
Aku berjalan kearah tempat pelatihan. Willburd memberi tahu kalau orang yang akan membantuku sudah datang.
Aku mengetuk pintu dan terdengar suara dari dalam "Masuk"(Willburd) Aku membuka pintu dan memperhatikan 2 orang itu.
Satu pria dan wanita. Yang wanita sepertinya pemanah melihat bajunya yang sepertinya ringan dan ada Quiver dan busuk di punggungnya.
Untuk yang pria, sepertinya dia Knight ada perisai besar diujung ruangan beserta zirah besi disana sudah menunjukkan hal itu
"Jadi dia orangnya?"(Pria) "Begitulah. Dia Josh seorang Swordsman yang sudah bisa menggunakan Force pada usia 13 tahun"(Willburd)
"Tidak terasa ada yang spesial darinya"(Wanita) "Aku tidak perduli dengan itu. Aku harap informasi yang kamu berikan itu asli atau aku sendiri yang akan membereskanmu"(Pria)
Pria itu tidak memperdulikanku lagi. Kalau tidak mengingat seberbahaya apa perjalanan kali ini, aku juga tidak mau bertemu dengannya
"Maaf kan dia ya. Aku Hazel dan pria pemarah itu Alan. Kami disini untuk membantumu sesuai perintah dari Baron"(Hazel)
"Aku mengerti tapi apa dia tidak masalah? Perlengkapan dari besi miliknya akan membuat kita ketahuan nanti. Tujuan kita ini ada di dekat gunung inti dari hutan"
"Harusnya tidak masalah. Kalau dia beban yang ditinggal saja"(Hazel) "Baiklah kalau begitu. Bagaimana dengan bantuan untuk pertahanan desa? Aku tidak bercanda soal desa ini yang akan hancur nanti"
"Dalam perjalanan yang itu. Hanya saja sebagiannya merupakan prajurit bayaran, dari sekian banyak itu cuma 2 yang bisa menggunakan Force dan 1 yang bisa menggunakan Flows"(Willburd)
"Masih sulit" "Sebenarnya monster seperti apa sih yang sampai membuatmu khawatir seperti itu?"(Willburd)
"Ingat Hills Gorila?" "Ahh ternyata dia"(Willburd) "Mereka ada puluhan" "Akhh.. Ya, itu mimpi buruk"(Willburd)
Bahkan aku tidak bisa membicarakan monster yang lain, yang jauh lebih kuat dari gorila itu
"Jadi kalian mau mengecek kebenaran informasi itu dulu" "Begitulah rencanaya"(Hazel) "Siapa yang bisa percaya dengan omongan orang desa macam kamu. Siapa tahu kamu berbohong demi mendapat imbalan"(Alan)
"Terserah kalian saja. Yang jelas nanti akan menemui temanku dulu" "Bukanya sombong semua penyihir di kerajaan ini kami kenal. Lihat saja nanti akan kebongkar kebohonganmu"(Alan)
Aku tidak perduli lagi dengan mereka. Aku pergi ketempat Lizra sambil diikuti mereka, tidak menunggu lama rumah Lizra terlihat
Aku mengetuk pintunya tapi tidak ada jawaban. Pintu rumahnya juga dikunci, lagi seperti ini dia malah tidak ada
__ADS_1
"Mana temanmu? Jangan bilang kamu membuat rumah ini demi kebohonganmu?"(Alan)
Terserah dia lah, aku mencari batu dan duduk diatasnya. Tadinya aku ingin latihan dengan menulis Rune tapi melihat mereka berdua kuurungkan hal itu.
"Apa penyihir itu tidak ada?"(Hazel) "Sepertinya dia keluar" "Masih saja bersikeras. Bukanya sudah jelas kamu berbohong. Harusnya aku menghukummu karena berbohong"(Alan)
Alan menarik pedangnya. Meski aku tetap diam, tanganku bersiap menarik pedang kapan saja
"Alan!! Kamu jangan terburu-buru seperti itu!"(Hazel) "Mau sampai kapan kamu pura-pura tidak tahu. Orang rendahan kayak dia mana bisa melihat wujud dari penyihir dari awal aku sudah bilang dia itu pembohong. Sekarang minggir aku harus menghukumnya"(Alan)
"Josh? Siapa mereka?"(Lizra) Lizra dengan jubahnya muncul dari dalam hutan
"Ohh sekarang karena sudah ketahuan, kamu memanggil rekanmu. Akan kubuktikan kamu itu pembohong"(Alan)
Situasinya terlalu cepat berubah. Alan langsung lari menyerang Lizra
"Glacies"(Lizra)
Duri-duri es muncul di kaki Lizra dan menyerang kearah Alan "Apa kamu... Guardian"(Alan)
"Issula"(Lizra) Dari kaki Alan. Ratusan jarum es keluar dan menutupi seluruh ksatria emas itu membuat Alan terperangkap didalamnya.
Lizra yang melakukan hal itu hanya mengacuhkannya dan berjalan kearahku
"Siapa badut itu?"(Lizra) "Dia Alan, bantuan dari Baron" Lizra menurunkan tudung hitamnya
"Aku sudah bilang kan. Kalau semua ini akan merepotkan jika aku bertemu orang lain"(Lizra) "Kam...Kamu... Kamu... Scholar red Lizra Vrambel"(Hazel)
"Oh namamu keren juga" "Diamlah ini yang menyebalkan"(Lizra) "Kenapa nona Vrambel bisa disini? Apa jangan-jangan informasi yang dia berikan itu benar?"(Hazel)
"Aku yang berikan masa salah"(Lizra) "Maaf nona lebih baik Alan diurus dulu" Aku menunjuk pilar es itu
Lizra menatap pilar es "Dari keluarga mana dia?"(Lizra) "Gordin"(Hazel) "Siapanya Gilian?"(Lizra) "Anaknya"(Hazel)
"Tingkahnya mirip sih, membuatku mengingat saat pertemu pertama kali dengannya"(Lizra)
__ADS_1
Lizra berjalan kearah pilar es itu dan mengetuk pilarnya
"Apa kamu tahu kesalahanmu apa?"(Lizra) Aku menatap pilar itu. Tapi tetap saja tidak ada suara apapun yang keluar
"Bagus kalau sudah tahu. Dulu ayahmu hampir mati karena melakukan kesalahan hampir sama sepertimu. Ingat ini baik-baik, Pria disana itu lebih kuat dari kamu jadi jangan main-main padanya"(Lizra)
Lizra mengetuk pilar es itu "eytt"(Lizra) Pilar es retak dan hancur berkeping-keping. Menampilkan Alan yang meringkuk kedinginan disitu
"Menyedihkan. Jadi kalian ingin melihat bunga itu?"(Lizra) "Tidak, tidak perlu kami percaya keakuratan informasi yang diberikan oleh nona"(Hazel) "Tidak apa, aku antar"(Lizra)
"Tidak terimakasih. Aku akan membawa pria itu"(Hazel) Hazel mendekati Alan dan membopongnya "Saya permisi"(Hazel)
Kedua orang itu pergi dengan cepat seperti tidak pernah ada sebelumnya
"Memang mereka merepotkan" "Kenapa kamu tidak melawan? Aku yakin, kamu bisa mengalahkannya cuma dalam hitungan detik"(Lizra)
"Aku tidak mau berkonflik dengan Baron apalagi Knight itu terlihat seperti bangsawan"
"Dia memang bangsawan. Ya, meski sedikit kecewa keputusanmu memang tepat. Jadi bagaimana kalau kita latihan lagi"(Lizra)
Setelah dari tempat Lizra, aku kembali kedesa dan membantu pembuatan dinding dan pertahanan desa.
Aku sudah mengerti penggunaan force dan rune dengan baik bahkan aku bisa menggunakannya dengan mudah.
Setelah terus berlatih, dan membantu membangun pertahanan desa tanpa terasa sudah 3 hari.
Beberapa prajurit datang membawa beberapa Balista untuk membantu pertahanan. Ada 2 prajurit lain yang bisa menggunakan Force dan 1 pemanah yang bisa menggunakan Flows hal ini membuatku merasa lebih aman.
Puluhan jebakan dipasang disegala tempat, selain itu ada dinding kayu yang dibuat agar memperlambat monster dan juga parit besar.
Aku juga sudah berbaikan dengan Alan dan terus memperbaiki kerja sama nanti. Mereka tahunya aku bisa membuat Force jadi api saja.
Menurut Lizra hal ini cukup lumrah. Aku disarankan untuk lebih banyak menahan diri agar keadaanku tidak berbahaya.
Tanpa terasa hari yang ditunggu sudah tiba. Perang besar akan dimulai dan aku harap ini akan jadi yang terakhir kalinya.
__ADS_1
**TO BE COUNTINUE...***