Runes Swordsman

Runes Swordsman
Part 44


__ADS_3

Tersisa aku dan Valerie disini dan entah kenapa terasa canggung. Selain aku tidak pernah bicara berdua saja dengan Valerie sejak kejadian di tempat Viscount.


Pernikahan diantara kita yang tiba-tiba membuat hal ini jadi semakin aneh


"Maaf nona Rosefield" "Kamu bisa memanggilku Valerie. Lagipula aku calon istrimu"(Valerie)


"Benar juga. Hanya saja aku sedikit bingung, kamu bukanlah orang yang menerima pernikahan ini begitu saja. Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Entahlah.. Aku cuma merasa pernikahan ini tidak terlalu buruk"(Valerie) "Jangan bercanda seperti itu. Di pertemuan pertama kita kamu dengan jelas tidak suka padaku tapi menerima pernikahan ini begitu saja. Apa kamu berniat menyiksaku selama kita menikah?"


"Mana ada aku berniat seperti itu. Aku cuma memikirkan perkataan guruku saja"(Valerie)


"Lizra? Memang dia bilang apa?"


"Banyak sih. Dan aku merasa jika aku menikah denganmu, aku akan mendapatkan beberapa hal"(Valerie)


Mencurigakan. Apa ya yang membuat Lizra tertarik padaku sampai mengorbankan Valerie?


Penyihir? Lizra berkata aku berbakat jadi penyihir. Tapi itu sepertinya bukan, karena hampir mustahil untuk mengubah aku menjadi penyihir. Apalagi aku ini Disaster.


Mithril? Tapi sudah kukatakan berkali-kali tentang itu. Kalau begitu tersisa rune?


Valerie tidak sepandai Lizra dan aku dalam menggunakan rune kan?


Masa iya karena hal itu. Soalnya tidak mungkin jika gunung Monrra tujuannya.


Kecuali keberadaan Dwarf terungkap, gunung Monrra hanya sebatas tambang besi biasa.


"Sepertinya kamu tidak percaya denganku ya?"(Valerie) "Bukan begitu. Hanya saja aku tidak mau jadi penyebab ketidak bahagiaan kamu"


"Memang kamu yakin kalau aku tidak akan bahagia karena pernikahan ini?"(Valerie)


"Bukan begitu. Alasan aku menolak jadi penyihir juga berhubungan dengan itu, aku merasa kalau aku akan tertekan jika menjadi penyihir"


"Aku mengerti maksudmu. Lagipula kita tidak terlalu mengenal sebelumnya. Ini kedua kalinya kamu ke ibukota kan? Pasti belum mengenal ibukota seluruhnya jadi ayo habiskan hari ini untuk berkencan"(Valerie)


"Kencan? Kamu serius?" "Tentu saja. Kamu itu calon menantu dari Viscount Rosefield masa masih memakai zirah butut habis perang seperti itu"(Valerie)


"Kamu ada benarnya" "Sekalian mempelajari sedikit tata krama antar bangsawan"(Valerie)


"Baiklah kalau itu maumu"


Kami berdiri dan berjalan keluar. Valerie langsung merangkul tanganku. Aku menatap kearahnya


"Apa? Ini agar hubungan kita terlihat mesra"(Valarie) "Begitukah?" Kami berjalan kearah kereta kuda dengan lambang Viscount.


Valerie naik lebih dulu dan aku mengikuti dari belakang "Harusnya kamu membantuku naik"(Valerie) "Begitu ya. Lain kali kuperhatikan"

__ADS_1


Kereta kuda mulai bergerak "Mau pergi kemana kita?" "Tentu saja butik. Lagipula kita harus mengecek gaun pernikahan kan? Apalagi kamu belum mencoba baju juga"(Valerie)


"Entah kenapa mendengarnya membuatku lelah" "Tenang saja. Setelah melakukannya baru akan terasa betapa melelahkannya"(Valerie)


"Sepertinya kamu juga tidak suka ya" "Memang tidak suka. Jika bukan karena Mari dayangku, aku tidak mau mengunjungi butik"(Valerie)


Tidak menunggu lama butik 3 lantai sudah terlihat. Disana juga cukup ramai, ada beberapa kereta kuda dengan lambang bangsawan yang berhenti disana.


"Cukup disini saja"(Valerie) "Baik. Nona"(Kusir) Kereta kuda berhenti. Aku turun lebih dulu


Aku mengulurkan tangan untuk membantu Valerie "Kamu punya sedikit tata krama juga"(Valerie)


"Terima kasih atas pengertianmu nona"


"Saat seperti ini kamu harusnya memanggilku Lady"(Valerie)


"Baiklah. Milady" "Entah kenapa aku malah merinding mendengarmu memanggilku seperti itu"(Valerie)


"nona!!"(Wanita) "Mari"(Valerie) Wanita itu memakai baju pelayan dan mendatangi kami


"Nona apa pertemuannya lancar?"(Mari)


"Begitulah. Kenalkan ini calon suamiku Josh"(Valerie) "Aku Josh" Aku menunduk sedikit untuk mengenalkan diriku


"Tuan, jangan memberi hormat pada pelayan sepertiku"(Mari) "Begitu ya. Maafkan aku"


Aku dan Valerie masuk kedalam butik. Yang langsung menarik perhatian, karyawan butik menghampiri kami


"Nona Valerie. Ada yang bisa kami bantu?"(Wanita) "Carikan baju yang cocok untuk dia"(Valerie) "Baiklah nona. Tuan silahkan"(Wanita)


Aku mengikuti wanita itu dan dia menunjukkan beberapa baju dan kemeja yang bisa kugunakan.


Aku mencobanya dan menunjukkan pada Valerie "Tidak kusangka cocok juga. Baiklah ayo cek baju untuk pernikahan kita juga"(Valerie)


Baju yang kupakai merupakan kemeja putih dengan celana putih beserta dasi hitam.


Sedangkan Valerie menggunakan gaun putih dengan pola mawar di bagian bawah.


"Kamu terlihat cantik menggunakan itu"


"Kamu juga cocok. Aku tidak sangka kamu bisa memuji juga"(Valerie)


"Aku juga kaget melihatmu, rasanya seperti menikah dengan orang lain saja"


"Jadi maksudmu aku ini tidak pantas memakai ini? "(Valerie)


"Bukan hanya saja jadi terlihat orang yang berbeda saja"

__ADS_1


"Kamu ini ya. Dasar menyebalkan"(Valerie)


"Kumohon Valerie. Jangan bertingkah imut, tidak cocok sumpah"


"Wah.. Sepertinya kamu minta kubakar ya"(Valerie) "Nona jangan..."(Mari) "Minggir Mari. Aku akan membakar dia"(Valerie)


"Nona. Jangan buat keributan di ibukota"(Mari) Aku hanya bisa tertawa saja


Setelahya Valerie mencoba ratusan gaun karena dipaksa Mari


"Bagaimana penampilan nona?"(Mari) Valerie menggunakan gaun hitam dengan beragam mutiara yang indah.


Hanya saja wajahnya mengerikan sampai aku bingung harus bicara apa "Mari. Sudah ya, aku merasa seperti akan mati"(Valerie)


"Ya, itu benar. Kemarilah minum secangkir teh dulu" Valerie duduk disebelahku dan menerima teh dariku


"Maaf nona. Ini pertama kalinya anda bersama dengan calon suami, jadi aku terlalu bersemangat untuk menunjukkan kecantikan nona"(Mari)


"Dia tidak akan protes mau bagaimanapun penampilanku"(Valerie) "Ya, itu benar, sudah cukup. Kamu selalu cantik. Asal tidak sedang melempar sihir kearahku"


"Apa menghina setelah memberi pujian adalah gayamu ya?"(Valerie) "Tidak. Hanya saja, aneh saja melihatmu seperti ini"


"Sudahlah kalau begitu. Mari, aku ingin mengganti baju. Bantu aku, setelah ini kita akan menemui Guru. Aku tidak tahu sudah berapa lama guru menunggu"(Valerie)


"Baiklah. Terima kasih bajunya" "Tidak perlu. Lagipula itu memang milikmu, tunggu di kereta dulu sebentar ya"(Valerie)


"Baiklah" Aku keluar dan menunggu di kereta kuda. Setelah beberapa menit Valerie muncul dan aku mengulurkan tangan membantunya naik ke dalam kereta kuda.


Setelah itu kami sampai di kafe 2 lantai di pusat kota. Aku membantu Valerie turun dan kami memesan minuman dingin karena sangat panas dan lelah.


Bersama dengan beberapa kue yang disediakan di kafe ini "Aku tidak percaya guru belum datang"(Valerie)


Valerie menusuk kue dengan garpunya "Bukannya wajar jika penyihir sibuk?"


"Memang. Jika ini pertemuan mendadak, aku sudah buat janji sebulan lalu. Murid mana yang membuat janji temu dengan gurunya sebulan sebelumnya?"(Valerie)


Aku mengerti kekesalan Valerie. Setelah 2 cangkir teh dan 4 piring kue yang sudah habis Lizra baru muncul.


Muka Valerie menahan marah sampai aku tidak terkejut jika Valerie melempar bola api dengan tangannya


"Maaf aku terlambat. Josh bagaimana ibukota? Apa sulit beradaptasi?"(Lizra)


"Sepertinya kamu harus menyapa muridmu dulu"


Valerie langsung marah terhadap gurunya karena terlambat. Aku hanya menikmati keributan itu dengan secangkir teh


**TO BE COUNTINUE...***

__ADS_1


__ADS_2