
Ratih mengikuti mobil didepannya yang diyakininya sebagai mobil Om Bayu tersebut hingga berhenti disebuat rumah yang tampak besar. Rupanya benar duagaannya karenatak berselang lama kemudian tampak Om Bayu yang turun dari mobil dengan menenteng sebuah kantung keresek dan berjalan menuju pagar, rupanya seseorang telah menunggunya karena langsung membuka pagarnya dan ternyata?
"Rupanya nemuin jendong?" Ratih hampir tak percaya dengan apa yang terlihat didepan matanya ini.
"Makasih ya yu, udah ngerepotin." ucap Sellena.
"Nggak papa yang penting Vanno mau makan." balas Bayu. Sellena mengangguk anggukkan kepalanya mengiyakan.
"Yaudah kalau gitu gue pamit dulu ya, udah malem nggak enak dilihatnya." kata Bayu.
"Oke, sekali lagi thaks ya." ucap Sellena lagi yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Bayu.
"Sakit banget rasanya ngelihat imam gue malah nemuin cewe lain." ucap Ratih dengan mata berkaca kaca. Tak berselang lama mobil om Bayu pun melaju kembali yang kembali diikuti olehnya pula.
"Astagah, bisa bisanya yah tuh orang nemuin janda malam malam gini? nggak ada otak tau." kesal Ratih dan selama itu pula mulutnya tak pernah berhenti mngeluarkan sumpah serapahnya.
"Loh...loh, ini kenapa lagi? kok gini?" panik Ratih yang merasakan lain dengan mobil ini dan dengan terpaksa ia berhenti dan turun dari mobil untuk mengeceknya.
Ratih pun mengeceknya untuk mencari tahu sumber masalahnya dan ternyata ban belakangnya kempes, pantas saja ia merasakan mobilnya rasanya aneh tadi.
"Emang ya kalau ketempat maksiat ada aja karma instannya, nggak yang ngelihat calon gue ketemu sama cewe lain sekarang bannya kempes temen temen gue pada telerr malem malem kayak gini juga. Brengsek emang." kesal Ratih yang langsung menendang ban yang kempes tersebut.
Ehemm.....tiba tiba saja Ratih mendengar suara deheman dan langsung menoleh kearah sumber suara tersebut.
"Om, Eh Mas Bayu?" kaget Ratih.
"Panggil yang bener." tekan Bayu.
"Iya Mas." jawab Ratih spontan yang membuat Bayu langsung menatapnya tajam.
"Yang bener." ucap Bayu lagi.
"Ini bener dong, kan yang manggil Om itukan Nayla sementara posisi saya kan disejajarkan sama Kak Bryan sama Agatha. Malah saya seharusnya manggil mas dengan sebutan Bayu aja dong kayak yang lainnya tapi saya oerhalus lagi bahasanya dengan menyebut MAS untuk menunjukkan kesopanan saya." jelas Ratih panjang lebar menyampaikan teorinya, Bayu menghela nafas panjang setiap kali berdebat dengan makhluk mungil ini tak akan ada kemenangan dipihaknya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Bayu menatap ban yang ternyata kempes karena tadi sebenarnya ia merasa jika ada yang mengikutinya namun tiba tiba mobil yang mengikutinya berhenti dan lebih terkejut lagi Bayu ketika melihat orang dibalik mobil itu adalah Ratih.
"Bannya kempes mas." jawab Ratih jujur, mendengar wanita itu memanggilnya dengan kata kata Mas saja sudah membuat Bayu hendak marah tapi ia urungkan dan mencoba menahannya dengan lebih sabar lagi.
"Ini bukan mobil kamu kan?" tanta Bayu karena ia merasa mobilnya berbeda dari yang biasanya ia lihat.
"Mas udah hafalin banget mobil aku yah? makasih yah mas." ucap Ratih yang membuat Bayu harus meringis mendengarnya.
"Ini tuh mobil temen aku mas." lanjut Ratih.
"Temen temen kamu kemana?" tanya Bayu.
"Aduh, mampus gue. Jangan sampai calon suami gue tahu kalau gue datengin tempat maksiat itu." batin Ratih.
"Tih?" panggil Bayu sembari melambai lambaikan tangannya tepat didepan wajah Ratih yang tampak bengong.
"Eh" kaget Ratih yang membuatnya langsung tersadar dari lamunannya dan melihat Bayu yang tampak memperhatikannya.
"Teler?" terkejut Bayu.
"Mabok?" tanyanya yang dijawabi anggukan kepala oleh Ratih.
"Kamu abis minum? dimana? club? apa dimana? tanya Bayu lagi namun dengan nada yang terdengar tak suka.
"Mampus gue, kelihatan banget kalau dia marah. Gimana dong?" batin Ratih.
"Kamu minum?" tanya Bayu lagi.
"Eh nggak kok, tadi aku cuma jemput doang." ucap Ratih dengan cepat, tatapan Bayu yang masih terlihat tak suka membuat Ratih harus bisa menutupi kebohongannya rapi rapi jangan sampai berantakan sedikitpun lalu terbongkar.
Karena sudah malam akhirnya Bayu memutuskan untu memindahkan para manusia manusia itu kedalam mobilnya dan mengantarkannya pulang, tak ada percakapan yang terjadi lagi hingga sejauh ini didalam mobil.
"Mas dari mana?" tanya Ratih memberanikan diri membuka suara.
__ADS_1
"Bukannya kamu yadi ngikutin aku?" tanya Bayu dengan santainya.
"Siapa mas? aku?" tanya Ratih menunjuk dirinya sendiri tak percaya.
"Ya kali aku ngikutin mas tengah malem gini? kurang kerjaan banget hahaha." tawa yang dipaksakan pun keluar dengan garing dari mulutnya juga, tapi Bayu seolah tak perduli akan hal itu membuat Ratih kembali menutup mulutnya rapat rapat.
Tak berselang lama akhirnya sampai juga dirumah Gitta, Bayu turun dari mobil diikuti oleh Ratih. Tampak Bayu melihat ada banyak mobil yang berjejer bebas dihalaman yang memang luas dan salah satunya ada mobil Ratih yang membuatnya langsung menoleh kearah Ratih dengan tanda tanya.
"Eh emang mobil aku ada disini solanya tadi waktu Rissa nelepon aku nggak tau dia dimana karena bilangnya mau kerumah Gitta tadi sore jadinya aku langsung kesini, pas kesini tau taunya udah pada ngilang dan kebetulan mbaknya tadi bilang kalau dia tahu Gitta sama yang lainnya pergi ke club." jelas Ratih tanpa ada yang memintanya karena tau akan arti tatapan mata Bayu, walaupun penjelasannya lancar kebohongan semuanya.
"Oh terus aku minta sama mbaknya alamat klubnya dan dikasi sama mbaknya, eh...mbaknya itu pembantunya Gitta maksud aku." jelas Ratih lagi, sementara Bayu tampak melihatnya dengan kening berkerut.
Akhirnya proses pemindahan makhluk hidup dari mobil Bayu kedalam rumah pun selesai juga, meletakkan makhluk makhluk itu dengan asal disofa lalu pergi meninggalkannya begitu saja.
"Udah mau pulang Mas?" tanya Ratih tiba tiba.
"Astaga, telingaku rasanya geli sekali mendengarnya." batin Bayu.
"Iya." jawab Bayu singkat, padat, bangsat.
"Eh tunggu." Ratih langsung menarik tangan Bayu hingga membuat Bayu langsung menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Bayu sembari menarik tangannya.
"Boleh anterin gue pulang nggak? soalnya udah malam gini aku takut kalo ada apa apa dijalan kan susah jadinya kayak tadi misalnya." kata Ratih kembali panjang kaki lebar.
"Udah tau bahaya kenapa malah pulang malem?" tanya Bayu.
"Yah masak anak perawan malah nggak pulang sih? pulang malam ibarat kata lebih baik terlambat dari pada nggak sama sekali, yah kayak gini udah bagus aku punya niatan pulang walaupun agak telat."
"Jadi mas harus jagain aku, anterin aku sampai rumah dengan selamat." balas Ratih.
~Jika langkah dalam hidupmu ditentukan oleh keputusan orang lain, maka kamu hanyalah alat~
__ADS_1