Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
Putri Genius Bryan 95


__ADS_3

"Nggak ada ma" Jawab Nayla menghentikan aksi berlebihan Mamanya


"Cucu Nenek baik baik aja kan?" tanya Mama Henny yang tak kalah khawatirnya juga, ia terus meraba dan menelisik setiap inci tubuh Nayla untuk memastikan bahwa cucunya baik baik saja


"Nenek aku nggak papa kok" kata Nayla, sungguh dua wanita didepannya ini terlalu berlebihan dalam menghawatirkannya. Bahkan jika dilihat dengan mata telanjang pun tubuhnya juga ada luka lecet dan juga dibagian kepalanya yang diperban jadi untuk apa diraba lagi? Bukankah itu sudah terlihat jelas? Yang ada malah perihlah yang dirasakan Nayla akibat gesekan kulit tersebut


"Nayla kok bisa kayak gini sih?" tanya Mama Henny sembari mendudukkan bokongnya dipinggiran ranjang Nayla


"Mama jangan nanya yang ameh aneh dulu dong" sahut Papa Hamdan yang merasa pertanyaan istrinya tidak cocok dikatakan sekarang, toh yang penting kan Nayla juga baik baik saja


"Nayla pengen apa sayang?" kini giliran Papa Hamdan lah yang bertanya pada Nayla


"Nggak pengen apa apa kek" tolak Nayla sembari geleng geleng kepala


Tiba tiba saja Agatha teringat akan sesuatu, buru buru Agatha beranjak berdiri


"Ikut aku sebentar" kata Agatha to the point dihadapan Bryan


"Mau kemana?" tanya Bryan mendongak menatap wajah Agatha, ia juga belum bergeming dari posisi duduknya


"Ayo" kata Agatha yang langsung menarik tangan Bryan hingga Bryan pun akhirnya ikut berdiri


"Mau kemana ta?" tanya Mama Henny menghentikan langkah kaki Agatha dan Bryan


Agatha pun berhenti sekejap dan menoleh kearah Mama Henny, Agatha pun mendekat kearahnya


"Ma, Reyhan meninggal. Jadi aku harus melayat" kata Agatha langsung pada intinya


"Reyhan siapa ta?" tanya Mama Henny yang terkejut, namun ia tak tau siapa orang yang meninggal tersebut


"Di...dia adik ipar aku ma" jawab Agatha


"Astaga, maaf Mama nggak tau" sesal Mama Henny yang bahkan tidak tau semua anggota keluarga Agatha


"Nggak papa ma, Mama sama Papa disini aja ya jagain Nayla"


"Aku sama Bryan pergi dulu" kata Agatha meminta persetujuan dari Mertuanya


"Pergilah, biar Mama sama Papa yang jagain Nayla" sahut Papa Hamdan sebelum Mama Henny membuka suara


"Makasih pa" ucap Agatha

__ADS_1


"Nayla sayang, Mama sama Papa pergi dulu ya"


"Cuma sebentar kok" ucap Agatha sembari mengelus pucuk kepala Nayla


"Iya ma" jawab Nayla disertai dengan senyuman


"Nayla cepet sehat ya" kata Bryan yang entah sejak kapan tiba tiba berada disamping Agatha


"Iya pa" Jawab Nayla


Hanya ada keheningan yang membuat suasana didalam mobil Bryan, keduanya sibuk dengan aktivitas masing masing. Bryan dengan aktivitasnya mengemudi sedangkan Agatha tengah berfikir bagaimana cara menyampaikannya pada Bryan


"Ehhhemmm" Agatha berdehem untuk menetralkan suasana sebelum membuka suara, namun tampaknya Bryan sama sekali tak perduli bahkan menolehpun tidak


Hufttttt....Agatha menghembuskan nafasnya dengan kasar, bagaimana pun juga ia harus tetap memulai pembicaraan


"Bry" panggil Agatha kemudian


"Kita bicara dirumah mengenai Kakak kamu" potong Bryan segera seakan akan tau apa yang akan Agatha katakan


"Kamu tau?" tanya Agatha yang hampir tak percaya, apakah laki laki didepannya ini telah diam diam menyelidikinya?


"Bry" panggil Agatha lagi karena Bryan tak kunjung menjawab panggilannya, bahkan menoleh pun tidak.


Akhirnya sampai juga Agatha dan Bryan dikediaman orang tua Bryan


"Duduk" kata Bryan dengan dingin pada Agatha, sontak Agatha yang berada disamping Bryan pun duduk sesuai perintah Bryan


"Aku akan menyeret Sellena kepenjara" ucap Bryan dengan tegasnya


"Tidak" tolak Agatha dengan cepat, ia menggeleng gelengkan kepalanya. Bryan pun menoleh kearah Agatha dengan perasaan anehnya


"Jangan, jangan laporkan Sellena"


"Ini semua salahku" ucap Agatha sembari tubuhnya lebih maju agar lebih mendekat kearah Bryan


"Dia melakukan ini karena marah aku telah membuat Mamanya masuk penjara" ucap Agatha memberikan Alasan yang sebenarnya


"Aku tidak perduli!" tolak Bryan cepat


"Itu bukan urusanku, Yang menjadi urusanku adalah memberi hukuman yang setimpal pada orang yang telah membuat anakku celaka walaupun itu keluargamu sekalipun" ucap Bryan dengan penuh penekanan

__ADS_1


"Jangan, aku mohon jangan lakukan itu" ucap Agatha yang langsung duduk bersimpuh


"Aku mohon" katanya lagi


"Apa yang kamu lakukan?" kaget Bryan saat tiba tiba Agatha duduk dengan posisi bersimpuh


"Aku mohon jangan lakukan itu" kata Agatha yang masih belum menyerah


"Aku tidak perduli" jawab Bryan tanpa toleransi, kemudian Bryan beranjak berdiri dan meninggalkan Agatha


"Jangan lakukan itu demi Reyhan!!!" teriak Agatha dengan lantang, bahkan saat ini ia telah berdiri.


Suara lantang Agatha menghentikan langkah kaki Bryan seketika, telinganya masih berfungsi dengan baik bukan? Demi Reyhan katanya? Ya tuhan....apa lagi ini? Kenap banyak sekali laki laki yang diprioritaskan oleh Agatha


"Kau masih mencintainya rupanya?" desis Bryan yang masih bisa didengar Agatha dengan jelas. Sebagai seorang laki laki tentu saja hati Bryan remuk melihat wanita yang dicintainya melakukan upaya demi laki laki yang dicintainya bahkan saat laki laki itu telah tiada sekalipun


"Bukan begitu" tolak Agatha, sial...saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mempertanyakan apakah ia masih mencintai Reyhan atau bukan. Saat ini yang terpenting baginya adalah meyakinkan Bryan agar tidak melaporkan Sellena, Agatha tidak mau melanggar janjinya pada laki laki yang pernah menjadi bagian dari hidupnya tersebut


"Reyhan rela mati demi Sellena!!!" teriak Agatha dengan lantang


"Tidak bisakah kau sekali ini saja menuruti keinginanku?" teriak Agatha


"Aku hanya ingin membalas budinya selama ini" ucap Agatha kemudian meunduk, air matanya bahkan langsung terjun bebas menyentuh lantai


"Kau tidak sedang membalas budi, kau melakukan ini karena kau masih mencintainya. Tak perduli dengan anakmu sendiri" ucap Bryan dengan menatap Agatha tajam


"Aku? Bagaimana bisa aku tidak perduli dengan anakku sendiri?" tanya Agatha tak percaya


"Dengan keegoisanmu seperti ini, kau sama sekali tak perduli dengan Nayla. Kau hanya memperdulikan cinta pertamamu saja" ucap Bryan dengan tatapan nyalang


"Benar!!!!!" teriak Agatha


"Aku memang mencintai Reyhan" suara Agatha bahkan kini telah naik satu oktaf hingga membuat semua penghuni rumah ini langsung kuar dari saranya karena temgah kepo dengan peperangan yang sedang terjadi


"Kau baru mengakuinya" desis Bryan, jujur hatinya saat ini bagaikan diremuk remuk. Wanita yang dicintainya mengakui dengan lantang jika ia masih menyimpan perasaan untuk laki laki itu


"Itu dulu. Dulu sekali, jauh sebelum aku jatuh cinta pada laki laki brengsekkk sepertimu" kata Agatha sembari menunjuk kearah Bryan yang hanya diam mematung mencoba memahami apa yang barusan dikatakan oleh Agatha


"Jika aku bisa memilih aku lebih memilih untuk mempertahankan rasa cintaku untuk Reyhan saja, aku benci kamu. Kamu egoisss" teriak Agatha setelah menegluarkan segala uneg unegnya


"Kau mencintaiku?" tanya Bryan tak percaya pada apa yang barusaja dikatakan oleh Agatha. Agatha hanya diam tak menimpali sama sekali

__ADS_1


"Kau sungguh mencintaiku? Tidak ada Reyhan atau pun Bayu dihatimu?" tanya Bryan mencoba mendekati Agatha


Plakkkk....Agatha menampar pipi Bryan begitu Bryan berdiri didepannya


__ADS_2