
Viola dan para anak buah suruhannya pun membawa tubuh Bryan ke rumah Viola. Sengaja ia membawa Bryan kerumahnya untuk menjalankan rencananya karena dinilai itu akan lebih mudah baginya
"Letakkan Bryan dikamar atas" titah Viola pada orang suruhannya yang langsung dipatuhi oleh para anak buah tersebut
"Kalian carikan aku alat infus dan obat perangsang" ucap Viola pada anak buah yang lainnya
"Baik boss" ucap salah satu dari mereka
"Apa yang akan kau rencanakan lagi?" tanya sang Boss besar
"Aku akan membuatnya menjadi milikku, dia tak boleh menjadi milik orang lain" ucap Viola dengan mantap
"Ternyata kau adalah wanita yang sangat licik nona" sinis sang Boss besar yang tengah duduk santai disofa dan hanya ditanggapi dengan senyum smirk oleh Viola
"Sudah beres bu" ucap salah satu anak buah yang baru saja turun dari lantai atas
"Oke, kalian boleh istirahat sebentar menunggu teman kalian yang lain setelah itu tugas kalian aku anggap selesai" ucap Viola langsung mendudukkan bokongnya disofa
Hampir 10 menit kemudian orang orang yang disuruh Viola untuk membeli perlengkapan tersebut pun datang lengkap dengan pesanan Viola
"Ini sudah saya carikan semua bu" ucap anak buah tersebut
"Bagus, sekarang pasangkan itu semua pada Bryan" ucap Viola yang langsung berdiri dari sofa yang didudukinya tadi dan melangkah menuju kamar dimana Bryan tengah terbaring disitu dan diikuti oleh anak buah yang ditugaskan Viola tadi untuk membeli perlengkapan infus
"Pasanglah" perintah Viola yang langsung dilaksanakan oleh para anak buah tersebut, Viola menatap Bryan yang tengah tertidur itu dengan senyum penuh kemenangannya
"Sudah bu, lalu untuk obat ini bagaimana?" tanya salah satu anak buah tersebut menujukkan obat yang dipegangnya
"Untuk obat itu, suntikkan saja pada infusnya" ucap Viola
"Baik buk" jawab Salah satu anak buah tersebut
"Setelah ini kau akan benar benar menjadi milikku Bryan"
__ADS_1
"Dari awal kau memang sudah menjadi milikku" batin Viola
"Sudah selesai bu" salah satu anak buah tersebut memberi laporan
"Baiklah, ayo ikut aku" ucap Viola langsung keluar dari kamar
Viola menuju ruang tamu dimana para orang orang suruhannya tengah berbincang ria dengan posisi duduk Boss besarnya yang sangat menjengkelkan bagi Viola dimana kedua kakinya berada di meja tamunya yang sungguh membuat geram dengan tingkahnya tersebut
"Sialan laki laki tua ini, rumahku jadi kotor setelah kedatangan kalian" batin Viola dengan geram
"Baiklah, ini saatnya untuk mengakhiri perjanjian kita"
"Temima kasih banyak atas bantuan kalian" batin Viola
"Baiklah, ini bayaran untuk kalian dan terima kasih atas kerjasamanya" ucap Viola sembari menyodorkan sejumlah uang yang berada di dalam amplop cokelat dan disambut dengan tangan terbuka oleh si Boss besar lalu menghitung jumlah uang didalamnya
"Baiklah, bayaran yang kau berikan sesuai dengan perjanjian" ucap Si Boss besar sembari beranjak berdiri diikuti oleh para anak buahnya. Viola hanya mangut mangut menanggapinya
"Oke, kalian bisa pergi dari sini" ucap Viola
"Baiklah, sekarang giliranku" gumam Viola
Viola pun memasuki kamar Bryan dan ternyata Bryan belum bangun dari tidurnya, akhirnya Viola pun memilih untuk mandi terlebih dahulu. Viol tak ingin membuang buang waktu sekedar untuk berendam, ia lebih memilih langsung mandi dibawah guyuran shower. Hingga tak membutuhkan waktu yang lama Viola pun sudah selesai melaksanakan ritual mandinya hingga ia keluar hanya menggunakan jubah mandinya
Ceklek....Viola membuka pintu kamar mandinya dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Bryan telah sadar dari pingsannya dan kondisinya kini telah amat kacau. Ia tahu jika obat tersebut telah beraksi pada tubuh Bryan
Bryan langsung menoleh pada sumber suara saat mendengar pintu kamar mandi yang tadinya tertutup kini telah terbuka dan dilihatnya kini Viola tengah berdiri disana hanya dengan menggunakan jubah mandinya dengan rambut yang masih basah hingga buliran buliran air pun menetes dari ujung rambutnya
Viola sungguh senang saat melihat tatapan lapar dari Bryan, ia bahkan telah mempersiapkan semuanya, sungguh perfeck bukan? Lihatlah Bryan kini berdiri dan mendekat kepadanya dengan menatap Viola dengan intens, untuk mempercepat waktu Viola pun ikut berjalan mendekat ke arah Bryan
Perlahan lahan Bryan pun semakin mendekat kearah Viola hingga entah mengapa Viola pun berinisiatif untuk memejamkan matanya. Sedetik...dua detik...tiga detik pun tak berasa apa apa, Viola pun lekas membuka matanya dan betapa terkejutnya ia saat melihat Bryan malah melewatinya begitu saja dan langsung mengguyur dirinya sendiri dibawah shower
"Sial, dia kuat sekali hingga lebih memilih shower dari pada aku yang sudah sangat jelas berada di depan matanya" geram Viola. Viola pun mencari ide selanjutnya supaya rencananya tak akan gagal, melakukan tindakan sejauh ini sudah diluar jangkauannya sehingga ia pun tak akan menyia nyiakan kesempatan ini
__ADS_1
"Aha" senyum Viola mengambang setelah otaknya menemukan sebuah ide yang sangat bagus
Viola pun bergegas turun dari kamarnya lalu keluar rumah menuju letak sekring listriknya
"Lihatlah bry, sekarang kau tak bisa lagi lari dariku" batin Viola dengan senyum bahagia. Viola pun mengarahkan tuas pada tombol off, sehingga listrik dirumahnya pun padam. Viola pun bergegas masuk dan kembali lagi dikamarnya
"Kenapa air nya mati" teriak Bryan dari dalam kamar mandi kemudian keluar dari kamar mandi tersebut dan tubuhnya terus bergerak dengan gelisah, Viola tau jika Bryan masih berusaha untuk menahannya
"Mungkin karena pemadaman, kemarin Pak Rt bilang akan ada pemadaman listrik" ucap Viola
"Ah...sialan" umpat Bryan
"Kau kenapa bry? Kenapa bajumu basah semua?"
"Kau berguyur?" tebak Viola
"Iya, badan ku tiba tiba panas semua" adu Viola
"Kenapa tiba tiba aku di infus?" tanya Bryan penuh selidik
"Em... Tadi kau di bius saat menolongku dan aku membawamu kesini"
"Kebetulan aku punya stok untuk infus karena kemarin aku terkena deman" ucap Viola
"Tap..." belum sampai Bryan menyelesaikan omongannya, Viola langsung mendekat kearah Bryan dan langsung menyentuh dada Bryan
"Apa yang kau lakukan?" Bentak Bryan saat tiba tiba Viola menyentuh dadanya membuat tubuhnya langsung menegang karena sentuhan tersebut
"Maaf Bry, tadi aku pikir ada seduatu di bajumu" ucap Viola dengan raut wajah penuh penyesalan
"Aku akan ke kamar mandi dulu" ucap Viola
"Viola pun berbalik badan untuk mengambil pakaiannya lalu berniat kembali lagi ke kamar mandi, namun Bryan masih berdiri di tempat yang tadi
__ADS_1
"Sekarang lihatlah, apakah kau masih akan kuat untuk menahannya lagi" batin Viola
"Auhmm....." rintih Viola saat dengan pura pura tidak sengaja ia memabrak Bryan hingga keduanya terjatuh di lantai