
Serigala itu menyerangku dengan cakarnya. Aku mundur sambil mengayunkan pedang keduaku
"Ignis"
Dari pedangku keluar gelombang api yang langsung membakar seluruh tubuh serigala itu.
Dengan force aku mengendalikan semua api itu agar menahan seluruh tubuhnya.
Serigala itu mengayunkan cakarnya membelah api yang menutupi tubuh bagian depannya dan menerkam kearahku
Aku mengayunkan pedangku membuat beberapa pilar batu menghalangi jalan serigala itu. Beberapa muncul dari bawah perutnya mendorong serigala itu menjauh.
Tiba-tiba aku merasakan perasaan berbahaya. Sehingga aku tiarap ditanah secara langsung, hal mengejutkan terjadi.
Semua pilar batu merah itu terbelah secara langsung. Bahkan pasukanku dibagian belakang terkena luka tebasan didada yang tidak bisa ditahan oleh zirah sekalipun.
"Kalian semua mundur!!! Biarkan aku saja yang melawannya. Urus serigala pedang saja" Serigala itu kembali menerkam kearahku
Aku mengayunkan pedangku dan membuat gelombang tanah merah yang langsung menghantam serigala itu.
Gelombang tanah itu terbelah dan hancur, serigala yang sekarang terbakar melesat cepat kearahku
"Turbo" Dengan ayunan pedangku tornado raksasa terbentuk. Serigala itu berhasil menghindari tornado itu dan melesat kearahku.
Aku juga melesat maju kearahnya, cakar ditangannya memanjang dan mengayun kearahku.
Dengan pedang angin, aku berhasil menghindarinya tapi semua yang dilewati cakar itu terbelah.
Pedangku menghantam badan serigala itu membuatnya terdorong kebelakang. Tornado angin merah berbalik dan menyelimuti serigala itu.
Api ditubuhnya menyatu dengan tornado membuat tornado api raksasa. Hanya saja itu tidak bertahan lama
Ledakan terjadi membubarkan tornado ku dan serigala itu menerkam kembali kearahku
"Fulgur" Petir merah dari pedangku menyambar kearah serigala itu membuatnya terjatuh kebawah.
Tanah naik dan mengubur seluruh badan serigala itu. Tidak menunggu lama sebelum kepala serigala itu keluar dari dalam tanah.
__ADS_1
Aku melesat kearah serigala itu dan menusukkan pedangku. Tanah hancur dan cakar serigala itu keluar sambil mengayun kearahku.
Aku berhenti dan dinding tanah merah terbentuk didepanku. Dinding itu hancur oleh cakar serigala itu, meski begitu dia masih terkurung didalam tanah.
Hanya satu cakarnya saja yang baru keluar. Jangkauan serangannya lebih sempit, dan aku akhirnya tahu kelemahan serigala itu
"Mundus!!!" Tsunami tanah merah terjadi, serigala mengayunkan cakarnya yang tidak terkubur. Setiap gelombang tanah itu terbelah, itu kembali menyatu lagi.
Kali ini ledakan terjadi gelombang tanah itu hancur seutuhnya. Tapi itulah yang aku tunggu, tornado merah terbentuk diatas kepala serigala itu sementara dia teralihkan dengan tsunami dari tanah.
Tornado itu turun dan berputar keras diatas kepala serigala itu. Darah mulai keluar dari kepalanya, sementara rahang serigala itu mulai kembali terkubur
Serigala itu membuat rauangan keras yang langsung menghancurkan sekitarnya bahkan sebagian tanah yang menguburnya juga hancur
Tapi siapa yang bilang ini sudah selesai? Force merah dalam bentuk angin menahan seluruh pergerakan serigala itu.
"Infernus" Api berkumpul dipedangku, sampai menjadi padat. Aku langsung menusukkannya kedepan
Cahaya api raksasa langsung menghantam serigala itu dan membakarnya. Serigala itu kembali meraung dan seranganku langsung hancur, aku juga terdorong mundur.
Serigala itu sudah dalam keadaan kacau balau. Api masih membakar punggung sampai keekornya, darah menutupi seluruh kulitnya, bulunya sudah hangus terbakar.
"Serangan penentuan ya berarti. Kalau begitu Fulgur" Aku mengeluarkan pedang petirku. Serigala itu maju kearahku
"Tonitribus" Ratusan petir merah menyambar tubuhnya tapi dia tetap tidak berhenti. Aku juga maju melesat kearahnya
Serigala itu mengayunkan cakarnya. Kukunya memanjang bahkan sampai melebihi tubuhku.
Aku berbelok saat cakarnya turun. Seluruh tanah terbelah menjadi parit panjang.
Aku mengabaikan itu karena aku sudah didepan wajah serigala itu. Aku menusukkan pedangku yang langsung digigitnya.
Petir menyobek pipinya tapi dia tidak melepasnya sama sekali. Kalau begitu aku saja yang melepasnya.
Aku melepas pedangku dan mengeluarkan pedang angin. Dengan tebasan keatas bersama dengan gelombang angin yang keluar membuat kepala serigala itu terangkat keatas. Bersamaan dengan pedangku yang terlempar.
Aku menangkap pedangku, dan melesat dengan cepat ke lehernya. Pedangku menusuk lehernya, aku memotong lehernya dengan cepat sebelum dia kembali tersadar.
__ADS_1
Aku mendarat dengan serigala tanpa kepala didepanku. Darah serigala itu turun kedalam parit panjang yang dia buat.
Setelah beberapa saat kepala serigala itu jatuh bersama dengan suara benda berat yang jatuh ketanah.
"Tuan Viscount.... Apa kamu baik-baik saja?"(Baron Vendra) "Aku tidak apa-apa" Pertarungan berakhir tidak lama kemudian. Dengan korban 20 luka ringan 10 luka berat dan 7 orang meninggal.
Yang meninggal merupakan prajurit dari Baron, bahkan setengah yang luka berat merupakan prajurit Baron juga sisanya juga luka ringan.
Hanya Baron yang tidak terluka sama sekali "Yang tidak terluka buat tenda untuk menampung mereka yang terluka, dan sekalian bantu mereka kedalam juga"
Tenda dari tanah warna-warni terbentuk. Pasukanku juga membantu mereka yang terluka untuk kedalam tenda
Untung saja tidak ada yang kehilangan tangan atau kaki. Tapi tetap saja keadaan mereka cukup buruk
Tidak menunggu lama Stain datang bersama pasukan yang dia bawa sambil menyeret 30 serigala pedang bersamanya
"Lapor panglima dari seluruh pasukanku 3 terluka ringan dan 3 terluka berat"(Stain) "Bawa mereka kedalam tenda dan istirahat dulu"
"Baik panglima"(Stain) Kami tidak membawa bantuan medis dan juga pendeta. Tidak mungkin juga meninggalkan mereka.
Untung saja aku sempat bicara dengan Baron untuk menyewa belasan gerobak. Beberapa bisa digunakan untuk membawa mereka yang terluka kembali ke desa Vendra
"Viscount. Sebenarnya apa tujuan tuan membawa pasukan sekuat ini?"(Baron Vendra)
"Aku cuma membawa 100 orang ko. Sekarang saja sudah kurang dari 100"
"Pasukan tuan kuat. Kebanyakan dari mereka tidak takut mati, dan terus berjuang apalagi kekuatan force mereka menakjubkan. Meski cuma 100 orang aku rasa bisa mengalahkan 1 Batalyon pasukan"(Baron Vendra)
"Aku cuma membawa mereka untuk berburu monster tipe air sekalian mengambil air di mata air gunung Greeve" "Jadi tuan ingin merahasiakannya. Hamba mengerti"(Baron Vendra)
Ya, aku tidak berbohong sih "Pasukan gagak yang tidak terluka. Cepat cari rute teraman dan tercepat kearah mata air di gunung Greeve. Yang terluka berat tunggu disini dan kembali dulu ke desa Vendra saat gerobak itu datang!"
"Baik komandan"(Semua pasukan) Beberapa burung terlihat terbang ke arah gunung untuk sekarang lebih baik istirahat dulu saja
Besok pagi kita akan berangkat lagi. Menjelang malam semua gerobak yang kita tunggu datang, ada sekitar 30 gerobak dengan ukuran yang cukup untuk menampung 10 orang.
Kami membantu prajurit yang terluka dan Baronpun kembali kedesa bersama semua prajurit itu membawa semua serigala yang sempat kami bekukan.
__ADS_1
Sekarang saatnya pergi ke gunung itu
**TO BE COUNTINUE....***