
"Aaaa." tiba tiba saja Ratih langsung berteriak sekencang kencangnya membuat Dimas dan Om Bayu yang tadinya tengah bersilat lewat tatapan mata langsung terkejut seketika dan langsung mengalihkan pandangannya pada Ratih.
"Kenapa?" tanya Om Bayu yang tiba tiba menjadi panik.
"Jangan sentuh aku om." kata Ratih dengan cepat ditambah dengan kode dari tangannya.
"Aku nggak mau ikut siapa siapa, aku mau pulang sendiri aja." ucap Ratih dengan tegas.
"Ng nggak bisa gitu dong tih, nih aki aki udah nggak bertanggungjawab sama kamu. Dia udah ninggalin cewe sebahenol kamu sendirian tadi." bantah Dimas yang tak terima.
"Dasar kurang ajar." umpat Om Bayu.
"Tadi kan kamu datengnya sama om, om juga yang tadi jemput kamu jadi kamu pulangnya juga harus bareng om dong." protes Om Bayu yang juga tak terima.
"Ya elah, palingan juga jemput dipan gang." cibir Dimas dengan tatapan tak sukanya.
"STOP! KALIAN BISA DIEM NGGAK SIH." bentak Ratih yang berniat ingin menjadi penengah agar perang bacot ini segera berakhir.
__ADS_1
"Kalian bisa nggak sih hargai keputusan aku, ih sebel banget deh gue jadinya." kesal Ratih yang kemudian langsung mengalihkan tatapannya kepada Om Bayu.
"Om tadi kan Om ada mau ngomong sesuatu sama aku, mending nanti Om bisa ngomongnya lewat whattsapp kek atau telepon kek atau apa terserah lah." ucap Ratih pada Om Bayu.
"Dan lo yu, gue mau ngucapin thank thank you so much ya buat kemeja lo ini. Nanti kalau udah gue cuci gue balikin deh." ucap Ratih pada Dimas.
"Jadi buat kalian berdua, gue bisa pulang sendiri kok. Kalian nggak usah khawatir oke." ucap Ratih yang kemudian langsung berlari menuju jalan raya.
Tap....tap....tap...tappp
Om Bayu dan Dimas yang sama sama terkejut hanya bisa menatap kepergian Ratih dengan perasaan aneh dan bingungnya.
"Cih, tau apa lo cil." balas Om Bayu yang tak mau kalah.
Tak ingin disebut kurang ajar sama orang tua, akhirnya Dimas pun lebih memilih untuk mengakhiri perdebatan ini dan pergi menggunakan motor sportnya.
"Aduhh mana nggak ada taksi lagi." panik Ratih yang sedari tadi terus menerus berlarian menggunakan high hilgsnya, apalagi dengan rok minimnya yang membuatnya harus berhati hati dalam melangkah.
__ADS_1
Tiba tiba saja tak sengaja Ratih melihat ada pangkalan tukang ojek dipinggir jalan.
"Masak iya gue naik ojek tapi dandanannya kayak gini." bingung Ratih.
"Aduh sumpah malu banget gue." gumam Ratih.
"Ah bodo amat, kayak ada yang kenal gue aja." dengan sekuat tenaga Ratih pun mengubah pikirannya menjadi bodo amat, walaupun sebenarnya dalam hati dan pikirannya ia sangat sangat malu.
"Bang anterin gue ke AX." ucap Ratih pada tukang ojek tersebut.
"Wuihh abis nyanyi dimana mbak?" tanya tukang ojek tersebut.
"Buruan anterin gue apa gue nggak jadi naik." ancam Ratih yang tak ingin lebih lama lagi berbasa basi.
"Oke oke mbak cantik, ayo naik." kata tukang ojek tersebut yang juga tak mau kehilangan penumpang.
Ratih yang hendak naik pun tiba tiba dibuat bingung harus naik dengan model bagaimana, pasalnya ia sama sekali tak pernah ngebonceng dengan posisi miring.
__ADS_1
Dengan cepat Ratih pun membenarkan posisi kemeja milik Dimas yang menutupi area bagian bawah belakangnya dan membaliknya kearea depan, lalu ia pun naik dengan posisi miring.
"****, malu banget gue anjir." batin Ratih yang menjerit