
Keesokan paginya kami sudah berada ditebing yang sama dengan jumlah orang yang sama. Menurut kepala desa raksasa para elang itu bersembunyi dengan menyamarkan tubuhnya dengan warna tebing
Mereka akan menangkap kadal atau mangsa yang mendekatinya. Sedangkan Onyx Eagle akan berada diatas tebing memperhatikan mangsa terkuat yang akan jadi santapannya
Sand Eagle dan Onyx Eagle keduanya ahli dalam serangan diam-diam dan sergapan. Kalau sampai tim ini ketahuan akan sulit
Karena itu para anak raksasa menemani lagi. Tadinya aku cuma ingin satu raksasa saja yang menemani karena mereka tidak akan terlalu berguna dalam pertarungan
Tapi kepala desa memaksa mengingat elang akan selalu mencari mangsa yang lebih lemah dan raksasa merupakan lawan yang kuat
Onyx Eagle sekalipun tidak mau menyerang raksasa karena mereka terlalu berat. Alasanya remeh tapi itu jadi bantuan besar sekarang
Kali ini masalahnya adalah bagaimana menemukan mereka. Sarang elang itu berada di celah-celah sempit dan tertutupi dengan pasir dan batu jadi sulit mencarinya
Untungnya aku sudah tahu harus apa. Aku menarik pedang anginku "Ventum" Dengan menebaskan pedangku, angin menyelimuti seluruh tebing
Dengan menyebar Force aku bisa menyelidiki setiap celah yang ada ditebing dengan mudah.
Sayangnya kemampuan ini tidak sehebat itu
Kalau celahnya terlalu dalam aku tidak bisa menemukan telurnya karena kemampuan ini juga memiliki batasan.
Aku selesai dan aku terkejut ternyata banyak sekali sarang disini. Ada sekitar 10 sarang, apa karena sarang Onyx Eagle ada diatas tebing ya
"Sesuai rencana. Tetap disini! Turbo" Aku menyelimuti kakiku dengan tornado merah dan terbang kesalah satu sarang yang ada dicelah
Aku langsung memegang pohon yang ada disana dan melihat kecelah sebelum tiba-tiba
Sesuatu menabrak punggungku menekanku ke dinding karena tabrakan itu terlalu kuat sampai menimbulkan ledakan "JOSH!!!"(Sirus)
Aku menggapai leher makhluk itu yang ternyata elang. Aku memutar pedangku dan menusukkan pedangku.
Elang mundur sebelum pedangku menyentuhnya. Begitu aku lepas, aku langsung melesat ke elang itu.
Elang itu mengibaskan sayapnya membuat angin, pasir dan debu menerjang kearahku. Aku tidak bisa melihat dengan jelas meski begitu aku sempat melihat beberapa bayangan yang terbang kearahku.
Aku menebaskan pedangku membuat angin besar yang menghilangkan semua debu dan angin itu
__ADS_1
Aku langsung melesat kearah elang itu dan menebaskan pedangku, tapi elang itu cepat seranganku cuma bisa memotong beberapa bulu disayapnya.
Tapi karena itu elangnya kehilangan keseimbangan membuatku bisa menebas sayapnya.
Elangnya jatuh kebawah dengan sayap yang patah. Tubuh elang itu keras pedangku cuma bisa membuat sayapnya patah bukan putus.
Beberapa elang lain terbang kearahku jumlahnya ada 10. Aku mendarat disalah satu pohon sambil bersiap melesat ke elang lain.
Aku melesat kesalah satu elang, pedangku menghantam wajah elang itu. Aku menabrakan diriku dan elang ke tebing diseberang
Dengan cepat aku menusuk sayap elang itu dan melemparnya kebawah. Elang lain mengibaskan sayapnya dan menerbangkan berbagai kerikil besar dan kecil kearahku dengan cepat.
Dengan tornado dikakiku aku menghindari itu semua dengan meloncat dari ranting keranting
Aku mengayunkan pedangku dan membuat tornado merah yang bergerak kearah para elang.
Aku menarik pedang petir "Tonitribus" dari pedangku keluar belasan petir yang menyambar semua elang itu
Aku melesat kearah salah satu elang yang mulai jatuh. Pedangku menebas sayapnya dan memotong banyak sekali bulunya.
Aku berdiri diatas pedangku sambil memegang pedang angin. Pedangku diselimuti tornado dengan itu aku memukul elang itu kebawah
Elang itu jatuh meninggalkan sayapnya yang masih menancap "Mundus!!!" Tanah merah menyelimutiku saat elang-elang lain melesat kearahku dan menabrakan diri ke dinding tanah yang kubuat
Dari dalam dinding tanah aku menusukkan pedang cahaya "LUX" 5 Cahaya merah keluar dan menembus tubuh elang. Aku memukul elang itu kebawah
Aku mengayunkan pedangku ke elang yang melesat kearahku. Elang itu menahannya dengan cakarnya. Badai batu dan kerikil terbang kearahku
"MINGGIR!!!" Pedangku bersinar terang membuat elang itu mundur sedikit. Aku mencabut pedang api "INFERNUS!!!" Api besar membakar elang itu membuatnya mundur
Pedang cahayaku menebas diikuti cahaya merah. Tebasan melintang terlihat membuat garis panjang yang memotong semua bulu disayapnya dan membuat luka tebasan panjang di dadanya
Kehilangan semua bulu disayapnya membuat jatuh kebawah. 3 Elang langsung melesat kearahku
Aku mengayunkan pedang apiku membuat awan api raksasa yang membakar ketiga elang itu. Aku mengarahkan pedang cahayaku dan menembakan cahaya merah beruntun kearah ketiga elang itu bersamaan
Ledakan terjadi membuat ketiga elang itu terbang ke tebing diseberang dan kubombardir dengan belasan laser tanpa henti.
__ADS_1
Aku menyarungkan kedua pedangku dan kembali mengeluarkan pedang angin sambil memegang pedang yang ada dikakiku.
Aku langsung melesat dengan pedang anginku dan memenggal salah satu elang itu membuat tubuh tanpa kepalanya jatuh kebawah
Kedua elang yang ada disampingku berusaha menjauh tapi tangan besar dari tanah merah sudah menangkap mereka lebih dulu
Aku memotong sayap dari masing-masing elang dan membiarkannya jatuh. Sisa 2 dan mereka masih terbang sambil mengawasi
Salah satu elang mengibaskan sayapnya, anginnya mendorong elang yang satu lagi melesat kearahku
Kecepatannya lebih cepat 2 kali lipat. Aku membentuk dinding dan langsung menyingkir. Dinding tanah merah langsung berlubang bahkan sampai tebingnya mulai rubuh.
Aku tidak bisa menyerang elang ditebing, jadi aku mengincar elang yang masih terbang. Petir, cahaya merah serta api mengikutiku menyerang elang itu
Belum sempat aku menebasnya batu besar menghantam punggungku disusul puluhan batu lain
Aku terdorong sampai ke seberang tebing lagi, aku langsung membuat tanah yang menutupi tubuhku saat aku menghantam dinding
Melindungi tubuhku dari terjangan puluhan batu lain. Aku keluar hanya untuk melihat elang yang kembali melesat kearahku
"Memangnya kali ini bakal sama?" aku mengayunkan pedangku dan awan api terbentuk.
Elang itu malah terbang keatas dan dibelakang itu batu-batu berukuran besar melesat kearahku
Aku membelah batu itu kedua elang itu melesat kearahku dari atas dan depan "CUKUP!!" Cahaya merah dan petir merah langsung menghantam kedua sebelum sempat mereka bereaksi.
Yang langsung membuat keduanya jatuh kebawah. Padahal aku belum memotong kedua sayap mereka, yasudahlah saatnya mengumpulkan telur
Mencari telur disarang elang lebih mudah saat mereka sudah tidak menjaga sarangnya. Aku mendapat 40 telur elang
Aku turun kebawah diselimuti tornado dan melihat kesebelas elang yang berada dibawah
"Kalian sudah selesai?" "Begitulah, tidak sulit membunuh mereka saat mereka kehilangan sayapnya"(Sirus) "Baguslah saatnya kembali"
Kami semua kembali membawa 11 elang dan 40 telur
**TO BE COUNTINUE....***
__ADS_1