Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
Putri Genius Bryan 44


__ADS_3

"Huh" Violla menghembuskan nafasnya dengan kasar


"Akhirnya setelah sekian lama aku menunggu" gumam Violla dengan senyum yang mengambang dari bibir tipisnya


Viola membuka kembali ponselnya, mencari cari sesuatu dari sana.


"Halo" sapa seseorang dari seberang sana


"Iya" jawab Violla dengan gugup


"Ada apa kau meneleponku?"


"Berani sekali kau meneleponku saat ini?"


"Apa kau tidak takut suamimu tahu?" pertanyaan beruntut pun keluar dari bibir seseorang dari seberang sana


"Dia sedang tidak ada dirumah" jawab Violla


"Apa? Apa kau yakin dia tidak akan kembali malam ini?" tanya seseorang dari seberang sana yang pada awalnya terkejut


"Dia tidak akan pulang malam ini" tutur Violla


"Baguslah" ucap seseorang dari seberang sana


"Lakukan tugasmu sekarang" perintah seseorang dari seberang sana


"Jangan sampai kau mengacaukannya" tekan seseorang dari seberang sana


"Baik, aku akan mencobanya" kata Violla


Sambungan telepon pun akhirnya terputus, tentu saja saat ini adalah saat saat yang sudah begitu lama dinantikan oleh Violla dan seseorang. Dulu Violla tak mungkin memulai melaksanakan tugas itu karena setelah menikah dengan Bryan, Violla bahkan harus tidur berlainan kamar dengan Bryan


Selain karena itu Violla juga harus berhati hati dalam menjalankan tugasnya, ia tidak boleh membuat Bryan menaruh curiga kepadanya. Berada sampai dititik ini bukanlah hal yang mudah bagi Violla, setelah bertahun tahun ia mencoba menghiba hiba pada Bryan akhirnya Bryan mau untuk memberi kesempatan kepadanya, Huh....itu merupakan suatu keajaiban bagi Violla. Violla sama sekali tidak perduli jika Bryan melakukan hal itu karena tersentuh dengan usaha yang ia lakukan selama ini atau kan karena Bryan merasa iba pada dirinya. Toh....yang terpenting saat ini ia sudah diizinkan untuk tinggal sekamar dengan Bryan


"Aku harus mulai dari mana?" gumam Violla


"Aaaa....aku akan memulainya dari lemari dulu" ucap Violla setelah tiba tiba otaknya menyumbangkan ide


Violla mulai membuka lemari milik Bryan, lemari tempat ia meletakkan baju berbeda dengan lemari yang digunakan oleh Bryan. Entah suatu kebetulan atau apa ternyata kunci lemari milik Bryan masih bergelantung pada tempatnya, padahal biasanya kunci itu tak pernah Violla lihat bergelantung pada tempatnya


Sebelum membuka lemari milik Bryan, Violla lebih dulu mengunci pintu kamarnya untuk berjaga jaga agar tak ada orang yang memasuki kamarnya yang dapat mengganggu aktivitasnya. Violla membuka lemari milik Bryan, perlahan lahan Violla mulai mengobrak abrik isi lemari tersebut

__ADS_1


Hingga hampir 1 jam berlalu namun Violla sama sekali tidak menemukan sesuatu yang dicarinya hingga membuat Violla kesal sendiri


"Sial....dimana Bryan menyimpannya?" keluh Violla


Setelah mengobrak abrik isi lemari Bryan tentu saja Violla harus merapikannya seperti sedia kala, untu apa Violla harus melakukan itu? Tentu saja agar ia tidak meningglkan jejak sehingga Bryan tidak akan menaruh curiga kepadanya. Huh...hampir dua jam waktu Violla terbuang sia sia


"Aku harus mencarinya dimana lagi?" pikir Violla


Pada akhirnya Violla memilik mencari diseluruh sudut kamar ini mulai dari, bawah ranjang, semua laci, dibalik lukisan, bahkan sampai didalam sepatu sepatu milik Bryan namun sialnya, Violla bahkan tak menemukan apapun


"Hahhhhhh" teriak Violla dengan frustasinya


Violla keluar dari kamar, tujuan utamanya adalah ke dapur karena kerongkongannya terasa sangat kering karena kekesalannya dan juga teriakannya dalam meluapkan emosinya tadi


Glek....glekkk.....glekkkk Violla hanya membutuhkan beberapa tegukan saja untuk menghabisnya segelas air yang diambilnya barusan


"Kenapa kau minum hingga seperti itu?" tanya Mama Henny yang entah sudah sejak kapan sudah berada dibelakang Violla hingga membuat Violla kaget


"Astagaaaa" kaget Violla sembari mengelus elus dadanya


"Aku tadi habis senam dikamar ma, jadi sekarang haus banget" jawab Violla berbohong


Mama Henny memindai penampilan Violla dari ujung rambut hingga ujung kaki. Siapa sangka dulu Mama Henny selalu bersikap baik kepada Violla dan bahkan selalu membelanya, namun setelah Violla ketahuan telah menjebak Bryan, sikap wanita itu kini telah berubah 180 derajat, sudah tidak ada lagi sapaan ramah darinya sekarang yang ada hanyalah tatapan mata yang menyinarkan kebencian pada Violla


"Ah...iya ma, tadi tiba tiba aja aku lagi pengen banget senam. Jadi ya...aku senam aja" jawab Violla


"Pakai pakaian seperti itu?" tunjuk Mama Henny pada pakaian yang dikenakan oleh Violla


Bagaimana bisa seseorang senam dengan menggunakan celana jeans padahal Violla melakukan senam dirumah...eh....bahkan dikamar, lalu mengapa Violla tidak mengganti celananya dengan celana yang pas dipakai untuk senam


"Ah...ini ma? Iya tadi aku udah males banget buat ganti, jadi ya....aku pakai aja ini" jawab Violla kemudian


Mama Henny kemudian berbalik meninggalkan Violla tanpa persuli lagi dengan apa yang dikatakan oleh menantunya tersebut


"Sial....sopan sekali dia" sinis Violla sembari menatap kepergian Mama Henny. Violla pun kembali lagi kekamarnya


"Ahhh....aku sudah mengantuk sekali" gumam Violla


Violla merogoh ponselnya kembali, berniat ingin menghubungi seseorang


"Hallo" sapa Violla pada seseorang yang diteleponnya

__ADS_1


"Bagaimana kerjamu?" tanya seseorang dari seberang sana tanpa membalas sapaan Violla atau atau sekedar berbasa basi


"Gagal" jawab Violla singkat


"Apa? Bagaimana cara kerjamu? Kenapa kau tidak becus" murka seseorang dari seberang sana setelah mendengar jawaban Violla


Violla hanya bisa memejamkan matanya sembari mengatur deru nafasnya agar emosinya tak tersulut mendengar jawaban yang menurut Violla terdengar sangat menjengkelkan


"Kau bisa sabar tidak sih?" protes Violla


"Sabar? Sabar apa lagi?" tanya seseorang dari seberang sana


"Sudah berapa lama ha? Sudah berapa lama kau kuperintahkan untuk menjalankan tugas ini?"


"Lihatlah, bahkan sampai detik ini tak ada hasil yang kau peroleh. Kau benar benar tidak becus" tekan seseorang dari seberang sana


"Kenapa kau hanya bisa marah marah padaku saja"


"Selama ini aku juga sudah berusaha menjalankan semua yang kau perintahkan"


"Jika aku gagal maka itu hal yang wajar"


"Kenapa kau tidak pernah memberikan aku motivasi?"


"Selama ini kau hanya bisa memerintah, memerintah dan mencaci maki ku saja" Violla pada akhirnya meluapkan emosinya yang tadi telah ia tahan


"Kau menyalahkanku?" tanya seseorang dari seberang sana dengan nada tak percaya. Violla menghela nafas lalu dihembuskannya secara berlahan untuk mengontrol emosinya


"Aku tak menyalahkanmu, aku hanya ingin kau juga menghargai usahaku"


"Disini aku tidak bersenang senang, aku juga melakukan apapun yang kau perintahkan"


"Jadi mengertilah keadaanku dan jangan kau bersikap egois" tutur Violla dengan nada bicara yabg telah melunak


Terdengar hellan nafas dari seberang sana


"Baiklah maafkan aku" ucap seseorang dari seberang sana


"Sekarang kau istirahatlah"


"Kau bisa mencarinya lagi besok" ucap seseorang dari seberang sana

__ADS_1


"Baiklah" jawab Violla kemudian ia memutuskan sambungan teleponnya


__ADS_2