Runes Swordsman

Runes Swordsman
Part 110


__ADS_3

Kami sudah berada didepan gerbang yang luar biasa besar dan berat. Perang ini akan jadi pertarungan langsung karena tidak adanya petarung jarak jauh di pasukan ini


Semuanya hanyalah prajurit yang menggunakan pedang saja sampai dimana aku menepuk kepalaku


Bisa-bisanya pasukan duke yang besar tidak memiliki pemanah? "Seperti rencana yang kita rencanakan Karl pimpin pasukanmu untuk meracuni seluruh kota, mulai dari gerbang buat semua raksasa berkumpul ditengah"


"Sejujurnya sulit meracuni para raksasa dan membuatnya tidak bisa bertarung. Jika seluruh kota adalah hal mustahil meski menggunakan seribu orang"(Karl)


"Tidak harus sampai lumpuh cukup buat mereka tidak bisa menggunakan Force dan sulit bergerak saja" "Sepertinya yang itu masih bisa"(Karl)


"Terus Devan. BUNUH RAKSASA YANG MELAWAN. Kalau cuma itu saja kamu dan pasukanmu bisa kan?"


"Tentu saja kami bisa jangan anggap remeh pasukan dibawah duke"(Devan) "Bagus. Aku mulai. INFERNUS... INFERNUS...."


Aku mengeluarkan perang mithril ku. Warnanya berubah bersama dengan force milikku. Pedang yang kupegang sangat panas sampai membuat semua prajurit itu menjauhiku


Pedangku sangat merah bahkan lebih merah dari darahku seperti merahnya matahari. Pedang yang dibuat dengan jeri payah Dwarsen, pedang yang dibuat dari campuran Mithril yang berlapis


Bahkan aku masih ingat saat Dwarsen menempa pedang ini


FLASHBACK


"Hah?! Dwarsen mengunci diri dan tidak keluar sama sekali selama 3 hari ini?"


"Aku sudah kesulitan membujuknya, jangankan makan, dan minum. Buang air saja tidak. Pintu bengkel terbuat dari Mithril yang dilapisi Force orang biasa tidak bisa membukanya. Kalau bukan karena Force itu aku tidak yakin apa suamiku masih hidup"(Anita)


"Baiklah akan kucoba kesana" Aku pergi ke bengkel Dwarsen yang sekarang terkunci. dihadapanku ada gerbang besar dari Mithril yang dia buat sendiri


Dinding ini juga dilapisi bahasa Dwarf dan force yang menyelimutinya. Aku meninju dinding itu dengan tangan yang diselimuti Force


"DWARSEN!!! KAMU MASIH HIDUP KAN?" Tidak ada jawaban. Aku terus menggedor pintu tapi tetap tidak ada jawaban.


Akhirnya aku mengambil pedang dan menebasnya tapi itu tidak berguna. Setelah berusaha selama 1 jam akhirnya pintu terbuka bersama dengan asap merah panas yang mengalir keluar


Dwarsen terlihat memegang pedang ditangannya


"Kamu sudah datang? Kuserahkan ini padamu-"(Dwarsen) Dwarsen jatuh ketanah.

__ADS_1


Aku langsung menghampirinya "Dwarsen... TIDAK!!!... Akan kugunakan warisanmu dengan baik"


Dwarsen membuka mata dan memukul kepalaku


"Aku masih hidup tahu. Cepat bawa aku, aku lelah dan lapar"(Dwarsen) "Ya kirain dah gugur habis tiba-tiba tumbang begitu"


Aku menuntun Dwarsen ke dalam rumahnya. Anita yang melihat Dwarsen dengan senang menghampirinya dan memukulnya menggunakan panci


Setelah kejadian lucu itu Dwarsen makan seperti orang kelaparan. Makanan untuk 10 orang masuk dengan mudah kedalam perutnya


Baru kemudian kami mengobrol "Aku tahu kalau pedang buatanku tidak akan bisa mengalahkan pedang yang menemanimu selama ini. Tapi aku berani jamin kehebatannya"(Dwarsen)


"Aku pikir ini terlalu berlebihan lagipula aku belum membutuhkannya" "Pasti kamu memerlukannya cepat atau lambat. Kamu sudah menghadapi Stor pasti Dwargon akan mulai menyerang nantinya. Dengan kemampuanmu sekarang menghancurkan Mithril adalah hal yang mustahil"(Dwarsen)


"Apa dengan pedang ini aku bisa menghancurkan Mithril?" "Kalau kamu yang menggunakannya. Karena senjata itu Ekslusif untukmu, untuk menembus Mithril kamu perlu api yang sangat panas. Benar-benar panas sampai bisa membakar baju meski berjarak belasan langkah


Tapi saat kamu menggunakan Force sepanas itu dengan pedangmu. Pedangmu akan hancur dengan mudah"(Dwarsen)


Itu benar kejadian saat melawan Rodigur masih teringat dimana pedangku hancur karena tidak bisa menahan force milikku


"Tapi pedang itu berbeda. Aku membuatnya lebih tahan terhadap panas bahkan lebih tahan daripada mithril sekalipun. Aku tidak mengharapkanmu untuk selalu memakai pedang itu. Aku hanya berharap pedang itu akan berguna pada waktunya. Aku serahkan Mithril Killer padamu"(Dwarsen)


Aku menusuk gerbang dengan pedangku. Dengan mudah pedangku menembus gerbang mithril itu semudah menusuk mentega dengan besi panas.


Aku mengayunkannya keatas, membuat celah panjang dari mithril yang mencair keatas.


Sampai setinggi 3 kalinya tinggi manusia


Aku mengambil pedang angin dan terbang ke ujung retakan itu dan kembali menebas gerbang Mithril secara membujur


Celah panjang cairan mithril yang sampai menyentuh ujung dari gerbang terbentuk. Aku mendarat ditanah dan mengarahkan pedang anginku kearah gerbang


"Turbo" Tornado besar menghantam gerbang Mithril dan membuat gerbang mithril terbuka kedalam


"Maju" Karl dan pasukannya maju kedalam kota. Tidak menunggu lama force memenuhi pintu masuk dan berubah jadi kabut


Aku berjalan masuk diikuti Devan dan pasukannya "Jangan keluar dari kabut" "Dimengerti. SERANG!!!"(Devan)

__ADS_1


Devan menyerang para raksasa yang melawan. Berkat Force beracun yang menghilangkan force raksasa dan melambatkannya semuanya jadi mudah bagi pasukan Devan


Meski begitu tetap saja pertarungan berlangsung sengit ledakan terjadi dimana-mana dan banyak korban berjatuhan


Satu formasi force yang terdiri dari 20 orang tidak bisa menahan serangan raksasa apalagi setiap formasi dihancurkan seluruh pasukan terkena serangan balik


Memang kalau dilihat lebih bagus formasi elemen milikku. Pembersihan berlangsung dengan cepat banyak raksasa yang menyerah dan kupasangi kalung budak.


Dalam sekejap hanya mansion walikota yang tidak ditutupi kabut force. Pasukan Devan hanya menatap mansion itu dengan bingung karena disanalah satu-satunya tempat yang tidak ditutupi force


Didepan pintu mansion berdiri 4 prajurit dan walikota yang menggunakan zirah mithril lengkap


Aku berjalan melewati kabut itu dan berhenti didepan walikota


Pilar tanah muncul dikakiku membuat tinggiku sama seperti tinggi raksasa dihadapanku


"Aku sebagai salah satu panglima perang Voldugur meminta anda sebagai perwakilan kota ini untuk menyerah"


Walikota menatap kearahku dan melepas helmnya "Apa kamu yang bertanggung jawab atas semua ini?"(Walikota) "Benar. Selain raksasa yang ada disini semuanya sudah kalah dan tunduk pada kami"


"Hebat. Bahkan kalian lebih hebat daripara para kutu itu. Tapi aku tidak mau menyerahkan kota ini dengan mudah. Kamu harus mengalahkanku satu lawan satu. Kalau kamu menolak akan kuhancurkan seluruh kota ini bersama dengan kalian dan rakyat didalamnya"(Walikota)


"Panglima sebaiknya kita mundur dulu saja. Terlalu beresiko melawan pemilik kota ini"(Karl)


Aku menatap sekilas kearah Karl


"Baik aku terima itu. Karl bawa semua termasuk tawanan keluar kota. Pertarungan ini akan membawa kehancuran yang tidak bisa dibayangkan"


"PANGLIMA!!! Kenapa harus mengambil resiko lebih baik kita mundur saja semua rakyat disini sudah diambil sebagai budak. Kita sudah menang tidak ada yang tersisa selain kota kosong"(Karl) "Turuti saja Karl. Dan beritahu keadaan disini kepada orang diluar"


Karl berhenti membantahku "Hamba mematuhi perintah panglima" Karl mundur diikuti seluruh orang disana


"Baiklah saatnya bersenang-senang" Aku menarik semua pedangku menggunakan Force yang membentuk tangan untuk memegang setiap pedang


"AYO BERSENANG-SENANG!!!"(Walikota) Walikota memakai helmnya dan melesat kearahku. Aku melompat dan menghadapi serangan itu


Ledakan besar terjadi menandakan awal duel kita yang mempertaruhkan kota ini

__ADS_1


***TO BE COUNTINUE....***


__ADS_2