
"Dari sample darah Bapak dan Ibu, ternyata darah Pak Bryan lah yang cocok dengan Nayla" kata seorang perawat yang memberi tahu
"Kalau gitu cepat ambil darah saya sus" ucap Bryan penuh semangat
"Baik pak, kami akan mengecek dulu untuk persiapannya" jawab Suster tersebut yang kemudian beranjak meninggalkan Agatha dan Bryan
"Terima kasih" ucap Agatha yang hampir merasa putus asa
"Jangan menangis, teruslah berdoa demi kesembuhan Nayla" jawab Bryan seraya menarik tubuh mungil Agatha kedalam pelukannya, Agatha pun menangis dalam pelukan Bryan menumpahkan kelegaannya setelah sempat berputus asa
"Permisi pak, semuanya sudah siap" ucap seorang suster tadi, Agatha pun langsung melepaskan diri dari pelukan Bryan
"Kalau gitu aku kesana dulu" ucap Bryan yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Agatha
Agatha pun pergi dari ruangan itu kembali keruangan Nayla, ternyata Nayla sudah diperbolehkan untuk dikunjungi. Bahkan Bayu saat ini telah berada diruangan Nayla dan menggenggam tangan mungil Nayla
"Naylaaa" Agatha pun langsung berlari kearah Nayla diseberang Bayu
"Nayla cepet bangun ya nak, Papa dan Mama akan melakukan apapun demi Nayla" ucap Agatha sembari menciumi punggung tangan Nayla secara bertubi tubi
"Darah Bryan cocok?" tanya Bayu pada Agatha yang dijawabi anggukan kepala oleh Agatha
Banyak hal yang ingin Bayu tanyakan pada Agatha, mengenai siapa Bryan walaupun ia telah mendengar jika Agatha memanggilnya dengan sebutan Papa untuk Nayla, namun tetap saja ia ingin mendengarkan semuanya dengan jelas dari Agatha. Lalu, dimanakah Agatha dan Nayla tinggal selama ini? kenapa dia tidak bisa menemukannya?. Namun Bayu cukup sadar dengan situasi saat ini, tidak mungkin ia akan menyerang Agatha dengan pertanyaan pertanyaan pribadinya nanti
"Permisi" ucap seorang dokter yang tiba tiba masuk keruangan Nayla
"Kami akan segera melakukan operasi pada Nayla" lanjut Dokter tersebut sembari memeriksa kembali kondisi Nayla
"Baik dok, aku mohon selamatkam Nayla" ucap Agatha dengan memohon
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk Nayla, jadi ibu tidak perlu khawatir" jawab Dokter tersebut
"Nayyy" Bryan pun ikut datang dengan tergesa gesa, wajahnya tidak ada rautan tenang sama sekali
"Bryyy" Agatha pun menoleh kearah Bryan yang bergegas disamping Nayla
"Baiklah, kami beri waktu 3 menit untuk kalian" kata Dokter tersebut memahami keadaan keluarga tersebut, pasalnya kata kata penyemangat dapat membuat pasian lekas tersadar karena kata kata itu menembus alam bawah sadarnya
"Nay, Nayla bangun yaaa"
"Kan Mama sama Papa mau nikah"
"Katanya Nayla Mau lihat Mama sama Papa nikah" kata Bryan sembari mengelus elus pipi Nayla menggunakan jarinya
"Nanti Mama sama Papa bakalan kasih hadiah buat Nayla" lanjutnya lagi
"Mama sama Papa bakalan kasi adik yang lucu nanti" kata Bryan lagi sembari mengecup punggung tangan Nayla
Bryan, Agatha dan Bayu menunggu diluar ruangan operasi dengan perasaan was was, bahkan mereka juga tak pernah berhenti merapalkan segala macam doa demi kelancaran dan kesembuhan untuk Nayla
"Aku mau ketoilet dulu" ucap Agatha berpamitan kepada semuanya yang dihawabi dengan anggukan kepala oleh dua orang laki laki yang hadir didalam hidup Agatha tersebut
__ADS_1
Agatha pun pergi kekamar mandi, namun saat ia sudah selesai tiba tiba ia melihat seseorang yang tak asing untuknya, Agatha pun terus mempertajam penglihatannya. Benar, wanita yang berjalan pincang tersebut adalah Sellena yang tentu saja tak asing untuknya
Agatha pun melihat siapakah yang berbaring diatas brankar rumah sakit dengan badan dipenuhi darah tersebut
Deg.....Reyhan?
"Re...Reyhan?" gumam Agatha yang kemudian langsung berlari menyusul Sellena
"Reyhaaaannnn" teriak Agatha sembari mengimbangi brankar Reyhan
"A...Agatha?" gumam Reyhan lemah, namun masih terdengar ditelinga Agatha maupun Sellena
"Maaf, kalian hanya bisa mengantar sampai disini saja" ucap suster yang langsung masuk kedalam kamar tersebut dengan diikuti oleh seorang dokter
"Reyhan kenapa?" tanya Agatha begitu berbalik menghadap Sellena
"Lo kenapa?" tanya Agatha saat melihat penampilan Sellena yang juga berantakan
"Ini semua gara gara looo" teriak Sellena dengan keras
"Gue?" bingung Agatha yang tak mengerti maksud dari Sellena
"Puas lo?" teriak Sellena dengan nada tingginya
"Puas lo udah hancurin hidup Gueeee" teriak Sellena lagi sembari menunjuk kearah Agatha. Agatha pun terheran heran dibuatnya
Hancurin hidup Sellena? Whattt? Kapan? bukankah dia dan Mamanya sendiri lah yang telah mengancurkan hidup Agatha bahkan sudah sedari Agatha kecil. Mama laknatnya lah yang telah membunuh Mamanya agar bisa menikah dengan Papanya sendiri? dimanakah letah kejahatan Agatha? batin Agatha bertanya tanya
"Apa? ha?" desis Sellena menertawakan ucapan Agatha
"Lo yang hancurin hidup gue"
"Lo penjarain Mama, orang yang udah menampung hidup lo bertahun tahunnn" tunjuk Sellena dengan api kemarahannya
"Lo lihat Reyhan" tunjuk Sellena pada kamar rawat Reyhan
"Dia nggak pernah bisa mencintai gue"
"Bahkan sampai kita punya anak sekalipunnn"
"Dia nggak pernah perduliin kitaaa"
"Reyhan selalu inget sama lo.....dia nggak pernah sekalipun perduli sama gue atau Vanno" teriak Sellena, bukan teriakan melengking tinggi lagi, tapi kini telah berubah menjadi teriakan frustasi
Ceklekkkkk tiba tiba pintu terbuka dan muncullah dokter yang tadi memeriksa keadaan Reyhan
"Permisi, apakah ada yang bernama Agatha dan Sellena?"
"Sedari tadi pasien terus menerus menyebut nama itu" ucap dokter memberitahu
"Saya dok" ucap Agatha dan Sellena bersamaan, tanpa menunggu lama lagi keduanya pun segera masuk kedalam kamar Reyhan
__ADS_1
"Rey lo nggak papa kan?" tanya Agatha dengan paniknya setelah sampai disamping Reyhan, tentu saja Agatha sampai lebih dahulu karena kondisi kaki Sellena yang membuatnya tak bisa berjalan cepat
"A...Agatha" panggil Reyhan
"Iya rey, ini gue" jawab Agatha sembari mendekatkan kepalanya pada Reyhan
"Maafin Sellena" ucap Reyhan lemah, Agatha pun tampak bingung dengan maksud perkataan Reyhan tersebut
"Sellena yang nabrak Nayla" kata Reyhan yang mengerti akan kebingungan Agatha
"Apa?" pekik Agatha terkejut, ternyata Sellena lah yang telah membuat anaknya berbaring lemah saat ini
"Aku yang akan menanggung perbuatan Sellena, aku mohon jangan laporin Sellena ke panjara"
"Anggap saja ini permintaan aku sebagai teman kamu" ucap Reyhan memohon dan memghiba pada Agatha
"Rey, lo gila" pekik Sellena yang baru sampai
"Gue mohon ta" hiba Reyhan untuk yang kedua kalinya pada Agatha
Agatha memejamkam matanya kuat kuat, sulit baginya untuk memaafkan orang yang telah membuat anaknya berbaring sakit dan ternyata itu dilakukan dengan sengaja. Namun lain halnya dengan permintaan Reyhan, sejak dulu Reyhan lah yang selalu ada untuknya tanpa meminta imbalan apapun darinya
"Baik, aku nggak akan laporin Sellena kepenjara" ucap Agatha setelah menimang nimang jawaban yang akan diambilnya
"Makasih ta" lirih Reyhan dengan senyum yang menghiasi bibirnya
"Sel" panggil Reyhan mengalihkan pandangannya pada Sellena. Sontak, Sellena pun langsung menggenggam tangan Reyhan
"Maafin aku yang belum bisa buka hati aku buat kamu" ucap Reyhan pada Sellena
"Nggak papa Rey, itu nggak penting sekarang"
"Yang penting lo harus sembuh" ucap Sellena menampik ucapan Reyhan, Reyhan pun menggeleng pelan
"Lo udah menebus kesalahan lo" ucap Reyhan disertai senyuman
"Maaf, gue nggak bisa jadi Papa yang baik buat Vanno" lirih Reyhan
Tarikan nafas Reyhan kian berat setelah mengucapkan kata kata itu, tubuhnya bahkan kejang kejang namun kemudian kejang kejangnya berhenti membuat Agatha dan Sellena panik
"Rey...Reyhaannn" teriak Agatha mengguncang guncang tubuh Reyhan
"Reyyyyyy" teriak Sellena
"Dok....Dokterrrr" teriak Agatha sekuat tenaga
"Dokterrrr" teriaknya lagi, hingga tak berselang lama Dokter pun datang dan memeriksa alat vital Reyhan
"Maaf, pak Reyhan telah tiada" ucap Dokter tersebut dengan berat hati mengatakan keadaan Reyhan
"Apaaaa?" teriak Agatha dan Sellena hampir bersamaan, tak lama kemudian air mata mengalir kian deras membasahi Agatha dan Sellena
__ADS_1