Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
Putri Genius Bryan 75


__ADS_3

Angin yang berhembus dengan tenang, menerbangkan daun daun kering dari rantingnya perlahan lahan ranting kering pun ikut gugur ke tahah. Semilir angin yang menyejukkan dan menenangkan, apalagi jika dinikmati bersama orang terkasih dengan ditemani secangkir kopi hangat


Orang yang sempurna? Orang yang sempurna bukanlah orang dengan otak yang sempurna, melainkan orang yang dapat mempergunakan sebaik baiknya dari bagian otaknya yang kurang sempurna. Apakah ada yang setuju dengan filosofi ini?


Perjalan hidup yang panjang dan tanpa disadari oleh Agatha dan Bryan mereka pernah sama sama terjebak dalam situasi rumit. Yah.....dalam situasi yang menyakitkan ketika kehilangan jati diri mereka sendiri dalam proses mencintai orang lain dengan teramat sangat, hingga keduanya bahkan melupakan jika mereka juga merupakan orang yang istimewa


Apa yang kau rasakan ketika tiba tiba ada orang asing yang datang padamu lalu menyatakan cintanya? Apakah akan diterima? Apakah anda tidak percaya dengan cinta pandangan pertama? Hah.....ada sebagian orang yang sama sekali tak mempercayainya karena dianggap tak masuk akal bukan? Bagaimana bisa tiba tiba langsung menyatakan perasaan padahal kita sama sekali tak saling mengenal?


Atau anda akan lebih setuju dengan kata kata ini pastinya. Jangan sekali kali percaya dengan cinta yang datang tiba tiba, karena dia juga akan meninggalkanmu dengan tiba tiba pula


Mungkin ungkapan itulah yang menjadi pegangan Agatha selama ini, ia tentu saja tidak akan mudah menerima cinta dari orang yang baru hadir dihidupnya


Selama tiga bulan ini Agatha dan Nayla tinggal bersama orang tua Bryan, bukan....Agatha dan Nayla tidak tidur seranjang. Mereka bahkan belum sempat menikah dikarenakan masih dalam keadaan berkabung atas apa yang menimpa pada Violla. Oh....iya, dan selama itu pula Agatha dan Bryan terus melakukan pendekatan, perasaan ragu yang semula Agatha rasakan perlahan lahan memudar. Dimata Agatha saat ini, ia mengakui jika Bryan bukan laki laki brengsek, pernah pada suatu hari saat Bryan dan Agatha harus pergi ke puncak untuk menyusul keluarga yang lainnya karena Agatha harus menunggu kepulangan Bryan dari luar kota sementara Nayla sudah tak sabar ingin kepuncak sehingga pergi lebih dahulu bersama keluarga yang lainnya


Saat ditengah tengah perjalanan tiba tiba saja hujan turun dengan sangat lebat, bahkan jarak pandang Bryan pun tak cukup jauh apalagi saat itu hari sudah gelap. Hingga keduanya memutuskan untuk mencari penginapan terlebuh dahulu dan melanjutkan perjalanan esok hari, namun sialnya kamar hanya tinggal satu dan itu juga bukan hotel mewah melainkan lebih mirip motel. Karena tak ada pilihan lain dengan terpaksa keduanya pun bermalam dalam satu kamar yang sama, tentu saja awalnya Agatha merasa ragu dan Bryan yang mengerti akan keraguan Agatha pun berjanji bahwa tidak akan terjadi apa apa malam ini


Benar saja, Bryan sama sekali tak melewati batasannya, Bryan menyadari jika saat ini keduanya belum terikat dalam tali suci pernikahan. Sejak saat itu Agatha terus memantapkan hatinya, meyakinkan bahwa Bryan akan menjadi suami dan Papa yang baik untuknya dan Nayla


Saat ini mereka tengah mengadakan piknik kecil kecilan ditaman, hanya beralaskan tikar yang dipenuhi oleh beragam jenis makanan dan juga minuman berkaleng. Tentu saja ini atas permintaan Nayla, entah apa yang membuat gadis kecil itu tiba tiba ingin merasakan piknik bersama keluarganya. Dan selama tiga bulan ini Nayla harus mau menjalani sekolah secara home schooling, walaupun pada awalnya Nayla dengan keras menolak karena akan merasa sangat kesepian tanpa adanya seorang teman, namun entah jurus apa yang digunakan oleh Bryan sehingga tiba tiba Nayla menyetujui begitu saja perkataan Papanya


"Ma....Nayla pengen pipis" adu Nayla yang tiba tiba langsung berdiri


"Oh...yaudah ayo Mama anterin" kata Agatha sembari beranjak berdiri


"Nggak usah ma, aku bisa sendiri kok" jawab Nayla yang kemudian langsung berlari dengan gayanya yang tampak sedikit aneh


"Hahahaha" tawa semua orang yang merasa terhibur oleh tingkah Nayla


"Bry, Ta" panggil Mama Henny


"Iya Ma" jawab Bryan dan Agatha yang hampir bersamaan


"Papa sama Mama udah mempersiapkan tanggal untuk pernikahan kalian" kata Mama Henny


"Apa?" kaget Agatha, bukannya tak senang ia hanya terkejut dengan berita ini


Sementara Bryan tampak tersenyum, sudah lama ia sebenarnya menantikan hal ini. Namun Bryan harus menahannya karena memahami bahwa keluarganya masih dalam kondisi berkabung


"Iya, sebaiknya cepat dilaksanakan, mau sampai kapan lagi menundanya" sahut Papa Hamdan


"Benar pa, biar Kakak cepet nikah" kata Ratih


"Setelah Kakak nikah kan giliran aku, aku mah nggak enak kalau mau ngelangkahin Kakak. Nggak sopan" lanjut Ratih dengan gaya frontalnya


"Emang lo udah punya calon?" tanya Bryan mengernyitkan dahinya


"Seriusan ada yang mau sama lo?" lanjut Bryan yang masih belum percaya


"Maksud situ gimana yah?"


"Gue nggak laku gitu maksudnya?" hardik Ratih yang tak terima dengan ucapan Kakaknya


"Gue nggak ngomong gitu lo ya" sangkal Bryan


Papa Hamdan, Mama Henny dan Agatha hanya menjadi penonton dalam drama pertengkaran Kakak Adik tersebut. Kakak beradik memang seharusnya harus sering bertengkar dalam hal kecil seperti ini, kata orang orang hal itu bisa semakin mengeratkan hubungan persaudaraan mereka


"Seriusan lo udah punya calon?" tanya Bryan yang masih belum percaya


Heh....Ratih menghela nafas panjang terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Kakaknya yang terasa sangat menjengkelkan di indra pendengarannya


"Jadi karena menghormati kaum laki laki dan juga Kakak"


"Aku sampe sampe harus merelakan mereka semua kak"


"Aku nggak mau kalau mereka pada nganggap aku ini tukang php"


"Yah....ini semua karena Kakak, aku berfikirnya malah Kak Agatha nggak akan mau sama Kakak. Makanya sampe sekarang belum nikah nikah" curhat Ratih dengan gaya sok sedihnya


"Lo serius dek?" tanya Bryan mendekat kearah Ratih


"He eum" jawab Ratih mengangguk anggukkan kepalanya


"Wuissshhh....mereka pasti bersyukur banget karena pada putus sama lo...Hahahaha.....hahahaha" ucapan Bryan yang terdengar prihatin dan menyentuh diawal tiba tiba berubah menjadi tawa bahagia diujungnya


"Bedebbah sialan" gumam Ratih menatap Kakaknya tajam


"Hehh....udah udah, kok malah saling ejek gitu sih" lerai Mama Henny menghentikan keduanya, kalau tidak segera dihentikan pasti aksi saling ejek mereka akan berlanjut kebabak kedua


"Tauk ah....aku mau masuk dulu" tiba tiba saja Ratih langsung berdiri dan berlalu begitu saja, tak lupa dalam langkah kakinya Ratih selalu menghentak hentakkan kakinya yang berarti ia tengah kesal saat ini

__ADS_1


"Idih....ngambek bae neng" teriak Bryan yang cukup merasa senang atas kekesalan adiknya


"Kalian udah siap?" tanya Papa Hamdan kemudian


Bryan dan Agatha saling beradu pandang untuk sesaat sebelum meluncurkan jawaban mereka dari bibirnya masing masing


"Kami sudah siap Ma, Pa" jawab Bryan yang langsung merangkul pundak Agatha


"Iya kan?" tanya Bryan menoleh pada Agatha


"He eum" jawab Agatha sembari tersenyum pada Bryan


"Alhamdulillah" ucap syukur Mama Henny


"Baiklah, pernikahan kalian akan dilaksanakan satu bulan lagi" kata Papa Hamdan kemudian


"Baik pa" jawab Bryan


Disamping rumah Bryan terdapat lahan yang cukup lapang, dan biasanya Bryan akan melatih Nayla silat saat sore hari. Begitu pula dengan hari ini, selepas acara piknik yang bubar akibat personilnya pergi sendiri sendiri Bryan pun melanjutkan agendanya untuk melatih Nayla


"Nayla siap?" tanya Bryan sebelum memulai latihannya


"Ingat, saat berlatih disini Papa berperan bukan sebagai Papa Nayla, tetapi sebagai?....." kata Bryan yang memberikan pertanyaan untuk Nayla


"Pelatih" jawab Nayla tegas dan lantang


"Bagus" jawab Bryan kemudian


"Mari sebelum melaksanakan latihan pada hari ini, alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu. Berdoa....mulai" kata Bryan memberikan aba aba, setelah kata mulai baik Bryan maupun Nayla pun menundukkan kepalanya dan berdoa memohon keselamatan dalam hati masing masing


"Selesai" kata Bryan mengakhiri sesi berdoa


"Baik, pelemasan" perintah Bryan, baik Nayla dan Bryan pun melakukan pelemasan agar otot mereka lemas dan tidak cidera nantinya


"Selesai" kata Bryan memberi aba aba bahwa pelemasan telah selesai


"Sikap..."


"Lari kecil"


"Tinggi"


"Sikap" kata Bryan mengakhiri setelah awal pelatihan dirasa sudah cukup


"Kuda kuda tengah" perintah Bryan yang langsung dilakukan oleh Nayla


"Harus berbentuk kotak, supaya kuda kudanya kuat" kata Bryan sembari membenarkan posisi Nayla


"Siap" jawab Nayla


"Sikap" kata Bryan mengakhiri perintah kuda kudanya


"Sekarang lanjutkan tendangan tendangannya" kata Bryan memberi perintah lagi yang tentu saja langsung dipraktikkan oleh Nayla


Dalam dunia pencak silat saat berlatih, tentu saja tidak ada yang namanya Papa, Paman, Teman, Kakak atau yang lainnya. Hanya ada dua orang yaitu siswa dan pelatih. Baik siswa harus selalu menghormati siapapun pelatihnya, walaupun pelatih tersebut adalah adiknya sendiri sekalipun


Sudah hampir 1 jam Bryan melatih Nayla, Bryan benar benar melatih Nayla dengan tegas. Bryan berharap jika kelak Nayla akan menjadi anak yang mandiri meskipun dia perempuan, Bryan tidak ingin jika Putrinya nanti harus menggantungkan seluruh hidupnya pada laki lakinya kelak. Bryan tanpa segan segan memberikan Nayla minuman Jamu Pahit, Jamu Asem dan tak lupa juga air putih


Tentu saja hal tersebut ada filosofinya jika dalam hidup ini selalu silih berganti dan tak bisa terus berada dalam satu jenis saja


"Istirahat dulu" teriak Agatha yang datang membawa minuman


"Tetap pada posisi" perintah Bryan pada Nayla


Bryan pun langsung berlari mendekat kearah Agatha


"Kenapa hanya kamu? Kenapa Nayla nggak ikut?" tanya Agatha yang tampak tak suka


"Harus berapa kali gue ngomong sih"


"Lo nggak perlu bawain ginian saat masih latihan" kata Bryan menjawab pertanyaan Agatha


"Lo gue lo gue" kata Agatha mendelik tajam


"Nggak denger apa kata Mama Papa kalau kita bakalan nikah"


"Nggak estetik dong kalau manggilnya kayak manggil preman gitu" ucap Agatha mendelik tajam


"Oh My God" kata Bryan sembari menepuk jidatnya

__ADS_1


"Jadi lo, eh....maksud gue, eh....jadi maksud aku kamu udah prepare beginian dari awal?" tanya Bryan dengan senyum nakal nya


"Heh....denger ya, kita harus membiasakan diri dengan oanggilan panggilan yang normal dan selayaknya mulai sekarang" tekan Agatha dengan tangan bersendekap didada


"Tapi menurut saya panggilan itu nggak cocok deh, terkesan formal banget kayak ngomong sama Boss aja" Kata Bryan menyampaikan pendapatnya


"Jadi? Ada panggilan lain?" tanya Agatha yang tampak penasaran


"Sayang" jawab Bryan cepat


"Iuhhhh.....Alay banget sih"


"Pengen muntah aku dengernya" kata Agatha


"Aduh....kasian banget Nayla" kata Agatha yang melihat Nayla masih push up sedari tadi


"Sengaja nyiksa Nayla ya?" tuduh Agatha yang kemudian berjalan menuju arah Nayla


"Nyiksa gimana sih?"


"Ya emang gitu latihannya" kata Bryan sembari mengikuti langkah kaki Agatha dari belakang


"Keras banget sama anak sendiri" kesal Agatha


"Keras gimana?" tanya Bryan


"Yah itu buktinya....Nayla kan cewek, ih....keringetnya segede jagung gitu. Disuruh apa aja sih?" kesal Agatha


"Nayla, ayo masuk sekarang" perintah Agatha yang kini shdah berada didepan Nayla


Nayla pun berhenti dari kegiatan push up nya, hanya sebatas berhenti dan belum bangun. Agatha pun tampak heran melihat anaknya hanya diam tanpa berniat untuk bangun. Sementara Nayla hanya diam dan sesekali menatap Papanya, begitu juga dengan Bryan yang memeperhatikan Nayla tanpa ikut campur


"Nayla ayo" kata Agatha yang sudah tidak sabaran


"Sikap" kata Bryan memberi aba aba, begitu mendengar aba aba dari Papanya Nayla pun langsung bangkit dari posisi push upnya. Agatha memandang Bryan dan Nayla bergantian, memperhatikan raut wajah mereka berdua


"Latihan selesai, berdoa.....mulai" kata Bryan memberi aba aba


Seperti saat pembukaan begitu ada aba aba berdoa baik Nayla dan Bryan pun langsung menundukkan kepalanya dan berdoa di dalam hatinya masing masing, Agatha yang semulanya tampak bingung kini juga ikut ikutan menundukkan kepalanya dan berdoa dalam hatinya juga


"Selesai" kata Bryan memberikan aba aba


Kini ketiganya tengah berada diteras samping rumah


"Nayla, ih....bau banget sih. Buruan mandi gih" kata Agatha yang hampir sudah tidaj tahan mencium bau keringat Nayla


"Bentar ma, masih keringetan juga" tolak Nayla


"Nunggu kering dulu ta, nanti malah masuk angin bisa bisa" sahut Bryan menengahi mereka berdua


"Nggak lengket apa dikulit?" heran Agatha geleng geleng kepala


"Keringetan itu sehat ma" jawab Nayla dengan santainya


"Dasar, nggak anak nggak Papa sama aja" kesal Agatha yang kemudian langsung berlalu masuk ke dalam rumah


"Sewot banget sih" kata Bryan yang menatap kepergian Agatha sembari tersenyum


"Tapi Papa suka kan?" sahut Nayla sembari memakan camilan yang tadi telah disiapkan oleh Mamanya tersebut


"Suka dong" jawab Bryan menampakkan deretan gigi giginya


Akhirnya Nayla dan Bryan bercengekrama diteras samping rumah hingga sore menjelang petang sembari menunggu keringatnya mengering


"Mandi gih" perintah Bryan pada Nayla


"Oke Pa" jawab Nayla yang kemudian beranjak dari duduknya


"Emmm.....makasih ya pa, Papa udah mau nurutin keinginan aku" kata Nayla sebelum melangkahkan kakinya


"Sama sama" jawab Bryan sembari tersenyum


"Kadih Papa ciuman dong" kata Bryan semabri menusuk nusuk pipi kanannya dengan menggunakan jari telunjuknya


Nayla pun berlahan mendekat dan sedikit mencondongkan tubuhnya begitu berada didepan Papanya


Cuppp.....Nayla pun akhirnya memberi kecupan pada pipi kanan Bryan


Agatha yang tak sengaja menyaksikan hal tersebut pun turut senang

__ADS_1


__ADS_2