
Selama beberapa hari ini Bryan, Agatha dan Nayla selalu tidur bersama saat malam dan saat Bryan sedang bekerja maka Nayla dan Agatha akan dibawanya ke rumah Mama Henny supaya baik Nayla, Agatha dan orang tuanya tidak merasa kesepian
Walaupun sebenarnya Bryan merasa enggan untuk bekerja karena ingin menghabiskan waktu bersama Nayla dan Agatha lebih lama. Tapi baik orang tuanya ataupun Agam selalu mendesaknya, lagi pula ini juga sudah merupakan kewajibannya jadi ia tidak bisa berlaku semena mena dan harus mengesampingkan urusan pribadinya
Tuuuut....tutttt.....tut.....dering ponsel Bryan, Bryan pun menjeda pekerjaannya sejenak lalu meraih ponselnya
"Ratih?" gumam Bryan
"Kenapa tiba tiba Ratih telepon? Apakah acara liburan mereka akan segera berakhir?" batin Bryan
Bryan pun langsung menggeser tombol hijau
"Halo" salam.Bryan
"Halo kak" jawab Ratih dari seberang sana
"Ada apa tih?" tanya Bryan walaupun sebenarnya ia telah mempunyai firasat bahwa Violla akan pulang
"Em besok aku akan pulang kak, mungkin malam baru akan sampai dirumah" lapor Ratih pada Bryan
"Besok? Apa nggak kecepetan?" tanya Bryan
"Kita berlibur sudah beberapa hari kak, akan aneh jika kita menunda untuk pulang" ucap Ratih
Benar apa yang dikatakan oleh Ratih, lagi pula masalahnya juga sudah selesai bukan? Ia hanya tinggal menceraikan Violla lalu semuanya akan berakhir baik baik saja
"Emm oke kalau begitu" jawab Bryan
"Hati hati kalau pulang" imbuhnya
"Iya kak, emmm apa semuanya sudah aman kak?" tanya Ratih dari seberang sana
"Aman, Kakakmu ini hebat" sombong Bryan
"Kalau aku tidak membantu maka kau tidak bisa berlagak sombong seperti ini" sindir Ratih
"Ahhh baiklah baiklah, terima kasih adikku sayang" ucap Bryan
"Menjijikan" kata Ratih lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak
Ahhhh....helaan nafas Bryan
Tokk....tok....tokk....terdengar suara ketukan dari pintu ruangan Bryan
"Masuk" jawab Bryan, tak berapa lama masuklah Agam dengan membawa berkas berkas ditangannya
"Selamat siang pak" sapa Agam dengan sopannya
"Siang" jawab Bryan singkat
"Sudah waktunya untuk rapat bersama perusahaan Pak Surya Pak" lapor Agam pada Bossnya tersebut
"Kau sudah siapkan semuanya?" tanya Bryan pada Agam
"Sudah Pak" jawab Agam
"Oke" Bryan pun langsung bangkit dari posisi duduknya
Bryan dan Agam pun berjalan bersama menuju ruang tempat rapat dilaksanakan
"Bagaimana dengan kelanjutan hubunganmu?" tanya Bryan saat berada di lift
"Dengan Milla?" tanya Agam menoleh pada Bryan
"Ck...memangnya kau dekat dengan berapa wanita?" sinis Bryan
"Tidak ada" sahut Agam cepat, tadinya otaknya masih lemot dan belum dapat mencerna ucapan dengan baik
"Lalu? Agatha sudah kembali, jadi tidak ada alasan lagi buat kalian" ucap Bryan
"Milla baru mengetahuinya beberapa harinyang lalu"
"Jadi kami masih belum membicarakannya" jawab Agam
"Cepatlah selesaikan, atau kau akan kehilangannya" ucap Bryan
"Kehilangan?" tanya Agam tak mengerti
"Pasti banyak laki laki yang menyukainya, tidak mungkin hanya kamu saja"
"Jika kau tidak segera menghalalkannya, bisa jadi ada orang lain yang akan mendahuluinya" ucap Bryan
"Tapi ini kesepakatanku bersama Milla dan kami hanya belum membicarakannya lebih lanjut" sanggah Agam
"Dia itu wanita, kau tau sendiri kan kalau wanita itu aneh dan ribet"
"Bisa jadi selama ini dia sudah menahannya dan bisa jadi juga ketahanannya sudah di ujung tanduk" ucap Bryan lagi
Deg...Agam merasa kaget kenapa selama ini ia tak pernah berfikiran ke situ? Selama ini ia menganggap jika kesepakatannya dengan Milla menjadi penguat diantara mereka
Bryan yang melihat ekspresi pucat pasi Agam pun tertawa dalam hatinya karena merasa senang telah berhasil mengerjai Agam, bukan apa apa Bryan hanya merasa jika ia akan menghalangi kelanjutan hubungan mereka
Tring.....lift pun terbuka, Bryan dan Agam bergegas untuk memasuki ruangan. Saat memasuki ruangan terlihatlah Reyhan selaku penerus perusahaan milik Pak Surya telah ada disana
"Maaf kami terlambat" ucap Bryan sembari berjalan menuju mejanya
"Tidak apa apa, ini bahkan belum waktunya untuk dimulai" jawab Reyhan karena memang sebenarnya rapat akan dilaksanakan 3 menit lagi
"Baiklah" ucap Bryan sembari tersenyum lalu duduk ditempatnya
Rapat pun akhirnya dimulai, selama rapat berlangsung pikiran Bryan pun bercabang entah kemana. Ia berusaha fokus pada rapatnya namun bayang bayang Agatha saat melihat Reyhan pun berputar putar di kepalanya. Apakah Agatha masih mencintai Reyhan? Itulah garis besarnya
Akhirnya rapat pun berhenti 30 menit kemudian dengan kesepakatan yang memuaskan
"Baiklah, terima kasih atas kerjasamanya" ucap Bryan menyodorkan tangannya
"Sama sama, kami juga senang bekerja sama dengan anda" jawab Reyhan sembari meraih tangan Bryan untuk berjabat tangan
"Apakah hari ini anda senggang?" tanya Bryan
"Eummm" Reyhan tampak berfikir mengingat ingat kembali tentang agendanya hari ini
"Saya ada meeteng setelah makan siang"
"Jadi, selama 1 setengah jam ini saya senggang" jawab Reyhan
"Baiklah, bagaimana kalau kita ngopi bersama?" tawar Bryan
"Anda tidak sibuk?" tanya Reyhan setengah tak percaya jika seorang Bryan memiliki waktu senggang, padahal biasanya dia akan dipadati dengan pekerjaan yang menumpuk
__ADS_1
"Aku terlalu bekerja keras belakangan ini, jadi hari ini aku ingin meluangkan waktu untuk sedikit bersenang senang" jawab Bryan dengan ekspresi sok seriusnya
Hahahahaha tawa Bryan dan Reyhan pun pecah bersamaan menertawakan obrolan mereka, sementara Agam hanya tersenyum menghormati, padahal menurut Agam tidak ada hal yang lucu dari pembicaraan mereka
"Harusnya jangan terlalu bekerja keras, luangkan lah waktu untuk beristirahat" ucap Reyhan kemudian
"Iya itu memang benar, seharusnya aku pun begitu" jawab Bryan
"Maaf, sebentar" ucap Bryan lalu meraih ponselnya
"Silahkan" jawab Reyhan yang memakluminya
Bryan mencari kontak seseorang lalu menuliskan sebuah pesan untuknya, setelah selesai Bryan meletakkan kembali ponselnya
Drrtttt....drttt.....drt... Agam merasakan ada getaran disaku jassnya, Agam memang tidak memasang nada dering pada ponselnya, karena ia merasa terganggu dengan suaranya. Agam pun meraih ponselnya dan mengecek notifnya
"Boss?" batin Agam, tanpa menunggu lama akhirnya Agam pun membuka isi pesannya
"Ambil alih pekerjaanku" pesan yang singkat, padat, jelas namun sangat menjengkelkan
Namun apalah dayanya? Agam hanya bisa mengiyakan saja tanpa berhak untuk menolaknya
"Baik, kalau gitu saya permisi dulu Pak Reyhan" ucap Agam sembari berdiri dan mengulurkan tangannya
"Loh...Pak Agam tidak ikut bersama kami?" tanya Reyhan menunjuk dirinya dan Bryan bergantian
"Ahhh mungkin lain kali pak, hari ini saya masih memiliki banyak pekerjaan" jawab Agam menekankan kata banyak namun dengan bibir yang tersenyum
"Ohhh sayang sekali, baiklah kalau begitu" jawab Reyhan lalu meraih uluran tangan Agam dan menyalaminya
"Bersenang senang lah" ucap Agam kemudian
"Kalau begitu saya permisi Pak Bryan, Pak Reyhan" salam Agam
"Baiklah" jawab Reyhan, sementara Bryan hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan
Setelah Agam tak nampak lagi dari balik pintu, Reyhan pun kembali menatap Bryan
"Kita mau ngobrol disini atau?..." tanya Reyhan
"Kita pergi ke cafe saja bagaimana? Sekalian menikmati....emmm...ada makanan yang ingin Pak Reyhan makan mungkin?" tanya Bryan pada Reyhan
"Ahhh...bagaimana kalau kita pergi ke restoran saja, kita makan siang lebih awal"
"Aku dengar ada menu baru direstoran dekat taman" jawab Reyhan kemudian
"Aaa baiklah kita kesana saja, sepertinya menarik" ucap Bryan
"Baiklah" jawab Reyhan kemudian
"Kakek" panggil Nayla
"Hem?" jawab Papa Hamdan
"Apakah makanan kesukaan Papa?" tanya Nayla
"Emmm...salad buah, Papamu sangat menyukainya" jawab Papa Hamdan
"Ahhh iya, Kakek benar"
"Papa pernah menghabiskan salad buah bikinan Mama kemarin. Padahal Mama bikinin salad buah untuk Nay" adu Nayla
"Kau tak memarahinya?" tanya Papa Hamdan
"Tidak, karena Papa belum menghabiskan semuanya"
"Jadi aku masih bisa memakannya" jawab Nayla
"Ohhh....oiya, Kakek denger kamu kemarin menang kompetisi ya?" tanya Papa Hamdan memastikan
"Iya kek" jawab Nayla mangut mangut
"Nayla suka silat?" tanya Papa Hamdan
"Bangettt" jawab Nayla antusias
"Tapi Mama nggak suka" kata Nayla kemudian
"Kenapa?" tanya Papa Hamdan
"Kata Mama anak cewek nggak bagus kalau ikut gitu gituan" jawab Nayla
Papa Hamdan mangut mangut mengerti dengan maksud Agatha, memang jika anak perempuan ikut hal semacam itu akan dianggap kurang baik karena pada umumnya pemikiran masyarakat silat hanya diperuntukkan oleh kaum laki laki saja
"Papa sering dapet juara ya dulu?" tanya Nayla
"Tau dari mana?" tanya Papa Hamdan
"Kemarin Nenek yang menunjukkannya"
"Diruangan di ujung tangga" kata Nayla
"Ohhhh" Papa Hamdan mangut mangut memahami dan mengiyakan
"Tante Ratih nggak suka silat?" tanya Nayla
"Tantemu sukanya dandan" jawab Papa Hamdan tersenyum pada Nayla
"Wahhhh aku beruntung banget yah kek" kata Nayla
"Kenapa?" tanya Papa Hamdan heran
"Aku bisa silat karena Papa, aku juga bisa ngelukis karena Mama"
"Nanti aku juga bakalan minta diajari dandan sama tante Ratih" ucap Nayla sumringah
"Hahaha, iya bener. Nanti kamu bisa minta diajarin dandan sama Tante kamu" balas Papa Hamdan sembari membelai belai rambut Nayla
"Apakah kamu pernah ke rumah orang tuamu lagi?" tanya Mama Henny tiba tiba membuat Agatha langsung menghentikan kegiatannya yang tengah memotong timun
"Mama kenal orang tua aku?" tanya Agatha berbalik menatap Mama Henny
"Kemarin Bryan sempet cerita ke Mama, tapi belum sepenuhnya"
"Jadi Mama tanya langsung ke kamu" jawab Mama Henny
"Ohhh" respon Agatha
"Setiap orang pernah melakukan kesalahan ta" kata Mama Henny
__ADS_1
"Aku tau" jawab Agatha singkat, membicarakan tentang keluarganya dengan orang lain membuat dirinya merasa tidak nyaman sebenarnya, namun ia juga tidak bisa menghentikan perbincangan ini secara sepihak karena pasti dianggap tidak sopan
"Lalu kenapa kamu tidak ke rumah orang tuamu?" tanya Mama Henny
"Aku yang memilih pergi dari rumah itu, jadi aku tak berhak jika tiba tiba kembali begitu saja" jawab Agatha
"Sekarang kamu adalah tanggung jawab Bryan, kamu bisa datang berkunjung tanpa harus menginap" kata Mama Henny
"Aku tidak ingin, aku pergi dengan kondisi hubungan kami yang tidak baik baik saja" jawab Agatha
"Karena malam itu?" tanya Mama Henny memastikan
"Itu hanya salah satunya, hubungan kami memang sudah tidak harmonis sedari dulu" jawab Agatha
"Sejak Papamu menikah kembali?" tanya Mama Henny memastikan, Agatha hanya mangut mangut mengiyakan
"Cobalah mengerti posisi Papamu, mungkin dia bingung menempatkan dirinya"
"Karena dia membawa kamu dari pernikahannya dahulu"
"Dan Mamamu juga membawa anaknya dari pernikahannya yang dahulu"
"Jadi Papamu bingung" jelas Mama Henny
"Kita sudah hidup bersama bertahun tahun ma, kenapa mesti bingung?" skak Agatha membuat Mama Henny langsung diam tak berkutik
"Selamat menikmati" ucap seorang pelayan dengan ramahnya
"Terima kasih" jawab Reyhan
"Silahkan dinikmati Pak" ucap Reyhan pada Bryan
"Baik, selamat makan" jawab Bryan
"Bagaimana dengan kondisi proyek proyek anda?" tanya Bryan disela sela makannya
"Baik, semuanya sesuai rencana" jawab Reyhan
"Apakah kau sering kesini bersama Istri dan Anakmu?"
"Makanan pilihanmu sangat enak" kata Bryan sembari menikmati makanannya
Spontan Reyhan langsung menghentikan aktivitas makannya mendengar pertanyaan dari Bryan
"Tidak, kami jarang bersama karena kesibukan masing masing" jawab Reyhan memudian
"Apakah hubunganmu tidak baik dengannya?" tanya Bryan
"Ahhh maaf bukan maksudku untuk ikut campur" ucap Bryan kemudian setelah menyadari kesalahannya
"Tidak papa Pak, hubungan kami memang kurang baik" jawab Reyhan kemudian
"Kenapa?" rasa kepo Bryan mulai muncul kepermukaan
"Bukankah kalian telah memiliki anak?"
"Kata orang orang, anak bisa menyatukan hubungan kedua orang tua" ucap Bryan
"Kami berbeda kasus dengan mereka" jawab Reyhan
"Ohhh" Bryan hanya menanggapi dengan ber oh ria
"Lalu kapankah Pak Bryan akan memiliki anak?"
"Kalian telah menikah cukup lama"
"Mungkin hampir sama denganku"
"Apakah kalian belum berencana untuk memiliki anak?" tanya Reyhan beruntun
"Ahhh hubunganku juga kurang baik dengan Istriku" jawab Bryan
"Seperti perkataanmu, kenapa kalian tidak memiliki Anak saja agar hubungan kalian bisa membaik?" tanya Reyhan pada Bryan
"Seperti perkataanmu pula, tidak semua orang sama"
"Kasusku berbeda dengan yang lain" ucap Bryan kemudian
Hahahahahaaa....tawa mereka akhirnya pecah bersamaan menertawakan kebodohan mereka masing masing
"Memang dalam kasus orang memang tidak bisa disamakan" ucap Reyhan
"Benar" jawab Bryan
"Emmm....lalu apakah kau tidak berencana untuk memiliki Anak selamanya?" tanya Reyhan
"Apakah kau bisa menjaga rahasia?" tanya Bryan
Reyhan tampak berfikir untuk sesaat sebelum mengiyakan atau berkata tidak
"Aku sangat pandai menjaga rahasia, apalagi kita sudah sedekat ini" kata Reyhan
"Kau benar" jawab Bryan
"Aku sebenarnya telah memiliki Anak" kata Bryan
"Apa?" pekik Reyhan tak percaya
"Iya benar" kata Bryan
"Dengan?" tanya Reyhan
"Orang lain" jawab Bryan
"Lalu Istrimu?" tanya Reyhan
"Kami menikah karena kesalahan" tutur Bryan
"Susah untuk hidup dengan pernikahan seperti itu" lanjut Bryan
"Aku mengerti perasaanmu" ucap Reyhan
"Kau mengerti? Kata orang, orang lain tidak akan mengerti perasaan kita kecuali mereka mengalaminya" ucap Bryan
"Aku mengerti karena aku mengalaminya" kata Reyhan
"Apa?" pekik Bryan pura pura terkejut
"Aku juga menikah karena kesalahan"
__ADS_1
"Oleh sebab itu hubungan kami kurang baik, meskipun kami telah memiliki Anak" jelas Reyhan