Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
Putri Genius Bryan 48


__ADS_3

Beberapa hari kemudian tibalah waktunya bagi Bryan untuk kembali ke Jakarta, sangat sulit bagi Nayla untuk melepaskan kepergian Papanya, padahal Bryan sudah menjanjikan banyak hal agar Nayla tidak sedih lagi namun Nayla selalu menolak, hingga akhirnya Nayla mau membiarkan Bryan pergi asalkan saat Bryan kembali Bryan tidak boleh pergi lagi tanpa mengajak Nayla dan Mamanya


"Ayolah Nayla sayang, Papa nggak akan lama" bujuk Bryan sembari berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan Nayla


"Papa harus janji dulu kalau nanti Papa mau pergi lagi, Papa harus ajak aku sama Mama juga" ucap Nayla menyodorkan jari kelingkingnya


"Nayla, Papa kan harus kerja. Nanti kalau nggak kerja nggak dapat uang lo" bujuk Agatha yang berusaha mengalihkan perhatian Nayla


"Nggak ma, Papa harus janji sama Nayla"


"Papa nggak boleh pergi lagi" kekeh Nayla


"Baiklah, Papa janji" tegas Bryan sembari meraih jari kelingking Nayla


"Beneran? Papa janji?" tanya Nayla menoleh menghadap Papanya dan memastikan lagi ucapan Papanya


"Iya, Papa janji" ulang Bryan lagi


"Horeeee......Nayla sayang sama Papa" girang Nayla yang langsung menghambur ke pelukan Papanya


"Papa juga" balas Bryan sembari merengkuh tubuh kecil Nayla


"Yaudah, Papa pergi dulu ya" pamit Bryan pada Nayla


Bryan pun menggendong tubuh Nayla dan diciuminya secara bertubi tubi hingga membiat Nayla tertawa cekikikan karena terlalu geli


"Hahahah, udah pa....udah....cukup" ucap Nayla yang sudah tidak tahan lagi


"Hahaha" Bryan pun menghentikan aksi jahilnya dan menurunkan Nayla lagi


"Papa hati hati ya" wanti wanti Nayla pada Papanya


"Iya sayang, Nayla jaga Mama ya" pinta Bryan

__ADS_1


"Oke pa" jawab Nayla


"Emmm, aku pergi dulu ya" pamit Bryan pada Agatha


Agatha hanya tersenyum menanggapi, lidahnya kelu tak ada lagi kata kata yang mampu keluar dari bibirnya saat ini. Entahlah....rasanya agak sulit membiarkan Bryan pergi namun sejujurnya Agatha sangat membenci Bryan, bukan...bukan Bryannya melainkan pada perkataan Bryan pada malam itu yang sangat merendahkannya


Lagi pula selain itu, Agatha bertahan hingga kini karena janjinya pada Bryan dan juga atas rasa bersalahnya pada Bryan dan juga Nayla. Ia sudah salahengambil langkah saat itu, biarlah ia akan mengabdikan hidupnya saat ini untuk menebus semua dosanya di masa lalu, sekalipun Bryan benar benar mengabulkan keinginan Nayla untuk menikahinya


Tiba tiba Bryan menarik tubuh Agatha hingga Agatha terjerembab kedalam pelukan Bryan. Degggg.....deg....deg....kedua jantung insan tersebut berdetak dengan kencang. Agatha bahkan tak bisa berbuat apa apa, tubuhnya tiba tiba membeku begitu saja ia tak dapat menolak atau pun memberontak di dalam pelukan Bryan


Sementara Bryan melakukan hal tersebut karena tak kunjung mendapatkan balasan dari Agatha, entah mengapa dan entah darimana tiba tiba ia bisa memiliki kekuatan untuk melakukan itu semua. Jantungnya pun berdegup dengan kencang, berbeda dengan Agatha yang sama sekali tak membalas pelukan Bryan, Bryan justru mengeratkan pelukannya pada tubuh Agatha


"Cie ...cie....Papa, Mama...aku juga mau dipeluk dong" celoteh Nayla tiba tiba membuat Bryan terkejut dan langsung melepaskan pelukannya pada tubuh Agatha


Ehemmm


Bryan dan Agatha salah tingkah sendiri, Nayla langsung memeluk kaki Bryan


"Pa, aku juga mau ikutan dipeluk sama Mama dan Papa" pinta Nayla dengan senyum lebarnya


Akhirnya acara perpisahan penuh drama itu pun berakhir sudah, Bryan telah mengendarai mobilnya dengan keadaan yang tersenyum senang mengingat pelukan yang ia lakukan pada Agatha tadi. Hatinya berbunga bunga sendiri, ia tak ingin merusak moment dengan memikirkan langkah yang harus ia lakukan untuk memenuhi janjinya pada Nayla saat semua rencananya belum sepenuhnya sempurna


Didalam kamarnya, Agatha duduk dipinggiran ranjang dengan tangan kanan yang memegangi dada kirinya. Jantungnya masih terasa berdegup dengan kencang padahal Bryan dudah pergi, Agatha tak ingin jika suatu hari nanti ia jatuh cinta pada Bryan karena traumanya pada laki laki.


Entah itu pada Reyhan yang meskipun tanpa disengajanya Reyhan telah menghianatinya, begitu juga dengan Papanya yang telah berubah sikapnya pada dirinya sendiri setelah menikah dengan Mama tirinya


Hati Nayla saat ini dipenuhi dengan bunga bunga, betapa bahagianya Nayla saat melihat Papa dan Mamanya berpelukan untuk pertama kalinya. Nayla sungguh berharap jika nantinya Mama dan Papanya akan terus bersama selamanya dan memberinya hadiah adik kecil seperti yang sering diceritakan oleh Siska temannya


"Bagaimana ini? Jika aku tak kunjung hamil juga, Bryan pasti akan menceraikanku"


"Dan kita tak akan pernah mencapai tujuan kita" resah Violla berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon


"Apakah kalian sudah periksakan kesehatan kalian masing masing?" tanya seseorang diseberang sana memastikan

__ADS_1


"Aku dan Bryan sudah mengeceknya dan hasilnya kami semua dalam keadaan baik baik saja" adu Violla


"Apakah kalian sering melakukannya?" tanya seseorang itu lagi


"Emmm....tidak sering sebenarnya" cicit Violla


"Bodoh...hatusnya kalian lebih sering melakukannya" maki seseorang dari seberang sana


"Sering? Bagaimana kami bisa sering melakukannya? Dia tak suka padaku meskipun dia telah memulainya dari awal tapi aku masih bisa melihat dengan jelas kebenciannya padaku" tutur Violla panjang lebar


"Otakmu selalu tak berfungsi dengan baik" kesal seseorang diseberang sana


"Apa katamu? Mengapa kau selalu seenaknya saja padaku" kesal Violla karena hinaan seseorang diseberang sana


"Lalu aku harus bilang apa lagi? Ha?" tanya seseorang diseberang sana


"Jika otakmu tak berfungsi dengan baik, maka gunakanlah tubuhmu" kata seseorang diseberang sana


"Tubuh? Apa aku harus memberinya obat perangsang seperti dulu?" tanya Violla memastikan


"Jika kau memberinya pada malam hari, maka keesokan harinya Bryan pasti akan langsung membuangmu" desis seseorang diseberang sana


"Membuangku? Jadi aku harus apa?" tanya Violla lagi


Huh....memang sulit jika bekerja sama dengan orang yang otaknya lamban, lihatlah Violla dulu memang dia tak jahat bahkan sampai saat ini, namun Violla bagai boneka yang harus melakukan apa pun permintaan pemiliknya karena suatu hal


"Kau" ucap seseorang diseberang sana sembari menahan emosinya


"Kau lakukanlah dengan Bryan dalam keadaan sadar dan sering" ucap seseorang diseberang sana


"Kalau dia tak mau bagaimana? Sepertinya dia sangat jijik denganku walaupun dia melakukannya tapi aku tidak melihat adanya cinta darinya untukku padahal kami suami istri" cerita Violla


"Bagaimana kalau dia membatasi hubungan itu?" tanya Violla

__ADS_1


"Kau harus terus menggodanya, Bryan itu laki laki pasti dia tak akan tahan jika kau menggodanya terus menerus" ucap seseroang di seberang sana


"Lagi pula, aku bahkan sama sekali tak perduli dia mencintaimu atau tidak yang penting tugas ini harus berhasil


__ADS_2