Runes Swordsman

Runes Swordsman
Part 114


__ADS_3

Sudah 2 minggu berlalu sejak aku mengirim pesan ke Monrra menurut Sila persediaan akan tiba 2 hari lagi di gunung tempat Bolt Eagle


Hari ini juga hari Dwarf datang dengan senjata sihir. Aku dan semua bangsawan menunggu Dwarf tiba bersama para tawanan perang


Dwarf tiba menggunakan bola terbang itu. Pintu di bola terbang terbuka dan para Dwarf keluar mendorong gerobak yang berisi ratusan senjata sihir


Pangeran mempersilahkan Dwarf masuk kedalam dan negoisasi akhir dimulai. Dwarf menjajikan 100 kg Mithril jika kita mundur dari sini


Sayangnya hal itu ditolak pangeran. Karena pangeran tahu kalau para raksasa mengelola tambang untuk Dwarf


Setelah berjuang sengit akhirnya negoisasi berakhir dengan Dwarf tidak akan menggangu selama 2 bulan


Tapi setelah itu Dwarf akan secara aktif menyerang dan merebut raksasa yang tertangkap beserta kota yang kita kuasai


Dwarf kembali dengan marah. Menurutku itu sudah keputusan final sih, prajurit mulai memilah senjata sihir yang rata-rata merupakan pedang dan tombak


Aku menatap senjata itu sambil meringis. Benar saja senjata itu bermasalah "Viscount Monrra berapa banyak senjata yang dibutuhkan pasukanmu?"(Pangeran ketiga)


"Tidak perlu pangeran suplai senjata sudah dalam perjalanan besok sudah tiba" "Bukanya lebih bagus menggunakan senjata sihir?"(Duke Galarin)


Pisau dapur lebih baik daripada senjata berbahaya itu. Paling tidak pisau dapur tidak akan meledak


"Sayang sekali formasi militer kami menggunakan senjata spesial jadi harus dibuat langsung dari Monrra"


Aku tidak bohong soal itu, bahkan meski tidak ada senjata sekalipun aku tidak ingin prajuritku menggunakan senjata itu


Senjata sihir yang sedang dipilah itu tidak stabil rasanya seperti melihat alat sihir pertama buatan Monrra


Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi saat digunakan bersama dengan Force


Kayaknya perang kali ini akan berakhir dengan kekacauan


Setelah melihat pembagian senjata itu, aku langsung memberi perintah pada Sila untuk tidak menerima senjata itu serta menjaga jarak dari pengguna senjata itu


Sila awalnya bingung tapi setelah melihat senjata itu baru mengerti alasannya. Bahkan pasukanku juga merasa waspada dengan senjata itu


Hanya orang yang berasal dari Monrra yang sudah melihat senjata buatan Dwarf yang sesungguhnya yang akan sadar perbedaan dan bencana yang bakal dibawa senjata itu


Keesokan harinya barang persediaan perang datang. Isinya 10.000 pedang rune berbagai elemen, 5000 perisai ukuran sedang dengan rune, 1 juta anak panah, 500.000 Mithril Piercing


Alat itu berbentuk mata panah yang bisa ditempelkan di ujung panah. Saat terkena Flows akan mengeluarkan elemen api yang berbentuk cahaya tipis yang akan membakar Mithril dan melubanginya


Yang hebat alat ini bisa masuk kedalam lubang dan melebar membuat lubang lebih besar lagi

__ADS_1


Yang terakhir ada 7 senjata sihir buatan Dwarf disini


1 pedang untuk Sirus, 2 pedang untuk Stain, 2 belati untuk Sila, 1 busur untuk Farel, pedang dan perisai untuk Lusar


Kali ini aku bisa berharap pada ajudanku dalam perang ini. Aku mengirim surat kembali ke Monrra dan ke pihak istana


Kali ini sengaja aku memintanya menunda selama 1 minggu setelah balasan surat raja tiba


Karena aku yakin saat itu kami mengalami kekalahan sementara


Jujur saja hal ini membuatku khawatir dengan perang yang akan terjadi


3 Minggu kemudian


Balasan dari istana datang bersama dengan bantuan sebanyak 2000 orang dan seseorang yang paling kubenci Viscount Runty


Rapat dimulai dengan kepercayaan tinggi mereka ingin mulai berangkat menyerang kota kedua


Kota kedua memiliki banyak jalur bagi raksasa tapi sedikit bagi kita


Hanya ada satu jalur penyerangan bagi kita dimana disitu merupakan jalan sempit dengan jurang diujung jalannya


Tujuan serangan ini adalah serangan senyap karena kita berada di jalur dimana raksasa tidak bisa lewat


Keesokan harinya kami langsung berangkat


Dengan aku memimpin di garis depan bersama ajudanku. Awalnya aku waspada dengan sergapan tapi tidak ada serangan baik dari monster maupun Dwarf


Sampai akhirnya kami tiba di tanah lapang tempat berdirinya kota. Disana sudah ada ratusan raksasa yang menyadari kehadiran kami


Dan mereka tidak menunggu dan langsung menyerang. Setengah dari raksasa itu mundur kembali kekota membiarkan setengah lainnya melawan kita


Aku bingung melihat tingkah raksasa itu apalagi setengah raksasa yang menyerang itu tidak memakai senjata cuma memakai zirah mithril saja


Perang terjadi hanya pasukanku yang berpencar membuat formasi lain. Farel memimpin pasukan untuk memanah raksasa dari garis belakang, Lusar menahan serangan dari raksasa, Stain menyerang leher raksasa, Sirus bermanufer sambil memberi tambahan force pada pasukan


Darisini semua senjata sihir milik mereka bersinar. Perisai Lusar ditambah force miliknya bisa menahan serangan force raksasa secara langsung bahkan membalikkan setengah serangannya, panah Farel bisa menembus tubuh raksasa secara langsung, pedang Stain membuatnya lebih cepat dalam menyerang, pedang Sirus bisa memberikan perisai dari force untuk pasukan bahkan jangkauannya juga berlipat ganda


Aku sebagai panglima tidak bisa diam saja. Aku mencabut pedangku dari leher raksasa dan bergerak ke garis belakang raksasa


Satu persatu raksasa kubunuh sampai aku tiba digaris belakang. Gerbang kota terbuka dan ratusan raksasa kembali dengan zirah lengkap beserta senjata yang sebesar badannya


Pantas saja mereka mundur "Sila. Beritahu Farel untuk menggunakan panah itu" "Baiklah"(Sila)

__ADS_1


Sila ada disampingku dan menghilang


Sejak kapan dia disana? Pertarungan pertama tidak begitu sulit ditambah senjata sihir yang dipakai pasukan membuat mereka merasa kuat


Meski senjata sihir itu semakin memburuk. Gelombang force datang, aku langsung mundur dan turun ketanah


"Mundus" Dinding tanah merah raksasa terbentuk "Force"(Lusar) Lusar mengangkat perisainya dan dinding kuning melapisi dinding tanah merah milikku


Ledakan terjadi dan kedua perisai itu hancur meski begitu gelombang forcenya menghilang


Para raksasa yang tidak menggunakan zirah mundur digantikan raksasa dengan zirah lengkap


"TEMBAK!!!"(Farel) Hujan api terbentuk dan menancap di zirah mithril para raksasa. Dengan cepat zirah itu lepas dan jatuh ketanah


Membuat para raksasa kehilangan zirah mereka. Pasukan merasa percaya diri dan menyerang para raksasa


Aku juga maju mengincar raksasa yang menghalau semua panah yang menyerangnya


"Panglima kubantu"(Devan) Devan ada disampingku dan dia memegang senjata sihir dari Dwarf


"Baiklah, biarkan aku lepas zirahnya dulu. INFERNUS" Aku mengayunkan pedangku membuat gelombang api kearah raksasa itu.


Aku bergerak lebih cepat membuat gelombang api itu mengikutiku menuju kearah wajah raksasa


Dengan pedang angin aku melesat kewajah raksasa itu.


Dengan kapak yang dia pegang dia menebas kearahku membuat gelombang force yang langsung mengarah kearahku.


Aku berhasil menghindari serangan itu dan menusuk bahu raksasa itu. Mithril mulai meleleh dan zirah itu akhirnya menggantung di badan raksasa dan jatuh kebawah.


Devan sudah berada di leher raksasa dan menusuknya. Force merah menyelimuti seluruh tubuh Devan


Force disekitar Devan kacau belum sempat aku memperingatinya ledakan besar terjadi. Aku dan Devan jatuh dari bahu raksasa itu


Begitu juga dengan mayat raksasa itu yang mati ditangan Devan. Aku menangkap Devan dan melihat tangan kanannya yang hangus terbakar.


Baru saja mendarat ledakan beruntun terjadi bukan dari raksasa melainkan dari dalam pasukan


Yang ku khawatirkan terjadi. Aku menatap kekacauan yang ada dimana-mana, dan aku tahu kalau saat ini kita gagal


"MUNDUR!!!! BANTU EVAKUASI PRAJURIT YANG MASIH HIDUP!!!" Berkat teriakanku semua ajudanku mengamankan setiap prajurit yang masih hidup dan membuang senjata sihir yang belum meledak dan mulai bergerak mundur.


Aku menatap kota dan juga ikut mundur kembali

__ADS_1


***TO BE COUNTINUE....***


__ADS_2