Runes Swordsman

Runes Swordsman
Part 78


__ADS_3

Aku kembali ke desa dengan beberapa yang luka ringan. Tidak ada korban jiwa dalam pertarungan ini.


Setelah mengurus yang terluka, aku langsung menemui Dwarf untuk melihat para badak itu. Aku harus tahu cara membuat kristal sihir dan juga alat pengendali monsternya


Begitu aku memasuki desa bawah tanah ada terowongan baru yang cukup asing untukku. Aku mengikuti terowongan itu sampai aku melihat para Dwarf membawa kandang besi raksasa


"Dwarsen.. Bagaimana?" "Ohh Josh.. Kami berhasil menangkap mereka semua"(Dwarsen)


"Baguslah. Skull Rhinonya?"


"Kami meletakkannya didalam kandang Mithril harusnya tidak akan bisa mereka hancurkan"(Dwarsen)


"Kalau mau aman lebih baik mereka dibunuh saja" "Aku setuju soal itu. Hanya saja tidak bisa sekarang, aku perlu contoh hewan hidupnya untuk membuat alat pengendali monsternya"(Dwarsen)


"Aku mengerti" Valerie keluar dari lorong bersama Anita "Josh.. Kerjamu bagus"(Valerie) Aku menatap Valerie heran


"Apa yang kamu lakukan disini?" "Aku? Aku membantulah"(Valerie) "Emang apa yang kamu lakukan sehingga bisa membantu?"


"Untuk membuat kristal sihir perlu penyihir Josh. Karena itu istrimu disini"(Dwarsen) "Jadi begitu"


"Kamu kebanyakan memandang rendah aku"(Valerie)


"Kebetulan juga karena sekarang aku ingin membuat kristal sihir. Apa kamu mau lihat?"(Dwarsen)


"Tentu saja" Aku mengikuti Dwarsen bersama Anita dan Valerie "Sepertinya kewajibanmu menjaga tanah ini sangat berat ya?"(Anita)


"Begitulah. Lagipula ini kewajibanku sebagai tuan tanah ini" "tenang saja kamu tidak sendirian. Meski kami tidak bisa membantu secara langsung, kami akan mendukungmu melalui hasil tempa kami"(Anita)


"Ya terima kasih" Dwarsen membuka pintu batu raksasa dengan Force. Ada altar dari mithril di tengah ruangan dengan bagian atasnya inti monster


"Nyonya ayo kita mulai"(Dwarsen) "Baiklah"(Valerie) Valerie maju kedepan altar itu


Dwarsen berdiri di dekat Altar


"Hmm.. Tidak berbahaya kan?" "Tenang saja tidak akan ada masalah. Ayo dimulai Nyonya"(Dwarsen)


Mana meluap keluar dari tubuh Valerie "Force"(Dwarsen) Dari tubuh Dwarsen force merah keluar menyelimuti seluruh dinding dan altar

__ADS_1


Menuliskan sesuatu di segala tempat hanya saja bukan rune atau bahasa biasa. Aku tidak bisa membacanya sama sekali


Force Dwarsen memasuki inti monster dan dalam sekejap force kuning dari inti monster keluar semua dan mendorong mundur force Dwarsen


"Kita mulai"(Dwarsen) Seperti mengaduk. Force Dwarsen menyatukan foce dari inti monster dengan mana milik Valerie


Sedikit demi sedikit force dari inti monster berubah jadi mana. Dan ditekan force Dwarsen kembali ke inti monster.


Begitu force yang berubah jadi mana memasuki inti monster. Inti yang seperti batu berubah jadi seperti kaca


"Tahap akhir"(Dwarsen) Semua tulisan di seluruh gua hancur menjadi force dan menyelimuti inti monster.


Force itu semakin kecil dan kecil sampai hanya menyelimuti inti monster. Sampai lebih kecil sebelum Force itu tiba-tiba meledak.


"Sudah selesai" Inti monster yang tadinya batu berubah jadi kristal dengan warna kuning cerah seperti topaz


Valerie menghampiri kristal itu "Tingkat tinggi. Lebih baik dari sebelumnya"(Valerie) "Aku sudah belajar cara tepat menanganinya. Sekarang bagaimana dengan alat penjinak monsternya?"(Dwarsen)


"Kalau bisa dibuat sekalian" "Butuh sedikit waktu sih. Tapi tidak masalah"(Dwarsen) Kami berangkat lagi ke gua yang lebih dalam


Kali ini selain altar ada Skull Rhino yang terikat juga "Apa nanti kamu butuh bantuan?" "Untuk kali ini sih tidak. Tapi lebih baik jaga-jaga saja jika badak itu lepas"(Dwarsen)


Begitu Dwasen sampai didepan altar. Dwarsen mengangkat palu kecilnya dan memukul inti monster itu.


Force meledak dari inti itu langsung ditahan oleh Force Dwarsen. Dwarsen menunjuk kearah Skull Rhino.


Force membentuk tombak ditangannya dan meluncur kearah Skull Rhino. Skulk Rhino tertusuk tombak force itu dan mengamuk.


Aku menghalangi Skull Rhino sambil mengayunkan pedangku. Dan badak itu menghantamkan tengkorak luarnya kearahku.


Ledakan terjadi dan aku terdorong mundur


"Jangan sampai dia mati dulu"(Dwarsen) "Aku tahu. Terra" Dinding muncul di kanan dan kirinya memmbuatnya tidak bisa bergerak


"Jangan dikurung sepenuhnya. Jika forcenya tidak mengalir aku gagal"(Dwarsen) "Ya aku mengerti. Serahkan badak ini padaku, fokus buat benda itu saja"


Setiap Dwarsen memukul palunya, badak ini semakin gila. Aku mulai kesulitan membatasi gerakannya

__ADS_1


Semua itu berlangsung selama beberapa jam. Untungnya setelah 2 jam gerakan badak itu melambat dan dia mulai lemas


Setelah 4 jam badak itu mati dan benda pengendali badak ini sudah selesai. Aku mendatangi Dwarsen


"Kerja bagus" Dwarsen memberikan semacam bola kristal "Apa ini?" "Benda yang kamu mau. Tinggal alirkan Force selama masih berjarak 30 meter bisa kamu kendalikan para Bone Rhino.


Tapi mereka hanya bisa menjalankan perintah sederhana saja"(Dwarsen)


"Aku mengerti. Tapi bagaimana jika ada Skull Rhino yang memimpin?" "Itu tak masalah. Dengan bantuan benda itu kamu bahkan bisa membuat bingung Skull Rhino dan memecah pasukan Bone Rhino. Meski sekarang aku tidajj tahu apa masih ada dari mereka yang tersisa?"(Dwarsen)


"Benar juga. Sisa dari mereka kan.... Disini, aku ada ide lain" "Ide gila lain?"(Valerie) "Bukan ini ide berbahaya"


Valerie menatapku dengan sinis "Sejak kapan ide mu aman? Apa itu?"(Valerie) "Bagaimana kalau kita membuat pasukan penunggang monster"


Valerie menatapku dengan pandangan khawatir


"Itu ide yang bagus sih"(Dwarsen) "Apa kamu cari masalah?"(Valerie)


"Apanya? Dengan kita memiliki pasukan penunggang monster kita akan memiliki salah satu pasukan terkuat didunia"


"Ya itulah bodoh. Kamu akan menarik perhatian istana. Apa kamu tidak tahu kalau putra mahkota menargetkanmu? Apa kamu mau mati lebih cepat?"(Valerie)


Benar juga raja dan putra mahkota itu selalu bermasalah denganku. Ahhh... Ini benar-benar membuatku frustasi.


"Sayang sekali padahal itu ide bagus. Padahal aku bisa menyarankan untuk menangkap Hills kingkong atau hewan berukuran raksasa untuk jadi senjata pemusnah masal"(Dwarsen)


Aku jadi membayangkan Hills kingkong dengan badannya yang besar membawa meriam sihir dan belasan prajurit elang


Semengerikan apa itu? "Sayang sekali ya. Itu saja kalau begitu, aku kembali dulu masih banyak yang harus kubereskan karena kejadian ini"


"Ya lain kali bawa akholol ya"(Dwarsen) "Ya aku akan bawa akholol yang cukup untuk membuatmu meledak nantinya"


Dwarsen tertawa keras sementara aku dan Valerie kembali. Aku dan Valerie tiba di benteng Monrra beberapa jam kemudian


Baru saja keluar Sirus sudah mendatangi "Kucari dari tadi kemana kamu?"(Sirus) "Kenapa? Apa ada masalah?" "Ada surat dari pasukan tikus"(Sirus)


Sirus memberikan kertas padaku "Kalian sudah membacanya?" "Maaf soalnya ini kabar penting"(Sirus)

__ADS_1


Aku membaca surat itu dan tercengang. Ini kabar yang gawat


**TO BE COUNTINUE...***


__ADS_2