
" Assalamualaikum Ma Pa" salam Bryan saat didepan pintu rumah langsung masuk begitu saja
"Waalaikumsalam" jawab Mama Henny dan Papa Hamdan yang tengah duduk duduk disofa
Bryan, Agatha dan Nayla pun masuk dengan beriringan seperti posisi yang semula. Papa Hamdan dan Mama Hennya langsung berdiri begitu menyadari bahwa Bryan datang tidak sendirian
"Kamu" tunjuk Mama Henny pada Agatha, walaupun samar tapi Mama Henny masih yakin jika ia mengenali wanita yang datang bersama Bryan tersebut
"Tante" Agatha tak kalah terkejutnya
"Maaaa Mamaaa lihat itu ma" Nayla heboh dengan jarinya yang menunjuk pada satu lukisan yang digantung ditembok diatas sofa
"Itu lukisan Nay ma....itu lukisan nay" tak henti hentinya Nayla menujukkan lukisan itu pada Mamanya
"Eh...iya itu lukisan nay yah?" Agatha sendiri juga merasa bingung, pasalnya lukisan tersebut memang sangat mirip dengan lukisan Nayla yang ia bawa untuk launcing beberapa hari yang lalu
"Lukisan kamu?" tanya Mama Henny heran pada Nayla
"Iya, itu lukisan nay" jawab Nayla dengan bangganya
"Mama dapet lukisan itu darimana?" tanya Bryan pada Mamanya
"Emmm...waktu itu Mama sama Papa dateng ke acara pelelangan dan emm...beli lukisan itu" jelas Mama Henny
"Iya kan pa?" tanya Mama Henny pada suaminya
"Iya" jawab Papa Hamdan singkat
"Paaa...lukisan aku bagus nggak?" tanya Nayla meminta pendapat dari Papanya
"Paaaa???" terkejut Mama Henny dan Papa Hamdan bersamaan
Ehhh....Bryan jadi lupa belum menjelaskan karena adegan lukisan
"Emmm...ma pa ada yang mau aku bicarain" ucap Bryan
Mama Henny dan Papa Hamdan pun mengernyit heran, tiba tiba ada suasana yang tak enak dihatinya. Namun dengan sekuat tenaga mereka menepiskan pikiran pikiran buruk itu dengan berfikir positif
Kini mereka tengah duduk saling berhadap hadapan dengan suasana tegang menentang
"Ada apa?" tanya Papa Hamdan membuka suara
"Em...Ma Pa, kenalin ini Nayla dan itu Mamanya" ucap Bryan dengan satu tarikan nafas tegas
"Apaaa?" kaget Mama Henny yang tak percaya
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Papa Hamdan menatap Bryan tajam
"Nayla adalah cucu Mama dan Papa" jawab Bryan menunduk
Buggghhhh.....tiba tiba saja Bryan merasakan ada bogeman yang meluncur halus tepat mengenai bagian pelipisnya hingga membuatnya tersungkur disamping Agatha
"Papaaa" teriak Nayla yang melihat sudut mata Papanya mengeluarkan darah. Agatha sendiri juga sangat terkejut dengan kejadian tiba tiba tersebut
"Apa maksud kamu ha? kenapa kamu baru bilang" murka Papa Hamdan yang sudah berada tepat didepan Bryan dengan melewati meja yang tadinya membatasi mereka, kini tangannya sudah berada dikerah kemeja Bryan. Papa Hamdan menarik agar Bryan berdiri dan mendorongnya ke area disamping meja yang lebih luas
"Pa...sudah pa, jangan seperti ini" Mama Henny berusaha menghentikan tindakan Suaminya
Bugghhh....bogeman kedua kembali meluncur disudut bibir Bryan bagian kiri yang membuatnya langsung tersungkur dilantai, tentu saja Bryan bisa saja menghindar ataupun membalas bogeman Papanya, namun Bryan tidak ingin melakukan itu
"Kapan kamu menikah dan sampai bisa punya anakkk???" tanya Papa Hamdan frustasi tanpa ada niatan
Disini Agatha terus berusaha menahan Nayla yang terus meronta ronta tak terima jika Papanya dipukuli oleh orang yang dianggapnya sebagai orang asing tersebut
"A...aku belum me...menikahinya pa" ucap Bryan terbata bata
Tentu saja Mama Henny dan Papa Hamdan dibuat terkejut lagi dengan pengakuan Bryan tersebut. Membuat emosi Papa Hamdan kini semakin memuncak saja
Dengan gerakan cepat Papa Hamdan menarik kerah kemeja Bryan lagi....Bugh....bugh....bugh....kali ini pukulan bertubi tubi dilayangkannya pada wajah tampan Bryan
"Siapa yang mengajarimu menjadi laki laki bajingan ha?"
"Tak bertanggung jawabbb"
"Sampah!!!!" makian bertubi tubi datang bersama dengan bogeman yang belum usai berhenti juga
Agatha yang merasa tak tega dengan adegan itu dan ia juga merasa turut ikut andil dalam kesalahan tersebut langsung bergegas menghampiri Bryan dan melepaskan tangannya yang sedari tadi menahan tubuh Nayla
"Hentikaannnn"
"Akulah yang lari dari Bryannn"
"Dia sama sekali tak tau kalau aku hamilll"
"Kami baru saja bertemu kembali" jelas Agatha sembari menarik tangan Papa Hamdan agar berhenti memukuli Bryan
"Apaaa?" Papa Hamdan terkejut dengan pengakuan Agatha dan sontak langsung menghentikan pukulannya
"Ommm jahattttt kenapa pukulin Papaaaa" teriak Nayla sembari mengangkat kepala Papanya untuk ditidurkan dipangkuannya
Papa Hamdan perlahan lahan bangkit dari atas tubuh Bryan, menyaksikan interaksi antara 3 orang tersebut
__ADS_1
"Pa....sudahlah, biarkan mereka menjelaskan semuanya pa"
"Jangan pakai kekerasan seperti ini" mohon Mama Henny sembari memegangi lengan suaminya tersebut
"Pa...Papa...sakit banget ya pa" ucap Nayla sembari tangan kecilnya membelai meneliti setiap inci wajah Bryan yang memar memar
"Papa nggak papa kok sayang" Bryan mencoba menenangkan Nayla agar tak mengkhawatirkannya lagi
"Kamu nggak papa?" tanya Agatha dengan khawatir meraih tangan Bryan dan menggenggamnnya
"Aku baik baik saja" ucap Bryan sembari tersenyum
"Obati lukamu lalu temui Papa dan Mama" ucap Papa Hamdan tiba tiba kemudian berlalu, tujuan utamanya adalah ke kamar untuk menenagkan pikirannya dahulu. Tentu saja ini adalah saran dari Mama Henny yang tak tega jika anaknya dipukuli seperti itu meskipun oleh Papanya sendiri
"Kita obatin dulu lukanya" ucap Agatha
Perlahan lahan Agatha membantu Bryan untuk berdiri dan memapahnya untuk duduk disofa
"Dimana letak tempat obatnya?" tanya Agatha setelah berhasil memapah Bryan sampai disofa
"Di dekat dapur" ucap Bryan sembari menunjuk ke arah dapur
Tanpa menunggu lama lagi Agatha pun langsung berlari menuju tempat yang diarahkan Bryan
"Papa....Papa tahan ya lukanya, sebentar lagi Mama dateng bawa obat untuk Papa kok" ucap Nayla mencoba menenagkan Papanya
"Iya, Papa nggak papa kok"
"Ini juga nggak sakit kok" ucap Bryan
"Nggak sakit gimana pah?"
"Dulu waktu aku latihan pernah kena pukul gini"
"Sampai biru biru juga kayak punya Papa"
"Itu sakit pa" kilah Nayla yang tak mempercayai ucapan Papanya, Bryan mencoba tersenyum melihat anaknya yang tak mudah dibodohi walaupun sudut bibirnya juga berdenyut nyeri
"Ini obatnya udah ketemu" Agatha datang tiba tiba dengan nafas yang memburu sembari membawa sebuah kotak obat
Dengan cepat Agatha membuka kotak obat tersebut dan mengambil beberapa obat yang ada didalamnya, dengan telaten dan penuh perhatian Agatha mengobati luka luka memar yang ada di wajah Bryan
"Udah" ucap Bryan sembari menahan tangan Agatha yang masih terus menutulkan obat yang terasa perih saat mengenai lukanya
"Sebentar, masih sedikit lagi" tekan Agatha menepiskan tangan Bryan yang menahannya
__ADS_1
Bryan pun menahan nyeri dan perih hingga Agatha selesai mengobati lukanya tersebut
"Terima kasih" ucap Bryan pada Agatha kemudian