
Setelah satu minggu kami sampai di pos garis terdepan. Jarak antara pos ini sampai di Rodigur itu 2 minggu. Sudah 1 minggu sejak mereka bergerak harusnya mereka sudah setengah jalan.
"Dengarkan aku. Buat 5 grup berisi 50 orang dan kita akan melanjutkan perjalanan setelah makan malam"
"Apa itu tidak kelewatan?"(Sirus) "Tentu saja tidak. Kalau mau menang kita harus sebisa mungkin mengurangi jumlah musuh. Waktu mereka mencapai kesini adalah 2 minggu paling lama 20 hari. Jika dalam 20 hari itu kita tidak bisa mengurangi 500 orang perhari kita pasti akan kacau nanti"
Setelah makan siang aku melakukan rapat lagi. Disini yang menemaniku cuma Sirus dan Stain
Yang lain berada di pos belakang, dan aku membuat rencana yang rumit untuk dilakukan seperti jumlah rune yang harus dibuat
Rune yang harus disusun dalam formasi dan lain sebagainya. Lagipula jumlah mereka banyak sekali dan kebanyakan merupakan penyihir
Jika ini berhasil aku yakin bisa mengurangi jumlah mereka hingga tersisa 3000. Meski masih menang jumlah, dengan jumlah segitu aku bisa menang dalam perang ini.
Kami semua berangkat setelah makan malam. Setelah 5 hari aku sampai bersama 8 orang dan Sirus di bagian terdepan medan perang.
Jarak antara kami dengan musuh sudah tidak jauh. Bahkan kamp mereka sudah terlihat dengan jelas.
Saking banyaknya seperti desa besar daripada pasukan
"Semua prajurit buat rune diseluruh tempat ini. Sirus dirikan tenda kecil" "Baiklah"(Sirus)
Mereka semua mulai berkeliaran membuat rune.
Aku membantu Sirus mendirikan tenda dan bersiap untuk mengintai "Sirus. Jaga tubuhku ya" "Aku mengerti"(Sirus) Aku mengambil elang dan tikus yang sudah diberi kalung.
Kalung ini ada runenya bisa kugunakan untuk menyembunyikan tubuh meski tidak benar-benar menghilang sih
"Umbra" Force merah milikku menyelimuti kedua hewan itu. Dan aku menatap elangku.
Melihat mata manusiaku berarti aku sudah berpindah.
Aku mengecek badanku yang masih cukup transparan meski masih ada debu merah yang memenuhi tubuh burung ini.
Aku membawa tikus dan pergi kesana, mencari batu besar yang cukup jauh dan bersembunyi disitu.
Aku mengangkat tikus dengan cakarku dan menatapnya. Memperhatikan kepala elang yang bergerak-gerak terkadang membuatku takut.
Aku melepaskan diri dan menyusup ke kamp itu. Saking luasnya aku sampai bingung dimana kamp para penyihir.
__ADS_1
Jika semua penyihir mati mereka cuma jadi sampah dalam jumlah banyak saja. Setelah 30 menit akhirnya aku menemukannya
Ada puluhan kamp dengan tenda yang luar biasa mencolok. Bahkan aku bisa merasakan mana disini.
Jika aku masuk aku akan ketahuan lebih baik buat disekitar sini saja. Aku tadinya ingin membuat jebakan lubang, tapi siapa yang bisa tahu sihir apa yang dimiliki para penyihir ini.
Aku menulis rune disekitar kamp bahkan menutupi seluruh jalan disekitarnya.
Aku juga mengelilingi tempat ini dan menyebarkan rune lainnya baru aku mulai kembali.
Dari tenda panglima yang terbesar terdengar suara wanita. Membawa wanita ke garis depan ternyata panglima musuh benar-benar tidak bermoral.
Aku mau pergi tapi suara pria didalam sana tidak hanya satu. Apa itu seperti yang kupikirkan? Anehnya aku malah penasaran tentang itu.
Benar juga aku akan menikah kan. Aku harus tahu dong soal itu. Dengan perlahan aku mendekati tenda itu dan kecewa.
Apa yang sebenarnya ada dipikiranku pada perang seperti ini? Benar-benar memalukan. Ternyata didalam tenda itu ada 1 wanita dan 16 pria.
Mereka membicarakan mengenai rencana penaklukan. Yang membuatku terkejut adalah wanita itu dipanggil panglima.
Berarti dialah Elang topan dari kerajaan Rodigur. Aku berbalik lagipula semua rencana kalian sia-sia.
Aku kembali ke elang, dan elang kembali ketubuhku.
"Kamu sudah bangun"(Sirus) "Berapa banyak yang sudah jadi?" "Untuk sekarang hanya sekitar 3 km sudah dipenuhi Rune"(Sirus)
"Itu cukup. Suruh mereka beristirahat besok sebelum matahari terbit kalian pergi tinggalkan aku disini"
"Mana bisa kami-"(Sirus) "Diamlah. Aku akan mengaktifkan perangkapnya dulu baru menyusul bukan berarti aku ingin mengorbankan diri"
"Ahh.. Aku mengerti. Kalau begitu kamu juga istirahat dulu"(Sirus) Setelah Sirus pergi aku tidur dan istirahat dulu.
Aku menatap mereka yang sudah menaiki kuda dan pergi duluan. Waktunya aku beraksi
Aku menyebarkan Force milikku dan mengaktifkan semua rune yang disana
Ratusan ledakan terjadi bersamaan, jurang raksasa terbentuk memisahkan kamp itu jadi 10 bagian dan bagian penyihir tiba-tiba terendam lava panas.
Daripada peringatan, suara teriakan yang terdengar dengan mengerikan
__ADS_1
"Kalau begitu satu lagi. Caelum"
Aku hanya memegang gagang dari pedang petir dan mengalirkan Force pada sarung pedangnya.
Awan dilangit berubah jadi merah seperti seluruh langit berdarah. Awan membantuk selaput awan yang menutupi semua bagian atas kamp
Aku menarik pedangku "Tonitribus" Pilar cahaya merah jatuh membuat ledakan besar, dan bukan cuma itu ratusan petir dan puluhan pilar petir merah juga jatuh tanpa ampun
Membuat ledakan tanpa henti diseluruh tempat. Baiklah ini saatnya pergi. Aku menaiki kudaku dan pergi dari tempat itu.
Begitu sudah tengah hari aku melihat 50 orang pemanah diatas kuda dan menungguku
"Kalian sudah datang" "Panglima maaf terlambat"(Prajurit) "Tidak masalah. Buat tenda sederhana kita tunggu mereka"
Semua serangan yang kubuat akan hilang dalam setengah hari itu bisa menghambat mereka sampai besok.
Nah malamnya serang lagi. Ini akan membuat mental mereka berantakan, apalagi seranganku mirip sihir dan mereka sudah tidak punya penyihir kan?
Dan benar saja keesokan malamnya mereka baru terlihat. Dari 20.000 yang ada tersisa setengah lebih.
Kalau begini mah, sebelum mencapai benteng udah musnah "Baiklah tunggu mereka mulai istirahat kita menyerang lagi"
"Apa itu tidak keterlaluan?"(Prajurit) "Ini perang bukan kompetisi" Tenda mereka sudah dibangun
"Siapkan panah ketiga. Tembak" 50 panah melesat kelangit diatas mereka "Tonitribus"
Ratusan petir merah keluar membuat seluruh tempat berantakan lagi. Disusul ledakan beruntun dan tanah yang terbelah membuat parit besar.
"Kita kembali" "Baik panglima"(Prajurit) Aku dan para pemanah kembali ke pos selanjutnya meninggalkan musuh yang berantakan dan luluh lantah.
Aku bertemu Sirus di keesokan paginya "padahal aku baru mau berangkat. Apa semua baik-baik saja?"(Sirus) "Aku lelah mau istirahat"
Aku masuk kedalam tenda dan berbaring dikain "Ada apa? Mereka terlalu kuat?"(Sirus)
"Entahlah. Baru 2 jebakan mereka sudah tersisa sangat sedikit. Aku jadi kecewa"
"Hei.. Jangankan Rodigur. Jika seluruh Voldugur menyerangmu nasib mereka sama seperti pasukan itu. Kamu itu bencana berjalan sekarang, jadi banggalah sedikit dan jangan sombong"(Sirus)
Aku mengerti maksud Sirus. Hanya saja perjuangan yang aku rasakan jadi hilang begitu saja. Hampa
__ADS_1
**TO BE CONTINUE...***