
Pernyataan Mia membuat kebanyakan tawanan perang merasa Mia berkhianat. Beberapa bahkan berusaha menyerang Mia dengan alat bangunan dan kayu.
Semua itu tidak berguna dihadapan perisai sihir buatan Valerie. Aku menatap semua tawanan itu
"DIAM!!!!!!" Teriakanku disertai angin merah yang menerbangkan beberapa tawanan dibarisan terdepan.
Hanya menyisakan beberapa saja yang bisa menggunakan Force "Apa kalian semua ingin mati? Valerie buka barrier ini!"
"Tapi. Kalian?"(Valerie) "Tidak perlu khawatir. Mia kamu juga kesana saja"
"Tidak. Biar aku yang-"(Mia) "Mia. Ini perintah pertamaku. Jadi turutilah" "Baiklah jika itu kemauan tuan"(Mia)
Mia berdiri dan pergi kebelakang. Aku mengambil sisa pedangku dan memakainya dipinggangku.
Barrier terbuka langsung menghadap ratusan tawanan perang. Wajah ketakutan terlihat sebagai ekspresi mereka
"Dia sendiri kan? Kita ada puluhan bahkan ratusan. Untuk apa takut?"(Tawanan 1)
"Benar. Bunuh dia dan rebut benteng ini!"(Tawanan 2)
Bersama dengan perkataan itu. Banyak dari mereka yang maju menyerangku
Aku menggengam pedang anginku
"Ventum" Aku mengayunkannya kebawah dan membuat ledakan besar. Semua yang ada digaris terdepan terpental kebelakang mendorong lainnya mundur.
Angin merah terpecah dari depan hingga mengurung mereka semua "Aku berikan kesempatan terakhir. Jika kalian mau tunduk keluar dari batas itu. Jika tidak. Mati!!"
Ratusan dari mereka langsung berlari keluar batas. Saling mendorong dan menjatuhkan, hingga hanya tersisa puluhan dari mereka yang bisa menggunakan Force
"Dasar pengecut!!!"(Tawanan 1) "Baiklah sekarang. Terra" Aku mengayunkan pedang tanahku dan membuat dinding merah yang mengurung aku dan mereka
"Aku sudah memberi kalian kesempatan dan memperlakukan kalian dengan baik. Tapi kali ini kalian sudah kelewat batas"
"Kami tidak akan mengkhianati Rodigur. Berbeda dengan para pengecut itu"(Tawanan 1)
Mereka maju kearahku dengan alat seadanya
Aku mengayunkan pedangku dan membuat seluruh tanah menjadi merah dan berubah jadi duri tanah beragam ukuran.
Menutupi semua jalan kearahku. Mereka menghancurkan semua duri tanah yang menghalangi dengan Force.
Aku mengayunkan pedang anginku "Ventum" Ledakan terjadi. Semua duri tanah melesat dengan cepat dan menembus beberapa dari mereka.
__ADS_1
Bahkan ada yang menusuk kepala salah satu dari tahanan dan membunuhnya. Aku menancapkan pedang angin dan mengeluarkan pedang dengan rune petir
"Vulgur" Aku mengangkat pedangku keatas membuat petir merah melesat kelangit.
Aku mengganti pedang tanah dengan pedang api
"Ignis" Aku mengayunkan pedang apiku yang langsung membuat gelombang api kearah mereka.
Bersamaan dengan ratusan petir merah turun dari langit yang menghantam mereka tanpa ampun.
Ratusan ledakan terjadi dan dinding yang mengelilingi mereka hancur. Semua itu berubah jadi asap merah yang kembali kedalam tubuhku.
Menyisakan puluhan mayat ditanah. Melihat hal ini para tawanan perang langsung ketakutan
"Stain!!" "Ada apa tuan?"(Stain) "Urus semua tahanan perang itu. Kembalikan mereka kedalam asrama dan jangan biarkan mereka keluar!!"
"Baik tuan"(Stain) Stain menggiring semua tahanan perang setelah mereka membersihkan semua mayat pemberontak itu
"Kejam sekali kamu"(Valerie) "Daripada aku yang seperti itu" "Puluhan pengguna Force tidak bisa menghadapimu? Sekuat apa kamu sebenarnya?"(Mia)
"Jangan merendah. Aku juga tahu kamu bisa menghadapi mereka juga kan?" "Julukanku bukan omong kosong"(Mia)
"Aku juga" "Menurutku julukanmu tidak cocok. Runes Swordsman? Aku yakin nanti julukan keduamu akan datang"(Valerie)
"Tidak. Mia juga ikut" "Aku juga?"(Mia)
"Kenapa wanita itu diajak? Kalo mau selingkuh harusnya aku tidak ikut"(Valerie)
"Siapa yang mau selingkuh?"
"Oh.. Jadi benar ya tuan sudah menikah"(Mia)
"Begitulah. Yang jelas aku mengajak Mia karena dia tahu sedikit sejarah tentang Rodigur"
Aku mengajak kedua wanita itu kedalam benteng. Tempat dimana ada jalan khusus yang langsung ke gua Dwarf
"Aku pikir kamu melupakan soal itu. Sepertinya tetap saja kamu ingin menginterogasiku"(Mia)
"Tidak. Aku tidak akan menggali informasi tentang Rodigur. Hanya saja, aku bingung alasan kenapa Stor menyerang Rodigur"
"Perang itu ya. Aku dengar kerajaan ini akan melibas habis Rodigur"(Valerie) "Entahlah. Aku tidak yakin soal itu"
"Dari informasi yang kutahu. Perang Rodigur melawan Stor karena kerajaan Dwargen"(Mia)
__ADS_1
"Dwargen? Aku tahu ada hubungan tertentu antara Stor dan Dwargen. Tapi hubungan seerat apa sampai mau memulai perang demi kerajaan lain?"(Valerie)
"Kalau begitu. Kenapa Dwargen ingin menyerang Rodigur?" "Dari utusan kerajaan Stor mengatakan agar memberikan pengkhianat yang sudah bersembunyi selama 5 tahun di Rodigur"(Mia)
Kami masuk kedalam benteng dan menuju ruang bawah tanah "Kita mau kemana sih?"(Valerie) "Nanti juga sampai. Pertanyaanku selanjutnya Apa pengkhianat itu ditemukan?"
"Ya. Prajurit Rodigur berhasil menemukannya. Tapi tidak ada yang tahu dimana dia, hanya raja dan tangan kanannya yang terpecaya yang tahu soal itu"(Mia)
"Baiklah. Sekarang giliranku, aku tahu dimana para pengkhianat itu" "Benarkah?"(Mia) "Pengkhianat Dwargen? Dwarf? Kamu tahu dimana para Dwarf?"(Valerie)
"Tepat sekali" "Dimana?"(Valerie) Kami sampai. Aku membuka pintu batu yang terhubung dengan pemukiman Dwarf. Hanya saja jalannya cukup curam dan licin
"Disini" "Beneran disini?"(Valerie) Valerie menatap jalan yang curam itu "Bukan. Ini cuma jalan kesana. Ayo ikuti aku"
Kami berjalan dengan hati-hati "Aku menemukan tempat ini saat mendapatkan benteng ini. Awalnya aku tidak ingin mengambil benteng ini sebagai wilayah. Tapi melihat para Dwarf aku berubah pikiran"
"Ohh.. Aku tahu. Kamu ingin menggunakan kemampuan mereka untuk memajukan wilayah ini"(Valerie)
"Malah sebaliknya. Aku ingin wilayah ini menyembunyikannya seutuhnya. Kita sampai"
Kami berhenti didepan jalan buntu yang merupakan batu besar
"Buntu?"(Valerie) "Tidak. Itu gerbang" Aku menggenggam batu merah dengan huruf aneh yang tidak bisa kubaca.
Begitu kualiri Force batu itu bersinar terang dan kemudian meredup. Batu itu bergetar dan bergeser
"Josh. Kamu datang"(Dwarsen) "Bagaimana kabarmu?" "Aku? Tentu saja baik. Dan sepertinya kamu lebih baik karena sudah membawa 2 wanita saja"(Dwarsen)
"Sembarangan saja. Kenalkan ini istriku, Valerie sedangkan dia cuma bawahanku, namanya Mia"
"Bener sih, tapi ko rasanya ada yang salah ya?"(Mia) "Wah Dwarf asli. Kenalkan aku Valerie. Aku ini penyihir dari Voldugur"(Valerie)
"Penyihir? Ingin senjata sihir?"(Dwarsen) "Ada?"(Valerie) "Valerie!" "Apa? Dia yang menawarkan"(Valerie)
"Senang rasanya bertemu manusia. Dan kamu kenapa menggunakan senjata itu?"(Dwarsen)
"Emang aku ini apa? Apa aku bukan manusia dimatamu?" "Ini?"(Mia) Mia menunjukkan tombaknya "Ini pemberian dari raja"(Mia)
"Apa kamu dari?"(Dwarsen) "Ya, dia dari Rodigur" "Begitu ya. Lebih baik kalian masuk dulu. Oh ya, Josh permintaanmu sudah selesai"(Dwarsen) "Ahh terima kasih"
Kami mengikuti Dwarsen masuk kedalam pemukiman
**TO BE COUNTINUE...***
__ADS_1