
Setelah kepulangan Baron Vendra kami mulai mendaki gunung. Awalnya aku pikir akan sulit ternyata biasa saja.
Hanya saja gerobaknya harus ditinggal dikaki gunung karena medannya yang terjal. Aku memperhatikan jalan dan menyadari satu hal.
Aku sendirian?!!! Pada kemana yang lain? Aku kembali dan melihat para pasukanku yang sudah tepar ditanah
"Kalian kenapa?" "Tuan yang kenapa. Hosh..hosh... Manusia macam apa yang mendaki gunung selama 7 jam tidak istirahat?"(Stain)
"Sudah 7 jam?" Aku melihat keatas. Tapi matahari tidak terlihat "Darimana kamu tahu sudah 7 jam? Diatas tidak ada matahari"
"Mataharinya disana!!"(Stain) Stain menunjuk kearah barat. Dan aku baru melihat mataharinya.
Kayaknya emang sudah lebih dari 7 jam deh
Akhirnya kami istirahat tanpa makan. Semua prajuritku sudah pingsan bahkan Stain juga
Padahal aku sudah mendaki gunung dari umur 13 tahun
Itu saja tidak pernah melihat orang selemah mereka dah. Malah pernah karena terobsesi jadi Swordsman aku berlari dari kaki gunung bolak balik sampai tengah hari
Tapi tidak pingsan seperti mereka. Aku tidak percaya kualitas prajuritku selemah ini
Setelah mereka sadar dan makan
Kami mulai bergerak lagi. Hari sudah mulai gelap, tenda mulai didirikan dengan tanah. Kayaknya pasukanku sudah tidak butuh tenda lagi
Menurut pasukan gagak, mata air dan sungai itu ada didepan sana. Jadi karena sudah mulai malam, tidak bagus melawan monster saat seperti ini jadi kami memutuskan melawan mereka besok pagi.
Keesokan harinya setelah sarapan. Kami bersiap untuk berperang, semuanya sudah bersiap dari fajar tidak memperdulikan rasa dingin karena digunung
"Monster apa saja yang ada disana?" "Ada Aquamarine Crocodile, giant crocodile, Iced Lizardman dan River Lizardman"(Prajurit gagak)
Iced Lizardman dan Aquamarine Crocodile adalah monster dengan inti yang kucari
"Baiklah jadi pertama. Pasukan beruang kepung tempat ini agar tidak ada yang lari dan biarkan jalan didepan kita jadi jalan yang terbuka. Setelah kalian menarik semua musuh kesini, aku akan mengurus Aquamarine Crocodile dan Stain urus Iced Lizardman"
"Baiklah"(Stain) "Kami mengerti"(Seluruh pasukan) Aku dan Stain mendekati sungai, memang hanya terlihat 2 monster besar disini dan belasan monster kecil
Tapi aku tidak tahu dengan yang didalam sungai.
Sungai ini sangat besar, bahkan Aquamarine Crocodile yang memiliki tinggi 5 meter saja bisa muat
__ADS_1
Pasti didalam sungai sana memiliki beberpa jenis monster lain. Tidak masalah lah, aku kesini dengan niat membasmi ekosistem mereka!
Dinding warna warni berdiri memutari seluruh sungai ini. Semua dinding itu rapat dan tidak memiliki celah.
Saat para Monster terkejut, panah melesat mengenai beberapa monster dan menarik perhatian mereka.
Semua monster itu terpancing ketempat satu-satunya jalan yang tidak ditutupi dinding
Iced Lizardman juga bergerak kesana tapi diserang lebih dulu oleh Stain.
Aku juga mulai bergerak, dengan cepat aku melompat naik keatas punggung Aquamarine Crocodile
Tubuh buaya ini bersinar seperti permata Saphire, dan tentunya sangat keras juga. Aku menusukkan pedang petir
"Tonitribus!!!!" Petir merah mengamuk begitu juga dengan buaya yang kuinjak. Sepenuh hati dia berusaha menjatuhkanku.
Sisik-sisik buaya pecah sedikit demi sedikit, pecahannya setajam pisau dan silet bahkan saking tajamnya tanganku terasa putus meski hanya tergores
Buaya ini menyelam kedalam air. Aku berusaha melompat dari punggung buaya ini. Tapi pedangku tersangkut dan sudah terlambat untuk melepas pedangku
Aku cuma sempat menulis rune di pedang ini, dan belum sempat menggunakannya. Aku sudah tenggelam kedalam air.
SIALAN!!!! Aku berhasil menarik pedangku, tapi aku tidak bisa berenang ke permukaan. Semua air ini menahanku agar tidak bergerak.
Buaya itu membuka lebar-lebar mulutnya. Batu raksasa seukuran rumah terlihat disana. Aku dengar buaya sengaja menelan batu agar bisa menyelam.
Meski itu benar kayaknya batu sebesar itu agak sedikit keterlaluan dah. Air berkumpul di batu itu membuat batu itu melesat dengan cepat kearahku
YANG BENAR SAJA. AQUA!!!! Air disekitarku jadi merah. Aku menggunakan air itu untuk menahan batu itu paling tidak melambatkannya
Sementara aku mendorong tubuhku ke permukaan. Tapi tetap saja batu itu terlalu besar, aku terkena dan terdorong batu itu.
Jika mencapai dinding lebih dulu, aku akan mati. Air merah ini menusuk batu dari segala sisi dan akhirnya batu itu hancur
Tapi buaya itu langsung muncul dan membuka mulutnya lebar-lebar. Aku tidak bisa menghindar selain air disekitar menekanku ukuran buaya itu terlalu besar dan mulutnya juga terlalu lebar
Aku mengendalikan semua air merah untuk menyumpal mulut buaya itu. Buaya itu memberontak karena mulutnya tidak bisa ditutup.
Melihat kesempatan ini, aku langsung melesat kepermukaan. Aku berhasil sampai di permukaan, dengan susah payah aku mengeluarkan pedang es dan membekukan air disekitarku
Untuk membuat pijakan dan berdiri diatasnya.
__ADS_1
Sekarang dimana buaya itu? Aku tidak mungkin masuk kedalam air lagi kan?
Tiba-tiba es merah yang kuinjak hancur oleh buaya itu dengan mulutnya. Masalahnya aku ada ditengah-tengah mulut buaya itu.
Aku mengeluarkan pedang angin dan membuat angin besar yang mendorong tubuhku keatas sebelum mulut buaya itu menutup.
Aku membuat es lagi sebagai pijakan dan buaya itu mulai naik keatas pijakan esku.
"Sudah naik jangan harap bisa kembali keair lagi
Glacies"
Seluruh sungai membeku menjebak buaya agar tidak kembali kedalam air. Aku berlari kearah buaya itu
"Tonitribus" Ratusan petir merah menyambar tubuh buaya itu. Menggangunya tapi tidak melukainya
Aku muncul disamping kepalanya dan menusuk pelipis buaya itu. Buaya itu berusaha mengusirku dengan menggelengkan kepalanya.
Keras sekali kulitnya, pedangku tidak bisa menembusnya. Cakar buaya itu berusaha menepukku memaksaku untuk mundur.
Buaya itu mengangkat cakarnya dan menghantam es. Es retak dan langsung hancur membuat buaya itu kembali kedalam air.
Baru sebentar mengehela nafas sekejap. Air keluar dari sungai dalam bentuk jarum besar menyerang kearahku.
Aku mengendalikan air merah dan langsung membuat dinding air didepanku menahan serangan air itu.
Sungai bergejolak dan ombak raksasa menerjang kearahku. Ditengah ombak itu si buaya raksasa berada
"Menyebalkan sekali. Turbo" Aku mengayunkan pedang anginku. Gelombang angin beruntun menabrak gelombang air milik si buaya itu
Air yang menyelimuti buaya itu terpecah kebelakang sehingga buaya itu terlihat
Aku membekukan lagi air sungainya dan langsung menghadap buaya
Aku mengayunkan pedang anginku keatas tepat dibawah mulut buaya. Tornado terbentuk langsung menerbangkan buaya ke pinggir sungai.
Aku melompat dan menusukkan pedangku ke dada buaya itu. Tornado menyelimuti pedangku sedikit demi sedikit melubangi tubuh buaya itu.
Dan akhirnya aku berhasil menembus kulit buaya itu. Ini kemenanganku
**TO BE COUNTINUE...***
__ADS_1