Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
Putri Genius Bryan 54


__ADS_3

"Kalian dari mana aja? kok baru pulang?" tanya Mama Henny menyambut kedatangan Bryan dan Ratih


"Kepo" goda Ratih dengan gaya centilnya


"Ih, sama orang tua kok jawabnya gitu" kesal Mama Henny dengan jawaban Anaknya tersebut


"Papa makan apa pa?" tanya Ratih langsung menghampiri Papanya dan ikut duduk disamping Papanya yang tengah sibuk dengan koran yang ada ditangannya tersebut


"Kue bikinana Mama kamu ni" jawab Papa Hamdan tanpa mengalihkan pandangannya dari koran yang tengah dibacanya tersebut


Tanpa ba bi bu lagi, Ratih langsung mencomot kue putu bikinan Mamanya tersebut


"Ma Pa Bryan ke kamar dulu ya" pamit Bryan pada orang tuanya


"Iya, buruan kamu mandi" ucap Mama Henny mengingatkan


"Iya ma" balas Bryan


Bryan pun melangkahkan kakinya, meninggalkan Mama Papa dan Adiknya yang tengah berkumpul diruang tamu tersebut


"Kamu darimana sama Kakak kamu?" kali ini bukan Mama Henny lah yang memberi pertanyaan melainkan Papa Hamdan yang tiba tiba melipat koran dan meletakkannya diatas meja lalu menatap Ratih dengan intens


"Papa apaan sih? gitu banget ngelihatinnya" tentu saja Ratih merasa risih jika ditatap dengan intens seperti itu, ia merasa seperti seorang tersangka yang tengah di interogasi saja


"Jawab tuh kalau orang tua lagi nanya" sahut Mama Hennya


Ehhh... Ratih terpaku


"Emmm" Ratih berdehem untuk menghilangkan kegugupannya sebagai pembuka pembicaraan


"Aku sama Kakak tadi jalan jalan" jawab Ratih


"Vio bilang kalian ke perusahaan?" kilah Mama Henny kemudian


"Mampus, lupa gue" batin Ratih


"Ya kan habis dari kantor ma, tadi sepulang dari sana aku sama Kakak jalan berdua deh. Mayan maaa muka sama body Kakak tuh ideal, biar kayak lagi jalan berdua sama pacar maaa"


"Maklumin aja lah ma, dedek kan lagi dalam proses mencari pasangan hidup"


"Itung itung sama Kakak tadi latihannya aku buat kencan sama pacar aku nanti" tentu saja Ratih akan ngeles, baginya memberitahu Mama dan Papanya adalah sepenuhnya hak Kakaknya


"Kemana?" tanya Mama Henny yang masih tidak percaya


"Berjalan tanpa tujuan ma"


"Berlayar tanpa peta"


"Kadang keduanya menyenangkan ma" ucap Ratih dengan gaya datar dan tegas menirukan akting para aktor korea


"Awwww" teriak Ratih kemudian


Mama Henny dan Papa Hamdan terkejut dengan teriakan anak gadisnya tersebut, namun apalah daya mereka berdua hanya bisa geleng geleng kepala. Entah menurun dari mana sikap bar bar Ratih tersebut


"Kok baru pulang?" tanya Violla menyambut kedatangan Bryan

__ADS_1


"Iya" jawab Bryan sembari berjalan memasuki kamarnya lebih dalam lagi


"Emmm kamu mandi dulu gih" ucap Violla


"Atau aku duluan aja?" tawar Violla mengikuti langkah kaki Bryan


"Iya, kamu duluan aja" balas Bryan


Cukup lama Violla berada didalam kamar mandi. Tutttt.....tut....tut.....bunyi hp Violla yang tergeletak begitu saja diatas ranjang


Bryan menatap ponsel tersebut dengan kening berkerut membaca nama kontak tersebut


"Bajingan?" gumam Bryan dengan kening berkerut. Bryan langsung mengambil ponsel tersebut dan menekan tombol warna hijau


"Halo" ucap Bryan


1 detik, 2 detik, 3 detik tak ada jawab dari seberang sana membuat Bryan heran. Sambungannya dimatikan? padahal belum bicara apa apa mengapa dimatikan? apa karena dia hendak menghubungi Violla? walaupun begitu seharusnya dia mengakhiri panggilan dengan sopan, bukan langsung mematikan seperti itu


Bryan mengambil ponselnya dan menyalin nomor itu di ponselnya


"Cari tau siapa pemilik nomor tersebut" ucap Bryan begitu sambungan teleponnya tersambung


"Baik bos" jawab Agam diseberang sana


Ceklek....pintu kamar mandi terbuka, nampaklah Violla yang hanya menggunakan handuk diatas dada sampai setengah pahanya. Bryan menetap pemandangan tersebut dengan datar, ia langsung melewati tubuh Violla dan masuk ke dalam kamar mandi


"Sial" geram Violla saat Bryan melewatinya begitu saja


Suasana makan malam seperti biasanya yang hanya sepi tidak ada riuh canda tawa seperti keluarga orang lain, disini tujuannya hanya memasukkan nasi kedalam mulutnya lalu ditelannya begitu saja.


"Apa?" tanya Violla


"Em lusa ikut aku liburan yuk kak" ajak Ratih pada Violla


"Liburan?" tanya Violla memastikan, dahinya berkerut tidak seperti biasanya Ratih seperti itu bahkan sekedar untuk ke mall saja ia tidak pernah diajak


" Jadi, tadinya sih aku liburannya sama temen aku"


"Tapi dia batalin karena ada kepentingan keluarga gitu"


"Jadi kan dari pada tiketnya mubazir aku ajak kak Vio aja" Ratih menjelaskan pada Violla


"Gimana? mau ya?" pinta Ratih penuh harap


Emmm...Violla tampak berfikir sebelum mengambil keputusan


"Ayolah kak" bujuk Ratih


Bryan yang tadinya menyimak kini paham akan tujuan Ratih, ia tidak bisa menyia nyiakan kesempatan ini


"Ikut aja, jarang juga kan liburan" sahut Bryan membuat Violla langsung menoleh menatap Bryan


"Boleh?" tanya Violla pada Bryan


Bryan menjawab dengan menganggukkan kepalanya tanda menyetujui

__ADS_1


"Tuhhh Kakak udah izinin, jadi deal loh ya" ucap Ratih penuh kemenangan


Violla mengangguk dengan ragu, kemudian tersenyum karena Bryan membiarkan ia berlibur dengan adiknya. Sungguh kesempatan langka


Saat ini Bryan tengah berada diteras samping rumah, menatap bintang malam ditemani dengan secangkir kopi


Drrrtttt....drttt....drrrttt....ponsel Bryan yang ia letakkan diatas meja bergetar


"Bibi?" gumam Bryan saat membaca nama kontak tersebut


Sejurus kemudian raut wajahnya berubah menjadi tegang, takut takut terjadi sesuatu pada Nayla dan Agatha Bryan bergegas mengangkat panggilan tersebut


"Halo" sapa Bryan dengan perasaan was was


"Halo Papaaaaa" balas Nayla dari seberang sana


Bryan menghembuskan nafasnya lega mendengar suara ceria Nayla, rasa yang tadinya cemas kini berubah menjadi hangat mendengar suara bidadari kecilnya tersebut


"Kenapa? Tumben telpon, Pake nomor bibi yah" ucap Bryan dengan senyum yang terus mengambang dari bibirnya


"Iya, kata Mama hp nya Mama diambil sama Papa"


"Jadi ya pake nomor bibi ini" ucap Nayla dengan bibir mengerucut, sayangnya Bryan tidak dapat melihat itu


"Oiya Papa lupa" ucap Bryan sembari menepuk jidatnya


Eitsss....Bryan hanya pura pura, sebenarnya ia memang sengaja menyita hp Agatha supaya Agatha tidak bisa menghubungi siapapun yang dapat membantunya pergi darinya


"Papa udah pikun" ledek Nayla dari seberang sana


"Hahaha.....iya iya maafin Papa, emangnya ada apa?" tanya Bryan


"Pa, aku kapan sekolah lagi?"


"Udah seminggu aku nggak sekolah, aku bosen" adu Nayla


Lagi lagi Bryan hanya bisa meruntuki kebodohannya yang bisa bisanya melupakan pendidikan anaknya, namun ia harus memikirkan matang matang dahulu disekolah mana ia akan mendaftarkan Nayla. Apakah di Surabaya ataukah di Jakarta? berhubung lusa ia akan mengungkapkan semuanya pada kedua orang tuanya


"Iya iya nanti Papa daftarin sekolah yang paling bagus buat Nay" jawab Bryan


"Sama daftarin juga buat ikut latihan silat" sahut Nayla


"Iya, terus?" tanya Bryan lagi


"Lukis, Nayla juga suka ngelukis" jawab Nayla dengan antusias


"Oke, sekarang Nayla tidur dulu ya" ucap Bryan pada Nayla


"Oke, selamat malam Papa....Muach" Nayla lalu memutuskan sambungan teleponnya


Hahahahaha....Bryan tiba tiba tertawa sendiri, suara Nayla merupakan moodbooster baginya


"Kenapa ketawa tawa?" tanya Papa Hamdan yang tiba tiba langsung duduk disampingnya


Ehhhhh.....

__ADS_1


__ADS_2