
Setelah menidurkan Nayla, Bryan pun bergegas untuk mememui Agatha dikamarnya
Ceklekkkkk.....Bryan membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci oleh Agatha, hal pertama yang terlihat saat Bryan telah membuka pintunya adalah Agatha yang tengah duduk dipinggiran ranjang, sepertinya Agatha tengah menunggu kedatangan Bryan
"Apa yang kau inginkan?" tanya Agatha langsung saat menyadari Bryan telah datang
"Tidak bisakah kau menyambutku terlebih dahulu? ini sudah lebih dari 6 tahun kita tidak bertemu" jawab Bryan dengan acuhnya sembari melangkahkan kakinya menuju sofa yang berada didepan Agatha
"Aku tak perlu seperti itu, karena kita tidak sedekat itu" balas Agatha menyeimbangi kecuekan Bryan
"Hemmm.....seperti itu? baiklah....baiklah" ucap Bryan mangut mangut meremehkan ucapan Agatha
"Kapan kau akan memulangkanku dan Nayla?" tanya Agatha kemudian membuat Bryan terkejut
"Pulang kemana?" tanya Bryan kemudian setelah berhasil mengatasi keterkejutannya, dengan membentengi dirinya dengan apapun yang dikatakan oleh Agatha nanti ia tidak boleh samapi terbawa emosi
"Kehabitat asliku" jawab Agatha ketus
"Habitat aslimu?" tanya Bryan memastikan lagi
"Hmmm" jawab Agatha cuek
"Baiklah" ucap Bryan kemudian beranjak berdiri
"Benarkah?" binar mata Agatha, ia sungguh tidak menyangka jika akan semudah ini proses negosiasinya dengan Bryan
"He eum, Pak Surya pasti juga sudah merindukanmu" lanjut Bryan
Agatha mematung mendengar ucapan Bryan, Bukan rumah Papanya yang ia maksud. Ada apa dengan pria gila ini? pantas saja negosiasinya tadi begitu mudah, ternyata dia salah memahami maksudku....batin Agatha
"Emmm, maaf sebelumnya. Maksudku rumahku yang ada di jawa timur" jawab Agatha membenarkan
"Bukankah habitat aslimu ada di jakarta?" tanya Bryan memastikan
"Itu masalalu ku, sekarang diamlah dan cepat pulangkan aku" ketus Agatha
"Baiklah, aku akan memulangkanmu asalkan Nayla tetap denganku" jawab Bryan kemudian dengan senyum liciknya. Bola mata Agatha membulat seketika mendengar ucapan Bryan
__ADS_1
Tentu saja Bryan tahu dan yakin jika Agatha pasti tidak ingin jika harus berpisah dengan Nayla, siapa lagi yang Agatha miliki saat ini jika bukan Nayla?
"Apa maksudmu?" tanya Agatha dengan emosinya langsung berdiri dan menghampiri Bryan
"Nayla tadi menangis karena kau akan membawanya pergi dan Nayla ingin bersamaku"
"Emmm sebenarnya bukan hanya bersamaku tapi bersamamu juga" ucap Bryan tegas
"Apa? " tanya Agatha tak percaya
"Hahahahahah" tawa Agatha lepas begitu saja, bukan karena ada hal yang lucu melainkan karena perkataan Bryan yang dianggapnya sangat konyol
"Kau pasti meracuni otak putriku" ucap Agatha kemudian
"Kau itu hanyalah orang asing yang tak seharusnya datang dan merusak hubunganku dengan Nayla" teriak Agatha dengan lantangnya menyalahkan Bryan yang dianggapnya Bryan lah yang sudah memperngaruhi otak Nayla
"Orang asing?" tanya Bryan mengeraskan rahangnya kuat kuat tak terima dengan ucapan Agatha
"Iya, apa kau tidak sadar? kau baru datang kemarin dan lihatlah"
"Nayla sedih saat tadi aku mengajaknya pulang"
"Itu karena keegoisanmu" tutur Bryan
"Egois? aku hanya ingin dia kembali padaku, aku ibunya aku yang merawatnya selama ini"
"Kau hanyalah orang asing yang baru ditemui Nayla kemarin dan kamu tidak berhak untuk ikut campur dengan urusankuuuuu" teriak Agatha frustasi
Kepalan tangan Bryan kian bertambah kuat seakan akan menyalurkan emosinya yang meluap mendengar ucapan Agatha, meskipun begitu namum alam bawah sadarnya terus menyadarkan Bryan agar jangan sampai ikut terbawa emosi
"Aku Papanya, jangan lupakan hal itu" jawab Bryan tegas
"Papa? kau hanyalah Papa biologisnya. Kau tak pernah ikut andil dalam merawat Nayla, jangan lupakan itu juga" ucap lantang Agatha
Bryan langsung mendekati Agatha dan mencengkeram kuat kedua bahu Agatha
"Kau yang lari dariku"
__ADS_1
"Wanita murahan" ucap Bryan dengan rahang yang mengeras
Duar.....bagai tersambar petir, tubuh Agatha langsung menegang saat Bryan mengucapkan kata kata itu, kata kata yng menyakitkan baginya. Walaupun perkataannya memang benar, Agatha masih ingat jika ia sendirilah yang meminta Bryan untuk melakukan hal itu dengannya karena ia menganggap Bryan pada waktu itu adalah Reyhan
Agatha menggigit kecil bibirnya, menyalurkan kemarahan yang ada dalam dirinya namun tidak dapat ia elak sama sekali, Agatha mengepalkan tangannya kuat kuat
"Baiklah, maafkanlah wanita murahan ini" ucap Agatha mendongak menatap Bryan
"Mari kita lupakan semuanya dan akhiri saja sampai disini" lanjut Agatha kemudian
"Minta maaflah dengan benar" desis Bryan, meskipun sebenarnya ia tak sampai hati mengucapkan kata kata itu, Namun kata kata itulah yang spontan keluar dari bibirnya untuk membungkam bibir Agatha
"Baik, aku akan bersujud dikakimu" tutur Agatha kemudian perlahan lahan ia berjongkok
Bryan langsung menahan tubuh Agatha yang akan berjongkok, bukan itu tujuannya. Ia hanya ingin membungkam Agatha agar tak selalu membantah padanya, ia sudah bertekad akan mengenalkan Nayla dan Agatha pada keluarganya
"Turutilah kata kataku atau aku akan mengambil hak asuh Nayla" kata tegas Bryan
Agatha menggeleng geleng tak percaya, bagaimana bisa? ia tidak akan pernah kehilangan Nayla, tidak akan pernah sekalipun
"Kau pria licik" desis Agatha tersenyum meremehkan
"Terserah apa katamu, yang jelas aku akan menebus semua kesalahanku pada Nayla karena ketidakbecusanku menemukan dia selama ini" ucap Bryan menekankan
"Baiklah, aku akan menurutimu" akhirnya Agatha tak punya pilihan lain, Bryan pasti bisa dengan mudah untuk mengambil hak asuh Nayla karena disini dia sendirilah yang bersalah
"Kau dan Nayla harus ikut aku ke Jakarta secepatnya" ucap Bryan kemudian
Agatha hanya diam tak menjawab, memangnya ia akan menjawab apa? ia tak punya hak untuk menolak keinginan Bryan
"Maafkan aku jika harus begini caranya" ucap Bryan yang masih terdengar jelas di indra pendengaran Agatha
Bryan pun langsung keluar dari kamar Agatha, ia hanya ingin menenangkan dirinya dan juga meyakinkan pilihannya. Walaupun awalnya harus menyakitkan namun semua demi Nayla. Akhhhhh....anak kecil itulah yang memberi kekuatan pada Bryan untuk membuat keputusan dengan cepat
Terbayang kembali saat Nayla menangis tadi, yah...menangis karena Nayla menginginkan untuk hidup dengan normal seperti teman temannya yang tinggal bersama dengan kedua orang tuanya. Sungguh menyakitkan bagi Bryan melihat anak kandungnya harus merasakan sakit melihat orang tuanya yang tidak hidup bersama
Didalam kamar Agatha hanya bisa menangis, entah apa yang ia tangisi? apakah karena kekalahannya dalam mempertahankan Nayla dari Bryan? ataukah karena ia merasa bahwa selama ini ia sudah sangat keterlaluan karena telah memisahkan seorang Papa dan Anak. Yang jelas saat ini Agatha hanya bisa menyalahkan keadaan yang sama sekali tidak bisa ia kendalikan
__ADS_1
Didalam kamar Nayla tertidur dengan pulas, bermimpi bahwa kedepannya ia akan mempunyai keluarga impian. Keluarga yang akan selalu mendukung setiap langkahnya seperti keluarga teman temannya yang lain