Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
Putri Genius Bryan 58


__ADS_3

Kini semuanya telah berkumpul diruang keluarga dengan suasana yang tampak tegang, Mama Henny pun sudah berjaga jaga takut jika suaminya nanti akan mengamuk lagi dengan terus merangkul erat lengan suaminya tersebut


Nayla saat ini tengah diasuh oleh pembantu dirumah ini, entah apa yang dilakukan pembantu tersebut pada Nayla asalkan Nayla saat ini tidak melihat dan tidak terlibat langsung dalam suasana mencekam saat ini


Entah dengan sadar atau tidak, saat ini Agatha justru tengah menggenggam tangan Bryan seakan akan menyampaikan bahwa saat ini ia tengah mendukungnya dan menyalurkan kekuatan pada Bryan


"Jelaskan semuanya dari awal" ucap Papa Hamdan dengan wajah datar tanpa ekspresi hingga membuat suasana benar benar dalam keadaan tegang


"Jadi waktu itu"


"Saat aku baru mengetahui bukti bukti bahwa Violla tengah berselingkuh di luaran sana"


"Aku sangat frustasi dan marah, malam itu aku pergi ke club hiburan malam"


"Aku berniat untuk melupakan semuanya dengan minum minuman keras" jelas Bryan


"Apaaa?" marah Papa Hamdan yang berusaha berdiri, namun ditahan oleh Mama Henny dengan memegang erat erat lengan suaminya


"Pa tenang dulu, dengerin penjelasan Bryan" ucap Mama Henny sembari mengelus elus lengan suaminya. Dengan terpaksa akhirnya Papa Hamdan memilih untuk mengalah dan mencoba meredam emosinya


Melihat Papanya yang sudah lebih baik keadaannya dibawah kendali Mamanya, Bryan pun kembali melanjutkan ceritanya


"Waktu itu aku belum benar benar mabuk, dan aku nggak sengaja lihat Agatha yang saat itu tengah mabuk sedang diganggu oleh beberapa orang pria" jelas Bryan kemudian menoleh pada Agatha yang tepat berada disampingnya


Pandangan Mama Henny dan juga Papa Hamdan pun ikut berlih memandang Agatha yang saat ini tengah menunduk dalam dalam


"Saya tidak ingin suudzon kepada kamu, jadi jelaskanlah semuanya" ucap Mama Henny pada Agatha


Sedangkan Papa Hamdan mengeraskan rahangnya memdengar penuturan Bryan tentang wanita itu. Tentu saja di dalam otaknya saat ini tengah berfikir macam macam untuk apa seorang wanita datang ke tempat seperti itu bahkan sampai mabuk, kecuali bahwa dia bukanlah wanita baik baik


"S...saya" ucap Agatha terbata bata memulai ceritanya


"Saat itu dalam keadaan bingung dan ma...marah" lanjut Agatha


"Kenapa?" tanya Papa Hamdan dinginnya


"Pacar saya dijebak oleh saudara tiri saya hingga saudara tiri saya hamil" cerita Agatha


Mama Henny sampai membulatkan matanya dengan mulut menganga lebar mendengar cerita Agatha. Papa Hamdan yang tadinya menatap lurus dengan dingin kini mengalihkan pandangannya menatap Agatha, mungkin didalam hatinya mulai tergerak untuk bersimpati dengan cerita Agatha tersebut


"Pacar saya menjelaskan pada saya bahwa dia tidak mencintai saudara saya"


"Papa saya meminta pacar saya untuk bertanggung jawab dengan menikahi saudara tiri saya"

__ADS_1


"Aku tak terima dan marah mendengar permintaan Papaku, karena aku berfikir itu sama sekali bukan kesalahan pacar saya"


"Tapi karena kesalahan Saudara tiri saya sendiri, jadi biarkan saudara tiri saya sendirilah yang menanggung semua itu"


"Papa saya meminta saya untuk mengalah lagi dengan saudara tiri saya"


"Dan disaat itu, emosi saya sudah tak terbendung lagi"


"Saya marah karena merasa bahwa Papa saya sudah tidak peduli padaku lagi"


"Bahkan dengan perasaan saya saat itu"


"Lalu saya memilih pergi dari rumah"


"Pergi ke kedai lukisan untuk mengambil sejumlah uang"


"Lalu pergi ke club malam, minum minuman haram tersebut dengan harapan aku bisa melupakan semuanya" jelas Agatha


Mama Henny dan Papa Hamdan sedikit sedikit mengerti akan hal yang menimpa keduanya hingga alasan mereka sampai di club malam


"Lalu? Terjadi itu?" tanya Papa Hamdan memastikan


Bryan pun manggut manggut, sementara Agatha hanya diam tak menjawabi. Terlalu malu rasanya untuk sekedar mengakui kejadian malam tersebut


"Apa kau sudah tidak menganggap kami sebagai orang tuamu lagi?" tanya Papa Hamdan dengan sinisnya


Netranya menatap tajam pada sepasang sejoli yang ada dihadapnnya tersebut, hatinya bergemuruh menahan segala rasa emosinya. Bagaimana bisa anaknya sendiri tak mau untuk berbagi keluh kesah dengannya? Dengan orang tuanya sendiri? Apakah selama ini ia menjadi sosok orang tua yang menakutkan bagi anaknya dan tidak menjadi orang tua yang berwibawa samapai sampai anaknya tidak menghargai dirinya


Sebenarnya Mama Henny tak kalah kecewanya dari Papa Hamdan, sebagai seorang ibu seharusnya ia menjadi orang pertama tempat berkeluh kesah anaknya. Namun, lihatlah....ia bahkan baru tahu kenyataan ini, kenyataan yang sudah terjadi bertahun tahun lalu, sebagai seorang ibu ia merasa kecewa pada dirinya sendiri yang tidak becus menjadi sosok ibu yang baik untuk anaknya sendiri


"Keesokan harinya saat aku terbangun, Agatha sudah tidak ada dikamar"


"Aku mencarinya kemana mana"


"Sampai mendatangi teman temannya, melacak keberadaanya hingga menyuruh orang untuk menemukan Agatha. Namun, aku baru menemukannya beberapa hari lalu" jelas Bryan pada kedua orang tuanya


"Perihal aku tidak menceritakan semua ini karena"


"Aku berfikir untuk menemukan Agatha dulu, menyelesaikan masalahku sendiri tanpa merepotkan kalian"


"Kalian pasti malu akan perbuatanku" ucap Bryan lemah


"Sangat, kamu sangat memalukan" tekan Papa Hamdan

__ADS_1


"Lalu, bagaimana bisa kamu pergi begitu saja?" tanya Papa Hamdan bergantian menatap Agatha


"Saya takut"


"Saya juga bingung" lirih Agatha


"Saat malam itu aku menganggap Bryan adalah pacarku"


"Begitu aku menyadari bahwa ternyata itu adalah orang lain"


"Aku merasa malu, merasa menjadi wanita rendahan"


"Aku kabur bersama semua masalah yang terjadi di Jakarta" jelas Agatha dengan air mata yang telah terjun bebas di pipinya


"Lalu bagaimana bisa kamu hamil tanpa meminta pertanggung jawaban Bryan?" tanya Mama Henny membuka suara


Sebagai seorang wanita yang telah memiliki anak tentu saja ia dapat membayangkan bagaimana rasanya mengandung. Bagaimana bisa wanita didepannya ini melalui semua itu bahkan tanpa meminta pertanggungjawaban laki laki yang telah menghamilinya tersebut?


"Awalnya saya berfikiran bahwa saya tidak mungkin hami"


"Hingga pada suatu hari kenyataan yang tak pernah aku bayangkan terjadi juga"


"Aku hamil" sinis Agatha


"Saat aku tau aku hamil, aku pernah mencoba bunuh diri" terang Agatha


"Apa???" kaget Mama Henny, Papa Hamdan dan Bryan bersamaan


Agatha tersenyum kecut, membayangkan kembali bagaimana bisa saat itu ia ingin bunuh diri dan juga membunuh kandungannya? Sungguh bodoh!!!


"Iya, aku menabrakkan tubuhku pada mobil"


"Tapi gagal"


"Lalu, Aku sadar jika ini semua terjadi karena kesalahanku"


"Bryan tak bersalah, dia hanya berniat menolongku"


"Tapi aku malah memaksanya untuk melakukan itu denganku karena aku menganggapnya orang lain"


"Jadi aku sadar, aku akan menanggung semuanya sendirian"


"Tanpa melibatkan Bryan dalam hidup kami"

__ADS_1


"Aku sudah bahagia memiliki Nayla, satu satunya orang yang aku punya" jelas Agatha menceritakan semuanya


__ADS_2