
"Lalu apa rancana kalian kedepannya?" tanya Mama Henny
Agatha dan Bryan terdiam untuk sesaat, menunduk dalam dalam
"Aku akan segera menikahi Agatha Ma, Pa" jawab Bryan dengan penuh keyakinan
"Lalu bagaimana dengan Violla?" tanya Mama Henny
"Apa kamu akan berpoligami?" lanjut Mama Henny
Agatha dan Bryan nampak terkejut, bagaimana bisa Mamanya berfikir bahwa ia akan berpoligami? Oh Astagaa....hal itu sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiran Bryan maupun Agatha
"Aku akan menceraikan Violla" jawab Bryan
"Apa alasannya?" tanya Papa Hamdan
"Kami pernah sepakat kalau dia tak kunjung hamil maka kita akan bercerai" tutur Bryan
Mama Henny dan Papa Bryan nampak terkejut mendengar anaknya dan menantuny Memiliki kesepakatan yang tak masuk akal
"Bagaimana kalau Violla hamil?" tanya Mama Henny
"Tidak akan!" jawab Bryan tegas dan yakin
"Ck...yakin sekali kamu" cibir Papa Hamdan
"Karena aku Vaksetomi" adu Bryan
"Apa???" tak hanya Mama Henny dan Papa Hamdan yang kaget dengan penuturan Bryan, Agatha sendiri juga terkejut. Ternyata inilah yang dimaksud oleh Bryan tadi, kenapa dia bisa sampai melakukan hal itu? Astagaaa
"Sepertinya kamu sudah menyiapkan semuanya matang matang" sinis Papa Hamdan
"Benar!!! aku telah menyiapkan semuanya dengan baik" imbuh Bryan
"Baiklah, ini semua pilihan hidupmu"
"Bertanggungjawablah pada pilihanmu sendiri" tegas Papa Hamdan lalu berdiri disusul oleh Mama Henny
Papa Hamdan dan Mama Henny akhirnya melangkahkan kaki, menyingkir dari hadapan dua sejoli tersebut
"Bagaimana denganmu?" tanya Bryan pada Agatha
"A...aku?" tanya Agatha menunjuk dirinya sendiri tak mengerti akan maksud Bryan
"Iya, kau setuju kan dengan rencanaku?" tanya Bryan
"Eh.." kaget Agatha
"Kenapa? pilihan terakhir hanya ada ditanganmu"
"Orang tuaku sudah setuju, apalagi Nayla dia pasti akan senang" imbuh Bryan
__ADS_1
"Kalaupun kau tak setuju, aku akan tetap mengambil hak asuh Nayla" ancam Bryan
"Ba...bagaimana bisa kamu seperti ini" pekik Agatha
"Jadi, bagaimana?" tanya Bryan lagi
"Bagaimana bisa kita menikah tanpa adanya cinta?" tanya Agatha dengan pandangan mata yang mengarah kesembarang arah, ia tak sanggup jika harus menatap netra Bryan
Bryan meraih kedua lengan Agatha, mengarahkannya agar Agatha fokus menatap dirinya
"Kau percaya dengan pepatah?"
"Witing tresno jalaran soko kulino?" tanya Bryan, Agatha hanya diam tak menimpali ucapan Bryan
"Baiklah" Bryan menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya secara berlahan
"Walaupun saat ini tak ada rasa cinta diantara kita berdua"
"Tapi ada rasa cinta dan sayang kita untuk Nayla" ucap Bryan
"Maksudmu?" tanya Agatha sedikit mendongak menatap Bryan
"Jika aku dan kamu tidak bisa menjadi alasan untuk bersatu"
"Maka Nayla lah yang akan menjadi alasan untuk kita berdua"
"Kita akan menikah demi Nayla, demi anak kita" jelas Bryan dengan wajah yang sangat serius
"Semua terserah padamu" ucap Bryan lalu melepaskan tangannya dari bahu Agatha, berbalik arah untuk beranjak pergi meninggalkan Agatha
"Tunggu" Agatha langsung meraih pergelangan tangan Bryan, menahan laki laki itu agar tak pergi
Bryan pun berbalik arah menatap Agatha saat tangannya dicekal oleh tangan mungil milik Agatha
"A...aku mau"
"Aku akan menikah denganmu" ucap Agatha mengusir dan menepikan perasaan ragu ragunya
"Apakah kamu yaki?" tanya Bryan dengan intens
"Untuk saat ini aku tidak yakin, tapi aku tidak punya pilihan lain"
"Aku berharap suatu hari nanti, kita bisa saling mencintai"
"Walaupun kemungkinan untuk itu sangat kecil"
"Aku berharap impianku disaat menikah untuk hidup bahagia dengan dipenuhi rasa cinta orang orang disekitarku dapat terwujud" ucap Agatha memejamkan matanya erat erat, rasanya ia tak pantas berbicara seperti itu pada Bryan. Namun tak ada salahnya ia berbagi mimpi dengan laki laki yang sebentar lagi akan menghalalkannya tersebut
Cupppp....lancang sekali bibir Bryan yang dengan seenaknya mencium kening Agatha saat wanita itu tengah memejamkan matanya
Mama Henny dan Papa Hamdan yang sedari tadi melihat semua pembicaraan mereka dari balik pintu pun ikut bahagia dengan sikap kedewasaan mereka, walaupun hubungan mereka berawal dari sebuah kesalahan. Namun ia sungguh berharap jika kedepannya kehidupan mereka akan lebih baik dan bahagia
__ADS_1
Agatha pun langsung membuka matanya begitu ia merasakan ada benda yang hangat namun kenyal sedang menyentuh dahinya
"Aku tak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha untuk mewujudkan mimpimu itu" ucap Bryan setelah menjauhkan bibirnya dari Agatha begitu menyadari keterkejutan Agatha akibat kelancangan bibirnya itu
Sebenarnya Bryan tak sadar saar melakukan itu, hal itu terjadi begitu saja. Walaupun malu, namun ia berusaha unguk bersikap santai dan cool supaya tetap terlihat berwibawa
"Terimakasih" ucap Agatha kemudian
"Sama sama" balas Bryan dengan senyuman tulusnya
"Mama mama, Nayla mau makan salad buah dong" pinta Nayla saat berada diteras samping rumah Bryan
"Eh...kok tiba tiba gini sih?" kaget Agatha
"Besok aja yah? Mama kan belum beli bahan bahannya dulu" bujuk Agatha
"Tapi Nay pengennya sekarang ma" rengek Nayla
"Bikinin aja, didapur bahan bahannya lengkap" tiba tiba Mama Henny berbicara, entah sejak kapan wanita itu sudah berada disampingnya
"Eh...maaf bu, nggak papa kita bisa makan lain kali kok. Iya kan nay?" tanya Agatha menatap Nayla, berharap mendapat dukungan dari Nayla
"He eum" ucap Nayla mangut mangut, walaupun Agatha dapat melihat dengan jelas bahwa Nayla mangut mangut dengan terpaksa
"Udah, bikinin aja" ucap Mama Henny lagi
"Kasian anak kamu" imbuh Mama Henny sebelum Agatha mengelaknya lagi
Alhasil tentu saja Agatha tidak dapat menolak lagi perintah Mama Henny, karena ucapan wanita itu terkesan memaksanya
"Ba...baik buk" ucap Agatha lalu bergegas meninggalan Mama Henny beserta dengan Nayla
Setelah kepergian Agatha, Mama Henny pun duduk dikurai yang tadinya ditempati oleh Agatha. Menatap lekat lekat wajah cucunya, ternyata tak bisa dipungkiri lagi jika anak kecil itu benar benar putri Bryan, dengan melihat wajahnya yang sangat mirip dengan Bryan namun dengan versi perempuannya
"Hayyy" sapa Mama Henny mencoba mendekati Nayla
"Halo juga bu" balas Nayla pada Mama Henny
"Nama kamu siapa?" tanya Mama Henny
"Nayla Putri"
"Bisa dipanggil Nayla" jelas Nayla dengan polosnya
"Emmm Nayla?" ucap Mama Henny mangut mangut
"Nayla suka ngelukis ya?" tebak Mama Henny
"Iya, Nayla suka lukis karena sering ngelihat Mama ngelukis juga" tutur Nayla
Tentu saja tak bisa dipungkiri bahwa bakat melukis Nayla berasal dari Agatha yang sangat berkompeten dalam bidang tersebut, bahkan hasil karyanya begitu diakui
__ADS_1