Runes Swordsman

Runes Swordsman
Part 10


__ADS_3

Aku kembali ke desa dan memperhatikan seluruh keadaan yang sangat kacau. Satu pedangku sudah hancur dalam pertarungan sebelumnya.


Untung saja Alan memiliki beberapa pedang cadangan jadi aku mengambilnya satu. Sayang mereka berdua tidak ikut membantu dan Lizra sudah berangkat pergi.


Awalnya aku tidak suka dengan sikapnya itu, tapi aku tidak bisa menahannya karena dia tidak memiliki hubungan apapun dengan desa.


"Ignis" Aku menulis rune ditanah, dengan force milikku aku mengendalikannya membuat api yang menyelimuti tubuhku.


Cahaya bersinar dari segala arah. Willburd menghempaskan Hills kingkong dengan pedangnya.


Perangkap yang dipasang juga sudah penuh semua untung saja dinding kayu dan batu sudah kuperkuat.


Sekarang saatnya mengamuk. Aku berlari kearah macan yang kulihat, aku menusuk punggungnya membuatnya langsung berbalik.


Api yang menyelimuti tubuhku mengikat kedua cakar macan itu dan membakarnya.


Aku menusukkan pedangku ke mulut macan itu dan menulis rune dikepala macan itu "Fulgur" kepala macan itu langsung hancur petir merah keluar dari sana.


Aku mengendalikan petir itu dan membuatnya menyambar ke hewan di sekitar. Ledakan terjadi tanpa henti belasan hewan yang terkena sambaran petir tidak bisa bergerak


Aku dengan mudah membunuh mereka "Turbo" Aku menulis rune ditanah dan membuat tornado besar yang menerbangkan hewan-hewan yang tidak bisa bergerak.


Hewan yang jatuh dari ketinggian tidak ada yang selamat. Karena aku mengendalikan anginnya agar kepala duluan yang jatuh.


Dalam sekejap puluhan hewan sudah terbunuh para prajurit tidak diam saja mereka terus bertahan selagi pemanah terus menembakkan panahnya.


Aku mencabut pedangku dari kepala harimau raksasa yang kepalanya sudah terbuka. Meski mereka banyak mereka tidak sekuat 3 monster raksasa yang menjaga bunga.


Dari balik hutan keluar 3 ular raksasa dengan seluruh badan yang hangus. Aku pikir dia sudah mati.


Ketiga ular itu membuka mulutnya dan menyerangku. Tornado kuarahkan untuk menghentikan gerakan ular itu.


Sementara aku menulis rune lagi ditanah "Aqua" Air merah keluar dari tanah dan langsung menghantam ular itu menyeretnya kedalam pusaran air


Aku mengambil batu yang agak besar dan menulis rune lagi disitu "Glacies" Aku melempar batu itu kedalam tornado air.


Dalam sekejap seluruh air itu membeku membentuk spiral es raksasa


"Josh aku membantu"(Willburd) "Tidak perlu bantu yang lain saja"


Dan aku menyesal mengucapkan kata itu. Apalagi Willburd langsung pergi, karena dihadapanku keluar serigala raksasa yang sudah pincang dengan bulu terbakar dimana-mana.

__ADS_1


Meski begitu dia melompat kearahku "Ignis" Api ku membakar kepalanya membuatnya buta sementara.


Aku menghindar dan menjauhi dia, karena serigala itu mengamuk dan mencakar kesegala arah.


Meski begitu dia masih mengikutiku. Sepertinya dia menghafal bauku, kenapa tidak bau Alan saja?


Aku mundur saat cakarnya menghantam tanah "Terra" Tanah dibawah cakarnya runtuh dan jadi lubang membuatnya terperosok ketanah.


Aku menusuk matanya secara langsung "Fulgur" Petir keluar menembus kepalanya membuatnya meraung kesakitan tapi dia masih hidup.


Dengan kedua kakinya dia berhasil meloloskan diri, itulah pikirannya.


Begitu dia jatuh kebelakang dan berusaha berdiri keempat kakinya langsung terkubur.


Aku berlari kearah kakinya dan menulis rune disitu "Mons" aku menghindari gigitannya dan kuayunkan pedangku ke kakinya satu persatu.


Sayangnya aku cuma menggoresnya saja "Ventum" Angin menyelimuti pedangku sedikit demi sedikit kakinya terputus dan dia jatuh ketanah.


Tanah langsung mengubur rahang serigala itu


Dan aku menusuk leher serigala itu. Sedikit demi sedikit pedangku masuk.


Suara ledakan terjadi dan ular itu berhasil keluar. Dengan cepat ular itu merayap kearahku


"Ventum!!!!" Pedang angin keluar memenggal kepala serigala. Aku tidak membuang banyak waktu dan langsung mengayunkan kepada ketiga ular itu.


Ketiga ular itu terdorong pedang angin dan menjauh. Aku sudah kehabisan nafas, untung saja Lizra memberikanku sekantung air yang sudah diberikan sihir.


Aku langsung meminum air itu dan menatap ular yang merayap kearahku "Lava" Lava membara langsung membentuk ombak kearah ketiga ular itu


Dengan cepat mereka menghindar, hanya saja aku menebaskan pedangku membuat angin yang mendorong mereka kembali kedalam Lava.


"Aqua" Aku menulis rune lagi ditanah dan ombak air merah menerjang kearah ketiga ular yang terjebak.


Lava padam dan mengeras, aku memanfaatkan hal itu untuk mendekat dan menebas salah satu ular.


Kulit ular itu sangat keras sehingga aku tidak bisa menebasnya. Ular itu berbalik dan mulai menyerang kearahku.


Aku mundur menjauhi jangkauan ular dan melompat keatas kepalanya. Pedang, kutusukkan ke kepalanya yang masih saja tidak tertembus.


Ular itu mulai meronta, aku menulis rune lagi dipedangku "Fulgur" Petir keluar dari pedang dan langsung menembus kepala ular itu.

__ADS_1


Aku melepas pedangku karena ular itu masih hidup, aku menarik pedang kedua milikku. Sisanya kalian.


Setelah beberapa jam aku akhirnya berhasil memenggal kepala ular itu. Hanya saja kepalanya masih hidup.


Untung saja aku meminta pedang lainnya kepada prajurit disekitar. Perang sudah berakhir dan kami masih hidup.


Seluruh tempat dipenuhi mayat binatang dan manusia. Setengah dari mereka aku mengenalnya, setengah lagi merupakan prajurit bantuan dari Baron.


Aku berjalan kedesa dengan perlahan, seluruh badanku sakit dan pandanganku mulai kabur.


Beberapa prajurit disitu membantuku, aku tidak bisa mendengar perkataan siapapun disekitarku.


Termasuk pria besar yang berlari dan menggoyang tubuhku. Pandanganku jadi hitam dan semuanya sudah tidak terasa lagi seperti lenyap bergitu saja


***


Aku membuka mataku dan menatap langit kamarku. Sudah berapa lama aku pingsan? Ingatan terakhirku saat Willburd mendatangiku.


Aku menatap keluar jendela dan melihat ayah membawa hasil panen dan ibu yang sedang mengangkat jemuran.


Aku duduk diatas ranjangku dan merasakan seluruh tubuhku yang masih nyeri dan sakit.


Untuk sekarang aku bisa melindungi desa dan mimpiku sudah tercapai untuk jadi Swordsman yang bisa melindungi seluruh desa meski belum bisa sendirian.


Suara pintu terbuka terdengar, ibu ada di depan pintu sambil menangis. Dan langsung memelukku.


Ayah melihatku dari pintu juga masuk kekamarku dan ikut memelukku


"Aku sudah tidak apa-apa ibu. Sudah berapa lama aku pingsan?"


"Baik-baik darimana? Kamu hampir mati dan membuat ibu khawatir setengah mati padamu tahu. Dasar anak nakal"(Ibu)


Ibu memukul kepalaku "Sakit" "Sudah 3 hari kamu pingsan. Lebih baik biarkan dia istirahat dulu sayang"(Ayah) "Ya aku tahu. Sebentar ya, ibu ambilkan sup"(Ibu)


"Terima kasih ibu" Ibu pergi keluar "Bagaimana keadaan desa ayah?" "Berkat kamu setengah pemuda desa masih hidup, untung saja tidak ada monster yang masuk kedalam desa"(Ayah) "Begitu ya. Sepertinya aku berhasil melindungi desa"


"Ya ayah bangga denganmu. Meski tindakanmu maju ke barisan depan sungguh membuatku hampir mati"(Ayah)


"Iya ayah aku tidak akan mengulanginya" Aku merasa sedikit senang karena aku berhasil mencapai mimpiku disini.


Untuk melindungi seluruh desa dan keluargakulah aku mengangkat pedangku

__ADS_1


Tapi perjuanganku tidak berakhir disini masih banyak petualangan yang menungguku diluar sana


**TO BE COUNTINUE...***


__ADS_2