untuk ngontrak, karena Papa kamu tentu saja akan mensurvey banyak hal dan tentu saja akan memerlukan waktu yang lama"


"Hingga suatu hari Papa kamu sangat senang, sangat senang tak seperti biasanya. Rupanya Sukma hamil"


"Bahkan Papa kamu selalu turun tangan sendiri untuk membeli segala keperluan Sukma, hingga pada akhirnya lahirlah seorang anak perempuan yang cantik"


"Dan itu adalah kamu" kata Pak Prapto


"Papa kamu sangat senang, itu adalah kali keduanya Om melihat Papa kamu sesenang itu setelah kabar kehamilan Mama kamu"


"Dua tahun kemudian, Papa Sinta yang tak lain adalah pimpinan Papa kamu melamar Papa kamu untuk Sinta anaknya"


"Dengan tegas Papa kamu menolaknya, dan itu membuat Sinta patah hati. Bahkan katanya Sinta sampai tak mau makan berhari hari"


"Papanya Sinta yang tak tega pun kembali mendatangi Papa kamu dan menanyakan alasannya menolah Sinta"


"Dengan lantang Papa kamu menjawab jika ia sudah menikah bahkan memikiki anak"


"Papanya Sinta tentu saja sangat terkejut, namun ia mencoba tenang"


"Papanya Sinta menceritakan semuanya tentang Papa kamu kepada Sinta"

__ADS_1


"Murkalah Sinta karena merasa ia dihianati oleh Papa kamu"


"Hingga akhirnya Sinta meminta bantuan Papanya agar bisa membuat Papa kamu meninggalkan Sukma Mama kamu"


"Entah dengan membuat Papa kamu banyak lembur, tugas keluar kota, menemani Sinta dan hal hal yang lainnya"


"Papa kamu akhirnya menyadari jika ia telah dimanfaatkan demi kepentingan pribadi Sinta"


"Karena sudah tak tahan lagi, dengan lantangnya Papa kamu mengundurkan diri dari perusahaan dan tentu saja membuat Sinta marah"


"Papa kamu akhirnya hidup bertiga dengan Sukma dan kamu"


"Papa kamu membantu Sukma untuk mengembangkan keahliannya dalam bidang melukis hingga akhirnya membuka jasa melukis dirumah"


"Tak disangka sangka banyak orang yang menyukainya, dan bahkan Papa kamu bisa membeli rumah sendiri"


"Semakin bahagia Papa kamu semakin membuat Sinta menderita rupanya"


"Dengan segala caranya Sinta menjebak Papa kamu hingga bermalam dikamar hotel"


"Sinta mengancam Papa kamu menggunakan foto yang sengaja diambilnya dikamar hotel malam itu, Sinta mengancam akan mengadukannya pada Sukma"


"Pada awalnya Papa kamu ketakutan dan tak ingin Sukma mengetahui hal tersebut, karena kebodohan Papa kamu inilah Sinta berada diatas awan"


"Sinta bahkan bisa mengendalikan hidup Papa kamu"


"Hingga akhirnya Papa kamu sudah tak tahan lagi, Papa kamu mempersilahkan jika Sinta akan memberitahunya pada Sukma. Papa kamu yakin jika Sukma akan mempercayai kejujurannya"


"Dan benar saja rupanya Sinta mengadukannya pada Sukma, namun benar yang dikatakan oleh Papa kamu kalau Sukma jauh lebih mempercayai ucapan Papa kamu"


"Sinta marah dan yang jauh lebih parah lagi Sinta membunuh Mama kamu menurut Papa kamu"


"Papa kamu sama sekali tak memiliki bukti, Dengan kekayaan yang dimiliki Papanya Sinta"


"Sinta kembali menjebak Papa kamu dengan kasus penculikan dan melaporkannya pada polisi"


"Meskipun bukan kesalahannya sama sekali Papa kamu memohon pengampunan karena masih memiliki kamu, anak yang menjadi tanggungjawabnya"


"Inilah kesempatan Sinta, ia meminta Papa kamu untuk menikahinya. Yah....pengaruh karena zaman dulu belum semodern ini sehingga sangat sulit bagi Papamu untuk membuktikan bahwa dirinta tak bersalah"


"Keputusan tersulit yang Papamu pilih"


"Pada akhirnya Papa kamu mau menikah dengan Sinta, asalkan mengizinkanmu untuk tinggal dengannya"


"Sinta menyetujui dengan berbalik syarat bahwa Papa kamu harus menyayangi anaknya dengan Papa kamunkelak, atau kalau tidak Sinta akan membuangmu"


"Selama bertahun tahun Papamu menahan semua itu, hatinya selalu perih saat melihatmu tak bisa seperti kawan kawanmu"


"Kalaupun harus membawamu kabur Papamu juga tidak bisa melakukannya karena Sellena juga anak kandungnya"


"Walaupun bedanya Sellena adalah anak dari perempuan yang telah mempermainkan hidupnya dan kamu adalah buah cintanya dengan wanita pujaannya"


"Meskipun begitu Papa kamu juga tidak bisa meninggalkan Sellena"


"Sampai pada puncaknya saat kamu memutuskan pergi dari rumah dan mengatakan kata kata yang melukai perasaannya"


"Papa kamu terus menahan luka itu sembari terus mencarimu"


"Siang malam Papamu selalu menyalahkan dirinya sendiri dan keputusannya dimasa lalu"


"Seharusnya dulu ia harus lebih mengupayakan segala cara agar tetap hidup berdua denganmu saja"


"Seharusnya, seharusnya dan entah berapa ratus kali ia menyesalinya"


"Bahkan untuk melupakan penyesalannya barangkali sejenak Papa kamu mengonsumsi obat tidur. Katanya hanya ketika tidurlah ia akan merasa tenang, walaupun untuk sesaat"


"Ketahuilah ta, Papa kamu begitu menyayangimu" kata Pak Prapto


"Hiks....hikss....hiks" entah sejak kapan air mata Agatha mengalir deras, ia sama sekali tidak menyangka dengan semua ini


Pak Surya belum juga sadarkan diri, entah mau bagaimanapun mendengarkan semuanya dari yang bersangkutan akan selalu lebih melegakan walaupun apa yang keluar dari bibirnya akan sama dengan yang telah disampaikan oleh Pak Prapto nantinya

__ADS_1


__ADS_2