
Selepas kepergian Mama Sinta dari hadapannya Agatha kemudian mematikan rekaman suaranya, beruntung ia tadi teringat untuk melakukan hal itu. Untuk saat ini ia bisa bernafas lega, ia tidak akan membiarkan orang yang telah menghancurkan keluarga kecilnya hidup dengan bahagia diatas penderitaannya
"Misi pertama berhasil" batin Agatga
Tadinya Agatha juga berniat untuk membalaskan sakut hatinya pada Sellena, namun ia sedang bimbang untuk saat ini, haruskah ia meneruskan dendamnya? lantas bagaimana dengan nasib Vino putranya? sebagai seorang wanita yang telah menyandang status sebagai seorang ibu tentu saja Agatha harus memikirkan bagaimana dengan nasib anaknya Sellena juga bukan?
"Ta" panggil seseorang yang juga menyentuh pundaknya, Agatha pun menoleh menghadap orang tersebut
"Kau rupanya" kata Agatha, panjang umur sekali batinnya baru saja aku memikirkannya
"Boleh aku duduk?" tanya Sellena pada Agatha sebelum mendudukkan bokongnya pada kursi didepan Agatha yang merupakan bekas Mamanya
"Serrah" jawab Agatha cuek, ia sama sekali tidak perduli dengan keberadaan wanita dihadapannya tersebut
"Terima kasih" ucap Sellena sembari mendudukkan bokongnya dikursi tersebut
"Aku nggak nyangka kalau kamu juga ada disini, tadi aku kesini karena aku laper" kata Sellena memulai basabasiny
"Oh" jawab Agatha sembari mengangguk anggukkan kepalanya mengiyakan
"Bodo amat" ucap Agatha yang tentu saja hanya dalam hatinya. Sellena hanya tersenyum kikuk melihat respon dari Agatha yang terlihat sama sekali tidak mau berbicara dengannya
"Mbak" panggil Sellena pada seorang pelayan yang berada tidak jauh darinya tersebut, tak berselang lama pelayan tersebut pun datang memenuhi panggilan Sellena
"Iya mbak, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan tersebut setelah berada disamping Sellena
"Em saya mau pesen spaghetti sama minumnya americano dingin" kata Sellena menyebutkan makanan dan minuman yang ingin dipesannya. Pelayan tersebut pun mencatat segala pesanan Sellena
"Kau mau apa ta?" tanya Sellena sembari menyodorkan daftar menu pada Agatha
"Nggak" jawab Agatha singkat
"Yaudah kalau gitu itu aja mbak" ucap Sellena pada pelayan tersebut
"Baiklah, ditunggu ya mbak" ucap Pelayan tersebut sebelum akhirnya pergi dari meja Agatha
"Gimana kabar kamu ta?" tanya Sellena pada Agatha, tak lupa juga senyum ramah yang terus menghiasi bibirnya tersebut
"Baik" jawab Agatha singkat sembari meminum minuman yang tadi dipesannya
"Emmm tadi Vano main sama Nayla kayaknya Vano seneng banget deh punya temen baru" ucap Sellena
Sellena mengingat saat tadi ia akan pergi terlihat Vanno yang sedang asik bermain bersama Nayla dengan didampingi oleh para Papanya, tapi tentu saja Reyhan terlihat cuek dengan Vanno. Namun perutnya tadi sudah sangat lapar dan Vanno tidak mau diajaknya dan memilih bermain bersama Nayla
__ADS_1
"Nggak tau tuh, dari tadi kan gue disini" jawab Agatha dengan santainya, Sellena hanya tersenyum menanggapi respon Agatha tersebut
"Gue mau pergi dulu" ucap Agatha sembari beranjak berdiri
"Tunggu" kata Sellena cepat sembari menahan tangan Agatha, Agatha hanya memandang tangannya yang dipegang oleh Sellena dengan tatapan tidak suka. Sellena yang mengerti akan hal itu pun langsung melepaskan tangannya dari tangan Agatha
"Maaf" cicit Sellena saat menyadari kesalahannya
"Jangan pergi dulu ta, aku mau ngomong sama kamu" kata Sellena kemudian, namun Agatha masih berdiri belum ada niatan untuk duduk memenuhi permintaan Sellena
"Aku mohon" kata Sellena kemudian sembari menundukkan kepalanya
Akhirnya Agatha pun memilik untuk mengikuti keinginan Sellena, tak akan ada salahnya bukan
"Katakanlah" ucap Agatha dengan ketusnya
"Permisi mbak" tiba tiba saja ada pelayan yang datang dengan membawa pesanan Sellena tadi saat bibir Sellena ingin menjawab pertanyaan Agatha
"Iya, Silahkan" ucap Sellena membelokkan lidahnya mempersilahkan pelayan tersebut untuk menyajikan pesanannya
"Selamat menikmati" kata Pelayan tersebut yang kemudian pergi meninggalkan meja Agatha dan Sellena tersebut
"Kok kamu nggak ngundang kami sekeluarga sih waktu kamu nikah" ucap Sellena kemudian mengutarakan niatnya
"Sebentar lagi aku dan Bryan akan menikah" jawab Agatha entah Sellena benar benar tidak tahu akan status nya ataukah Sellena memang sengaja memancinya, Agatha sama sekali tidak perduli lagi
"Maaf" ucap Sellena kemudian, tak seharusnya ia terkejut seperti ini yang pastinya akan membuat Agatha merasa tersinggung bukan
"Ternyata kau sama sepertiku" lirih Sellena kemudian
"Kita berbeda" jawab Agatha yang sama sekali tidak ingin disamakan dengan kisah wanita didepannya ini
"Oh, kamu benar"
"Bahkan kau lebih buruk dariku" kata Sellena yang rupanya telah mengeluarkan sindiran pedasnya
"Aku tidak melakukan cara kotor sepertimu, ingat tidak serendah itu" ucap Agatha dengan tegas
"Lalu kenapa kau baru akan menikah? bahkan sepertinya usia Nayla tidak jauh berbeda dariku" sanggah Sellena kemudian
Hah? Sial....Agatha menatap Sellena dengan pandangan menusuk pada awalnya, namun sejurus kemudian senyuman pun terbit dari bibirnya
"Aku tidak ingin menikah dengan Bryan, oleh karena itu aku lari darinya"
__ADS_1
"Huh....sialnya dia terlalu mencintaiku sampai sampai berhasil menemukan keberadaanku" ucap Agatha kemudian yang menekankan kata kata Cinta, entah Sellena akan tersadar dengan sindirannya atau tidak
"Oh ya?" tanya Sellena yang tak percaya, bahkan pandangannya saat ini adalah pandangan meremehkan
"He eum" jawab Agatha dengan tenang sembari meraih sisa minumannya yang masih tersisa seperempat kemudian meminumnya lagi hingga tandas
"Aku dengar Reyhan juga ikut mencariku?" tanya Agatha dengan senyuman sinis
"Tidak, Reyhan sama sekali tidak perduli lagi denganmu"
"Hidup kami sudah bahagia dengan kehadiran Vanno"
"Sebaiknya kamu jangan membual" kesal Sellena yang kemudian langsung membuang pandangannya kearah lain, ia tidak mau jika sampai Agatha mengetahui kebohongannya
"Siapa disini yang membual?" sinis Agatha
"Apa maksudmu?" tanya Sellena dengan alis yang bertaut dan pandangannya mendelik tajam tak suka
"Kemarin Reyhan menemuiku"
"Rupanya Reyhan sudah tau keberadaanku disini" ucap Agatha. Sial....kebohongan harus dibalas dengan kebohongan, Reyhan memang tidak sengaja bertemu dengannya tapi semuanya telah direncanakan oleh Bryan, berbohong sedikit saja tentu tak masalah bukan?
"Apa?" kaget Sellena yang hampir tak percaya dengan ucapan Agatha
"He eum, kami bertemu dicafe kemarin dan Reyhan juga bercerita banyak hal kepadaku" ucap Agatha kemudian
Sellena tidak menjawab ucapan Agatha, tapi melalui pandangan matanya bagaimana caraenatap Agatha dapat Agatha pastikan jika Sellena sebenarnya penasaran dengan kelanjutan ceritanya
"Katanya dia mencariku selama bertahun tahun" lanjut Agatha
"Bahkan sampai saat ini Reyhan tidak juga mencintaimu"
"Sungguh kasihan sekali dirimu" ucap Agatha dengan raut wajah yang dibuat seolah olah tengah prihatin dengan keadaan Sellena, padahal dalam hatinya ia tertawa terbahak bahak melihat wajah Sellena yang berubah menjadi merah padam menahan amarah
"Reyhan pasti berbohong, dia memperlakukanku dengan sangat baik" kata Sellena kemudian setelah bersusah payah berhasil mengubah raut wajahnya menjadi lebih tenang, ia tidak boleh terlihat kalah dihadapan Agatha atau Agatha akan menertawakan hidupmu nantinya
"Entahla, tapi dilihat dari sorot matanya aku sama sekali tidak menemukan kebohongan" ucap Agatha dengan mengendikkan kedua bahunya
"Tapi sepertinya Reyhan masih mencintaiku, sorot matanya dalam memandangku sama sekali tidak berubah, masih sama seperti dulu" kata Agatha dengan senyum miring
"Apa maksudmuuuu" bentak Sellena tanpa sadar hingga beberapa orang yang berada disekitar meja mereka langsung menoleh kearah Sellena
"Sebaiknya kamu jaga Reyhan baik baik, buatlah dia jatuh cinta padamu"
__ADS_1
"Sebenarnya aku merasa sangat kasihan kepada Reyhan karena harus terjebak dan hidup dengan wanita yang sangat dibencinya" ucap Agatha dengan senyuman sinis kemudian beranjak berdiri dan meninggalkan Sellena sendirian
"Sialannn" teriak Sellena mengiringi langkah kaki kepergian Agatha dengan tangan yang mengepal kuat, ia tentu saja merasa terhina dengan kata kata pedas yang meluncur dari bibir Agatha. Sialnya....semua itu adalah fakta