Runes Swordsman

Runes Swordsman
Part 14


__ADS_3

Keadaan tempat ini jadi kacau. Asap dan uap menyelimuti seluruh tempat. Valerie sendiri tidak terluka dan dia menatap genangan air merah.


Aku mendekati wanita itu "Maafkan hamba atas tindakan hamba barusan" "Tidak perlu. Lagipula aku yang memulainya"(Valerie)


Gaun Valerie yang robek sana sini membuatku keringat dingin. Jika Count melihatnya aku harus mengucapkan selamat tinggal untuk hari esok.


"Apa air itu aman?"(Valerie) "Tidak!!!... Air itu berbahaya jangan digunakan untuk apapun!"


Valerie malah menatapku


"Bahkan untuk diminum?"(Valerie) "Apalagi diminum. Tidak... Jangan coba-coba meminum air itu. Lebih baik nona ganti baju dulu. Atau kepalaku yang akan lepas dari tubuhku"


"Tapi aku masih penasaran. Ahh tunggu sebentar"(Valerie) Valerie berdiri dan pergi darisini.


Aku harap dia ganti bajunya. Mungkin aku bisa merapikan kekacauan yang aku buat.


Tapi darimana? Semuanya hancur berantakan seperti ini.


Valerie datang membawa kelinci saat aku mengangkat sisa-sisa kursi dan meja. Apa yang dia mau lakukan pada kelinci itu?


Jangan-jangan!!! "Nona!!" "Minum!!"(Valerie)


Kelinci itu dipaksa minum air merah yang menggenang. Tidak!!!!


Aku langsung berlari kearahnya tapi terlambat. Kelinci itu meminumnya dan aku langsung menatap nona itu dari dekat.


AKU JADI KELINCI!!!! "Tidak terjadi apapun. Harusnya tidak beracun kan? Ya kan?"(Valerie)


Nona itu menatap tubuhku yang tidak sadarkan diri "Kenapa dia? Kayaknya tadi masih sehat"(Valerie)


Aku baru mau melompat ketubuhku, tapi aku diangkat nona ini "Tidak perduli dilihat darimanapun sepertinya kelinci ini tidak ber-"(Valerie)


Aku menempelkan kaki belakangku kewajah nona itu "Kelinci sialan"(Valerie) Aku langsung meloloskan diri dan melompat ketubuhku


Aku membalikkan tubuhku dan menatap mataku. Wajah kelinci terlihat, aku sudah kembali.


Aku langsung mengambil kelinci itu dan melihat Valerie yang sudah mengeluarkan bola api


"Jangan bilang kamu ingin membunuhku?"

__ADS_1


"Ohh, kamu sudah sadar. Baru saja aku mau memasak kelinci itu"(Valerie)


"Kan sudah kubilang jangan diapa-apakan air itu" Aku menarik Force dikelinci, dalam sekejap kelinci itu lemas dan pingsan


"Jadi air itu beracun? Kelincinya langsung mati begitu saja?"(Valerie) "Tidak dia tidak mati" Aku meletakkannya ditanah, dan kelinci itu kembali melompat dan pergi.


"Sebenarnya apa akibat jika meminum air itu?"(Valerie) "Kesadaranku akan masuk kedalam hewan yang meminum air itu"


"itu mengerikan"(Valerie) "Memang" "Kalau manusia yang meminumnya?"(Valerie) "Tidak berefek pada manusia. Hanya saja keperibadian yang meminumnya akan terganggu dengan kepribadianku"


Suara belasan langkah kaki terdengar, saat aku baru saja berdiri para pasukan sudah muncul dan mengepung sekitarku.


Baiklah, aku harus menjelaskannya sedikit demi sedikit. Tapi jika dilihat dari keadaan Valerie. Kayanya aku akan tetap mati hari ini


"Ada apa ini?"(Pria) "Ayah?"(Valerie) Jadi dia count. Baiklah keadaan ini akan semakin buruk saja


"Siapa kamu? Beraninya masuk dan menyerang putriku. Prajurit tangkap dia"(Count)


Prajurit disekitarku mencabut pedangnya dan ditodongkan kearahku "Nona, jika kamu tidak menjelaskan. Aku akan mati lo"


"Baiklah, ayah ini cuma kesalahpahaman"(Valerie) "Apa yang salah paham? Sudah jelas dengan keadaan disekitar tempat ini kalau terjadi pertarungan. Dan lihat gaun mu sudah jelas itu tindakan melecehkan kepadamu. Prajurit bunuh dia!!"(Count)


Lizra berjalan dari belakang count dengan santai "Guru"(Valerie) "Lizra?" "Tidak perduli apa katamu ini sudah jelas penghinaan terhadap keluargaku. Jadi dia harus mati"(Count)


"Terlalu cepat mengambil keputusan itu tidak baik bukan begitu muridku"(Lizra) Lizra menatap Valerie dan Valerie langsung ciut


"Itu..."(Valerie) "Ayo jelaskan kenapa ini terjadi"(Lizra) "Baiklah guru. Ini salahku"(Valerie) "Sudah dengarkan, Gard putrimu sudah mengaku"(Lizra)


"Jangan bercanda. Sudah jelas kamu menekannya seperti itu"(Count) "Baiklah kalau begitu. Jelaskan saja kenapa ini terjadi dan ini salah siapa"(Lizra)


"Tapi guru..."(Valerie) "Kamu harus tanggung jawab"(Lizra) "Baiklah. Ayah ini salahku aku sedikit bermain dengan sihir"(Valerie)


"Sudah jelaskan"(Lizra) "Tapi apa yang dilakukan orang itu disini?"(Count)


"Aku yang mengundangnya. Tapi kamu sedang bicara dengan Baron. Saat aku mencarinya pelayan mengatakan kalau dia ada disini. Jadi kenapa ya dia disini?"(Lizra)


"Aku ingin melihatnya guru"(Valerie) "Ya, baiklah masalah sudah selesai. Lebih baik kamu ganti bajumu, aku ingin bicara dengan Josh"(Valerie)


"Terus dia?"(Count) "Apa masih mau dipermasalahin lagi?"(Lizra) "Tidak. Baiklah aku mengerti, kalian semua bersihkan tempat ini!!"(Count) "Tidak perlu. Kalian cukup pergi saja"(Lizra)

__ADS_1


"Paling tidak teh dan tempat duduk"(Count) "Kalau teh tidak masalah. Siapkan saja dan maaf merepotkan"(Lizra) "Tidak masalah"(Count)


Sepertinya kedudukan Lizra lebih tinggi daripada Count ya. Count dan semua prajuritnya pergi. Diikuti Valerie yang juga pergi


"Siapkan meja!!"(Lizra) "Apa tidak apa-apa dari tanah? Terra" Aku menulis rune dengan tanganku.


Tanah merah meninggi setinggi pinggang dan dadaku. Ini yang akan jadi meja dan kursi


"Santai saja tidak perlu tegang"(Lizra)


"Aku tahu. Tapi kenapa kamu memanggilku?"


"Aku tidak memanggilmu"(Lizra) "Tapi tadi?"


"Sejujurnya dari awal aku tidak memanggilmu. Tapi tidak bisa dipungkiri hal ini terjadi karenaku juga"(Lizra)


"Maksudnya?" "Ya, aku menceritakan pada Valerie tentangmu, termasuk kamu lebih ahli terhadap rune daripada dirinya meski bukan penyihir"(Lizra)


"Jadi karena itu" "Pasti kalian puas bermain kan?"(Lizra) "oh ya itu benar. Aku hampir mati 2 kali hari ini. Oh sama yang tadi 3 kali"


Lizra tertawa, dikejauhan Valerie dan pelayannya datang membawa teh dan kue. Pelayan itu menatap jijik pada meja dan kursi dari tanah buatanku.


Valerie duduk disamping Lizra "Apa yang guru bicarakan?"(Valerie) "Masa lalu. Kalian bisa pergi aku ingin bicara pribadi dengan mereka"(Lizra) Pelayan membungkuk dan pergi


"Kamu benar-benar cari masalah saja"(Lizra)


"Habis. Guru memujinya, aku yang merupakan murid satu-satunya guru saja tidak pernah dipuji"(Valerie)


"Aku cuma mengatakan betapa berbakatnya muridku yang satu ini"(Lizra) "Muridmu yang ini guru"(Valerie) "Sejak kapan aku jadi muridmu? Aku cuma meminta kamu menganariku membaca dan menulis saja"


"Mau bagaimana lagi, kamu jauh lebih berbakat daripada Valerie"(Lizra) "Guru"(Valerie) "Coba kalau kamu mau jadi muridku, pasti bakal lebih sukses. Tapi tidak masalah sih, nilaimu sebagai penelitian tidak berkurang"(Lizra)


"Guru mulai lagi"(Valerie) "Sifatmu itu tidak berubah selama ini ya"


"Maaf saja ini sudah bawaanku. Jika diperhatikan kalian cocok juga. Bagaimana jika begini kalian menikah saja dengan begitu aku jadi sering bertemu denganmu"(Lizra)


"HAH???!!! YANG BENAR SAJA?"(Aku, Valerie)


**TO BE COUNTINUE...***

__ADS_1


__ADS_2