Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
Putri Genius Bryan 65


__ADS_3

Keesokan harinya Ratih dan Violla pun kembali dari liburannya, dengan terpaksa Bryan pun harus mengungsikan Agatha dan Nayla untuk sementara waktu sesuai dengan saran Mama dan Papanya


"Aku membawakan oleh oleh untuk Mama dan juga Papa" ucap Violla yang baru datang sembari menyodorkan beberapa Papper bag


"Kau tak seharusnya repot repot seperti ini" kata Papa Hamdan


"Aku tau aku telah melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan"


"Anggap saja ini untuk menebus sedikit demi sedikit kesalahanku" jawab Violla


"Ini aku juga bawakan untuk mu bry"


"Sebaiknya dibuka dikamar saja" ucap Violla lalu beranjak berdiri dan berjalan menuju kamarnya dengan diikuti oleh Bryan dibelakangnya


"Ahhhh lelahnya" ucap Violla sembari meletakkan barang belanjaannya ke atas ranjang


"Ohhh ini milikmu bry" ucap Violla sembari menyodorkan sebuah papper bag


Bryan pun menerimanya tanpa banyak tanya lalu membuka isinya


"Topi?" gumam Bryan


"Kau lebih cocok jika menggunakan topi"


"Kau akan terlihat lebih tampan" ucap Violla


"Terima kasih" kata Bryan


"Sama sama" jawab Violla


"Kau sebaiknya mandilah dahulu agar badanmu terasa lebih segar" perintah Bryan pada Nayla


"Baiklah" jawab Violla lalu berbalik arah menuju kamar mandi


Bryan menghela nafas kasar, menyiapkan dirinya untuk menyelesaikan permasalahan ini. Hampir 30 menit Violla belum usai dengan kegiatan mandinya


Ceklekkkk ....suara pintu kamar mandi yanh dibuka


"Kamu masih disini bry?" tanya Violla yang terkejut melihat Bryan masih berada ditempatnya semula


"Iya, ada yang ingin aku bicarakan padamu" ucap Bryan setelah benar benar memantapkan hatinya


"Bicara apa?"


"Kenapa serius sekali?" tanya Violla heran


"Sebaiknya kau pakai baju dahulu" ucap Bryan karena saat ini Violla hanya mengenakan handuknya


"Oh...baiklah" ucap Violla kemudian berjalan menuju lemari dan mengambil beberapa potong pakaian, Kemudian memakainya dikamar mandi. Tak berselang lama Violla pun kembali keluar dengan pakaian yang tadi dipilihnya


Violla berjalan menuju ranjang kemudian duduk disamping Bryan


"Apakah liburanmu menyenangkan?" tanya Bryan membuka suara


"Emmm...ya, aku suka liburannya"


"Namun terasa sepi karena hanya berdua saja" kata Violla menjawab pertanyaan Bryan


"Lain kali pergilah bersamaku, kita bahkan belum pernah liburan" ucap Violla, Bryan hanya menanggapinya dengan senyuman kecut. Brengsek...brengsek sekalian dirinya ini. bagaimana bisa ia tak pernah sekalipun mengajak Violla keluar untuk bersenang senang setelah menikah


"Emmm ada yang ingin ku katakan padamu" kata Bryan


"Apa? katakanlah" ucap Violla mempersilahkan


"Mari bercerai" ucap Bryan


"Apa???" terkejut Violla mendengar penuturan Bryan


"Kau bercanda? kita bahkan baru berbaikan setelah bertahun tahun" ucap Violla mencoba kembali ke posisi santainya setelah hatinya begitu terkejut tadi


"Aku serius" jawab Bryan dengan tegas


"Apa!!!" pekik Violla


"Mari kita selesaikan sampai disini saja" ucap Bryan


Sedikit demi sedikit mulai tumbuh embun di mata Violla hingga membuat pandangannya terasa seperti berkabut


"Ke...kena..pa?" tanya Violla dengan susah payah


"Kita sudah sepakat untuk bercerai jika kau tak kunjung hamil" ucap Bryan. Bahkan kini ia harus mengakhiri pernikahannya dengan Violla dengan kebohongan pula


"Mungkin karena..."


"Usaha kita masih kurang" tutur Violla, air matanya sudah mulai berjatuhan dipipinya


"Katakanlah yang sesungguhnya, kau tampak lebih bodoh menggunakan alasan tersebut" kata Violla


Bryan jadi terkejut sendiri, apakah alsannya sungguk tidak mampu untuk diterima semesta?


"Pasti ekspresiku yang kurang mendukung" batin Bryan


"Katakanlah sejujurnya" ucap Violla


"Kamu sudah siap mendengarkannya?" tanya Bryan pada Violla yang hanya dianggukin anggukan kepala oleh Violla dengan lemah


"Aku telah memiliki seorang putri" ucap Bryan


Jederrrr ...... rasa hati Violla bagaikan sebuah kaca yang dilempar menggunakan sebuah batu besar, hancur!!! hancur berkeping keping. Itulah yang Violla rasakan saat ini


Suaminya memiliki anak dengan wanita lain? apa mungkin hal itu benar adanya? apakah Bryan hanya bergurau?


"Bercandamu tak lucu" ucap Violla tersenyum sembari beranjak berdiri


"Aku serius" kata Bryan sembari menahan tangan Violla agar tak pergi, sontak Violla pun menghentikan gerakannya


"Kau serius?" tanya Violla berbalik menatap Bryan dengan mata yang mulai berkaca kaca


"Hem" jawab Bryan sembari menganggukkan kepalanya


"Si...siapa wa..wanita itu?" tanya Violla terbata bata


"Kau tak perlu tau" kata Bryan


"Tak perlu tau?" tanya Violla tak percaya


"Aku tak perlu tahu wanita biadap mana yang telah menghancurkan pernikahan kita?" Violla menggeleng gelengkan kepalanya tak habis pikir


"Duduklah, akan ku ceritakan semuanya" kata Bryan

__ADS_1


Violla hanya mengikuti perkataan Bryan tanpa bisa berbuat banyak, hati dan pikirannya belum stabil untuk saat ini. Baru saja ia pulang, ia sudah disambut dengan berita sialan ini


"Ka...katakan, lah" ucap Violla terbata bata


"Kami melakukannya sebelum menikah" ucap Bryan terdengan penuh percaya diri


"Apa?" bukan suara tinggi, melainkan suara rendah yang mengiringi keterkejutan Violla


"Ya, aku bahkan tak berniat untuk menikahimu"


"Karena aku memiliki alasan lain" tutur Bryan


"Alasan itu?" tanya Violla memastikan


"Ya, lagi pula hubungan kita sudah berakhir saat itu" imbuh Bryan


"Ya...aku telah menghancurkan rencana indahmu" lirih Violla


"Lantas? kenapa kau baru membicarakannya?" tanya Violla


"Dia pergi karena tak ingin menikah denganku"


"Baru baru ini aku bertemu dengannya" ucap Bryan


"Semua orang sudah tau?" tanya Violla


"Ya..." jawab Bryan menganggukkan kepalanya


Qehhh....helaan nafas tak percaya oleh Violla


"Jadi, liburan ini juga bagian dari rencana kalian?" tanya Violla menatap intens Bryan


"Ya" jawab Bryan singkat


"Qeq...semua orang benar benar membenciku" gumam Violla


"Mereka bukan membencimu, hanya saja mereka sudah tak percaya padamu" kata Bryan


Violla membuang pandangan ke sembarang arah


"Apa dia memintamu untuk menceraikan aku?" tanya Violla


"Tidak" jawab Bryan singkat


"Jadi ini keinginanmu?" tanya Violla tak percaya


"Ada anak yang menjadi tanggung jawabku" jawab Bryan


"Apa perlu sampai menceraikanku?" tanya Violla dengan nada tinggi


"Dia kekurangan kasih sayang selama ini"


"Jadi aku harus menebus segala dosa dosa ku" tutur Bryan


"Apa kau sama sekali tak punya dosa padaku?" tanya Violla dengan suara tinggi melengking


"Pernikahan kita bukanlah keinginan kedua belah pihak, sebenarnya aku merasa berdosa jika harus mengungkit semua itu kembali"


"Tapi perlu ku lakukan agar kau mengerti posisiku" kata Bryan


"Oh...ya ...benar, semua ini kesalahanku" sinis Violla


"Kau menyiksaku selama ini, kau menyiksa batinku dengan sangat hebat"


"Terima kasih" ucap Violla penuh berapi api


"Maafkan aku, aku akan mengurusnya segera"


"Apa ada permintaan terakhir darimu?" tanya Bryan sembari beranjak dari posisi duduknya


"Apa kau akan mengabulkan permintaanku?" tanya Violla penuh selidik


"Ya" jawab Bryan


"Berikan aku surat kepemilikan sahammu" jawab Violla dengan tegas


Bukan halnyang mengejutkan lagi bagi Bryan, ia sudah mengetahui nya sedari awal. Siapa yang tak tergiur dengan saham yang dimiliknya? ia adalah pemegang saham tertinggi diperusahaannya. Tentu saja bisa dengan mudah menguasai perusahaan yang telah susah payah dibangkitkannya lagi saat sudah di ujung tanduk


"Apakah karena alex?" tanya Bryan tepat sasaran, sementara Violla langsung terkejut setengah mati saat tiba tiba Bryan mengucapkan satu nama tersebut


"Tak perlu terkejut, aku bahkan baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu"


"Apa dia adalah pria yang bersamamu saat diluar negeri?" tanya Bryan berturut turut


"Apa maksudmu?" kilah Violla


"Aku tidak bisa memberikannya padamu"


"Aku akan tetap memberikan harta gono gini padamu"


"Namun tidak terlalu besar, tidak ada anak diantara kita" ucap Bryan


"Adakah permintaanmu lagi selain ini?" tanya Bryan


Violla menghela nafas berat, pandangan matanya bahkan tidak bisa fokus hanya pada satu titik. Violla terus membuang pandangan matanya kesembarang arah


"Apa kali ini kau benar benar akan mengabulkannya?" tanya Violla kemudian


"Jika aku bisa akan ku kabulkan" jawab Bryan


"Kau bisa, hanya saja kau tidak mau" cerca Violla


"Kau yang menawariku permintaan terkahir, tapi kau sama sekali tak bersungguh sungguh untuk melakukannya" sinis Violla


"Baiklah, katakan" ucap Bryan setelah menghembuskan nafas kasarnya berkali kali


"Aku ingin bertemu dengan mereka" ucap Violla tegas, ia yakin akan keputusannya


"Untuk apa? dia tidak ada hubungannya sama sekali dengan kita"


"Dia bahkan lebih hadir terlebih dahulu" tutur Bryan


"Apa kau terlahir sebagai seorang yang selalu ingkar?" tanya Violla, tak ada air mata lagi yang mengalir ke pipi Violla. Bahkan saat ini Violla terlihat lebih menakutkan dengan ekspresi dingin dan datar yang tidak bisa ditebak apa yang tengah difikirkannya


"Kau bisa datang bersamanya, jika kau khawatir aku akan menjambaknya" ucap Violla


"Sungguh cara yang tidak aesthetic😂" sinis Violla


"Akan ku usahakan" jawab Bryan kemudian

__ADS_1


Violla pun membuka lemari miliknya, lemari yang terpisah dengan milik Bryan. Mengambil sebuah koper berukuran sedang dan memasukkan baju bajunya dengan kasar.


Bryan memperhatikan setiap gerak gerik yang dilakukan Violla. Wanita yang pernah mengisi hatinya selama bertahun tahun, lalu menghancurkan semuanya dengan satu kesalahan yang sama sekali tak bisa dimaafkannya sepenuhnya


Hampir 15 menit bagi Violla untuk mengemasi barang barangnya. Violla hanya berlalu keluar tanpa memperdulikan Bryan yang masih duduk dipinggiran ranjangnya dan terus memperhatikannya


Mama Henny, Papa Hamdan dan juga Ratih tengah menonton televisi dengan ditemani berbagai camilan yang hampir memenuhi meja didepannya. 2 suasana yang berbeda bagaikan langit dan bumi. Saat menantunya tengah jatuh di palung paling dalam, mereka terlihat sangat bahagia menikmati acara televisi seakan akan kebahagiaannya perlahan terbang ke langit


"Kak Vio?" kaget Ratih saat tiba tiba melihat Violla keluar dengan membawa sebuah koper berukuran sedang, walaupun ia sudah dapat menerka apa yang terjadi tapi ia tidak menyangka sama sekali jika Kakaknya akan melakukannya hari ini juga


Bukankah Violla baru pulang berlibur? pasti badannya masih lelah, namun ia langsung dihempaskan begitu saja. Walaupun sebenarnya tak salah dengan apa yang dilakukan oleh Bryan karena sudah terlalu lama menahannya, namun garis koordinasi waktunya sungguh tidak manusiawi sama sekali


"Kau menjadi adik yang sangat penurut pada Kakakmu" sindir Violla


"Ma...maafkan aku kak" lirih Ratih yang juga merasa tak enak hati


"Jangan bersedih, kau melakukan semuanya dengan sangat baik" sinis Violla


"Baiklah, aku akan perhi hari ini"


"Berbahagialah"


"Kalian telah menantikan semua ini sejak lama" ucap Violla kemudian berjalan meninggalkan ruangan ini


Semua orang menatap kepergian Violla, ada perasaan sedih dan senang yang mereka rasakan. Ada yang pernah dengar kata kata ini dalam drama korea? katanya kita harus membuang sesuatu untuk mendapatkan sesuatu


Setelah kepergian Violla, Agatha dan Nayla akan datang mengisi kekosongan dan menghidupkan suasana dirumah ini bukan? bersedih untuk hari ini demi kebahagiaan esok hari? entahlah pantas atau tidaknya mereka mengatakan itu hanyalah tuhan yang mengetahuinya


"Apakah Violla memukulmu? menamparmu?" tanya Mama Henny


"Dia sudah bersikap dewasa" jawab Bryan


"Apa Violla memintanya?" tanya Papa Hamdan


"Iya" jawab Bryan menganggukkan kepalanya


"Kamu berikan?" tanya Papa Hamdan


"Tidak"


"Sebagai gantinya, Violla meminta bertemu dengan Agatha" ucap Bryan


"Kakak mengizinkannya?" tanya Ratih was was


"Iya" jawab Bryan


"Apa? bagaimana kalau Violla akan menghajar Agatha?" tanya Mama Henny penuh ke khawatiran


"Aku akan menemaninya" kata Bryan


"Halo" sapa Violla


"Apa kau sudah berhasil?" tanya Alex dari seberang sana


"Bryan menceraikan aku" ucap Violla datar


"Apa???" pekik Alex dari seberang sana


"Kau sama sekali tak berguna" tekan Alex


"Berhentilah menyalahkan aku, dia telah mengetahui semuanya" kata Violla datar


"Apa?" tanya Alex tak percaya dari seberang sana


"Aku punya sesuatu yang lebih bagus untukmu" ucap Violla


"Jangan membual, aku akan membunuhmu jika yang kau katakan sama sekali tak berguna" sinis Alex dari seberang sana


"Baiklah, aku tak akan memberitahunya"


"Kau manusia yang sama sekali tak tahu berterima kasih" sinis Violla


Terdengar helaan nafas panjang dari seberang sana, entah karena frustasi ataukah karena geram dengan ucapan Violla


"Katakanlah" ucap Alex dari seberang sana


"Dia telah memiliki anak" ucap Violla


"Anak?" tanya Alexs dengan nada tak percayanya


"Aku baru mengetahuinya tadi, dia menceritakan semuanya" kata Violla


"Berapa umurnya?" tanya Alex dengan rasa penasarannya


"Emmm mungkin seumur pernikahanku?"


"Dia mengatakan hal itu terjadi sebelum menikah denganku" adu Violla


"Kenapa kau baru tau?" tekan Alex yang merasa sangat geram


"Mereka berpisah lama dan baru bertemu kembali baru baru ini" ucap Violla


"Ahhh iya, hampi saja aku lupa" kata Violla yang hampir melupakan poin pentingnya


"Aku akan bertemu dengannya, bersama Bryan juga" lapor Violla


"Berfikirlah cara apa yang seharusnya kau lakukan"


"Aku telah melakukan yang terbaik dan yang aku bisa selama ini"


"Segera akhirilah dendam sialanmu ini" kata Violla


"Masa muda ku telah terbuang sia sia selama ini" sinis Violla


"Jangan kau lupakan siapa kamu sebelumnya"


"Dan jangan lupakan hutang budimu" ucap Alex mengingatkan


Violla langsung mematikan sambungan teleponnya, muak mendengar perkataan Alex yang ia tau jelas akan mengarah ke arah mana perkataan tersebut


"Siallll" umpat Violla sembari memukul stir mobil


"Terlibat dengan keluargamu adalah kesialan dalam hidupku" geram Violla


Violla pun melajukan mobilnya mencari hotel terdekat, ia berencana akan menginap di hotel untuk sementara waktu sampai semuanya berakhir


"Mama, aku pingin makan mie" rengek Nayla pada Agatha


"Mie?" tanya Agatha memastikan

__ADS_1


"He eum pake telur, sawi sama cabai" kata Nayla sembari tersenyum menggemaskan


__ADS_2