
"Saatnya aku membalas semuanya" batin Bryan
"Baiklah" jawab Bryan membuat Viola membelalakkan mata tak percaya, benarkah? Secepat inikah Bryan berubah fikiran...mungkin begitulah fikir Viola
"Kau serius bry?" tanya Viola memastikan
"Iya, dengan syarat tentunya" lanjut Bryan
"Katakanlah, katakanlah apa maumu?" tanya Viola dengan penuh semangat
"Kau harus segera hamil anakku" ucap Bryan
"Apa?" kaget Viola
"Kau tak mau?" tanya Bryan
"Bu...bukan begitu bry, aku hanya terkejut saja"
"Mengapa kau tidak mengatakan itu dari dulu padaku" ucap Viola
"Jika kau tidak segera hamil anakku, maka aku akan segera menceraikanmu" tukas Bryan
"Aku pasti akan hamil anakmu segera bry" ucap Viola penuh keyakinan
"Baikla, besok akan segera ku urus suratnya" kata Bryan membuat Viola menautkan kedua alisnya tak mengerti
"Surat apa maksudmu bry?" tanya Viola
"Jika dalam waktu 6 bulan kau tidak segera hamil anakku maka aku akan segera menceraikanmu" ucap Bryan
"6 bulan bry?" kaget Viola
"Iya, kenapa? Apa kau tak sanggup?" tanya Bryan
"Bu bukan begitu bry, tentu saja aku sanggup. Sangat sanggup malah" jawab Viola dengan semangat karena ia sangat yakin jika rahimnya baik baik saja
"Baiklah. Oiya, jangan sampai kau bermain dibelakangku" tekan Bryan
"Tentu tidak, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu" tutur Bryan
"Sekarang mari kita cek ke suburan kita masing masing" ucap Bryan langsung bangkit dari kursi kebesarannya dan Bryan pun langsung berjalan meninggalkan Viola
Viola dan Bryan bergegas memasuki ruangan dokter yang sudah terkenal dikalangan keluarganya, karena dokter tersebut merupakan kepercayaan keluarga Bryan
"Aku ingin mengecek kesuburanku dengan Viola" ucap Bryan to the point
"Bukankah kalian baik baik saja?" tanya dokter tersebut memastikan
"Segera lakukanlah" ucap Bryan lagi tanpa menjawab pertanyaan dokter tersebut
"Baiklah, mari" ucap dokter tersebut mempersilahkan
Rangkaian demi rangkaian pun telah dilakukan oleh Bryan dan Viola dan tentu saja dengan hasil yang memuaskan karena mereka berdua di nyatakan dalam kondisi yang sehat dan subur
"Aku masih ada urusan, kau pulanglah sendiri" ucap Bryan tanpa menatap Viola
__ADS_1
"Baiklah, tidak apa apa. Aku bisa pulang naik taksi" jawab Viola disertai dengan senyuman
Tanpa membalas lagi, Bryan pun langsung berjalan sendiri dan meninggalkan Viola yang masih mematung ditempatnya
Viola mengotak atik ponselnya beberapa saat kemudian
"Halo" sapa Viola saat telepon telah tersambung
"Halo, apa kau sudah berhasil?" tanya seseorang diseberang sana
"Kau bersabarlah. Penantianku selama 6 tahun ini akan segera terbayarkan" ucap Viola
"Bagus, cepat laksanakan tugasmu. Atau seseorang yang ada disini akan aku lenyapkan" ancam seseorang di seberang sana
"Kau jangan hanya bisa mengancam terus, aku sudah berusaha sampai sejauh ini dan lihatlah sekarang aku mempunyai kesempatan emas" ucap Viola hati hati namun penuh penekanan
"Baiklah baiklah. Laksanakan tugasmu dan akan ku tunggu kabar baik darimu sayang" jawab Seseorang laki laki dari seberang sana
"Baiklah" ucap Viola yang langsung mematikan sambungan telepon
"Ma...mama" panggil Nayla pada Agatha
"Ada apa sayang?" tanya Agatha yang baru saja duduk disebelah anaknya
"Eum kan kompetisi aku akan diadakan sebentar lagi ma" ucap Nayla
"Iya, terus kenapa?" tanya Agatha
"Mama bisa nemenin aku kan? Biar Mama lihat kalau aku lagi kompetisi?" tanya Nayla
"Seminggu lagi" jawab Nayla
"Apa?" kaget Agatha
"Kenapa ma?" tanya Nayla melihat Mamanya yang terkejut
"Aduh sayang, seminggu lagi Mama harus ikut sama om Aryo dan tante Vanessa buat acara launcing lukisan baru" jelas Agatha
"Gimana dong?" Agatha pun bingung sendiri, disatu sisi ia tidak ingin mengecewakan anaknya namun disisi lain ia sudah diberi tanggung jawab akan hal lainnya
"Yah Mama" kesal Nayla
"Mama juga nggak tau, maafin Mama ya Nay" ucap Agatha memohon maaf pada putri kecilnya tersebut
"Yaudah deh nggak papa, Mama kan kerja buat aku juga" ucap Nayla dengan penuh pengertiannya
"Beneran nggak papa? Nay nggak marah sama Mama?" tanya Agatha memastikan, ia tak menyangka jika Nayla akan memakluminya. Biasanya anak seusia dia akan merajuk jika keinginannya tidak dipenuhi, tapi berbeda dengan Nayla
"Iya nggak papa ma. Eummm o iya ma" ucap Nayla
"Kenapa sayang?" tanya Agatha penasaran
"Kata Mama kan Mama mau launcing lukisan kan?" tanya Nayla memastikan
"Iya terus?" tanya Agatha penasaran
__ADS_1
"Aku boleh nitip 1 lukisan aku nggak ma?" tanya Nayla
"Nitip?" heran Agatha yang belum mengerti maksud keinginan anaknya
"Iya ma, buat diikutin launcing Mama" jelas Nayla
"Aku pengen banget ma, 1 lukisan aja kok. Kalau nggak laku nanti Mama bisa balikin lagi ke Nay" ucap Nayla
"Emmm....lukisan yang mana?" tanya Agatha setelah berfikir jika permintaan Nayla tak ada salahnya
"Sebentar ma" ucap Nayla lalu bergegas ke kamarnya, tak berselang lama Nayla pun kembali demgan sebuah lukisan ditangannya
"Ini ma" ucap Nayla menyodorkan sebuah lukisan hasil karyanya sendiri. Agatha pun menerima lukisan yang disodorkan putrinya
Dilihatnya lukisan tersebut, sebuah lukisan yang berisi sebuah keluarga bahagia yang tengah menghabiskan waktu dengan bermain ditaman dengan gadis kecil yang tengah berlari larian. Lukisan tersebut tiba tiba mengingatkan Agatha pada foto masa kecilnya yang sempat ia bawa kabur dan masih tersimpan dengan rapi dikamarnya
"Nay yakin?" tanya Agatha memastika
"Iya" jawab Nayla penuh antusias
"Yaudah, sekarang Nay makan dulu yah. Mama udah masak kesukaan Nayla" ucap Agatha
"Oke ma" jawab Nayla mengacungkan jari jempolnya dan langsung berlari menuju meja makannya. Agatha melihat itu dengan senyum bahagianya, yah...bahagia melihat keceriaan Nayla tentunya
Tut...tut....tut....dering ponsel Bryan, Bryan yang masih fokus menyetir pun menepikan mobilnya ke kiri terlebih dahulu, lalu melihat siapa kah yang menghubunginya barusan
"Mas Rudi?" gumam Bryan, Bryan pun langsung menggeser icon hijau di ponselnya
"Assalamualaikum mas" salam Bryan
"Waalaikumsalam Bry" balas Mas Rudi diseberang sana
"Ada apa mas? Kok tumben telepon aku?
"Padepokan aman kan mas?" tanya Bryan memastikan
"Aman kok aman, kamu tenang aja bry" jawab Mas Rudi disana
"Terus ada apa mas?" tanya Bryan lagi
"Jadi gini Bry, minggu depan di jawa timur ada kompetisi silat bry"
"Untuk anak anak, yah...semacam buat mencari bibit bibit unggul bry" jelas Mas Rudi
"Oke, lalu?" tanya Bryan lagi
"Ayo kau temani aku lah Bry, sekali kali buat cari cari bibit unggul juga"
"Siapa tau dari peserta lomba ada yang tertarik buat ikut berlatih dipadepokan kita"
"Dan bisa juga kita tawarkan buat mengikuti turnamen antar negara di next competition dengan kita sebagai pelatihnya" Mas Rudi menjelaskan panjang lebar
"Bagus juga ide mas" Bryan senang dengan ide yang diucapkan Mas Rudi
"Jadi kamu mau kan temani mas? Buat cuci mata juga bry?" tawar Mas Rudi
__ADS_1
"Emmm....boleh mas, aku akan ikut" jawab Bryan menyetujui