Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
Putri Genius Bryan 52


__ADS_3

"Em....lebih baik kita bicara berdua dulu" ucap Bryan pada Ratih


Bryan pun berdiri hendak mengajak Ratih untuk berbicara dahulu ditempat yang tidak dapat didengar oleh Agatha


"Kenapa tidak bicara disini saja!" ucap Agatha tiba tiba menghentikan Bryan dan Ratih yang hendak melangkah


"Ta...aku..." Bryan mencoba memberi penjelasan pada Agatha


Ratih pun langsung menhampiri Nayla dan berjongkok didepannya


"Uh....ponakan unty yang cantik banget deh" Ucap Ratih dengan hebohnya. Dan entah mengapa Nayla juga menyukai tingkah tantenya yang terbilang bar bar tersebut, seperti penebar kebahagiaan bagi yang lainnya dengan sifat ceria yang dimiliki oleh Ratih


"Nayla kekamar dulu ya"


"Unty Mama sama Daddy mau bicara dulu" ucap Ratih mencoba membujuk Nayla


"Papa tan Papa....bukan Daddy" ucap Nayla berapi api dan bersungut sungut ingin membenarkan ucapan Tantenya tersebut


"Eh iya, Tante lupa..." ucap Ratih yang menepuk dahinya seolah olah menggambarkan bahwa dirinya benar benar lupa padahal? Tentu saja tidak lah


"Oiya....Tante hampir lupa" ucap Ratih menepuk dahinya keras, kali ini ia tak berpura pura


"Apa tan?" tanya Nayla heran


"Bentar bentar, tadi Tante beliin kamu sesuatu loh"


"Sekarang masih ada dimobil, tante ambilin dulu ya" pamit Ratih yang langsung berlalu menuju mobil


Bryan menatap kepergian Adiknya tak percaya, bagaimana bisa Adiknya tersebut mengakuisisi barang yang tadi dibelinya. Padahal ia ingin memberikan sendiri barang barang itu pada Nayla agar ia tidak datang dengan tangan kosong


Sementara itu Agatha hanya diam masih dalam posisi duduknya dengan pandangan datar lurus kedepan, huh....entah apalagi yang tengah dipikirkan oleh wanita tersebut. Yang jelas Bryan sudah mengantisipasi kemungkinan terburuk Agatha akan pergi dengan menyewa bodyguard, dan sekarang ia berfikiran ingin menambah lagi, takut takut Agatha akan memiliki pikiran lain tentang hubungannya dengan Violla yang akan ia jelaskan nantinya


"Taaaaadaaaaa" teriak heboh Ratih dengan membawa banyak papper bag yang sudah penuh ditangannya, Sebenarnya Ratih sendiri tidak tau apa isi didalamnya karena ia hanya tinggal memberikan saja


"Ini semuaaaaaaaaa, untuk Nayla" kata Ratih dengan pembawaan yang ceria sembari menyodorkan barang barangnya pada Nayla


"Waaaahhhhh" Nayla sendiri tak kalah hebohnya menerima barang tersebut


"Ehhh, Nggak muat ya"


"Bi..." panggil Ratih karena melihat barang yang diberikannya tidak muat ditangan Nayla, tak seberapa lama pembantu itu pundatang

__ADS_1


"Iya non" ucap perempuan paruh baya tersebut dengan nafas yang ngos ngosan


"Eh, ini bi bisa minta tolong buat bawain ini ke kamar Nayla nggak?" tanya Ratih pada pembantu tersebut


"Bisa non, mana saya bawa semuanya" ucap pembantu tersebut sembari mengambil barang barang tersebut dan membawanya kekamar Nayla


"Nayla mau lihat hadiahnya dulu ya" pamit Nayla pada semuanya


"Okeee" jawab Ratih, Bryan hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum sedangkan Agatha terlihat diam sama sekali tak perduli dengan keadaan di sekitarnya


Nayla pun berlalu menuju kamarnya dengan perasaan bahagia karena hari ini ia mendapatkan banyak hadiah dari Tante yang baru ditemuinya


"Ta..." Bryan pun langsung mendekat ke arah Agatha, hendak meraih tubuhnya namun


"Katakan" ucap Agatha dengan nada datarnya hingga Bryan sendiri tak tau apakah saat ini Agatha marah atau biasa saja


"Aku sudah menikah" ucap Bryan kemudian duduk disamping Agatha dan mengurungkan niatnya tadi yang hendak meraih tubuh Agatha dari samping


Agatha tersenyum meremehkan ucapan Bryan, bagaimana bisa laki laki yang sudah memiliki istri menjanjikan akan menikahinya untuk Nayla? Huh....sampah!!!


"Tak ada masalah untukku, kau bisa hidup bahagia bersamanya"


"Jadi biarkan aku hidup bahagia juga dengan Nayla" ucap Agatha kemudian


"Tidak....tidak akan pernah aku melepaskanmu lagi" tekan Bryan menatap tajam pada Agatha


"Huh, dasar bajingan sialan" umpat Agatha


"Terserah kamu bilang aku apa yang jelas kamu dan Nayla adalah milikku" tekan Bryan kemudian


"Aku bukan wanita perebut suami orang" teriak Agatha langsung berdiri dari tempat duduknya


"Kak..." kaget Ratih yang tiba tiba mendengar suara menggelegar dari kakak iparnya tersebut


"Jadi jangan pernah menjadikan aku dan Nayla menjadi bagian dari hidup bajingan sepertimuuuu" seru Agatha kemudian


Mungkin benar kata orang jika saat emosi otak kita kehilangan keseimbangannya. Bagaimana bisa Bryan tak menjadi bagian dari hidup Agatha dan Nayla? Padahal jelas jelas Nayla hadir didunia ini karena Bryan juga


"Kak Bryan akan cerai dari Kak Violla kak" Ratih yang tadi diam kini mencoba membantu Kakaknya untuk meyakinkan Agatha


"Lalu?" sinis Agatha

__ADS_1


"Laki laki ini akan menjadikan aku wanita giliran selanjutnya?" lanjut Agatha


"Bukan begitu kak" tolak Ratih tak setuju


"Terserrah, aku tidak perduli pada kehidupan kalian"


"Aku akan pergi dari sini bersama dengan putriku" ucap Agatha beranjak meninggalkan ruangan ini


"Berani kau melangkah pergi dari rumah ini membawa Putriku?"


"Tak akan ku biarkan kau membawa Nayla pergi dan kau juga tak akan melihat Nayla lagi" Tekan Bryan menahan emosi yang bergejolak, senjata yang dia miliki saat ini adalah Nayla, Yah....hanya Nayla lah kunci hidup Agatha


"Apa maksudmu? Kenapa kau hanya berbuat semaumuuuu" teriak Agatha frustasi


Bryan mengepalkan tangannya, menahan dirinya untuk tidak berkata kasar lebih lanjut lagi. Gemuruh dihatinya masih dalam keadaan gelombang tinggi


"Kak, kamu tidak bisa mempertahankan milikmu hanya dengan mengancamnya kak"


"Yang ada kak Agatha tidak akan percaya padamu dan justru semakin membencimu" ucap Ratih mencoba menengahi keadaan. Bryan masih tidak menjawab, ia hanya terus mengepalkan tangannya


"Dan kamu kak" ucap Ratih kini bergantian menatap Agatha


"Kak Bryan dijebak oleh wanita itu"


"Kini aku baru sadar jika perubahan kak Bryan karena merasa terbebani telah meninggalkan tanggung jawabnya pada anaknya"


"Dan kamu wanita egois yang telah memisahkan anak dan Papanya sendiri"


"Ini tidak semua terjadi karena kesalahan Kakakku"


"Jadi, Berfikirlah bagaimana caranya untuk menebus kesalahanmu itu" tekan Ratih yang kemudian lagsung menarik lengan Kakaknya


Ratih menarik Bryan keluar dari rumah ini, bagai kerbau yang dicucuk hidungnya Bryan pun hanya menurut saja


Agatha menatap kepergian Kakak beradik tersebut dengan air mata yang tadinya masih berembun kini telah terjun bebas di pipinya, hatinya bergemuruh hebat banyak kebenaran dan juga ketidaktepatan yang tadi diucapkan Ratih menurutnya


"Perketat keamanan rumah ini, tambah bodyguard lebih banyak lagi" ucap Ratih pada salah satu bodyguard yang berdiri disamping pintu


"Baik non" ucap Bodyguard tersebut


Karena kondisi Bryan yang kurang stabil, maka kali ini Ratih sendiri lah yang harus menyetir menempuh perjalanan yang terbilang cukup jauh tersebut

__ADS_1


Sementara Bryan hanya diam saja dan larut dalam fikirannya sendiri. Memikirkan masa depan Anaknya yang kini menjadi kewajibannya untuk mewujudkan mimpi tersebut


__ADS_2