
"Huaaaaa.....akhhhh" tiba tiba ada jeritan tangis dari bawah
Sontak Bryan dan Agatha langsung menghentikan pembicaraan mereka. Bryan pun berbalik arah dan langsung keluar dari kamarnya diikuti oleh Agatha
Terlihatlah Nayla yang kini tengah menangis kejer dengan air mata yang telah membanjiri pipinya dan tangannya memegang gelas yang isinya hanya tinggal seperempat saja
"Papaaaaa" jerit Nayla begitu melihat kehadiran Bryan dan Agatha, sontak Nayla pun langsung berlari menghambur kepelukan Bryan
"Papa...?" gumam Agatha yang masih dapat didengar dengan jelas oleh indra pendengaran Bryan
"Lihatlah sekuat apapun kamu memisahkan kita, darah selelu lebih kental dari pada air" ucapan tekan Bryan lalu berjongkok menyambut pelukan Nayla
"Cup...cup..Nayla kenapa sayang?" tanya Bryan dengan penuh perhatian dan kasih sayangnya
Agatha terus mengamati interaksi antara keduanya, bagaimana mungkin 2 orang yang bahkan baru bertemu kini telah begitu akrab? apa benar ini karena mereka memiliki hubungan darah? sehingga naluri mereka benar benar menyatukan jarak yang selama ini terbentuk?
"Pus pa pus....hiks...hiks...hiks....sroookss" tutur Nayla dengan sesenggukan
"Kucingnya nyakar tangan Nay pa...hiks...hiks...hikss...sa..sak...kit pa" lanjut Nayla lagi sembari menyodorkan tangannya yang kini terlihat ada bekas cakaran sehingga mengeluarkan sedikit darah
"Ya Allah, tangan anak Papa berdarah" ucap Bryan mengambil tangan Nayla lalu meniupnya dengan penuh kelembutan
"Sini Nayla sama Mama, biar Mama obatin" kata Agatha yang langsung berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Nayla
"Tidak perlu biar aku saja yang mengobatinya" tolak cepat Bryan yang kemudian langsung menggendong tubuh Nayla
Sontak Nayla yang langsung mengerti pun langsung mengeratkan pelukannya pada leher sang Papa
"Urusan kita belum selesai" ucap Bryan pada Agatha, kemudian berlalu begitu saja menggendong tubuh kecil Nayla
Bryan pun membawa Nayla ketaman yang terletak disamping belakang rumahnya
"Nayla tunggu disini dulu yah, Papa mau ambil obat dulu buat ngobatin luka Nayla biar nanti nggak tambah parah" kata Bryan
"Iya pa....hiks" jawab Nayla menganggukkan kepalanya pelan
Tanpa menunggu lama, Bryan pun langsung bergegas meninggalkan Nayla untuk mengambil kotak obat yang terletak diarea dapurnya
Walaupun sebenarnya Bryan bisa saja menyuruh anak buahnya untuk mengambilkan kotak obat, namun Bryan merasa bahwa dirinya sendiri lah yang harus memenuhi dan menyiapkan kebutuhan untuk Nayla. Apa lagi ia baru saja bertemu dengan putrinya setelah berpisah selama bertahun tahun
Tak menunggu lama Bryan pun kembali dengan sebuah kotak obat yang dibawanya lalu bergegas untuk duduk disamping putrinya
__ADS_1
"Sini tangannya, biar Papa obatin" ujar Bryan
Nayla pun langsung menyodorkan tangannya pada Bryan yang kemudian langsung disambut hangat oleh Bryan
"Nayla nggak boleh nangis dong, nanti cantiknya hilang loh" bujuk Bryan mencoba membuat Nayla tersenyum menghentikan tangisnya
"qek...qekk...qekkk" Nayla tak menanggapinya lagi, yang terdengar kini hanyalah sisa sisa isakan tangis Nayla
Bryan pun tersenyum simpul melihat tingkah putrinya lalu mengelus elus lembut rambut Nayla
"Kok bisa dicakar sama kucing?" tanya Bryan sembari membubuhkan obat merah pada goresan cakaran kucing yang terpampang di tangan Nayla
"Tadi Maongnya tidur pa" ucap Nayla
"Terus?" tanya Bryan menanggapi permulaan cerita dari putrinya
"Nayla mau elus elus kepala nya maong pa" lanjut Nayla
"He em" respon Bryan mangut mangut sembari menempelkan plester sebagai langkah terakhir dalam mengobati luka Nayla
"Nayla jongkok pa, nggak sengaja air minum yang nay bawa tumpah"
"Kena maongnya pa, terus maongnya cakar tangan nay" jelas Nayla dengan suara isakan yang sudah tak terdengar lagi
Dari yang diceritakan oleh Nayla dapat Bryan simpulkan jika mungkin kucingnya terkejut akibat guyuran air minum yang dibawa Nayla, sehingga dengan refleknya kucing tersebut pun mencakar sesuatu yang dapat dijangkaunya seperti tangan Nayla
"Oh Papa sekarang udah ngerti" ucap Bryan mangut mangut
"Apa pa? kucingnya dibuang aja pa, kucingnya jahat" adu Nayla dengan nada manjanya
"Nay dengerin Papa dulu ya" pinta Bryan, Nayla hanya mangut mangut mengizinkan Bryan untuk berbicara lebih lanjut
"Kucingnya nggak jahat kok" ucap Bryan
"Maongnya jahat pa, Maongnya udah cakar tangan Nayla" adu Nayla menyodorkan bekas luka cakarannya yang kini telah berbalut dengan plaster
Bryan pun tersenyum mencoba memahami penjelasan anaknya dan menempatkan dirinya dengan posisi Nayla
"Jadi gini sayang" ucap Bryan mengarahkan wajah Nayla agar menatap padanya
"Tadi kucingnya kesiram air ya?" tanya Bryan memastikan
__ADS_1
"Iya pa" jawab Nayla membenarkan
"Nah, kucingnya itu kaget bukan jahat"
"Nayla pasti paham kan sama gerak refleks yang sering Nayla lakukan?" tanya Bryan lagi, Nayla hanya mangut mangut mengiyakan
"Nah, Nayla biasanya spontan melakukan gerak refleks kalau keadaan nya gimana?" tanya Bryan
"Biasanya Nay akan melakukan gerak refleks kalau nay mau menahan serangan dari lawan sama kalau nay kaget" jawab Nayla dengan polosnya
"Nah, jadi sama kayak kucing tadi dong" kata Bryan
"Sama kayak gimana pa?" tanya Nayla yang tak mengerti ucapan Papanya
"Tadi kan kucingnya kesiram air yang nay bawakan?"
"Jadinya kucingnya kaget, kan kebanyakan juga kucing nggak suka sama air"
"Jadi kucingnya refleks nyakar apa aja yang ada didekatnya
"Dan kebetulan yang ada di dekat kucingnya tadi kan tangan Nayla" jelas Bryan panjang lebar
"Emmm" Nayla mangguk mangguk memahami dan membenarkan perkataan Papanya
"Yaudah, sekarang Nay mau apa?" tanya Bryan
"Nay mau latihan silat lagi sama Papa kayak tadi dong" pinta Nayla dengan mata berbinar binar
"Kan tangan Nay masih sakit, jadi nunggu luka nay sembuh dulu yah" bujuk Bryan
"Iya pa" jawab Nayla, meskipun dengan setengah hati akhirnya mau tak mau Nayla pun mengiyakan usulan sang Papa karena tangannya sendiri pun terasa masih perih
Sedangkan Bryan bukan karena tak mau namun mengingat luka Nayla masih baru dan ia sendiri pun masih harus menyelesaikan urusan yang belum selesai dengan Agatha
"Sekarang Nay masuk rumah ya, terus Nayla nanti bisa pergi sama Om Agam"
"Nanti Nayla bisa minta es krim sama om Agam"
"Oh...atau nay bisa minta dibeliin martabak manis loh" ucap Bryan mencoba membujuk Nayla
Agatha yang dari tadi terus menyaksikan interaksi antara Papa dan Anaknya tersebut kini akhirnya mengetahui dari mana bakat asing Nayla dan ternyata bakat silat yang dimilikinya menurun dari Papanya
__ADS_1
Perlahan ada seutas rasa penyesalan yang merasuk kedalam hatinya melihat rona kebahagiaan yang terpancar dalam diri Nayla, yah....sesempurna apapun kasih sayang dan segala jenis perhatian yang ia berikan pada Nayla ternyata tidak dapat menggantikan sosok Papa sebagai cinta pertama dari anak perempuannya
Melihat Nayla dan Bryan yang beranjak berdiri, sontak Agatha pun akhirnya memilih meninggalkan tempat persembunyiaannya