
Malam hari tidak menghentikan mereka untuk menyerang. Karena itu aku mengintai kedalam benteng dan mencari informasi diruang rapat
"Bagaimana pengintai kali ini?"(Mountain Fotress) Aku mengintip dari celah dinding. Mountain Fotress seperti julukannya badannya kekar dan besar sekali.
Dia memakai baju zirah berwarna tembaga dan jubah dengan lambang kerajaan Rodigur
"Aku tidak tahu komandan. Mereka tidak mengirim pesan"(Prajurit)
"Aneh. tim pengintai berjumlah 50 orang hilang. Apa pihak bantuan sudah sampai di medan perang untuk membantu Cheetah api?"(Mountain Fotress)
"Kami kehilangan kontak dengan mereka"(Prajurit) "500 orang? Hilang? Yang benar saja. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapkan 100 orang besok kalian mengecek medan perang itu"(Mountain Fotress)
"Baik panglima"(Prajurit) Jadi begitu mereka tidak berniat menyerang kami saat 500 orang datang
Mereka pikir kami ini prajurit dari Cheetah api.
50 orang yang sebelumnya menyerang merupakan pengintai.
Untung saja mereka cepat dibunuh tanpa sempat melarikan diri. Atau untung tempatnya berada disini ya?
Untuk sekarang lebih baik mencari informasi sedikit. Setelah memperhatikan beberapa jam lagi aku tahu rute mana yang mereka ambil.
Aku segera keluar dari benteng ke rute yang dimaksud dan memasang perangkap. Karena mereka hanya pengintai biasanya merupakan pemanah.
Pemanah hebat dalam penglihatan tapi justru itulah kelemahan mereka. Mereka selalu ragu pada yang tidak jelas dan bergantung pada matanya. Akhirnya mudah untuk terkena perangkap
Rencananya. Setelah pengintai lenyap didekat benteng mau tidak mau Mountain Fotress pasti akan keluar dari benteng.
Setelah itu aku akan mengaktifkan perangkap kedua yang mengurungnya. Dengan tidak adanya Mountain Fotress seluruh benteng akan lebih kacau dan moral akan sangat rendah dengan begitu seluruh benteng bisa aku rebut.
Setelahnya aku kembali dan beristirahat. Sebelum matahari bersinar aku menggelar rapat lagi.
Untungnya mereka sadar keadaan kita cukup genting
"Apa rencana anda Panglima?"(Lusar) "Sebelum itu dengarkan aku. Mereka akan datang sebentar lagi, tujuan mereka bukan tempat ini"
"Kalau begitu apa ini saatnya kita menyerang?"(Laira) "Ya itu benar" "Apa tidak terlalu terburu-buru. Apalagi panglima disana memiliki senjata sihir kan?"(Chriss)
"Itu juga benar. Aku berencana menyerang benteng saat panglima itu keluar" "Apa memangnya dia akan meninggalkan benteng?"(Farel)
"Pasti pergi. Karena aku akan memaksanya hingga cuma hanya dia sendiri yang keluar dari benteng. Perintahkan untuk para prajurit dan bersiap setelah Sirus memberi sinyal kita akan mulai menyerang mereka"
"Baik"(Mereka semua) Keadaan jadi tegang sarapan dimulai jauh lebih cepat meski hari masih gelap semua prajuritku sudah bersiap
__ADS_1
"Ayo Sirus" "Baiklah. Force"(Sirus) Sirus melapisi kaki kita dengan Force membuat kami bergerak dengan cepat.
Kita pergi mendekati benteng dan berhenti cukup jauh disana. Dikejauhan puluhan musuh bergerak dengan cepat kearah kami.
Aku dan Sirus sudah menggunakan jubah hitam ditambah angin kencang yang bertiup menutupi kami seluruhnya
"Jangan kaget ya" "Memang kenapa?"(Sirus)
"Entahlah. Terra" Tanah yang musuh injak berubah jadi lubang raksasa menjatuhkan mereka semua
"Apa yang.... Ini belum terlalu jauh dari benteng. Kenapa kamu menggunakannya secepat itu?"(Sirus) "Memang itu tujuannya. Ventum"
Angin meniup debu mengaburkan seluruh jarak pandang mereka. Kami diam dan tetap menunggu
"Apa dengan begini panglimanya akan terpancing?"(Sirus) "Tentu saja tidak. Dia panglima yang ahli perang pasti tau betapa pentingnya peran dia. Apa dengan begitu dia akan terpancing?"
"Benar juga"(Sirus) "Tujuanku memancingnya dengan membuat seolah-olah cuma dia saja yang bisa melakukannya. Untuk itu kali ini kita akan menyerang mereka yang mendekat"
Baru saja dibicarakan puluhan musuh mendekat dengan cepat "Ventum" Aku menebas kedepan. Pedang angin merah melesat dan membelah mereka semua tanpa memberikan mereka waktu bersiap
Aku mengeluarkan pedang kedua. Di pedang ini ada rune Fulgur dan Tonitribus. Ini menunjukkan betapa bekerja kerasnya Carl
Gelombang ketiga datang kali ini mereka semua ksatria yang muncul "Fulgur"
Ratusan petir menyambar mereka. Reaksi mereka cepat karena semua orang disana langsung menggunakan Fotress
"Bagus. Turbo" Aku mengangkat pedangku keatas. Tornado langsung menyelimuti pedang dan mengecil hingga seukuran pedang ini.
Aku menusukkannya kedepan membuat tombak angin yang menusuk Fotress sebelum meledak jadi Tornado
Fotress itu langsung hancur dan prajurit disana mengalami keadaan yang tragis.
Gelombang keempat datang. Alih-alih prajurit yang mereka lakukan menembakkan panah.
Mereka sudah tidak punya penyihir, karena semua penyihir mereka kubunuh secara diam-diam
Tanpa Flows semua panah itu akan meleset. Tapi flows kemampuannya tergantung pada indera pengguna.
Jika aku menggunakan Force meski bisa menahan serangan panah itu, serangan berikutnya akan datang dari titik butaku. Dan itu menyebalkan.
Tetapi seluruh tempat ini sudah jadi wilayahku. Seluruh rune terpasang diseluruh tempat
"Terra" Dinding tanah keluar dari segala arah menjadi pertahanan yang menahan serangan itu
__ADS_1
"Tonitribus" Aku melempar pedang jauh kedepan. Begitu pedang itu menancap ketanah, petir merah keluar melesat kelangit
Membuat jaring petir dilangit dan menyambar kearah dinding benteng. Ledakan terjadi ada suatu hal yang membuatku kebingungan.
Tembok macam apa itu? Meski aku memang tidak berniat terlalu menghancurkan temboknya tapi tembok itu hanya meninggalkan goresan
Bahkan aku melihat orang yang hancur berkeping-keping sampai tidak tersisa terkena petirku, tapi dinding itu hanya tergores
"Ignis" Puluhan bola api melesat kearah dinding. Puluhan ledakan terjadi dan aku termangu memperhatikan dinding itu.
Rasanya seperti melihat asap yang mengenai dinding, tidak ada dampaknya. Ternyata reputasi dinding itu sesuai.
Pintu gerbang dinding terbuka dan keluar dia sang Mountain Fotress "Dia terpancing. Tonitribus. Sirus gunakan Force milikmu dan perkuat tubuhku"
"Tubuh? Kamu serius?"(Sirus) "Lakukan!!!"
Ratusan petir menyambar tanpa henti gunung bercahaya muncul dan berjalan kesini
Force biru memenuhi tubuhku "Aqua, Turbo"
Air langsung menghantam gunung itu tapi tidak membuatnya melambat.
Tornado keluar menghalangi sekitar gunung itu tapi tetap saja tidak bergerak. Harusnya disebut Walking mountain daripada Mountain Fotress
Perisai miliknya mengayun dan semua angin dan air itu kembali kearahku. Aku menebaskan pedangku, air dan angin kembali menyerangnya
"Glacies" Seluruh air membeku membuatnya tertahan selama sekejap dan akhirnya dia berjalan lagi.
Aku terus menyerangnya tanpa henti membuatnya semakin mendekat kearah jebakan.
Tidak perduli sekuat apapun gunung pasti akan roboh jika pondasinya hancur "Terra"
Dengan cepat tanah dikaki dia langsung hilang.
Sangat luas dan jaraknya lebar "Sirus!!! Sinyalnya!!!" "Baik"(Sirus) Force biru milik Sirus melesat kelangit.
Pasukan milikku menyerang benteng dengan cepat. Keadaan berubah membuat mereka berantakan
Aku menutup lubang dengan menyatukan tanah harusnya membuatnya tertindih hingga dia menyatu dengan tanah
Sekarang tinggal benteng dan perang ini berakhir
**TO BE COUNTINUE...***
__ADS_1