Runes Swordsman

Runes Swordsman
Part 106


__ADS_3

Aku akan memimpin pasukan Duke Galarin beserta pasukan racun naga pada perang nanti. Aku perlu mereka untuk mempermudah rencanaku


Setelah membereskan semua perlengkapan dan persediaan kami pergi ke titik pos terdepan setelah selesai mengatur semuanya aku kembali mengadakan rapat dengan ajudanku


"Jumlah mereka sebanyak pasukan kita"(Stain)


"Ya sayangnya tidak dengan kemampuan mereka" "Bagaimanapun mereka pasukan Duke Galarin aku yakin mereka bisa diandalkan sedikit"(Sirus)


"Entahlah. Perang tanpa panglima akan sedikit mengkhawatirkan"(Sila) "Tapi apa panglima bisa mengatasinya? Yang dilawan sekarang pasukan Dwarf kan? Dari yang kudengar mereka melawan dengan benteng bergerak"(Lusar)


"Aku juga tahu soal itu. Aku sempat menemukan data dari pertarungan Rodigur, benteng itu seperti laba-laba yang terbuat dari logam yang sangat kuat"(Farel)


"Laba-laba? Harusnya aku tanya sama Mia saja"


"Kenapa tanya sama dia?"(Sirus) "Mia tahu sedikit soal itu. Bahkan aku sempat menghadapi salah satu panglima Rodigur yang memiliki kemampuan seperti itu"


"Terus bagaimana rencananya? Panglima, mengingat kalau perang ini tanpamu"(Sila)


"Aku akan membawa pasukan racun naga. Mereka memiliki keunggulan total melawan manusia meskipun itu Dwarf"


"Dwarf tubuh mereka lebih kuat kan? Terutama toleransi pada racun"(Lusar) "Itu tidak salah juga sih. Tapi tidak perlu khawatir soal ini, lebih baik kalian istirahat besok pagi ada rapat perang lagi. Aku perlu kalian hadir nantinya" "Baik panglima"(Semua ajudan)


Setelah sarapan kami semua berkumpul untuk rapat berikutnya. Kali ini hampir semua yang memimpin pasukan datang disini termasuk Baron Mansturi, Roland dan bawahan pangeran lainnya


"Terima kasih atas kehadiran para panglima, dan kapten semuanya. Sekarang kita akan membahas tentang perang penaklukan kota raksasa"(Pangeran ketiga)


"Kota raksasa berada di pinggir tebing yang membuatnya sulit di kepung. Selain itu bangunan disana sangat besar bahkan lebih besar daripada tebing disampingnya"(Duke Galarin)


"Serangan mengepung pun susah dilakukan"(Baron Ronald) "Medannya juga sulit untuk menggunakan senjata berat"(Baron Mansturi)


"Jangan lupakan dindingnya yang terbuat dari Mithril"(Baron Vendra) "Tidak perlu mengkhawatirkan soal itu. Berbeda dengan manusia dan sesamanya, raksasa selalu berusaha mengakhiri perang dengan cepat jadi setelah mereka melihat pasukan kita mereka akan mulai menyerang lebih dulu"(Sila)


"Masalah sebenarnya bertahan dari serangan itu. Serangan setiap raksasa jauh lebih mengerikan daripada meriam. Apalagi kita tidak memiliki meriam disini"(Lusar)

__ADS_1


"Semua senjata berat tidak bisa memasuki hutan itu jugalah alasan semua senjata itu hancur"(Baron Mansturi)


Aku meringis mendengarnya. Meriam dan senjata berat kami juga ditinggal di desa raksasa karena tidak mungkin untuk membawanya


"Sebenarnya ide siapa sih membangun kota seperti itu? Aku yakin itu bukan ide para raksasa"(Duke Galarin)


"Pasti ide dari para Dwarf sih. Farel apa serangan dari pasukan langit bisa melukai bahkan membunuh raksasa jika terkena di lehernya?"


"Itu cukup sulit mengingat kekuatan pasukan kita tidak sekuat itu. Kekuatan yang terkuat berada dipasukan taring naga, tapi itu juga sudah jauh melemah karena tidak adanya meriam dan senjata berat"(Farel)


"Melihat keadaan geografinya apa tidak bisa membuat jebakan saja? Menjatuhkan setiap raksasa dari ketinggian pasti cukup"(Pangeran ketiga)


"Maaf pangeran itu juga tidak berguna. Meski kelihatannya besar raksasa juga pemanjat yang handal. Mereka bahkan bisa memanjat tebing curam dengan mudah"


"Apa tidak bisa kita robohkan saja seluruh kota?"(Baron Vendra) Kami menatap Baron Vendra dengan tajam "Maaf"(Baron Vendra)


"Kalau tidak ada gangguan dari Dwargon ini tidak seburuk itu sebenarnya" "Maaf Viscount bisa dijelaskan?"(Pangeran ketiga)


Aku menunjuk sebuah jalan sempit bagi raksasa. Jalan itu memiliki tebing tinggi di sebelah kanannya dan jurang disebelah kirinya dari tempat kita berada


"Kupikir itu bukan ide buruk"(Viscount Vendra) "Masalahnya Dwargon ini. Kalau mereka menyerang kita saat dalam posisi memancing kita akan kesulitan"(Pangeran ketiga)


"Masalah sebenarnya ada di penempatannya. Tempat yang dengan mudah menghindari perhatian raksasa dan mudah mengawasi Dwargon yang ada disana"


Lokasi dari kota milik Dwargon juga strategis soalnya mengingat betapa hebatnya senjata mereka


Apalagi menurut Dwarf di Monrra yang harusnya diawasi bagian bawah bukan atas. Aku tidak kaget mengingat kota bawah tanah yang dibuat para Dwarf ditanah Monrra


"Apa menurutmu para Dwarf akan menggangu di perang ini?"(Duke Galarin) "Sepertinya begitu. Ada hubungan mendalam diantara Stor dan Dwargon sebelumnya. Malah yang paling kutakutkan adalah kekuatan Dwargon. Para raksasa tidak mau patuh pada orang yang lebih lemah dari mereka"


"Baiklah sekarang berdasarkan strategi tadi bagaimana pasukan harus ditempatkan? Viscount Monrra aku butuh data terperinci soal pasukanmu"(Pangeran ketiga)


"Baik pangeran. Hamba memiliki 9 pasukan

__ADS_1


Pasukan serigala, Elang, beruang, Bumi, Langit, Neraka, Taring naga, dan racun naga yang bisa dipakai setiap pasukan berisi 100 orang selain itu ada pasukan pengintai yang berisi 50 orang mereka juga berguna sebagai sarana komunikasi"


"Jumlah seluruh pasukan hanya 2000 kurang. Apa cukup untuk perang pengepungan?"(Duke Galarin)


"Dengan pasukan segini bisa mencapai tempat ini memang patut diberi penghargaan atas strategimu Viscount"(Pangeran ketiga)


"Terima kasih yang mulia. Hamba akan menyarankan membentuknya dalam formasi seperti ini. Ajudanku Sirus akan memimpin pasukan serigala karena Force miliknya akan mempengaruhi kecepatan pasukan, Farel akan memimpin pasukan elang, Lusar akan memimpin pasukan beruang yang menjaga barisan belakang"


"Kenapa memberikan posisi menjaga barisan belakang pada pasukan sekuat itu?"(Duke Galarin) "Karena mobilitas mereka rendah. Mereka berfokus pada pertahanan tapi tidak cukup cepat meski mereka bisa bertahan beberapa detik melawan raksasa menempatkan mereka digaris depan sama saja membuang nyawa mereka"


"Pasukan yang lain bagaimana? Apa Viscount tidak memberi mereka penanggung jawab?"(Pangeran ketiga)


"Biasanya hamba akan memberikan mereka pada Farel" "Bukan ide buruk. Tapi jumlah pasukan sekarang 2 kali lipat kupikir itu akan memberatkan. Jadi bolehkah Baron Vendra ditempatkan sebagai penanggung jawab?"(Pangeran ketiga)


"Itu tidak masalah. Hamba akan membawa pasukan racun naga karena mereka lebih berguna sebagai pasukan yang akan menahan para Dwarf"


"Itu tidak masalah. Sepertinya Viscount perlu waktu untuk beradaptasi pada pasukan nanti. Duke tolong dibantu ya"(Pangeran ketiga)


"Sesuai kemauanmu pangeran"(Duke Galarin)


"Dimana posisi yang akan pasukanmu tempatkan Viscount?"(Pangeran ketiga)


"Disayap kanan dekat pinggir jurang itulah pilihan hamba pangeran" "Apa tidak berbahaya disana?"(Duke Galarin) "Hanya disanalah tempat teraman tuan Duke. Kalau hamba menarik perhatian raksasa seluruh pasukan akan kacau"


Jujur saja tempat yang kupilih memang rentan baik dari serangan raksasa, monster, dwarf bahkan alam


Tapi itulah yang terbaik "Baiklah sepertinya kita sudah sepakat untuk strategi ini. Lebih baik bersiap dan beradaptasi secepat mungkin untuk perang nanti. Silahkan kembali ke posisi masing-masing"(Pangeran ketiga)


Rapat selesai kemungkinan perangnya akan dimulai 3 hari lagi paling lama seminggu banyak yang harus diperhitungkan soalnya


Aku harap semuanya akan baik-baik saja


***TO BE COUNTINUE....***

__ADS_1


__ADS_2