
Hancur. Satu kata itu mewakili pemandangan yang kulihat. Ini mengingatkanku pada pemandangan yang sudah lama kulupakan.
Kota yang kami singgahi sudah hancur lebur, beberapa monster seperti kalajengking, dan serigala sibuk memangsa manusia disana.
"Tuan kita tidak punya banyak waktu disini"(Prajurit) "Aku tahu. Salah satu gagak kirimkan perintah bergerak pada pasukan dan tutup semua kawasan perbatasan dengan Rodigur. Jangan sampai satupun Monster kabur. Mereka biar kusingkirkan dalam beberapa menit"
Aku turun dari kuda dan berlari kearah kalajengking itu. Pedang angin ku keluarkan bersama dengan tebasanku, tubuh kalajengking itu terbelah dua.
Beberapa serigala memperhatikanku dan menerkam kearahku "Dasar Anjing" Dengan satu tebasan, serigala-serigala itu terpental dan terluka.
Aku mengeluarkan pedang kedua "Ignis" Aku melesat kesalah satu serigala dan menebasnya.
Seluruh tubuh serigala itu terbakar sampai menjadi abu. Dengan beberapa tebasan lagi, semua kalajengking dan serigala di dekatku mati dengan cepat.
"Ayo semua lanjut bergerak. GAGAK! Beritahukan kondisi sekitar!" "Monster keluar dari istana dan merambah kesegala kota disekitar. Selain itu monster bermunculan juga dari bawah tanah setiap kota"(Intel)
"Setiap kota?" Gempa terjadi dari bawah tanah keluar capit raksasa yang berusaha mencapit tubuhku.
Aku langsung mundur, hanya saja capit kedua, ketiga keempat terus muncul sampai akhirnya kalajengking raksasa dengan 4 capit dan 8 sengatan keluar dari tanah
"Scorpion tentacle. Kupikir mereka sudah punah" Serigala raksasa juga keluar dari bawah tanah
"Swallow wolf. Mengingatkanku akan waktu itu. Perubahan rencana. Selamatkan warga yang tersisa dan keluar dari kota!"
"Tapi waktu"(Prajurit) "Ini tidak akan lama. Percayalah" Serigala membuka mulutnya
"Terra" Dinding tanah merah keluar dibelakang punggungku membelah kota jadi 2.
Angin bertekanan tinggi menekan tubuhku kebelakang sampai mengenai dinding yang kubuat.
Retakan terbentuk dengan aku sebagai pusatnya. Jangan sampai hancur "Mons" Aku menulis rune di dinding dan force merah menyelimuti seluruh dinding.
4 sengatan kalajengking muncul didepanku, karena angin semua sengatan itu menusuk kearahku.
"Ventum!!" Dengan ledakan angin semua sengatan itu terbelah. Dan serigala itu juga terkena seranganku
"Mundus" Seluruh tanah runtuh, kalajengking raksasa dan serigala itu jatuh kedalam. Duri tanah dengan warna merah keluar dari bawah mereka menusuk mereka.
Meski begitu mereka berdua masih hidup "Aku sudah muak dengan ini. Infernus"
Aku mengayunkan pedang apiku yang dalam sekejap berubah jadi gelombang api yang menghanguskan mereka berdua.
Setelah kupastikan mereka berdua sudah mati. Kami melanjutkan perjalanan, bantuan prajuritku sudah datang sebelumnya
__ADS_1
Mereka akan menyisir semua kota, dan desa disekitar dan menyelamatkan orang yang tersisa dan mengawal mereka ke Monrra.
Kita sampai di area yang dipenuhi monster. Menurut peta, disanalah ibukota. Keadaanya kacau sampai tidak ada satupun bangunan yang berdiri
"Apa pangeran masih hidup dalam.keadaan seperti itu?"(Prajurit) "Entahlah. Yang jelas, sampai menemukan reruntuhan istana atau pangeran kita tidak boleh berhenti"
"Panglima. Aku menemukan pangeran"(Intel)
"Dimana?" "Arah tenggara. Mereka mencoba ke arah Monrra dan dikejar puluhan serigala dan dihadang beberapa Green Serpent"(Intel)
"Dekat!! Kirim permintaan bantuan kesana. Dan pastikan membuat jalur evakuasi untuk pangeran. Kita akan bergerak kesana"
"Baik!!"(Semua orang) Kami bergerak menuju arah pangeran. Semua yang menghalangi ku hancurkan seketika.
Setelah 1 jam akhirnya kami melihatnya. Pangeran bersama puluhan prajurit dan para bangsawan berusaha bertahan dari serangan serigala dan ular raksasa
"Mundus" Aku mengayunkan pedangku ketanah dan membuat retakan kearah pangeran.
Setelah itu tanah merah keluar dan mengurung seluruh rombongan pangeran. Sebanyak 3 lapis.
"Musnahkan mereka!!" Prajuritku menyerang semua monster itu. Aku juga maju kearah para ular hijau itu.
Green Serpent memiliki nama lain Plague Bringer. Mereka ada makhluk yang harusnya sudah punah karena diburu langsung oleh kerajaan Rolegur.
"Ventum" Aku mengayunkan pedangku membuat banyak mata pedang yang mengenai semua ular itu.
Ada 7 ular ya. Sepertinya ini akan sulit, karena mereka terkenal akan racunnya yang mengerikan
Semua ular itu langsung memperhatikanku. Mereka langsung menyerang kearahku, 3 diantara mereka menyemburkan asap hijau.
Racun dari ular ini sangat beracun dan bisa meracuni apapun. Baik udara, daratan, atau lautan bahkan orang yang terkena racunnya bisa menyebarkan racunnya ke orang lain tanpa bersentuhan.
Aku mengayunkan pedangku dan angin besar meniup racun itu kembali kearah mereka
"Turbo" Tornado tercipta mengurung ular itu dan racunnya.
"Mundus" Lubang besar terbentuk dibawah mereka, membuat semua ular itu jatuh kedalam
"Fulgur" Aku mengangkat pedangku keatas dan petir turun dengan ganas menyambar semua ular itu tanpa henti.
Aku memaksa tornado itu mengecil dan memasukkannya kedalam lubang bersama semua ular itu.
Tidak ada cara menghilangkan racunnya. Cara termudah adalah membiarkan racun itu meracuni sesuatu dan mengisolasinya selama puluhan tahun.
__ADS_1
Karena itu aku memilih mengubur semua racun itu bersama dengan semua ular itu dulu
Tanah membentuk gelombang yang langsung mengubur semua ular bersama dengan racunnya.
Tanah yang mengubur ular itu berubah warna jadi hijau dengan cepat. Bahkan force milikku sudah tidak bisa kukendalikan lagi.
Aku terpaksa merelakan force itu hilang. Aku membuat parit disekitar ular itu terkubur agar tanah yang tercemar tidak menyebar.
Aku membuatnya dengan angin tidak dengan rune Terra atau Mundus. Itu karena racunnya bisa menyebar melalui force juga.
Aku menghela nafas dan menunggu. Aku tidak naif berpikir kalau ular itu sudah mati. Mereka selamat sampai sekarang membuktikan kehebatan mereka.
Dan benar saja salah satu dari ular keluar meski hanya setengah badan saja. Tapi panjang dari ular tersebut sudah bisa mencapaiku dengan mudah.
"Mati kamu sekarang. Ventum" Aku melesat kearah ular itu selagi dia belum memperhatikanku.
Pedangku menusuk kelopak mata ular itu. Angin menyelimuti pedangku membuat kelopak itu berdarah dan cairan hijau keluar darisana.
Mata ular itu tertembus pedangku, dan ular itu berusaha menyingkirkanku dengan mengoyang-goyanhkan kepalanya.
"Jangan bercanda!!! MATI!!!" Aku menebas pedangku keatas membuat setengah dari kepala ular itu terbelah.
Cairan hijau dan mata ular itu terbang keatas karena perbuatanku. Dengan angin aku mengendalikan semua bagian ular itu agar masuk kembali kedalam lubang.
Ular kedua disusul ketiga, keempat, kelima dan keenam muncul. Dengan cepat aku menuju ular kedua.
Dengan pedang angin, aku menusuk lehernya membuat cairan hijau keluar seperti air mancur.
Dan dengan cepat ular itu terpenggal. Yang ketiga lebih sulit, aku harus menggunakan pedang petir juga untuk menyetrumnya sebelum menghancurkan kepalanya.
Berikutnya aku menggunakan angin untuk membungkam ular yang tersisa agar tidak mengeluarkan racun sebelum membunug mereka satu persatu.
Dengan begini misiku selesai.
**TO BE COUNTINUE...***
Untuk Informasi tambahan
Gagak: Itu unit Inteligen yang berfungsi mengumpulkan informasi
Beruang: Unit yang berfokus pada serangan individu biasanya cocok dalam pengawalan
Serigala: Unit yang berfokus formasi sederhana kebanyakan merupakan pemanah
__ADS_1
Elang: Unit pemanah yang bertugas mengawasi seluruh medan pertempuran dan menyerang menggunakan panah