Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
Putri Genius Bryan 61


__ADS_3

Saat ini Bryan, Nayla dan Agatha tengah berada ditaman belakang rumah dengan langit yang tampak mendung hingga menciptakan udara yang sejuk


"Pa...nanti malam kita tidur dimana pa?" tanya Nayla swmbari memetik salah satu jenis bunga yang ada di taman tersebut


"Emmmm...." Bryan tampak berfikir, sungguh tidak mungkin bukan jika nanti malam ia akan mengajak Nayla dan juga Agatha untuk tidur dikamarnya? Tentu saja tidak karena dikamar terdapat barang barang pribadi milik Violla pastinya. Atau pun jika ia membawa Nayla dan Agatha untuk tidur dikamar lama Violla juga tidak akan mungkin, dalam hatinya ia merasa tak nyaman untuk menempatkan Agatha dan Nayla tidur dikamar bekas Violla


"Bagaimana kalau di apartmen Papa?" usul Bryan


"Kenapa nggak dirumah ini aja pa?" tanya Nayla menyampaikan uneg unegnya


Sementara Agatha tak menimpali sama sekali perbincangan Papa dan Anak tersebut, tentu saja ia sedikit banyak tau alasan Bryan kenapa tidak mengizinkannya dan Nayla untuk tidur dikamar pribadinya? Pasti karena itu merupakan kamar milik Bryan dan Violla bukan? Walaupun Bryan mengakui jika dia menanan Vaksetomi pada dirinya agar Violla tidak hamil, yang pasti dibalik igu semua mereka pasti sering berolah raga bersama bukan? Akh....apa salahnya memang, tidak ada yang salah bukan? Mereka merupakan pasangan suami istri jadi hal tersebut merupakan hal yang wajar....batin Agatha


Sementara itu Bryan sendiri juga bingung harus menjawab pertanyaan Nayla bagaimana? Tidak mungkin juga untuk menjelaskan semuanya pada Nayla bukan? Kapasitas otaknya tentu belum cukup untuk menerima informasi mengenai hal.seperti ini


"Berfikirlah Bryan, ayo...berfikir" ucap Bryan dalam hatinya


"Ya....karena kan Nayla bilang"


"Nayla pingin tidur bareng Mama sama Papa kan?" tanya Bryan mengingatkan pada Nayla pada ucapannya tempo hari


Sontak Agatha langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan ngawur Bryan, bagaimana bisa mereka akan tidur bersama bukankah status mereka bukan suami istri?


"Asikkk beneran kan pa?" tanya Nayla memastikan


"Beneran dong, makanya Papa ngajaknya ke apartment"


"Biar nanti kita bisa bercerita sepuasnya"


"Biar nggak ganggu yang lain" kilah Bryan mencoba meyakinkan Nayla


"Tidak" tolak Agatha cepat membuat Nayla dan Bryan langsung menoleh pada Agatha


"Kenapa ma?" tanya Nayla, raut wajahnya saat ini pun telah berubah mendung mengikuti keadaan langit saat ini


"Kenapa?" Bryan pun akhirnya ikut angkat bicara, tak suka dengan keputusan Agatha tiba tiba padahal sendirinya juga melakukan hal demikian


"Emmm kan Mama baru dateng kesini, batu ketemu Kakek sama Nenek juga"


"Mama nggak enak kalau tidurnya diluaran, em...kalau Nayla mau"


"Nayla bisa tidur berdua sama Papa di apartment" kilah Agatha


Bryan menatap Agatha penuh selidik. Alasan jenis apa yang dikatakan Agatha barusan sungguh sungguh tidak masuk di akal logika Bryan


Raut wajah Nayla pun tampak kecewa dengan perkataan Mamanya, bukankah impian sederhananya telah ada didepan matanya sendiri? Namun mengapa susah sekali untuk terwujud


"Aku yang akan bicara sama Mama"


"Mama pasti mengizinkan" ucap Bryan kemudian


"Kau...ti.." protes Agatha


"Ayo nay, kita masuk. Sebentar lagi hujan akan turun" Ajak Bryan pada Nayla


Nayla pun menurut dengan ucapan Bryan. Bryan menggendong Nayla dipunggung, sementara Nayla langsung mengalungkan tangannya pada leher Papanya meninggalkan Agatha yang masih memandang kepergiannya dengan tatapan marah sendirian


"Dimana Agatha?" tanya Mama Henny saat Nayla dan juga Bryan telah sampai didapur


"Masih diluaran" jawab Bryan sembari menurunkan Nayla dari gendongannya


"Kenapa nggak ikut masuk? Udah mau hujan ini" tanya Mama Henny, matanya bergerak kesana kemari ke arah luar. Memastikan keadaan menantunya yang tak kunjung masuk juga, padahal awan telah semakin menghitam


"Kamu susulin deh, ajakin masuk" kata Mama Henny pada Bryan


"Cepetannnn" Mama Henny mendorong tubuh Bryan, agar laki laki itu segera menyusul Agatha


Mau tidak mau Bryan pun akhirnya mengikuti kemauan Mamanya. Ia pun berlari ke arah taman belakang rumahnya, dilihatnya dari kejauhan bahwa Agatha masih setia duduk dikursi tanpa berniat untuk segera masuk ke rumah padahal angin sudah mulai kencang. Bryan pun langsung berjalan mendekati ke arah Agatha


"Kenapa nggak masuk?" tanya Bryan saat sudah berada diaamping Agatha


Agatha yang tadinya larut dalam lamunannya pun mendongak ke arah samping, ternyata Bryan datang kesini lagi


"Sebentar" jawab Agatha singkat

__ADS_1


Huffftttt.....Bryan menghembuskan nafasnya kasar, menurut pengalaman orang orang jika wanita keras kepala tanpa perduli dengan keadaannya sendiri maupun sekitarnya dan cenderung menjawab dengan singkat pasti ada apa apa didalamnya. Mode siaga nih...


"Hujan akan segera turun" ucap Bryan kemudian


"Baru akan kan? Belum terjadi?" tanya Agatha memastikan


"Tapi jika tiba tiba hujan datang demgan lebat, kamu pasti akan kehujanan"


"Jarak dari sini sampai rumah cukup jauh"


"Cukup bagi hujan untuk membasahkan tubuhmu nantinya" tutur Bryan panjang lebar


"Kenapa kau selalu memutuskan sesuatu tanpa meminta persetujuanku dulu?" tanya Agatha menatap lurus kedepan


Bryan mulai paham dengan apa yanh dipermasalahkan Agatha, pasti soal keputusannya yang tiba tiba mengajak Nayla dan Agatha untuk bermalam bersama di apartmen pastinya


"Soal yang tadi?"


"Kau keberatan?" tanya Bryan pada Agatha


"Aku keberatan atau tidak, jika menyangkut aku dan Nayla didalamnya"


"Seharusnya kau bertanya padaku terlebih dahulu" jawab Agatha namun bukan dengan wajah marah marah, namun dengan wajah datar nya


Jika seorang wanita dalam keadaan kecewa bukankah seharuanya dia menyampaikan semua uneg unegnya dengan marah dan berteriak bukan? Jika wanita berbicara dalam keadaan tenang bukankah itu menandakan bahwa keadaan benar benar lebih buruk dari yang dibayangkannya


"Maafkan aku" ucap Bryan merasa bersalah


"Lain kali kau tak seharusnya membohongi Nayla dengan alasan alasanmu itu untuk menutupi kehelisahanmu sendiri" tutur Agatha


"Lalu aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku akan mengatakan pada Nayla kalau kamarku itu adalah kamar bersama dengan Violla" tutur Bryan menyampaikan kegelisahannya tadi


"Waktunya belum tepat untuk membuatnya mengerti" lanjut Bryan


Agatha yang semulanya duduk kini mulai beranjak bangkit dari posisi duduknya, lalu menoleh menatap Bryan


"Oke" hanya itu yang Agatha katakan, lalu ia berjalan hendak masuk kerumah


"Tunggu" tiba tiba Bryan mencekal tangannya hingga membuat langkahnya terhenti, dengan spontan Agatha pun menoleh kearah Bryan


"Maafkan aku"


"Jadi, maafkan aku" ucap Bryan dengan bersungguh sungguh


"Apa kau laki laki yang dapat dipercaya?" sinis Agatha


"Tentu, kali ini kau bisa mempercayaiku"


"Aku melakukan ini demi Nayla, demi kalian"


"Aku tidak ingin kehilangan kalian lagi" tutur Bryan menjelaskan keseriusannya pada Agatha


Agatha menatap Bryan menelisik, memastikan apakan ucapan Bryan hanyalah bualan semata. Dipandanginya mata hitam pekat milik laki laki tersebut dalam dalam, terlihat hanya ada kejujuran tanpa kebohongan


"Baiklah, matamu mengatakan kau berkata jujur"


"Jadi akan ku pegang kata katamu barusan" ucap Agatha


"Apa kau peramal? Apa kau memang sok tau" cibir Bryan geleng geleng kepala


"Aku pernah belajar psikologi, jadi aku sedikit banyak tahu bahasa bahasa tubuh manusia" terang Agatha lalu berjalan hendak meninggalkan Bryan. Bryan pun langsung menyusul Agatha dengan mengimbangi langkah kaki Agatha


Benar saja air dari langit mulai berjatuhan menuruni bumi, Bryan pun langsung menggandeng tangan Agatha dan menariknya juga mengajaknya berlari agar lebih sampai ke rumah sebelum baju yang mereka kenakan basah


Tadinya Agatha terkejut dengan tindakan Bryan yang tiba tiba menggandeng tangannya lalu berlari, namun kemudian ia hanya mengikutinya saja karena sadar apa yang dilakukan Bryan adalah agar ia tak kehujanan


"Nenek...ini apa?" tanya Nayla pada Mama Henny


"Ini wedang jahe namanya, lihat ini ada jahenya didalamnya" ucap Mama Henny sembari menunjukkan pada Nayla jika benar benar ada jahe didalam cangkir tersebut


"Ohhhh" Nayla hanya ber oh ria


Tak lama kemudian Papa Hamdan pun datang dengan pakaian santainya, sepertinya Papa Hamdan sudah lapar padahal jam baru menunjukkan pukul setengah 5 sore. Mungkin karena keadaan alam yang sedang hujan lah yang membuat perut ingin segera dimasuki oleh sesuatu yang hangat hangat

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Papa Hamdan setelah berada di dekat Mama Henny


"Wadang jahe untuk Papa" ucap Mama Henny sembari menyodorkan secangkir wedang jahe yang telah dibuatnya untuk suaminya tersebut


"Bryan mana?" tanya Papa Hamdan sembari menyesap wedag jahe


Auhhhh...tiba tiba saja terdengar suara rintihan seseorang yang berasal dari luaran dapur


"Eh...maaf maaf" ucap Bryan dengan wajah khawatirnya


"Kamu nggak papa kan? Sakit banget ya? Perih?" tanya Bryan bertubi tubi, rupanya tadi jidat Agatha sempat berpapasan dengan pinggiran pintu saat ia masih menarik tangan Agatha


"Sakit tau, kamu gimana sih nggak lihat lihat samping kamu"


"Padahal tangan kamu lagi narik aku loh" kesal Agatha sembari tangan kanannya memegangi jidat bagian pinggir kanannya yang tadi membentur pinggiran pintu


"Ya maaf...aku kan nggak sengaja juga" ucap Bryan


"Mana aku lihat" tiba tiba Bryan langsung memegang pipi Agatha dan mangarahkannya agar menatap padanya


Bryan tiba tiba meniupi jidat Agatha yang terbentur, hingga Agatha merasa segar saat memarnya ditiupi oleh Bryan


"Kenapa ditiup?" tanya Agatha kemudian


"Karena ini nggak memar, tapi pasti terasa perih kan?" tebak Bryan


"He eum" ucap Agatha


"Ayo" Bryan pun kembali menarik tangan Agatha untuk masuk ke dapur


"Kenapa yan?" tanya Mama Henny saat Bryan dan Agatha sudah menampakkan batang hidungnya


"Ini ma...Agatha nggak sengaja kejedot pintu jidatnya"


"Heh....enak aja kalau ngomong"


"Ini juga gara gara kamu yang narik tangan aku tapi nggak lihat lihat tuh pintu muat nggak buat dimasuki dua orang"


"Lah kamu seenaknya aja" protes Agatha yang tak terima saat Bryan hanya menyalahkannya saja


"Aku kan belum selesai ngomong? Kenapa kamu nyaut?" sindir Bryan


"Hallah, orang dari awal nya aja kamu ngomongnya udah nggak jelas gitu" kilah Agatha yang tak mau kalah


"Udah udah kalian ini kok malah ribut sih" lerai Mama Henny heran dengan tingkah keduanya yang malah memperdebatkan hal sepele


"Buruan kompres pakai air hangat jidatnya" perintah Mama Henny


"Ini tadinya juga mau hangetin air ma" sahut Bryan kemudian


"Terserah kamu aja deh" kata Mama Henny


"Bi...bibi sibuk nggak?" tanya Mam Henny pada pembantunya


"Lagi nyuci piring nya, emangnya kenapa nya?" ucap pembantu tersebut


"Masih banyak ya? Tadinya sama mau minta dibuatin mie biat dimakan bareng bareng, mumpung cuacanya pas" ucap Mama Henny


"Yaudah kalau gitu biar aku aja yang buatin ma" sahut Agatha tiba tiba


"Kok kamu?" heran Bryan


"Kalau nunggu bibi masih agak lama"


"Keburu hujannya berhenti, nanti Mama nggak selera lagi buat makan mie" kata Agatha


"Hujannya aja kedengeran jelas banget kalau masih lebat, jadi masih lama terangnya" bantah Bryan mematahkan pendapat ngawur Agatha


"Apa sih" sinis Agatha pada Bryan


"Bryan bener tu, lagi pula kompresin dulu gih jidat kamu" perintah Mama Henny pada Agatha


"Tuh...dengerin kata orang tua" ucap Bryan

__ADS_1


"Apa kamu bilang? Orang tua?" teriak Mama Henny


Eh....Bryan menutup telinganya. Emang salah ya ucapannya?


__ADS_2