
Ratih saat ini tengah duduk duduk dibangku taman dikampusnya, tak ada siapapun yang menemaninya. Ia hanya seorang diri ditemani dengan beberapa jenis camilan yang tadi baru dibelinya dikantin.
"Uwuw, cantik banget sih gue?" pekik Ratih memuji dirinya sendiri yang tengah bercerimin menggunakan cermin kecil yang selalu dibawanya.
"Serpihannya Sarah istri Nabi Ibrahim deh kayaknya ini." ucap Ratih lagi yang kembali mengagumi kecantikan dirinya sendiri.
Tring....tiba tiba saja ada sebuah pesan yang masuk kedalam ponsel Ratih, ia pun segera meraih ponselnya.
"Mama?" gumam Ratih membaca nama yang tertera dilayar ponselnya, ia pun lekas membuka isi pesan yang dikirimkan Mamanya.
"Dek, nanti kalau pulang mampir ke apotek beliin obat Mama udah mau habis." begitulah kira kira isi pesan yang dikirimkan Mamanya.
"Oke." balas Ratih singkat padat dan jelas.
Tak berselang lama ponselnya pun berdering kembali, Ratih pun membukanya dan ternyata sebuah pesan yang dikirim oleh Kakak Iparnya.
"Kak Agatha
Dek, kamu pulang jam berapa? Nayla kangen sama kamu." begitulah kira kira isi pesan yang dikirimkan oleh Kakak iparnya.
"Jam 1 an kak." Ratih pun lekas mengirimkan balasannya pada Kakak Iparnya tersebut.
Usai membalasnya Ratih pun kembali menyimpam ponselnya didalam totebag yang dikenakannya.
Dasar manusia, bengong dikit aja langsung mikirin hidup. Kira kira seperti itulah yang dirasahan Ratih. Tiba tiba saja ingatannya berputar kembali kepada kejadian yang baru dilihatnya semalam, apalagi kalau bukan Bayu yang datang kerumah jendes itu untuk memberikan sesuatu? Oh astagah...seumur umur Ratih sendiri belum pernah sekalipun diperlakukan sedemikian so sweetnya oleh Mas Bayu.
"Kayaknya tuh jendes nggak bisa diremehkan deh keberadaannya, keberadaannya tuh bener bener mengancam keamanan hubungan gue sama Mas Bayu tau nggak." ucap Ratih pada dirinya sendiri dengan berapi api.
"Woooyyyyy." tiba tiba saja ada seseorang yang mengagetkannya dari belakang.
"Eh anjir." kaget Ratih yang langsung bergeser dari posisinya semula sembari mengelus dadanya.
"Ahahahaha." Rissa tertawa terbahak bahak melihat ekpresi rauh wajah Ratih yanh menurutnya sangat lucu tersebut.
"Apaan sih lo, nggak lucu tau. Nanti kalau gue jantungan gimana?" teriak Ratih tepat disamping telinga Rissa.
__ADS_1
"A...aauh...aduh." keluh Rissa yang merasakan telinganya pengung dan otomatis langsung menggosok gosok telinganya.
"Enak nggak? enak nggak? enak lah, masa nggak. Hahahaha." Ratih pada akhirnya langsung membalas perlakuan Rissa dengan caranya sendiri.
"Makanya jangan iseng, jangan suka ngagetin orang dong." ucap Ratih sembari menatap sahabatnya tersebut dengan tatapan sinisnya.
"Abisnya lo juga sih, dari tadi malah neglamun sendiri. Awas kesambet loh." balas Rissa dengan tatapan sebalnya.
"Eh, masa sih?" tanya Ratih yang tak percaya.
"Emang kelihatan banget yah?" tanyanya lagi denga wajah seriusnya.
"Serius pake banget banget banget." jawab Rissa sembari menganggukkan kepalanya.
"Emangnya lagi mikirin apaan sih lo?" tanya Rissa yang tampak penasaran.
Ratih langsung menghela nafas panjang dan kembali mengarahkan pandangannya lurus kedepan.
"Gue lagi mikirin masa depan gue ris." ucap Ratih dengan raut wajah putus asanya.
"Eh, hehehe maaf bukan gitu maksud gue." ucap Risa yang salah tingkah dengan tatapan Ratih.
"Maksud gue masa depan yang bagian mana yang lo pikirin? tentang kepindahan kuliah?" tanya Rissa berusaha menebak.
"Bukan." jawab Ratih menggeleng gelengkan kepalanya lemah.
"Udah gue duga, mana mungkin lo mikirin begituan." gumam Rissa yang ternyata masih bisa didengar oleh Ratih karena tiba tiba Ratih langsung menoleh ke arahnya.
"Maksud gue kalau maksud lo bukan soal kepindahan kita terus masalah masa depan yang mana yang lo takutin?" tanya Rissa lagi.
"Mas Bayu Ris," jawab Ratih dengan wajah lemasnya.
Mendengar nama itu yang lagi lagi menjadi alasan kesedihan Ratih, membuat Rissa langsung menghela nafas sadar.
Emang kayak gini nih kalau orang lagi jatuh cinta, tololnya nggak ada obat. Mau dikasih tau kalau itu warna hitam yah...mereka nggak lihat karena lagi terbuta buta sama cintanya.
__ADS_1
"Emang kenapa lagi?" tanya Rissa mencoba sekuat tenaga menahan diri supaya tidak terlalu terlihat jika ia sudah muak dengan pembicaraan yang bertemakan topik tersebut.
"Kira kira Mas Bayu suka nggak ya sama tuh jendes? apa tuh jendes aja yang kegatelan sama Mas Bayu?" tanya Ratih.
"Kegatelan gimana?" tanya Rissa yang belum mengerti dengan apa yang dimaksud Ratih tersebut.
"Jadi nih ya gue ceritain dari awal." ucap Ratih yang langsung memposisikan tubuhnya menghadap Rissa sahabatnya tersebut.
"Jadi semalem waktu lo lo loh semua pada mabok kan gue yang bawa pulang nyetir mobilnya." ucap Ratih memulai ceritanya.
"Nah, waktu dijalan tuh gue nggak sengaja lihat mobilnya Mas Bayu. Nah gue ikutin kan ya dan ternyata mobilnya berhenti didepan rumah tuh jendes."
"Malem malem lagi, habis itu Mas Bayu kayak ngasih bungkusan apa yang kayaknya yang dibelinya tadi waktu gue nggak sengaja ngelihatnya deh." cerita Ratih dengan berapi api.
"Jadi intinya lo jealous gara gara Om Bayu ngasih sesuatu itu ke orang itu malem malem?" tanya Rissa setelah menyimpulkan apa yang didengarnya dari cerita Ratih tersebut.
"He eum." jawab Risa sembari mengangguk anggukkan kepalanya lemah.
"Yah elah Tih, ya mungkin karena anaknya tuh orang lagi pengen makan apa gitu makanya dibeliin sama Om Bayu." kata Rissa menyampaikan hasil pemikirannya.
"Ya kalau gitu terus kenapa minta tolongnya sama Mas Bayu, emang didunia ini yang hidup cuma Mas Bayu doang?" tanya Ratih dengan berapi apinya.
"Yah kan nih ya tih, Om Bayu itukan laki laki dewasa yang sidah berumur sedangkan tuh orang kan wanita dewasa yang udah jadi janda juga. Yah... wajar aja lah kalau mereka saling merasakan saling mengerti perasaan mereka masing masing. Kayak Om Bayu yang mengerti perasaan tuh orang yang jadi single parent dan yang pastinya ada kekosongan dalam hidupnya dan Om Bayu mencoba mengisi kekosongan tersebut." jelas Rissa panjang lebar.
"Heyyyy." potong Ratih yang langsung berteriak untuk menghentikan pemikiran Rissa yang menurutnya menyebalkan tersebut.
"Ishhh, lagian ngapain juga sih lo pake acara bingung bingung kayak gitu segala." sebal Rissa.
"Ya bingung lah, buat masa depan gue nih woy." balas Ratih yang tak terima karena Rissa yang seolah olah menggampangkan perasaannya.
"Heh, lo pernah denger kan pastinya kalau semua akan indah pada waktunya." kata Rissa memberitahu sahabatnya itu.
"Dan lo nggak pernah denger kan kalau kata kata yang barusan lo ucapin itu cuma sebatas kata penghibur saat hidup sedang berantakan." balik serang Ratih yang membuat Rissa langsung bungkam.
~Dirimu yang sebenarnya adalah apa yang kamu lakukan saat tidak ada orang lain yang mihatmu.~
__ADS_1
^Ali Bin Abi Thalib^