Putri Genius Bryan

Putri Genius Bryan
S2 Bab 6


__ADS_3

Satu tahun berlalu......


Pranggggg......


"Ahhh, sialan nih anak pagi pagi udah bikin gw badmood aja bisanya." kesal Risaa yang langsung merasakan pusing pada kepalanya, pasalnya semalam ia baru saja bisa memejamkan matanya sekitar pukul 3 dini hari akibat marathon drakor.


Tap....tap...tap...


"Astaga." pekik Rissa yang dibuat sangat terkejut dengan kejadian didepan matanya ini, dimana piring pecah dan penggorengan yang mengeluarkan banyak asap sementara si biang kerok berada dipojokan.


Rissa pun dengan berhati hati melewati serpihan kaca tersebut dan langsung mematikan kompornya.


"Aaaaaa lo ngapain sih pake acara masak segalaaaa." teriak Rissa yang darahnya sudah naik di ubun ubun melihat kekacauan dipagi hari yang tampak cerah ini.


"Gue mau bikin telor ceplok ris, buat sarapan kita." jawab Ratih sembari berlahan lahan mendekati Rissa.


"Uhukk.....uhukkk."


"Shibal, Lo bodoh apa begok sih? apinya jangan gede gede anjir. Ini juga pake minyak banyak banget, nggak tau apa kalau harga minyak aja lebih mahal dari harga diri lo." oceh Rissa sembari mengangkat telor mata sapi dark mode dari wajan tersebut.


"Itu masih bisa dimakan nggak ya? kok item banget." heran Ratih.


Qehhh.....Rissa yang kesabarannya hanya setebal kulit bawang tersebut berupaya sekuat tenaga untuk mengontrol emosinya, ini dirasa terlalu pagi jika sekedar untuk marah marah.


"Ya lo makan lah, mubazir tau." jawab Rissa.


"Mendingan lo balik aja deh kejakarta, nggak kuat gue rasanya hidup sama lo tih." ucap Rissa dengan pasrahnya.


"Yah...yah jangan gitu dong besti, masalahnya usaha gue selama ini belum cukup buat menggapai ayang Bayu." jawab Ratih yang langsung bergelayut manja dilengan Rissa.


"Gue mau ngasih saran sama lo, lo mau denger nggak?"tl tanya Rissa dengan wajah seriusnya.


"Apa? gue pasti dengerin lo kok." jawab Ratih dengan bersungguh sungguh dan penuh keyakinan.


"Gimana kalau lo pura pura sakit?" tawar Rissa.


"Gila ya lo ris, diluaran sana aja banyak orang sakit yang pengen sehat kok lah gue yang sehat sentosa malah lo suruh sakit." jawab Ratih dengan bersungut sungut.


"Bukan sakit, tapi cuma pura pura. Lo tau kan kalau pura pura itu nggak bener?" potong Rissa.


"Nggak ah nggak mau gue." tolak Ratih mentah mentah.


"Oke kalau lo nggak mau, padahal tadinya gue udah punya ide bagus buat perkembangan hidup lo." balas Rissa sembari mengangguk anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Emanganya apa?" tanya Ratih yang tampak penasaran.


"Yah biar lo cepet sadar kalau Om Bayu itu nggak seperduli yang lo kira." balas Rissa.


"Maksud lo apa?" tanya Ratih yang tampak berusaha menahan emosi.


"Calmdown, coba lo inget inget baik baik. Selama ini kan cuma lo yang ngejar ngejar Om Bayu tih, ya gue cuma pengen tau aja seberapa pentingnya lo buat dia soalnya menurut filling gue sih lo itu nggak penting buat dia." jawab Rissa jujur.


"Lo kok tega banget sih ris ngomong gitu." lirih Ratih.


"Bukannya tega tih, gue cuma pengen lo itu sadar aja. Om Bayu itu udah dewasa, dia juga orang sukses dan yang pasti banyak yang deketin dia." ucap Rissa mencoba memberi pengertian pada sahabatnya tersebut.


"Kalau lo udah yakin perjuangan lo selama ini nggak sia sia, harusnya lo nggak usah takut dong tih."


"Seenggaknya dengan cara ini nanti bakalan ada titik temu kejelasan hubungan kalian, udah gitu aja maksud gue tih." jelas Rissa.


Ratih menghela nafas dalam dalam sembari memejamkan matanya, sebenarnya jika difikir fikir lagi tidak ada yang salah dengan ide Rissa. Hanya saja dirinya terlalu takut jika ternyata hal yang ia takutkan ternyata terjadi.


"Lo harus yakin tih, jangan mau terjebak dalam sitauasi memprihatinkan lo kayak gini." ucap Rissa sembari menggenggam kedua tangan Ratih, mencoba memberi kekuatan kepada sahabatnya tersebut.


"Gue yakin, gue bakalan terima apapun yang bakalan terjadi nanti." jawab Ratih dengan penuh keyakinan.


Tringgg......tiba tiba saja ponsel Ratih yang ia masukkan kedalam kantung celananya berbunyi, ia pun segera merogohnya.


"Dek 3 hari lagi mbak mau ke surabaya sama Nayla nganterin Nayla lomba pencak silat, biasa luangkan waktu buat nonton bareng nggak? soalnya Mas Bryan lagi ada kerjaan." begitulah kira kira pesan yang dikirimkan oleh kakak iparnya tersebut.


"3 hari lagi mbak Agatha mau kesini, lo ada waktu longgar nggak?" tanya Ratih pada Rissa.


"Kan kebetulan tanggal merah, libur dong." jawab Rissa sembari berjalan keluar dari dapur.


"Oke." balas Ratih yang kemudian langsung mengetikkan balasan pesan kakaknya.


"Nayla sendiri apa sama temen sekolahnya mbak?" tanya Ratih kemudian.


Tringgg...tak berselang lama langsung ada balasan dari Mbak Agatha


"Lomba mandiri tapi nanti bakalan ditemenin sama Vanno juga kok." balas Agatha.


"Mwooo?" terkejut Ratih dengan mata yang membelalak lebar.


"Berati ada jendes itu dong kak?" tanya Ratih kemudian.


"Ada soalnya kebetulan Sellena juga ada urusan bisnis di Surabaya, jadi ya sekalian." balas Agatha dari seberang sana.

__ADS_1


"SHIBALLLLLL." teriak Ratih.


"DAKCOOO." sahut Rissa.


Jam 5 sore....


"Lo kenapa sih? dari tadi dosen ngejelasin malah ngelamun terus?" tanya Rissa.


"Capek gue hidup." jawab Ratih dengan lemah lesu.


"Mau bunuh diri? biar gue bantu deh." tawar Rissa.


"No, ya kali gue bunuh diri. Tau tau ternyata nanti jodoh gue Jimin auto rugi banyak dong gue." potong Ratih dengan cepat.


"Tau tau ternyata jodoh lo bukan Jimin rugi banget dong lo ya, nggak jadi bunuh diri." ejek Rissa.


"****." umpat Ratih tak habis pikir dengan sahabatnya yang selalu bisa membalikkan ucapannya.


"Tih nanti malam nongki yok." ucap Dimas yang tiba tiba saja datang dan langsung duduk disampingnya.


"Sialan lo, ngagetin gue aja." terkejut Ratih yang langsung memukul bahu Dimas dengan keras.


"Gimana? mau nggak?" tanya Dimas lagi.


"Nggak mau, sibuk gue." tolak Ratih cepat.


"Emang lo nanti malem sibuk ngapain?" tanya Rissa memotong pembicaraan mereka berdua.


"Sibuk nggak ngapa ngapain." jawab Ratih dengan cepat.


"Anjjj." umpat Dimas.


"Mas Dimas, tolong cingirnya dijaga yah. Udah muka segini pake sok sokan ngomong kasar segala, jadi double double kan minusnya." sindir Ratih dengan wajah sinisnya.


"Emang situ yang cakep kayak yang udah punya pacar aja." cibir Dimas.


"Woy hello, lo pikir gue jomblo karena apa? ya karena gue berkelas dan susah digapai lah makanya jomblo." jawab Ratih dengan berusungut sungut .


"Tapi menurut gue lo jomblo karena lo nggak laku." sinis Dimas.


"Apa?" terkejut Ratih dengan mulut menganga lebar.


"Udah kalian tuh sama sama nggak laku, jadi mending jadian aja." sahut Risaa membuat Ratih dan Dimas langsung berpandang pandagan.

__ADS_1


"Cuihhhh." sinis keduanya secara bersamaan.


__ADS_2