
"Wahhh enak banget mie nya" binar Nayla
"Makan yang banyak nay kalau gitu" ucap Bryan sembari membelai rambut hitam Nayla
"Iya Pah" jawab Nayla
"Emm Ma Pa" panggil Bryan hati hati
"Iya?" balas Mama Henny, sementara Papa Hamdan hanya melirik tanpa berniat untuk menjawab panggilan Bryan
"Malam ini Bryan mau ajak Nayla sama Agatha buat nginep di apartmen ma" tutur Bryan
"Kenapa nggak disini aja?"
"Papa dan Mama juga baru ketemu sama cucu Papa" sahut Papa Hamdan ikut nimbrung juga akhirnya
"Agatha nggak nyaman ya kalau tidur dikamar Bryan?" tanya Mama Henny
Agatha sendiri kikuk harus bagaimana jika menjawab tidak tentu saja mustahil akan hal itu, bagaimana mungkin bisa seorang wanita bisa nyaman tidur dikamar calon suaminya bersama Istri tuanya? ohhhh ya ampun. Kalaupun ia menjawab iya, ia tentu saja merasa tak enak untuk mengatakannya, pasalnya ia sendiri bukan siapa siapa dirumah ini jadi tentu saja tidak berhak untuk meminta menentukan dan request apapun dong
"Bukan Agatha ma, tapi emang kita pengen aja dapet suasana baru gitu loh" tangkas Bryan berapi api
"Agatha sama Nayla sukanya makan apa?" tanya Mama Henny dengan penuh perhatian
"Aku suka banget sama telur dadar nek" jawab Nayla antusias
"Telur ?" heran Mama Henny memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi dengan baik
"Iya nek, tapi digorengnya pake minyak jangan pake mentega" imbuh Nayla
Hahahahahaaaa....tawa semua orang pun akhirnya pecah mendengar perkataan Nayla
Menjelang malam Bryan, Agatha dan Nayla pun berpamitan. Malam ini Bryan benar benar membawa Agatha dan Nayla untuk bermalam bersama di Apartment pribadi milik Bryan yang memang sudah cukup lama tidak ditempati
"Ma...Bryan berangkat dulu ya" pamit Bryan
"Pa" Bryan pun mengambil dan mencium tangan Mama Papanya bergantian
"Nenekkkkk besok besok aku bakalan ke sini lagi kok, jadi Nenek jangan sedih ya" hibur Nayla sembari memeluk erat lutut Neneknya tersebut
"Iya, beneran lo kesini lagi" ucap Mama Henny
"Iya dong" balas Nayla sembari melepaskan pelukannya
"Kok Kakek nggak dipeluk?" tanya Papa Hamdan karena Nayla hanya diam saja dan hanya menatapnya tak kunjung mendekat mendekat kepadanya
"Kakek mau?" tanya Nayla tak percaya
"Mau dong, sini sini" Papa Hamdan pun akhirnya berlutut untuk memudahkan Nayla memeluknya
Tanpa menunggu lama, Nayla pun langsung berlari menghambur ke pelukan Papa Hamdan
Brukkkkk
"Cucu Kakek udah besar" tutur Papa Hamdan membelai lembut rambut hitam Nayla
"Iya dong, masak kecil terus sih" kesal Nayla
"Hahaha ya udah maafin Kakek kalau gitu" ucap Papa Hamdan sembari mengurai pelukannya pada Nayla
"Sehat sehat ya nak" doa Papa Hamdan tulus untuk Nayla
"Kakek sama Nenek juga harus sehat ya" Nayla pun berbalik mendoakan kesehatan Kakek dan Neneknya
"Yaudah, buruan pergi gih keburu malam nanti" ucap Mama Henny
"Iya ma" jawab Bryan, Agatha pun mengangguk
"Agatha pamit dulu Ma Pa" ucap Agatha sembari meraih tangan Mama Henny dan Papa Hamdan bergantian untuk diciumnya
"Iya, kamu hati hati ya" ucap Mama Henny
"Iya ma" balas Agatha
Agatha, Nayla dan Bryan pun berangkat menuju Apartment menggunakan mobil pribadi milik Bryan
"Pa...pa aku mau martabak itu dong" ucap Nayla menunjuk nunjuk kedai kecil yang menjual martabak dipinggir jalan
"Itu?" tanya Bryan memastikan
"Iya pa" jawab Nayla antusian
Akhirnya Bryan pun menepikan mobilnya didepan toko penjual martabak tersebut
"Biar sama aku aja" ucap Agatha saat melihat Bryan hendak turun dari mobilnya
"Kamu? nggak papa?" tanya Bryan memastikan
"Emang kenapa?" tanya Agatha malah heran mendengar ucapan Bryan
"Ya...nggak papa juga sih" ucap Bryan kemudian
Agatha dan Nayla pun turun dari mobil, sementara Bryan memilih untuk menunggu di dalam mobil sembari melihat lihat aktivitas lalu lalang kendaraan
"Om...aku mau martabak telurnya 1 sama martabak manis rasa cokelat kacangnya juga 1 yah" Nayla pun memesan martabak kesukaannya, sementara Agatha hanya mengikuti Nayla dari belakang
"Oke, ditunggu ya neng" jawab penjual martabak tersebut
__ADS_1
Agatha dan Nayla pun akhirnya memilih untuk duduk dikursi yang telah disediakan untuk pembeli
Bughhh...Auuuu....tak sengaja Agatha bersenggolan dengan seseorang dengan cukup keras hingga membuat lengan Agatha terasa cukup panas
"Ehhh maaf mbak nggak sengaja" ucap seseorang yang tadi menabraknya tersebut
"Mama nggak papa kan?" tanya Nayla dengan khawatir
"Agathaaa?" panggil seseorang
Deggg....suara itu? suara itu tak asing baginya. Agatha pun mendongak menatap siapa saja yang ada didepannya saat ini
"Milla?" kaget Agatha saat melihat ternyata yang tadi memanggilnya adalah Milla sahabatnya
"Kamu?" heran Agatha saat melihat ada sosok Agam disamping Milla
"Ta...ini uangnya, tadi kamu nggak baw..." Bryan pun datang dengan tiba tiba menghampiri Agatha karena ia lupa tadi tidak memberi uang pada Agatha untuk membayar martabak Nayla
"Bryan?" heran Milla yang melihat ada Bryan
"Kamu?" Bryan sendiri juga heran saat melihat ada Milla yang saat ini tengah bersama dengan Asistennya sendiri
Pada akhirnya mereka semua memilih untuk berbicara lebih lanjut di cafe yang berada disekitaran tempat itu
"Ta? lo dimana aja selama ini?"
"Kapan lo balik?"
"Kenapa lo nggak pernah ngubungin gue ta?"
"Lo nganggep gue apa selama ini?" pertanyaan beruntun pun langsung meluncur dengan lancar dari bibir Milla, walaupun sebenarnya Milla jengkel karena Agatha tak pernah mengabarinya selama beberapa tahun ini, namun rasa khawatirnya jauh lebih tinggi kepada sahabatnya tersebut
"Lo nggak bilang sama Milla?" tanya Bryan pada Agam yang sedari tadi hanya diam belum ikut membuka suara
"Agam tau?" tanya Milla tak percaya
"Lo tau gam?" tanya Milla menatap ke arah Agam yang hanya diam lalu mengangguk perlahan
"Ishhhhh kok lo nggak kasi tau gue sih" kesal Milla sembari memukul mukul lengan Agam
"Karena gue yang nyuruh Agam buat rahasiain ini semua"
"Nggak nyangka gue kalau ternyata Agam menepati janjinya dengan bersungguh sungguh, bahkan dengan tunangannya sendiri" puji Bryan pada Agam. Bryapun bertepuk tangan sementara Agam hanya tersenyum tipis
"Apa??? kalian tunangan?" kaget Agatha yang terkejut dengan info yang baru diketahuinya tersebut
"E..he eun" jawab Milla mangit mangut tersenyum malu
"Gilla gilla kok bisa kalian?"
"Kalian kenal dari mana?" tanya Agatha memajukan kepalanya agat lebih dekat dengan Milla
"Gue sampe belum nikah gara gara lo juga tau" kesal Milla pada Agatha
"Kok gue lagi?" tanya Agatha menunjuk ke dirinya sendiri
"Lo pikir gue tega apa? gue nikah tapi gue belum nemuin sahabat gue" cibir Milla dibarengi dengan raut wajah yang dibuat sinis
Agatha tentu saja merasa terharu mendengar ucapan Milla, betapa beruntungnya ia yang dikaruniahi seorang sahabat yang sangat perduli dan setia kepadanya
"Makasih ya Mill, lo baik banget sama gue" ucap Agatha tulus dengan mata yang mulai berkaca kaca
"Lo kemana aja selama ini?" tanya Milla tanpa menjawab ucapan terima kasih dari Agatha
"Oh...ya ampun, gue sampe lupa" ucap Milla sembari menepuk jidatnya dengan cukup keras
"Ini siapa ta? mukanya nggak asing banget di gue" heran Milla sembari menatap Nayla yang terlihat sangat sibuk memakan martabaknya tanpa perduli dengan sekitarnya
"Ini Nayla mil, anak gue" jujur Agatha pada Milla
"Apaaaa?" kaget Milla mendengar penuturan mengejutkan dari Agatha
"Ja jadi lo pergi dari rumah karena lo hamil?"
"Bukan karena Reyhan?" tanya Milla masih dengan raut wajah terkejutnya
"Karena keduanya" jawab Agatha singkat
"Siapa Papanya nay? siapa? kok mukanya nggak asing menurut gue?" tanya Milla bertubi tubi
Semua orang tampak membeku mendengar pertanyaan Milla, memang selama ini tak ada yang memberitahukannya pada Milla tentang apa yang menimpa Agatha, yang Milla tau hanya Agatha pergi karen Reyhan itu saja tanpa ada embel embel apapun
"Gue" sahut Bryan memecahkan keheningan
"Brakkk What???" rasa kaget Milla sudah sampai dipucuk ubun ubun mendemgar pernyataan pernyataan mengejutkan yang baru diketahuinya
"Apa? jadi selama ini urusan yang lo maksud tentang Agatha adalah ini semua?" tanya Milla dengan raut tak percayanya
Bagaimana bisa selama ini ia membantu seseorang tanpa mengetahui alasannya? yang Milla lakukan hanyalah karena ia juga ingin Agatha cepat kembali dan kebetulan saat itu Bryan juga datang untuk mencari Agatha. Merasa ada seseorang yang memiliki tujuan yang sama dengannya membuat Milla langsung menyetujui tanpa perduli dengan alasan Bryan yang penting Agatha bisa segera bertemu. Yah...itu saja
"Ya...karena gue ngelakuin kesalahan sama Agatha" jujur Bryan
"Dasar brengsekkk" tanpa diduga sebelumnya Milla langsung bangkit dan menghampiri Bryan, Milla bahkan mencengkeram kerah kaos yang dipakai Bryan
"Milla" Kaget Agam dengan gerakan tiba tiba dari tunangannya tersebut
"Laki laki bajingannnn" teriak Milla sembari mengguncang guncang tubuh Bryan
__ADS_1
"Milla udah mill udah" lerai Agatha sembari membantu untuk melepaskan cengkeraman tanga Milla pada kerah kaos milik Bryan
"Tante...jangan pukul Papa tan" ucap Nayla tiba tiba menghampiri Papanya
"Papa?" tiba tiba Milla merasa terhenyaj sendiri saat mendengar gadis kecil tersebut memanggil Bryan dengan sebutan Papa
"Tan...udah tan, jangan pukulin Papa lagi" pinta Nayla yang saat ini tengah memeluk tubuh Bryan erat erat
"Udah mill udah, kita bisa bicarain ini semua baik baik" ucap Agam menenangkan. Agam membawa tubuh Milla untuk duduk ditempat semula, Milla hanya menurut saja tanpa melawan sedikitpun rasanya tubuh Milla saat ini lemas dan sudah tak bertenaga
Semua orang yang tadi memandang mereka kini mulai kembali dengan kegiatannya masing masing seperti sebelumnya
"Papa nggak papa kan?" tanya Nayla penuh ke khawatiran
"Papa nggak papa kok" jawab Bryan sembari tersenyum untuk meyakinkan pada Nayla bahwa keadaannya memang benar benar baik baik saja
"Nayla ayo duduk lagi" ucap Agatha kemudian mengarahkan tubuh kecil Nayla untuk kembali duduk dikursinya semula
"Sejak kapan kalian menikah?" tanya Milla kemudian
Agatha menggeleng pelan, bibirnya belum mampu untuk mengatakan secara langsung bahwa ia dan Bryan belum menikah
"Kami bahkan baru bertemu" ucap Agatha kemudian
Milla menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh Agatha
"Lalu dia?" tanya Milla sembari melirik ke arah Nayla
"Dia hadir karena kesalahanku" tutur Agatha berterus terang
"Kamu melakukan itu dengan Bryan?" kaget Milla
"Dalam keadaan sadar? atau frustasi?" tanya Milla berturut turut, raut wajahnya sama sekali tak percaya dengan apa yang tengah dia fikirkan didalam otaknya
"Kamu ingat saat malam itu aku menghubungimu?" tanya Agatha pada Milla. Milla pun mengangguk karena ia memang masih ingat akan malam itu
"Saat itu aku baru tau kalau Sellena hami anak Reyhan"
"Aku tak terima, Reyhan bilang kalau Sellena lah yang telah menjebaknya"
"Lalu Papa minta kepada Reyhan untuk menikahi Sellena"
"Aku menolak karena berfikir bahwa itu sama sekali bukan kesalahan Reyhan, tapi sepenuhnya kesalahan Sellena"
"Papa tak setuju lalu kami bertengkar"
"Aku merasa semakin yakin kalau Papa sudah tidak memperdulikan aku, dia sama sekali tidak mengerti akan perasaanku"
"Lalu aku memilih untuk pergi dari rumah itu dengan membawa beberapa jumlah uang dari toko"
"Aku bingung harus kemana saat itu, aku hanya bisa berjalan tanpa arah mengikuti kemanapun kakiku melangkah"
"Tak sengaja aku melihat club hiburan, aku berfikir untuk minum agar aku bisa melupakan semua masalah yang menimpaku saat itu"
"Dalam keadaan setengah sadar aku melihat bahwa ada beberapa orang laki laki yang temgah menggodaku"
"Sampai akhirnya Bryanlah yang menolongku dari para bajingan tersebut"
"Bryan mengantarkanku ke hotel karena aku sudah mabuk berat"
"Aku melihat Bryan saat itu sebagai Reyhan"
"Pikiranku saat itu kalut, lalu aku memaksa Reyhan untuk melakukannya denganku atas dasar Cinta"
"Keesokan paginya aku terkejut bahwa ternyata itu bukan Reyhan tapi Bryan" ucap Agatha menoleh pada Bryan
"Aku kabur karena malu, padahal malam itu Bryan sudah berusaha menolakku"
"Namun aku malah bertingkah seperti ******" sinis Agatha saat mengingat kembali beberapa hari lalu Bryan telah mengatakan kata itu pada dirinya
"Aku kabur untuk menutupi rasa maluku"
"Sampai tiba tiba aku hamil"
"Aku bahkan hendak melakukan bunuh diri tapi gagal"
"Ada orang baik yang membantu hidupku" tutur Agatha
"Sejak saat itu aku sadar bahwa hanya anakku sajalah yang aku punya saat itu"
"Jadi aku memilih untuk hidup bersama Nayla tanpa ada niatan untuk kembali ke Jakarta" jelas Agatha panjang lebar
"Kau sudah pulang kerumah Papamu?" tanya Milla
"Tidak" jawab Agatha singkat
"Maafkan aku ta" ucap Milla tertunduk dalam dalam
"Kenapa kamu minta maaf mil?" khawatir Agatha
"Aku bukanlah sahabat yang baik untumu"
"Aku bahkan tak tau apapun tentangmu" ucapan Milla tulus dari hati
"Aku lah yang tidak berniat untuk memberitahukannya, jadi berhentilah untuk menyalahkan dirimu sendiri" ucap Agatha
Akhirnya malam itupun mereka bercengkerama untuk menggantikan waktu yang telah tertinggal selama beberapa tahun tersebut. Sampai akhirnya Bryan pamit untuk undur diri karena hari sudah semakin malam
__ADS_1
"Wahhh" kagum Agatha saat pertama kali memasuki Apartment mewah milik Bryan
"Masuklah" ajak Bryan dengan senyum jahilnya karena berbagai ide ide telah berkumpul didalam pikirannya