
Aku sempat meminta sesuatu pada Dwarsen. Bukan senjata tapi sesuatu yang lain, bagaimanapun Dwarf merupakan makhluk paling teliti dan kreatif didunia ini
"Hei.. Kenapa kamu disebut bukan manusia? Apa kamu membunuh para Dwarf?"(Valerie) "Sembarangan aja" "Josh itu tidak punya ambisi sampai aku merasa kalau dia itu lebih kaya boneka daripada orang"(Dwarsen)
"Tidak punya ambisi? Dia? Kayaknya benar deh"(Mia) "Aku punya. Ingin hidup tenang"
"Selamat. Itu bakal jadi mimpi yang mustahil"(Valerie)
"Sayangnya kamu benar" Kami masuk kedalam pemukiman Dwarf beberapa dwarf mulai terlihat dari balik rumah mereka
"Ternyata kalian ada banyak"(Mia) "Tidak banyak. Kami hanya ada 10 keluarga masing-masing memiliki 4 anak"(Dwarsen)
"Josh"(Anita) "Anita. Apa kabar?" "Berkat kamu tempat ini jadi menyenangkan. Dan pria gendut itu semakin mirip dengan ular"(Anita)
"Jangan menghinaku. Meski tua begini aku masih sanggup membangun istana sendirian"(Dwarsen)
"Iya, iya tukang besi. Ngomong-ngomong siapa 2 wanita cantik ini?"(Anita) "Yang ini Valerie dia istriku. Kalau itu Mia cuma bawahanku aja"
"Kenapa semakin lama aku semakin tidak dihargai ya?"(Mia) "Mau bagaimana lagi. Kamukan memang cuma bawahan aja"
"Kalau begitu. Nanti makan malam disini saja, sudah lama kita tidak makan bersama"(Anita)
"Kalau istriku tidak keberatan" "Kenapa harus keberatan? Kita kan belum ada koki dirumah"(Valerie)
Dwarsen kembali yang entah kapan dia perginya "Ini yang kamu minta"(Dwarsen) Dwarsen memberikan kotak kayu kecil kepadaku
"Apa itu?"(Valerie) "Berikan tanganmu" Valerie menuruti saja perkataanku dan memberikan tangannya
Aku melepas cincin di jarinya dan membuka kotak ditanganku. Kotak ditanganku merupakan sepasang cincin yang seperti terbuat dari kaca
Aku memasangkannya satu pada jari Valerie
"Cantiknya. Apa ini tidak bahaya?"(Valerie)
"Tenang saja. Ini tidak terbuat dari kaca. Tadinya aku ingin menunggu cincin ini selesai sebelum menikah denganmu. Tapi sudah keburu dipanggil raja duluan"
"Susah tahu membuat besi jadi setipis dan setransparan itu. Jika bukan para dwarf sampai mati juga manusia tidak bisa membuatnya. Tapi kamu terus-terusan menghina cincin itu"(Dwarsen)
"Aku tidak menghina cincin ini ko. Ini sudah cukup" "Ini dari besi? Serius?"(Valerie) "Tidak seluruhnya. Tapi lebih baik kamu tidak tahu"
__ADS_1
"yasudahlah kalau begitu. Ngomong-ngomong karena ada Dwarf apa disini ada mithril?"(Valerie) "Ada"(Dwarsen)
"Katamu tidak ada"(Valerie)
"Aku mau menyembunyikan informasi tentang Mithril serapat mungkin" "Kenapa? Bukanya bagus ya kalau semua tahu"(Valerie)
"Selain Dwargon yang bakal menyerang lebih ganas. Juga karena raja itu sendiri" "Jika raja sampai tahu pasti daerah ini akan diambil seutuhnya"(Mia)
"Jadi itu alasannya"(Valerie) "Ada yang lainnya juga sih. Tapi utamanya itu" "Jadi Dwargon bekerja sama dengan Stor untuk mengambil para Dwarf ini?"(Mia)
"Kerajaan itu mah. Tidak perduli sama sekali soal kita, yang mereka perdulikan cuma sumber Mithril yang kita bawa"(Dwarsen)
"Sumber Mithril? Kukira tidak ada urat Mithril disini?"(Valerie) "Memang tidak ada" "Mithril tidak berasal dari bebatuan secara langsung"(Dwarsen)
"Benarkah? Padahal aku mau melihat cara menambangnya"(Valerie) "Tunggu dulu. Kamu benar-benar mau lihat cara menambang Mithril?"
"Iya. Apa tidak boleh?"(Valerie) Sebenarnya sih, aku juga tidak tahu cara menambang Mithril. Tapi menurut proses yang dijelaskan Dwarsen.
Sepertinya perlu waktu lama "Tidak masalah"(Dwarsen) "Apa kamu serius? Makan waktu berapa lama?"
"Paling cepat 1 jam sih tapi kalau mau kualitas yang bagus perlu waktu 10 jam"(Dwarsen) "Jadi beneran boleh nih?"(Valerie)
"Ya. Kalau kamu serius ikuti saja aku"(Dwarsen) Dwarsen pergi ke gudang, mendorong kereta tambang yang dipenuhi biji besi, Anvil dan palu
Aku meraih tangan Valerie "Kamu serius ingin melihatnya? Ini kesempatan terakhir lo, jangan sampai menyesal"
"Ya aku mau tahu"(Valerie) "Terserahlah. Aku sudah memperingatkan" kami berjalan kearah gua tempat cacing itu hidup.
Didepan gua. Dwarsen duduk ditanah meletakkan Anvilnya dan menggosok Anvilnya
Aku baru sadar ada tulisan aneh yang ada didasar Anvil itu. Force merah menyelimuti Anvil dan merubah Anvil sepenuhnya dari hitam jadi merah.
"Jadi itu caramu menempa?" "Disini tidak ada api. Dwarf itu hidup dengan menempa, tidak perduli apa ada api atau tidak"(Dwarsen)
"Tanpa tungku?" "Aku sudah tidak perlu tungku lagi untuk menempa"(Dwarsen) Dwarsen mengambil biji besi dan meletakkannya diatas Anvil dan mulai memukul-mukulnya.
Suara dentingan besi membuat cacing itu bergerak. Sepertinya Mia menyadarinya "Apa itu?"(Mia) "Diamlah"
Untung saja Valerie tidak sadar. Aku mau tahu seterkejut apa dia nanti. Biji besi yang tidak beraturan sudah berubah jadi lempengan.
__ADS_1
Dengan santai Dwarsen mengambil lempengan besi dan melemparnya kearah cacing.
Cacing membuka mulutnya dan menelan lempengan itu "Astaga apa itu?"(Valerie)
"Itu adalah sumber Mithril" "Bukanya itu monster?"(Valerie) "Mungkin"
Cacing itu memuntahkan besi yang sudah tidak jelas bentuknya. Dwarsen mengambil besi itu dan kembali menempanya setelah ditambahkan biji besi lainnya
"Kenapa kamu kembali menempa muntahan cacing itu?"(Valerie) "Diamlah. Valerie, kalau mau lihat Mithril lebih baik kamu diam"
Proses itu diulangi sampai 4 kali. Setelahnya Dwarsen membentuk besi itu jadi bola. Aku bisa merasakan ada Force yang terkandung dalam bola besi itu.
Force merah keluar dari bola besi kembali ke Dwarsen. Dan jadilah bola besi tapi lebih transparan dan halus.
Kalau ada yang bilang itu kristal aku percaya
"Sudah jadi"(Dwarsen) "Ini.. Mithril? Benar ini Mithril"(Valerie) "Sebenarnya perlu beberapa kali lagi. Tapi kalau cuma ingin tahu, ini saja sudah cukup"(Dwarsen)
"Aku tidak percaya. Untuk mendapatkan Mithril harus melalui tahap itu"(Valerie)
"Mengejutkan ya? Aku saja awalnya juga kaget"
"Aku penasaran bagaimana reaksi guru kalau tahu ya?"(Valerie) "Aku ingin merahasiakan hal ini"
Dwarsen memberikan bola besi itu padaku "Untukmu"(Dwarsen) "Untuk apa ini?" "Entahlah dijual mungkin?"(Dwarsen)
"Kamu ingin aku mendapat masalah ya?" Kami kembali ke pemukiman Dwarf. Kami disana sampai malam karena para Dwarf menggelar pesta sederhana.
Setelah malam aku dan Valerie kembali ke benteng. Aku memutuskan untuk tidur di benteng daripada di rumah.
Selain belum siap, Valerie sudah tidak sadarkan diri. Jadi benteng merupakan keputusan yang tepat.
Aku dan Mia berpisah. Aku memberikan Mia kamar sendiri di lantai bawah dari benteng dan aku membawa Valerie ke kamar utama milikku untuk tidur.
Besok masih ada segudang pekerjaan yang menunggu untuk di urus. Dan sepertinya aku akan kesulitan untuk beristirahat
****TO BE COUNTINUE...***
Sedikit info Anvil itu merupakan lempengan besi dengan berat beragam yang digunakan untuk bantuan menempa. Bahasa indonesianya Besi Paron
__ADS_1
Ini gambarnya**